Duda Nackal

Duda Nackal
Proses Melahirkan


__ADS_3

"MBAK INAH!" teriakku sekuat tenaga.


Mbak Inah yang kaget segera datang dengan wajah ketakutan. "Iya, Pak!"


"Ambilkan perlengkapan melahirkan di kamar! Saya mau bawa Tari ke rumah sakit!" perintahku.


"Ba-baik, Pak!" Mbak Inah berlari ke kamarku, mengambilkan perlengkapan melahirkan yang sudah Tari beritahu letaknya di kamar.


Aku membantu Tari berdiri namun Ia tak bisa, Ia masih meringis kesakitan. "Aku gendong aja ya!"


Kurendahkan tubuhku dan dengan sekuat tenaga mengangkat Ibu hamil besar ini. Tari memelukku dengan erat seraya menangis. "Sakit, Bi!"


"Iya.... Iya... Kita ke rumah sakit sekarang!" kugendong Tari sampai ke garasi mobil. Kududukkan Ia di kursi belakang agar bisa lebih leluasa.


Baru saja aku hendak berdiri tiba-tiba...


"Awww!" rambutku dijambak dengan kencang oleh Tari.


"Abi!!! SAAAKIIIITTT!" teriaknya sambil marah-marah.


Dengan rambut masih di jambak kencang aku berusaha menenangkannya. "Iya. Sabar ya...Sabar... Abi tau pasti sakit." Abi pun merasakan sakitnya dijambak kamu tau!


"Bohong! Abi enggak pernah tau! Ini semua gara-gara Abi!" omelnya.


"Iya... Gara-gara Abi! Lepasin dulu dong rambut Abi, Sayang!" kepalaku mulai terasa pusing.


Aduh... Ini Mbak Inah kenapa lama sekali sih? Bisa botak ini rambutku ditarik semua sama Tari!


Tari melepaskan tangannya dari rambutku


"Memang semuanya salah Abi! Tari akan... AWWW! SAKIT LAGI, BI!" dijambaknya lagi rambutku dengan sekuat tenaga.


"Awww! Sakit Sayang rambut Abi! Kalau rontok gimana?" protesku. Kali ini lebih sakit dari sebelumnya.


"Biarin! Biar Abi botak sekalian! Abi yang bikin Tari jadi sakit begini!" omelnya sambil menangis.


"Ya... Mana Abi tau? Pas bikinnya kan sama-sama enak. AWWW! Jangan tarik lagi Sayang! SAKITT!"


Untunglah Mbak Inah datang dan menjadi penyelamatku.


"Ya Allah Bapak....!" Mbak Inah lalu pergi dan masuk lewat pintu sebelah Tari. Ia pun mulai menenangkan Tari yang terus merintih kesakitan sambil menjambak rambutku.


"Neng... Istighfar Neng! Lepasin Bapaknya kasihan!"


"Gara-gara dia aku sakit begini, Mbak!" jawab Tari.


"Neng Tari coba tenangin diri dulu. Tarik nafas... Hembuskan... Istighfar Neng... Istighfar.... "


Perlahan, Tari mulai mendengarkan perkataan Mbak Inah dan melepaskan tangannya dari rambutku.


Cepat-cepat aku berdiri dan... dugh...


AWWW!!

__ADS_1


Kepalaku terantuk atap mobil...


Double kill... Double apes...


Aku keluarkan kepalaku cepat-cepat dari dalam mobil, jangan sampai Tari sempat menjambakku lagi.


Aduh... Agak pusing kepalaku jadinya...


Udah kena jambak, kena atap mobil pula... Ya Allah... Jangan kejam-kejam dong ngasih cobaannya...


Sambil mengusap-usap kepalaku yang sakit aku masuk ke dalam mobil. Nampak beberapa helai rambutku tercabut dengan paksa dan rontok di bahuku.


"Udah siap?" tanyaku seraya memakai seat belt.


"Siap... siap.... Sakit tau! Cepetan!" omel Tari.


"Iya Sayang.... Sabar ya..." aku menghela nafas. Salah lagi.... huft....


"Neng... Inget! Istighfar!" nasihat Mbak Inah lagi.


Tari pun menurut. Ia kembali tenang.


Heran!


Kenapa kalau sama aku enggak nurut sama sekali ya?


Aku pun mengemudikan mobilku dengan kecepatan penuh menuju rumah sakit tempat biasa Tari memeriksakan kandungan.


Di awal perjalanan, jalanan nampak lengang. Tari juga agak tenang karena sepertinya rasa mulas yang Ia rasakan menghilang.


Aku mulai panik.


Takut rasa mulas kembali melanda Tari.


Mobilku terjebak di tengah kemacetan. Tak bisa maju dan tak bisa mundur. Motor-motor saja sampai tak bisa menyalip saking padatnya jalanan.


Dan apa yang kutakutkan pun terjadi.


"Aww! Aduh... Aduh sakit lagi... Abi.. Mules lagi! Aduh..."


Tari terlihat kembali meringis kesakitan. Keringat juga mengucur di dahinya padahal AC sudah kuperbesar tetap tidak berpengaruh.


"Sabar ya Sayang... Di depan macet, kayaknya ada galian deh!" kataku menenangkan.


Namun bukannya tenang, Tari kembali sensitif dan malah memarahiku. "Semua gara-gara Abi! Siapa suruh melahirkan di rumah sakit yang ada galian kabelnya?"


Lah...


Kenapa jadi aku yang diomelin?


Yang ngegali siapa, yang diomelin aku?


Ini kayaknya ada yang salah deh.

__ADS_1


"Bukan gitu, Sayang. Tapi-" belum selesai aku bicara Tari sudah marah-marah lagi.


"Kenapa bukan rumah sakit terdekat aja sih dari rumah?" omelnya lagi.


"Enggak bisa dong, Sayang. Itu rumah sakit khusus jantung. Beda dokternya." jawabku.


"Awww! Aduh... Mules lagi! Abi sih ngejawab aja!"


Doengg....


Jawab salah... Enggak dijawab salah... Ya Allah tolong Abi ya Allah....


"Tenang dulu Neng. Simpan tenaganya. Neng Tari kalau marah-marah terus nanti kecapekan. Ngelahirin tuh butuh banyak tenaga loh Neng. Banyakkin istighfar ya Neng. Inget sama Gusti Allah. Biar Neng Tari ngelahirinnya dipermudah sama Allah." Mbak Inah benar-benar dewi penolongku. Kalau tak ada Mbak Inah pasti rambutku sudah botak ditarik semua oleh Tari.


Agas adalah Upin Ipin yang tertunda...


Oh No.....


"Sakit, Mbak! Sakit!" keluh Tari.


"Memang seperti itu. Dulu Mamanya Neng Tari juga seperti itu. Melahirkan dengan rasa sakit yang sama. Tapi, nanti Neng Tari akan punya bayi yang lucu. Yang Neng Tari impikan sejak sembilan bulan ini." ujar Mbak Inah yang dengan bijak menasehati Tari.


"Tari enggak punya Mama, Mbak. Mama Tari udah ngebuang Tari... Huaaaaa...."


Yah... Malah jadi mellow nih.


Jalanan di depan sudah mulai bergerak sedikit. Aku menyalip agar bisa melewati pusat kemacetan.


Enggak bisa lama-lama menahan Tari di mobil ini. Kalau melahirkan di sini gimana? Aku juga yang kesulitan nantinya!


"Cup....cup...cup... Neng Tari jangan bilang begitu. Tak ada satu pun orang tua yang tidak menyayangi anaknya. Perjuangan melahirkan saja berat, Neng. Ikhlaskan saja ya. Neng Tari istighfar terus ya. Berdoa mohon sama Allah agar diangkat rasa sakitnya dan dimudahkan proses melahirkannya."


Lagi-lagi Tari menurut setiap perkataan Mbak Inah. Coba kalau aku yang ngomong? Nurut enggak eh malah ngomel!


" Astagfirullahaladzim... Astaghfirullahaladzim.... Astaghfirullahaladzim..."


Tari terus istighfar. Tanpa Tari tahu aku juga melakukan hal yang sama. Istighfar dan berdoa dalam hati. Meminta Allah memudahkan semuanya.


Jalanan pun mulai terbuka dan mobil mulai bisa melewati jalanan yang semula macet. Cepat-cepat kukebut mobilku dan membelokkannya ke sebuah rumah sakit khusus ibu dan anak.


Aku memberhentikan mobilku di depan UGD. "Pak tolong istri saya mau melahirkan!" pintaku pada security UGD yang dengan sigap mengambilkan brankar.


Aku membuka pintu penumpang dan menggendong Tari keluar dari mobil. "Ayo Sayang!"


Tari nampak merintih kesakitan. Please... Tahan Sayang. Sebentar lagi. Please...


"Aduh... Abi... Mules.... Aww!"


Aku menaruh Tari dengan hati-hati di atas brankar. Niatku memarkirkan mobil dahulu biar Mbak Inah yang menjaganya sebentar.


"Abi mau kemana? Abi enggak boleh pergi! Abi harus tanggung jawab!"


Aku terdiam dan melihat sekitarku. Semua menatapku seakan aku adalah pelaku tabrak lari, bukan mau parkirin mobil.

__ADS_1


Huft...


****


__ADS_2