Duda Nackal

Duda Nackal
Abi Vs Wira


__ADS_3

...Mohon Bijak Dalam Membaca. Bisa Dibaca Setelah Maghrib 🙏...


Tari


Aku seperti mendapatkan durian runtuh. Aku tak pernah menyangka akan bertemu dengan nenek kandungku.


Rasanya perpaduan antara tidak percaya, bahagia, sedih dan perasaan haru yang begitu membuncah. Bagaimana tidak, selama ini aku hidup tanpa mengenal siapa keluargaku. Selama ini aku merasa kalau dunia seakan tak adil kepada orang kecil macam aku ini.


Namun siapa sangka, Tari Si Gadis Pengantar Soto yang juga bekerja sebagai tukang cuci piring di warung seafood, kini memiliki nenek yang berasal dari salah satu keluarga terpandang.


Saat dulu teman-temanku menertawakanku dan menganggap aku adalah anak dari seorang guru yang miskin, aku terima dan pasrah. Andai mereka tahu kalau ternyata nenekku adalah salah satu orang terkaya yang punya banyak tanah, bisnis dan begitu terpandang.


Bahkan nenekku ini, masih berdarah biru. Karena itu, penampilannya sangat berbeda dengan penampilan nenek-nenek yang biasa aku lihat di daerah perkampungan. Begitu karismatik, dari penampilannya saja sudah terlihat betapa Ia dibesarkan di keluarga yang memiliki status sosial tinggi. Tutur katanya yang halus dan sikapnya yang tegas seakan membuktikan semuanya.


Kini, bolehkah aku berbangga diri? Bolehkah aku pamerkan kepada seluruh dunia siapa nenekku? Meski aku tak bisa melihat kedua orang tuaku lagi, rasanya memiliki nenek dan tante yang begitu menyayangiku itu sudah sangat cukup. Aku merasa ada yang mengakui keberadaanku di dunia ini selain Abi dan kedua mertuaku tentunya.


Hari ini, kami bercakap-cakap dan melepas rasa kangen sambil sesekali menangis haru. Oma juga memberikan sebuah foto padaku. Foto Mama Naura. Wajahku memang hanya mirip sedikit dengan Mama.


Benar kata Tante Irna, aku sangat mirip dengan Oma di waktu muda. Justru karena kemiripanku dengan Oma-lah yang membuat keberadaanku dengan mudah ditemukan. Bagai suatu anugerah, aku bak pinang dibelah dua dengan Oma.


Aku melihat foto Mama Naura yang sedang tersenyum. Tubuhnya tinggi langsing dengan rambut panjang terurai. Cantik sekali, wajahnya khas gadis Indonesia dengan kulitnya yang kuning langsat.


Aku menduga, kulit putihku ini pasti berasal dari Papaku. Tante Irna berjanji, akan memberikan foto Papa saat datang nanti. Aku tak sabar untuk melihatnya. Mereka benar-benar cinta sejati, tak lama Papa meninggal, Mama juga ikut menyusul. Semoga mereka berdua berbahagia di alam sana.


****


Malam Ini, suasana begitu tenang dan damai. Wira sedang tertidur pulas di box bayi miliknya yang ada di samping tempat tidurku. Aku pun sedang memeluk Abi dan menggunakan lengannya sebagai bantalku.


Laki-laki yang baik hati ini sudah banyak merubah hidupku. Meskipun agak jahil, tapi aku tahu dia baik. Abi adalah laki-laki terbaik dalam hidupku. Meski awalnya Ia banyak menyakitiku, namun perbuatannya yang menolongku itu seakan menghapus semua rasa sakit yang Ia torehkan saat awal menikah dulu. Kami saling mencintai dan membangun rumah tangga yang lebih bahagia lagi.


"Kamu bahagia? Kamu sekarang sudah memiliki Oma yang sangat menyayangi kamu. Kamu juga memiliki Tante yang selama ini selalu mencari kamu tanpa henti. Kamu nggak sendiri lagi. Maaf ya, tadi aku tidak mau menjawab langsung pertanyaan kamu. Aku hanya ingin kamu bisa merasakan kebahagiaan yang sama dengan Oma dan di waktu yang sama pula." kata Abi seraya memelukku dengan erat.


"Entah apa-apa, Bi. Aku mah udah biasa. Abi jahil Aku juga udah biasa. Selanjutnya, apa rencana Abi ke depannya?"

__ADS_1


"Tentu saja membesarkan Wira dengan sebaik-baiknya. Rencana berikutnya mungkin menambah anak? Aku mau punya anak perempuan biar ada yang mengurus kita di saat kita tua nanti. Rasanya kalau hanya punya satu anak laki-laki dan tak punya anak perempuan itu kurang lengkap. Tapi itu nanti, tunggu Wira agak besar dulu dan mulai mengerti. Jadi tidak iri nanti sama adiknya karena kekurangan kasih sayang. Abi juga berencana, untuk memajukan lagi Cafe kita. Produksi di pabrik juga sudah banyak dan karyawan yang mulai kita serap makin banyak juga. Bahkan kita bisa melunasi sebagian pokok pinjaman atas rumah sebelah."


"Aku setuju. Bagaimana kalau kita menyewa tempat saja dan membuka beberapa cabang cafe kita? Enggak perlu membeli lahan tentunya. Jadi lebih murah biaya pendirian cafe." saranku.


"Wah... Mommy Tari pintar sekali sekarang. Bakat bisnis Abi sudah menular dalam diri Mommy! Hebat! Coba cium dulu!"


Seperti biasa, tanpa ijin Abi langsung menciumku. Aku hanya bisa membalas ciumannya untuk memenuhi kewajibanku sebagai seorang istri.


Namun Abi pasti menginginkan lebih. Ia mulai mencolek-colek aset milikku yang sekarang menjadi hak paten Wira.


Kujauhkan tangannya yang terus meraba-raba di tengah kami berciuman. Namun bukan menjauh Abi malah membuka kancing dasterku dan....


Oek... oek... oek...


Sang Pemilik Area terbangun.


Seakan tak rela miliknya direbut oleh Abi-nya sendiri.


Aku ingin menggendong Wira namun Abi tak melepaskan pagutannya. Bimbang. Mana yang harus aku pilih.


Yang terjadi berikutnya adalah pembela Wira garis keras datang dan langsung mengetuk pintu kamarku.


"Tari! Tari! Wira nangis tuh!" teriak Mama sambil mengetuk pintu kamarku.


Aku berusaha melepaskan Abi yang tak mau kalah.


"Tari!"


Kukeluarkan tenaga dan akhirnya berhasil lolos dari Abi lalu menggendong Wira.


"Iya, Ma. Tadi Tari lagi di kamar mandi!" bohongku.


"Agas kemana sih? Kebiasaan anak itu kalau tidur! Anaknya nangis sampai jerit-jeritan bukan diambil dulu!" cerocos Mama.

__ADS_1


Aku menahan tawaku mendengar Mama mengomeli Abi yang nampak kesal karena Wira mengganggu keintiman kami.


"Agas ngantuk, Ma!" jawab Abi yang membuat Mama makin nyerocos.


"Udah punya anak ya kayak gitu. Dulu waktu kamu kecil juga Mama kayak gitu! Makanya jangan nakal jadi anak! Enggak tau kan pengorbanan orang tua tuh kayak gimana? Malam jadi siang, siang jadi malam! Sekarang baru beberapa hari jadi orang tua udah ngeluh ngantuk!"


Aku menyusui Wira sambil menahan tawa. Melihat wajah Abi yang memanyunkan bibirnya sambil sesekali meniru ucapan Mama meski tanpa kata.


Abi... Abi...


Sama anak sendiri saja enggak mau ngalah.


Wira kembali tertidur pulas setelah tau kalau Ia sudah mengambil miliknya. Abi menepuk tempat tidur kosong di sampingku.


"Kita lanjutin dulu yuk!" ajak Abi lagi.


Huft....


Aku geleng-geleng kepala dibuatnya.


Kirain udah kapok ternyata tidak.


"Cuma bobo doang kok." kata Abi karena aku tak juga menghampirinya. "Yang penting bisa memeluk kamu!"


Aku tersenyum. Siapa yang tak luluh kalau Abi bersikap semanis ini. Sabar ya Abi Sayang. Masa puasa Abi akan berakhir kok.


Aku pun kembali tidur di lengannya dan memeluknya dengan erat. Kami pun tertidur pulas sampai dua jam kemudian Wira kembali bangun dan menangis minta nen. Nikmatnya jadi orang tua. Tidur pun tak nyenyak.


Sambil menyusui Wira aku berdoa, mendoakan kedua orang tuaku di atas sana. Semoga Allah mengampuni segala dosa mereka. Aku juga mendoakan Ibu dan Ayah yang sudah membesarkanku. Doaku adalah wujud terima kasihku.


****


Jangan lupa mampir ke novel aku Menjadi Selebgram Hot ya. Aku tunggu...

__ADS_1



__ADS_2