
Aku pikir Tari akan diam saja tanpa bertanya apapun. Aku pikir Ia akan menurut seperti biasanya. Tapi melihat Ia menanyakan perbuatanku membuat aku heran, darimana keberaniannya berasal?
"Om melakukan ini karena ada Mbak Tara? Apa yang mau Om buktikan?" tanyanya dengan sorot mata sedih.
Ya, sorot mata sedih. Dan aku tak mau melihatnya.
Lalu mata yang sedih itu mulai meneteskan air mata. Aku bingung harus bagaimana.
Aku bukan sekali ini saja menghadapi wanita yang menangis. Beberapa rekan kencanku malah sering nangis agar mendapatkan perhatianku dan mengajak mereka kencan lagi.
Ini berbeda.
Dalam air mata dan sorot matanya ada kekecewaan yang mendalam.
"Aku..." sempat bimbang antara harus jujur atau bohong, namun aku akhirnya memilih berkata jujur. "Iya. Aku memang mau nunjukkin sama kedua orang yang mengkhianatiku. Kenapa? Enggak boleh?"
Tari pun menghapus air matanya dan memasang senyum. Senyum palsu yang sangat dipaksakan sampai terlihat terlalu kentara.
"Enggak apa-apa, Om. Maaf. Tari tadi kaget aja. Tari masuk ke dalam dulu, Om. Mau masak buat makan malam!" Tari pergi dan masuk ke dalam rumah.
Kenapa Ia harus bersandiwara begitu? Marah karena aku tadi memperalat dia? Kenapa harus marah? Seharusnya dia sudah tau konsekuensi menikah denganku!
Jangan mengharapkan cinta dari Duda Nackal sepertiku. Harapkan tuh kenikmatan, seperti perempuan lain yang begitu memujaku ingin aku sentuh!
****
Utari
Tari... Enggak boleh nangis!
Tari lebih kuat!
Tari pasti bisa!
Disini lebih baik daripada dijual ke mucikari!
Baru saja menikah dan cobaanku masih panjang... Astaghfirullah...
Jujur saja, menikah dengan Om Agas sudah Tari impikan sejak dulu. Om Agas tampan, apalagi saat keluar dari mobilnya yang unik itu.
***
Flashback
Aku suka memperhatikan Om Agas dari balik warung soto tempatku bekerja. Bagaimana Om Agas begitu terlihat keren saat turun dari mobil, apalagi kalau pakai kacamata hitam. Artis mah lewat gantengnya.
__ADS_1
Setiap ada pesanan soto dari showroom milik Om Agas, aku selalu mengajukan diri mengantarnya. Alasannya tentu saja untuk melihat Om Agas dari jarak dekat.
Aku suka memperhatikan Om Agas saat menawarkan mobil pada pembeli. Kadang, Ia turun tangan kalau Mbak Cici dan teman-temannya sibuk.
Cara bicara Om Agas dan cara menjelaskannya sangat berpengalaman dan terlihat sekali pengetahuan yang Ia miliki seputar otomotif. Wajar saja showroom miliknya selalu ramai.
Om Agas tuh tampan. Guanteng pake banget. Ah andai Hp milikku tidak buram dan penuh memorinya, sudah aku foto dan akan kupandangi wajahnya sebelum tidur!
Tak masalah, tak ada foto namun aku selalu membayangkan wajahnya sebelum tidur. Berharap dalam mimpiku ada Om Agas, ya mau jadi apa kek di mimpiku selama ada Om Agas pasti indah aja deh.
Aku begitu memuja penampilannya yang tampan. Sorot matanya yang tegas. Alisnya yang tebal dan kadang keseksian wajahnya kalau belum cukuran.
Bukan aku saja yang menyukainya. Para sales suka membicarakannya kalau sedang makan soto. Aku sengaja menguping agar tau informasi lebih banyak.
"Pak Agas jarang datang nih! Apa karena Cici lagi ujian ya makanya jarang datang?" ujar Mbak Farah.
"Loh memang apa hubungannya sama Cici ? Doi punya banyak showroom, wajar kalau enggak kesini dan mengurus showroom yang lain!" sahut Mbak Yani.
"Ya kan kalian tau sedekat apa Cici sama Om Agas! Mereka tuh kayak ada hubungan something gitu." jawab Mbak Farrah.
"Iya sih. Gue juga suka lihat Cici di ruangannya Pak Agas agak lama. Entah mereka ngapain karena pintunya ditutup rapat!" ujar Mbak Fitrah si ratu gosip.
Oh jadi Om Agas dekat dengan Mbak Cici toh? Sedekat apa? Aku jadi penasaran.
Jawaban pertanyaanku tak lama kudapatkan. Saat aku mengantar soto, aku tak sengaja melihat Om Agas mengedipkan sebelah matanya pada Mbak Cici.
Karena penasaran aku pun mengintip dari lubang kecil yang tidak ditutup sticker kaca. Hampir saja aku menjatuhkan nampan yang kupegang karena terkejut dengan apa yang mereka lakukan.
Gila ini sih. Kenapa Mbak Cici mau menghisap milik Om Agas? Dan kenapa Om Agas begitu menikmatinya? Apa Om Agas orang yang seperti itu?
Aku masih tak percaya. Aku ambil Hp bututku dan aku foto. Kecewa dengan hasilnya yang buram namun sudahlah, bisa apa Hp keluaran lama ini?
Aku kembali ke warung soto dengan kecewa. Lelaki impianku ternyata tidak sebaik sang pangeran yang selama ini aku bayangkan.
Kekesalanku bertambah, ternyata Bapak pulang hari ini. Biasanya Bapak jarang ada di rumah. Mau apalagi Bapak pulang?
"Rumah ini akan Bapak jual!" ancam Bapak.
Jual? Rumah milik Ibu mau Bapak jual?
"Enggak bisa! Ini rumah punya Ibu Tari, Pak!" lawanku.
Plakk...
Sebuah tamparan mengenai wajahku. Perih dan terasa panas.
__ADS_1
"Eh anak pungut! Ini tuh rumah istri gue! Mau gue jual juga bukan urusan lo!" bentak Bapak.
"Untuk apa Bapak menjualnya? Nanti kita tinggal dimana?" tanyaku sambil menghapus air mata yang menetes di pipiku.
"Buat bayar utang! Bodo amat lo mau tinggal dimana? Emang gue pikirin!" balas Bapak.
"Tari udah kasih Bapak uang buat bayar utang! Uang gaji Tari udah Tari kasih!" jawabku.
"Lo pikir duit lima ratus ribu yang lo kasih tiap bulan bisa buat nutupin utang gue seharga 200 juta?"
"Tapi-"
"Lo bayarin utang gue 200 juta baru nih rumah gue lepasin!"
Ya Allah... 200 juta? Duit darimana?
Bapak hanya pulang kalau minta uang saja lalu pergi lagi. Ancamannya pasti tidak akan main-main.
Aku tak masuk kerja keesokan harinya. Kebanyakan pikiran membuatku demam, apalagi bekas tamparan Bapak kemarin terasa sakit di wajahku.
Aku merasa seperti ada sebuah mukjizat saat aku mendapat pesan dari sms kalau aku mendapat hadiah uang dan bisa menukarkan di minimarket terdekat.
Dengan memakai sandal jepit usang milikku aku berjalan menuju minimarket terdekat. Aku mengantri sampai pembeli kosong dan menyisakan aku dengan sang kasir.
Aku menyampaikan maksudku dan meminta dia untuk bertransaksi dengan nomor yang kudapat dari pesan sms. Kasir tersebut menolaknya.
Aku membujuk dan marah karena Ia tak mau melakukan apa yang kumau. Ia bilang ini penipuan. Perdebatan kami didengar oleh Om Agas.
Ia bilang kalau itu penipuan dan mengajakku ke kantornya sambil membawa es krim untuk dibagikan ke karyawannya. Baik sekali dia sebagai bos.
Ia membelikanku obat penurun panas dan roti serta biskuit untukku. Aku merasa jika tadi di minimarket bukan kesempatan maka ini kesempatanku.
Aku akhirnya mau mengancamnya dengan barang bukti yang kumiliki. Sebelum aku keluarkan barang bukti, aku tawarkan dulu penawaranku untuk melakukan yang Mbak Cici lakukan.
Bukannya gentar dengan ancamanku, Om Agas malah tertawa dan bilang kalau apa yang dilakukan olehnya dan Mbak Cici atas dasar suka sama suka. Dia juga tak takut dengan ancamanku.
Aku putus asa dan Om Agas tak mau membantuku. Aku harus apa?
Aku keluar dari ruangan Om Agas dengan sia-sia.
Namun, hanya Om Agas orang kaya dan banyak uang yang aku kenal. Bagaimana kalau Bapak tetap menjual satu-satunya rumah peninggalan Ibu? Aku tinggal dimana nanti?
Dalam keputusasaanku, aku kembali melihat kelakuan Om Agas dan Mbak Cici di kamar mandi kantornya. Wah makin gila sih! Saat aku hendak protes, aku diberi kode oleh seorang bapak-bapak yang menyuruhku diam.
Setelah Om Agas masuk ke dalam kamar mandi, bapak-bapak itu menyuruhku masuk ke ruangan Om Agas. Inilah malaikat penolongku yang sebenarnya.
__ADS_1
***