
Dua Tahun Kemudian...
Agas
"Bi! Sini deh!" teriak Tari dari dalam kamar mandi.
"Kenapa sih My? Pakai teriak-teriak segala!" tanyaku seraya menghampiri Tari.
"Abi lihat ini!" Tari memberikan alat test pack padaku.
"Dua garis? Hamil? Yaudah! Alhamdulillah!" jawabku dengan santainya.
"Ih kok Abi sesantai ini sih? Aku hamil, Bi!"
"Ya terus? Ada aku ini yang tanggung jawab. No problemo!" jawabku masih dengan santainya.
"Berarti aku nanti akan ngerasain proses lahiran lagi dong?"
Cepat-cepat aku memegang kepalaku. Rasanya masih terasa bekas jambakkan Tari pada rambutku.
"Abi! Serius!" dipikir Tari aku sedang bercanda kali! Aku juga masih trauma dengan proses melahirkannya yang amat menyiksaku itu.
"Abi serius Mommy Sayang! Memang kenapa kalau Mommy hamil? Masalah melahirkan, nanti masih lama My. Syukuri aja dulu dikasih anugerah sama Allah." kugendong Wira yang datang mendekat.
"Abi mau?" tanyanya seraya menyuapiku biskuit bayi miliknya.
"Mau. Baik sekali Wira sama Abi!" aku menggigit biskuit bayi yang tak lagi renyah. Sudah mulai alot terkena gigitannya dan dipegang sejak tadi.
"Bilang apa?" tanya Wira.
"Terima kasih Wira! Wah pintar sekali Wira mengingatkan Abi!" kucium pipinya lalu kuturunkan Ia kembali ke lantai. "Main lagi sana ya! Abi lagi ngobrol sama Mommy!"
Wira menurut dan kembali asyik dengan mainannya. Tari nampak melipat kedua tangannya di dada seraya memanyunkan bibirnya.
"Kenapa sih? Hamil itu dapat rejeki. Kenapa malah manyun begitu?" tanyaku seraya duduk di sampingnya. Kucium pipinya untuk menurunkan emosinya.
"Tapi Tari takut, Bi. Kayaknya masih terbayang rasa sakit saat melahirkan Wira. Masih terasa gitu. Ya... Tari bersyukur dikasih kesempatan lagi sama Allah untuk mendidik titipan-Nya. Tapi nanti gimana?"
Kuangkat tangannya dan kutaruh di atas kepalaku. "Jambak lagi aja nanti. Abi siap. Tapi inget, makin lama Abi makin tua. Kemampuan untuk memiliki rambut lebat semakin menurun, jadi jambaknya pakai hati ya. Jangan sepenuh tenaga kayak waktu itu!"
"Ih! Abi mah! Becanda terus!" malah makin marah. Jangan-jangan sensitifnya mulai kumat lagi. Ya Allah jangan... Jangan ngerjain aku lagi, please...
"Enggak Sayang! Abi enggak becanda. Mommy mau jalan-jalan enggak? Biar Mommy enggak bosan dan kepikiran yang masih lama kayak melahirkan itu. Gimana?" lebih baik dibujuk saja dulu.
"Tapi Abi yang gendong Wira loh!"
__ADS_1
"Iya. Abi yang gendong Wira. Mommy lagi hamil, mana boleh gendong Wira! Ayo siap-siap kita pergi!"
"Wira icut!" Mendengar akan pergi, Wira langsung gercep dan meminta diajak.
"Wira mau ikut? Ayo bilang sama Mbak minta ganti baju pakai baju yang paling keren ya! Nanti Abi ajak!" bujukku.
Dengan penuh semangat Wira pergi menghampiri Mbak-nya. Anak itu memang paling semangat kalau diajak jalan-jalan.
Setengah jam kemudian, semua sudah siap. Tak lupa aku membawa stoller milik Wira. Penyelamatku agar tidak terus menerus menggendongnya.
"Mau kemana kita?" tanyaku seraya memanaskan mesin mobil.
"Te mol." jawab Wira yang duduk di pangkuan Tari.
"Pinter! Wira mau beli apa?" tanyaku?"
"Es kliem!"
"Oke! Berangkat!" kataku penuh semangat.
"Bismillah, Bi! Biasain!" celetuk Tari.
"Oh iya, Bismillahirrahmanirrahim!"
Aku pun mengemudikan mobil sambil menyenandungkan shalawat nabi bersama Wira. Anak itu mengikutiku dan bershalawat dengan riang.
"Bi, mau lenang." ajak Wira.
"Iya. Nanti ya. Sekarang kita mau ke Mall. Mau beliin Wira es krim. Wira mau rasa apa?"
"Cotat!" jawab Wira penuh semangat.
"Hmm... Setuju! Abi mau juga ah!"
"Janan! Nanti Abi satit!" larang Wira.
"Oh... Kalau Abi makan es krim sakit ya? Kalau Wira sakit enggak kalau makan es krim?"
"Enggak! Abi aja!"
Ha... ha... ha... Dasar bocil!
"Kalau Mommy atit enggak?" tanyaku lagi. Aku suka mengajak Wira mengobrol. Seru. Membuat acara menyetir jadi menyenangkan.
"Mommy endak atit. Mommy kuat. Abi kalah sama Mommy!"
__ADS_1
"Wah... Abi kalah nih sama Mommy?! Nanti Abi mau pesan es krim yang banyak. Wira enggak Abi bagi!"
"Bagi.. Abi pelit! Huh!" Wira pun ngambek dan aku terus menertawakan kelucuannya.
Tari diam saja sejak tadi. Aku mengusap rambutnya dengan tangan kiriku. "Jangan terlalu dipikirkan. Nikmati saja anugerah yang Allah kasih."
"Iya, Bi. Entah kenapa aku tuh merasa sedih terus. Apa karena bawaan bayi ya?"
Enggak salah lagi. Pasti hamil kali ini sama kayak hamil pertama. Sensitif. Pasrah aku mah. Yang penting aku punya bayi lagi. Aku mau punya anak banyak, tapi melihat Tari tak semangat seperti itu aku jadi berpikir ulang. Mungkin dua anak saja cukup.
Aku memarkirkan mobil dan mendorong stoller Wira masuk ke dalam Mall. Tempat pertama yang kami tuju adalah toko mainan anak.
"Jangan dimanja terus Bi. Wira sudah punya banyak mainan di rumah." larang Tari.
"Tapi belum lengkap, Mi. Mainan Power Rangernya baru yang warna merah. Warna hitam belum. Iya kan Wira?" Wira mengangguk setuju dengan perkataanku.
"Lalu mobilannya masih sedikit. Track mobilannya sayang kalau cuma sedikit mobilnya." kataku beralasan.
"Itu mah memang Abi yang mainan. Bukan buat Wira. Yang dimainin Wira tuh bukan mainan yang Abi belikan tau. Tapi piring, sendok dan gelas dari dapur. Nanti saja belinya kalau Wira sudah mulai mengerti. Sekarang kita belanja yang lain saja!" protes Tari.
"Yah... Enggak boleh beli mainan buat Wira sama Mommy!" kataku pada Wira.
"Mau mainan... Mau mainan... Mommy peyit!" Wira pun ngambek karena kukompori.
Tari memelototiku. "Bi! Tuh kan malah ngambek anaknya! Abi sih malah dipanas-panasi anaknya!"
Aku dan Wira kompak menatap Tari dengan tatapan minta dibelikan mainan. "Beli mainan ya, My. Satuuuu aja!" pintaku.
"Iya, catu aja!"
Tari menghela nafas sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuanku. "Yaudah sana! Jangan banyak-banyak!" Tari mengalah pada akhirnya.
"Yes!" aku dan Wira toss. Kugendong Wira dan berlari masuk ke dalam toko mainan. Kami memilih mainan yang belum ada di koleksi mainan Wira.
"Ini mau Wira?" tanyaku. Wira yang belum mengerti mengiyakan saja semua mainan yang kusodorkan. Lumayan buat tambah koleksi.
Sejak sering mengasuh Wira aku mulai punya hobby baru. Mengoleksi mainan. Ada banyak mobil hot wheel dengan track yang sudah kubeli. Aku juga mengoleksi mainan macam Star Wars dan Power Rangers. Hobby baru yang menyenangkan. Mengoleksi mainan daripada mengoleksi istri baru ha...ha...ha...
"Bi! Kalau banyak-banyak aku tinggal pulang nih!" ancam Tari.
"Siap! Udah boss!"
"Udah bos!" kata Wira mengikutiku.
Aku pun membayar mainan yang kubeli dan keluar dari toko mainan dengan hati riang. Bahagia rasanya...
__ADS_1
****