
Kenyang makan ternyata membuatku mengantuk. Tadi sudah bangun pagi-pagi untuk bermesraan dengan Tari yang dilanjutkan sholat subuh dan pergi bekerja. Pulangnya makan enak sampai kenyang.
Akhirnya aku tertidur pulas tanpa ada aktifitas di atas ranjang. Ngantuk dan perut kenyang adalah perpaduan yang sempurna untuk tidur pulas.
Dengan Tara dulu aku selalu dibatasi untuk makan cemilan di waktu malam. Tara begitu menjaga tubuhnya. Ia hanya menemaniku makan malam, kalau pun makan hanya salad saja.
Tari berbeda. Selalu menyuguhiku makanan lezat yang sayang kalau aku lewatkan.
Jadi setelah terbangun keesokan harinya dan melaksanakan sholat subuh (atas bujukan Tari) akhirnya aku putuskan untuk berlari mengelilingi komplek.
Aku memakai celana pendek dan kaos olahraga sambil menyetel jam tanganku untuk mengetahui sudah sejauh mana aku berlari. Tari tidak ikut dengan alasan mau menyiapkan sarapan untukku.
Aku mulai berlari mengitari komplek. Udara pagi nan segar memenuhi paru-paruku. Rasanya lebih sehat. Sudah lama aku tidak lari pagi. Biasanya hanya olahraga dengan alat gym yang kumiliki.
Aku sudah berlari dua kali mengitari komplek yang lumayan luas ini. Keringat mengucur membasahi wajahku. Kaos yang kugunakan juga sudah basah dengan keringat. Setidaknya aku sudah membakar lemak makan malam enak semalam. Entah dengan sarapan pagi ini. Pasti ada saja menu lezat yang Tari buatkan.
"Pagi Om Agas!" sapa suara yang sangat kukenal baik.
Aku yang sedang duduk beristirahat di trotoar melihat siapa yang menyapaku. Tara? Ngapain dia memanggilku dengan sebutan Om?
"Pagi." jawabku dengan suara ketus.
"Kok sendirian? Istri barunya mana? Kok enggak ngintilin sih? Enggak tau apa kalau suaminya suka mendatangkan para gadis mendekat." sindirnya.
Tanpa kusuruh dia duduk di sebelahku. Keringat mengucur di keningnya. Sudah sejak tadi rupanya dia berolahraga disini.
"Tari lagi nyiapin sarapan. Tari tuh tipikal istri yang memberiku kebebasan. Aku jadi sadar mana yang boleh dan mana yang tidak karena menjaga kepercayaannya, karena kepercayaan itu m...a...h...a...l." aku sengaja mengeja kata mahal untuk menyindir Tari yang telah menyelingkuhiku.
__ADS_1
"Iya sih. Kamu berusaha menjaga eh dia malah jalan sama cowok ganteng!" sindirnya.
Aku tersenyum mendengarnya. "Maksudnya guru kursusnya? Tari cerita kok. Karena gurunya searah makanya mau nganterin sampai depan komplek."
"Tapi ganteng loh gurunya!"
"Enggak masalah. Pasti aku lebih ganteng. Tari enggak buta, melepaskan emas demi mendapat tembaga!" sindirku pedas.
"Hahaha... Nyindir terus! Belum bisa move on ya?" tawanya renyah.
"Siapa yang nyindir? Emangnya kamu merasa disindir?"
"Iya... yang enggak nyindir! Kita sarapan yuk?! Katanya bubur di sana tuh enak!" ajak Tara.
"Maaf nih, selain aku nggak mau sarapan bareng sama kamu, tadi juga aku udah bilang kalau Tari sedang menyiapkan sarapan buat aku. Jadi, kalau kamu mau sarapan ya sarapan bareng aja sama suami kamu! Aku udah ada yang nyiapin di rumah! Aku duluan ya. Selamat menikmati buburnya!"
Ternyata aku masih harus menerima kejutan. Aku lihat Tari sedang mengobrol dengan Damar di depan rumah kami. Tari tertawa seakan sudah sangat mengenal Damar sebelumnya.
Mau apa Damar mengajak Tari mengobrol? Dan kenapa Tari bisa seakrab itu dengannya?
"Eh Om Agas sudah pulang!" Tari menyambut kedatanganku dengan senyuman. "Aku udah siapin sarapan buat Om Agas."
Bukannya menjawab sapaan Tari, aku malah melihat Damar dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatapan sinis. Laki-laki lucknat ini sudah merebut mantan istriku, kini Ia malah mengajak Tari mengobrol. Apakah Ia punya niat yang sama? Kalau iya, jangan harap!
"Mau apa kamu ngobrol sama orang asing?!" tanyaku sambil melipat kedua tanganku di dada. Pandangan mataku seperti pandangan seseorang yang tak mau miliknya direbut untuk kedua kalinya.
Damar tersenyum mendengar perkataanku. "Kita bukan orang asing! Kita bertetangga dan .... kita mantan teman juga loh!" ujar Damar seakan ingin meledekku.
__ADS_1
"Oh ya? Buat apa ngobrol sama istri orang disaat suaminya enggak ada? Mau mencari celah 'lagi'?" sindirku.
"Hahaha... Oh segitu takutnya ya sama gue? Baru gue ngobrol sama istri baru lo aja udah ketakutan! Gimana kalau gue sampai ngajak istri lo ini buat makan siang bareng?" Damar berusaha menyulut emosiku.
Aku yang dulu mungkin akan langsung maju dan menghajar wajahnya. Tapi aku sudah terbiasa bertemu dengan orang-orang seperti dia di klub malam yang cuma menang bacot untuk mencari ribut.
"Enggak sih!" aku maju dan merangkul pinggang Tari. "Istriku ini adalah istri yang menjaga kehormatan suaminya. Kalo lo, udah ngeliat belum istri lo ada dimana? Sekedar informasi nih, gue baru aja menolak ajakan istri lo untuk sarapan bubur bareng karena ingat istri dirumah yang udah bikinin sarapan buat gue! Jadi, lo jaga tuh istri lo yang lo dapetin dari hasil menikung. Karena bisa aja kan, lo bakalan ditikung balik!"
Berhasil. Wajah Damar memerah dan tangannya mengepal untuk menahan segala amarah di dalam dirinya. Kalau aku ladeni terus mungkin kami bisa bertengkar di depan rumah seperti ini dan akan menarik perhatian banyak orang.
Tari yang menguasai keadaan langsung mengajakku masuk ke dalam. Ia tahu suaminya juga sudah terpancing emosinya.
"Kita sarapan dulu yuk, Om! Nanti dingin!" Ia mendorong tubuhku untuk masuk ke dalam rumah. "Kami masuk dulu ya Mas Damar! Permisi!"
Aku tersenyum penuh kemenangan pada Damar. Ternyata, membalas dengan kata-kata tajam itu lebih memuaskan hati dibanding menonjoknya secara langsung dengan tanganku. Tari menutup pintu rumah kami dan menguncinya. Ia menggandeng tanganku dan membawaku ke ruang makan.
"Cuci tangan dulu, Om!" perintahnya yang aku turuti tanpa membantah. Ia menuangkan nasi goreng di atas piring untukku beserta lauk yang Ia buat. Ia juga menuangkan nasi di atas piringnya sendiri lalu duduk di tempatnya.
"Kenapa sih Om malah mencari ribut dengan Mas Damar?" ternyata Ia tak sabar untuk introgasiku.
"Justru aku yang mau nanya sama kamu, kenapa kamu bisa seakrab itu dengan dia? Di depan rumah lagi! Walaupun sekitar kita banyak WNA, tidak menutup kemungkinan kamu akan menjadi bahan gunjingan tetangga! Kamu sekarang seorang istri, kamu harus menjaga nama baik aku tentunya!" kulampiaskan amarahku terhadap Damar pada Tari.
Tari terdiam. Ia bukannya makan malah mengacak-acak makanan di piringnya. "Maaf, Om. Tari tidak bermaksud mempermalukan Om Agas. Sungguh!" Ia mengangkat wajahnya dan menatapku. Kulihat penyesalan dalam matanya yang membuat aku tak tega.
"Mas Damar itu ternyata langganan di warung seafood tempat kerja aku dulu sebelum nikah sama Om Agas. Aku enggak menyadari sampai tadi Mas Damar yang menyapaku duluan. Mas Damar tadi baru bangun tidur dan mencari keberadaan Mbak Tara. Aku cuma jawab kalau Mbak Tara tadi lari pagi. Enggak ada niat Tari untuk mempermalukan Om Agas sama sekali. Tari minta maaf ya Om!"
Kalau sudah begini mana mungkin aku bisa marah? Kenapa dunia ini begitu sempit? Kenapa aku marah? Apa karena aku takut Tari akan direbut oleh Damar, seperti Ia merebut Tara?
__ADS_1
****