Duda Nackal

Duda Nackal
Kedatangan Vira


__ADS_3

Utari


"Oh jadi sekarang lo udah mulai berani ya? Baru punya cafe kayak begini aja, lo udah sombong! Asal lo tau, gue bisa menghancurkan cafe lo dalam sekejap!" ancam Vira.


"Iya, aku tau. Kamu bisa menghancurkan apapun yang enggak sesuai dengan yang kamu mau. Apalagi sekarang Papa kamu sudah menjadi Menteri. Wah... Makin mudah saja ya kamu menghancurkan hidup orang lain!" sindirku sarkas.


"Itu lo tau! Jadi, kalo lo masih mau mempertahankan cafe ini gue minta lo pergi dari hidup Om Agas. Dia Papanya anak gue! Tenang aja, gue bakalan kasih lo tunjangan hidup. Enggak usah mengharapkan dari Om Agas lagi!" Vira mulai merasa besar kepala.


"Mau sampai kapan kamu begini? Aku pikir selama ini kamu sudah berubah. Tak lagi punya pikiran picik kayak gini! Ternyata memang watak itu enggak pernah berubah ya! Dipelihara sih watak jelek kayak gitu! Coba kamu ruqyah, siapa tau setan dalam diri kamu pergi. Kamu pikir Om Agas percaya begitu saja dengan kamu? Hey, jaman udah canggih! Semua bisa dibuktikan!" balasku tanpa kenal takut.


"Semua bukti bisa gue manipulasi. Apa yang enggak bisa dilakuin kalo punya uang? Orang kecil dan susah macam lo mana ngerti? Karena otak lo cuma mikirin buat makan apa hari ini!"


Oh ya? Memang kamu pikir aku akan kalah? Aku sudah menanti selama ini untuk membalas kamu Vira!


"Oh ya? Lalu orang kaya macam kamu otaknya cuma berpikir licik aja gitu? Kerdil sekali pemikiran kamu!" aku mengibaskan rambutku seakan menantang Vira lebih jauh lagi.


Mata Vira menyalang nyala penuh emosi. Wajahnya memerah, tak menyangka kalau si lugu Tari yang selama ini hanya diam kini bisa membalasnya.


Lalu Ia pun mulai melancarkan serangan padaku. Serangan fitnah lebih tepatnya.


"Hueeek... Hueeekkk..... Kamu masukkan apa dimasakan aku? Pasti kamu meracuniku ya? Huek.... huek...."


Vira berakting muntah-muntah seakan aku hendak meracuninya. Vira menengok ke sekeliling dan tak menemukan pengunjung sama sekali yang datang. Baru sadar rupanya dia!


"Kenapa? Baru nyadar kalau sejak tadi enggak ada pengunjung disini?" sindirku.


Vira menoleh ke kanan dan ke kiri. Cafeku sepi tak ada pengujung.


"Say Hi sama kamera aku!" aku menunjuk CCTV yang menyorot ke arah kami.


"Kamu!" Ia menunjuk wajahku dengan sangat emosi. "Lihat saja, aku akan membalas perbuatan kamu!" ancam Vira.


Vira pun pergi meninggalkan cafe sambil menghentakkan kakinya dengan kesal. Rencananya mempermalukanku gagal total.


Aku mengacungkan jempol pada karyawanku. Sebelum mengantarkan makanan miliknya, aku meminta untuk menutup cafe dan mencegah ada pengunjung yang datang.

__ADS_1


Semua karyawanku tau kalau ada masalah yang sedang menerpaku. Mereka menurut dan mengalihkan pesanan dine in menjadi take away.


Vira yang duduk membelakangi semua orang tak sadar kalau satu persatu pengunjung sudah pergi dan cafe sudah tutup. Aku sengaja mengulur waktu dengan membiarkannya terus mengoceh dengan ancaman demi ancaman menakutkan.


Saat semua pengunjung pergi, aku mengibaskan rambutku sebagai kode untuk bawahanku. Aku memintanya merekam dengan Hp miliknya ke arahku saat aku memberi kode.


Aku punya bukti saat Vira berpura-pura keracunan dan muntah-muntah. Lebih dari satu Hp merekamnya. Bukti yang kuat.


Lalu saat Vira pergi aku mengambil Hp milikku yang sejak tadi kutaruh di pot kembang. Hp tersebut merekam semua percakapan kami.


Kali ini aku menang, tapi aku tak yakin berikutnya aku akan menang juga atau tidak. Yang kulawan adalah anak seorang menteri yang memiliki kuasa. Kaya dan memiliki jabatan di pemerintahan. Apa aku bisa terus menang nantinya?


****


Agas


Rasanya hari ini aku lelah sekali. Bolak-balik ke beberapa tempat untuk mencari bukti. Baru saja aku kembali ke cafe aku melihat cewek yang selama ini aku cari-cari.


Saatnya menghadapi ular yang sebenarnya!


Cewek di depanku ini adalah hama yang harus aku basmi. Dia adalah pengancam kebahagiaan rumah tanggaku.


Aku sudah mencari tahu, benar yang dikatakan Tari. Dia adalah anak orang kaya dan juga berpengaruh di negeri ini. Bapaknya menjabat sebagai seorang menteri dan perusahaannya banyak. Sangat mudah menghancurkanku yang memiliki bisnis tak seberapa ini.


Cewek yang sedang marah-marah seraya mengumpat kata-kata kasar itu berbalik badan dan melihatku. Matanya langsung berbinar-binar.


"Om Agas!" katanya dengan suara manja. Ia berlari menghampiriku dan bergelayut manja. "Vira cariin kok Om enggak ada? Malah si cewek sialan itu yang ada! Huh!"


Cewek sialan?


Heh yang kamu bilang cewek sialan itu sedang mengandung anakku!


Kamu tuh yang cewek sialan!


Enak saja mengatai orang lain! Awas aja nanti!

__ADS_1


Tenang, Gas... Tenang... Menghadapi hama seperti ini harus tenang.


Aku melepaskan tangan Vira yang bergelayut mesra di lenganku. Aku melihat dari kejauhan kalau Tari sedang memperhatikan apa yang kami lakukan. Aku menganggukkan kepalaku sebagai sebuah kode pada Tari kalau aku akan menyelesaikan semua ini dan memintanya percaya padaku.


Tari balas mengangguk sebelum masuk ke dalam cafe. Itu artinya Ia mempercayaiku.


"Ada yang mau aku bicarakan!" kataku dengan tegas.


"Aku juga mau bicara sama Om. Jangan di sini. Istri Om gila! Sejak dulu dia nggak pernah berubah. Aku nggak betah berlama-lama di sini!" umpat Vira.


Aku mengepalkan tanganku sampai buku jariku memerah karena menahan marah mendengar istriku tercinta sedang dihina oleh wanita ular ini. Rasanya aku ingin menarik kerah bajunya dan membantingnya ke tanah. Namun aku sadar, emosi dan amarah hanya akan membuat segalanya jadi tambah buruk saja.


"Mari kita pergi ke suatu tempat." aku melihat ada mobil Vira terparkir di depan cafe. "Kita naik mobil kamu aja!" aku meminta kunci mobilnya dan aku membawa Vira pergi jauh dari cafe demi ketenangan Tari dan anak dalam kandunganku.


Aku berhenti di salah satu cafe yang letaknya agak jauh dari cafe milik Tari. Aku mencari tempat yang sekiranya aman untuk berbicara namun tak mau terkesan terlalu tertutup, karena aku tak mau menjadi bahan fitnah orang lain. Vira memesan minuman dan cemilan sebagai teman mengobrol kami.


"Kenapa Om tidak mencari keberadaanku? Aku kan bilang kalau aku sedang mengandung anak Om." Vira memulai percakapan kami setelah pelayan yang mencatat pesanannya pergi.


"Justru aku menunggu kedatangan kamu di cafe. Aku nggak punya nomor telepon kamu jadi aku minta karyawanku untuk meminta nomor kamu kalau kamu datang. Itu adalah salah satu cara aku untuk berkomunikasi dengan kamu." jawabku dengan tegas.


"Om percaya kan kalau aku sedang mengandung anak Om Agas?" tanya Vira dengan nada manjanya. Untung saja aku duduk di depannya, kalau di sebelahnya pasti Ia sudah bergelayut lagi padaku.


"Memang berapa usia bayi dalam kandungan kamu? Berapa minggu maksudku?" ini yang aku tunggu-tunggu, aku harus tahu berapa minggu usia kehamilan Vira.


"Hmm... sekitar 20 Minggu. Lihat saja, sudah mulai terlihat kalau aku ini sedang mengandung padahal badanku kurus dan langsing." Vira lalu memamerkan baby bump miliknya.


Sudah aku duga, anak itu memang bukan anakku. Kalau aku hitung dari waktu kami ketemu, seharusnya belum ada 20 Minggu. Itu jelas bukan anakku. Namun aku menyembunyikan fakta ini dan terus menggali informasi lebih dalam lagi tentang Vira.


"Papa kamu sudah tahu? Atau kamu selama ini menyembunyikannya dari orang tua kamu?" kembali aku menginterogasi Vira.


Aku harus tahu bagaimana hubungan dengan orang tuanya dan sudah sejauh mana orang tuanya tahu tentang kehamilan anaknya tersebut.


"Belum. Papa sedang sibuk keluar kota karena harus meninjau beberapa daerah. Kalau Mama, sibuk dengan acara amal ini dan itu demi menunjang karir papa. Mereka tak tahu kalau putrinya sedang hamil. Namun, aku akan segera memberitahu Papa dan Mama serta memperkenalkan Om Agas pada mereka berdua." jawab Tari tanpa keraguan sedikitpun.


****

__ADS_1


__ADS_2