Duda Nackal

Duda Nackal
Membuktikan Tanpa Harus Melalui Tes DNA


__ADS_3

Agas


"Tanda lahir? Maksudnya cucu Oma punya tanda lahir?" tanyaku untuk lebih memperjelas lagi maksud perkataan Oma.


Kulihat Tari nampak kehilangan harapan. Aku menatapnya dan Ia menggelengkan kepala pertanda kalau Ia tidak memiliki tanda lahir dalam tubuhnya.


Kasihan Tari...


Tadi aku lihat Ia begitu senang saat Oma mengangkup wajahnya dan menatapnya dengan penuh kasih. Ada sedikit harapan dalam dirinya kalau Oma memang benar adalah neneknya.


Apakah tanda lahir menjadi kendala Ia memiliki keluarga? Kenapa tidak tes DNA saja?


"Oma lebih percaya dengan tanda lahir yang dimiliki cucu Oma. Test DNA bisa membuktikan semuanya namun butuh waktu. Kalau tanda lahir kan bisa dilihat langsung." Oma menjelaskan sebelum aku banyak bertanya.


"Tapi masalah tes DNA kan bisa Mama pertimbangkan." Tante Irna memberi saran.


"Enggak perlu! Oma yakin sama tanda lahirnya. Itu bukan hal yang mudah hilang kalau dewasa. Ngapain juga tes DNA? Buang waktu dan uang!" jawab Oma tak mau kalah.


"Jadi begini, Gas. Antara Mama dan Oma ada perbedaan pendapat. Waktu pertama kali Mama bilang sama Oma kalau Mama nemuin anak yang wajahnya mirip Oma dan meminta Oma untuk tes DNA, Oma enggak setuju. Oma beralasan masalah waktu dan uang. Mama bersedia membayarkan tapi kamu tau sendiri kan Oma kalau sudah punya pendapat tidak bisa dibantahkan? Lalu Mama sakit dan kami tak lagi membahas tentang masalah tes DNA lagi. Sekarang terserah Agas dan Oma mau menentukannya lewat apa. Mama sih setuju saja." kata Mama Irna.


Bagaimana ya? Kenapa jadi aku yang memutuskan?


"Begini aja deh. Kita mulai urutannya dahulu. Menurut anaknya Oma yang sudah meninggal, di mana anaknya ditinggalkan?" aku berusaha tidak memihak siapa pun. Yang terpenting masalah ini selesai dan tidak terlalu lama membuat Tari terus berharap.


"Di Panti Asuhan Peduli Anak." jawab Oma.


Aku lalu bertanya pada Tari. "Sayang, dimana Ibu kamu mengadopsi kamu dulu?" tanyaku.


"Em... Aku lupa. Sebentar, aku ambil berkasnya dulu ya, Bi." Tari lalu pamit dan masuk ke dalam.


Ia keluar dan membawa berkas map berwarna hijau yang sudah terlihat usang. "Ini berkas yang ditinggalin Ibu dan di simpan sama Pak RT, Bi. Tari enggak pernah lihat-lihat karena Tari pikir sudah tidak penting lagi."


Tari memberikan berkas warna hijau tersebut padaku. Nampak surat keterangan adopsi yang dilakukan oleh Ibunya dan tertera nama panti asuhan tempat Tari dibesarkan.


"Panti Asuhan Peduli Anak, Jalan Xxx No. 12 Jakarta Selatan." aku membacakan nama dan alamat panti asuhan dengan kencang. Sengaja, agar semua bisa mendengarnya.

__ADS_1


Tari terlihat menahan nafas. Oma terlihat tegang, begitu pun dengan Mama Irna. Mama sejak tadi hanya berdiri di belakang sambil menguping percakapan kami. Wira Ia terus gendong dan tertidur pulas di gendongannya. Mama rupanya mau tahu juga apa yang sedang terjadi.


"Sama bukan?" tanyaku mencairkan suasana.


"Tahun kelahirannya apakah sama?" aku memberikan pada Mama Irna dan Mama Irna mengangguk.


"Benar. Adikku meninggal di tahun ini. Tak lama setelah Ia melahirkan." jawab Mama Irna dengan yakin.


"Lalu bagaimana? Apa mau tes DNA biar lebih meyakinkan lagi?" tanyaku memastikan. Aku tak mau pakai asumsi yang malah jadi tidak pasti.


"Oma bilang kan tidak perlu. Cukup tanda lahir saja. Ini sudah dua hal yang sama. Tinggal butuh tanda lahir dan sudah bisa dipastikan kalau Tari adalah cucu Oma." jawab Oma dengan penuh keyakinan.


"Tapi... Tari enggak punya tanda lahir, Oma." akhirnya istriku mengeluarkan suaranya juga. Sejak tadi Ia hanya diam menerima fakta demi fakta yang mencengangkan tanpa berkata apa-apa. Kini Ia merasa kalau sudah saatnya Ia bicara.


"Bukan tidak punya, tapi tidak tahu." jawab Oma.


"Maksudnya?" tanya Tari yang tidak mengerti maksud perkataan Oma.


"Letak tanda lahir kamu tidak bisa kamu lihat." ujar Oma.


"Ada di pan tatnya. Untuk hal ini, hanya Agas yang bisa melihatnya." ujar Oma malu-malu.


"Tanda lahir? Bukannya hanya kebiruan karena bekas tangan Agas ya?" tanyaku dengan polosnya.


Oma dan Mama Irna kompak tertawa. "Ha...ha...ha... Bukan Gas. Itu tanda lahir. Warnanya kebiruan gitu sih. Dulu adik Mama yang kasih tau. Katanya anak perempuannya kasihan, ada tanda lahir di bagian belakangnya. Mama bilang saja, untung tidak di tempat yang terbuka. Jadi masih bisa disembunyikan." ujar Mama Irna yang tak kuasa menahan tawa.


"Gimana Gas, ada enggak?" tanya Oma.


"Kayaknya sih ada. Cuma ya itu, Agas enggak engeh. Agas pikir itu karena bekas tangan Agas. Maklumlah Oma kalau lagi kayak gitu kan semangat empat lima jadi-" belum selesai aku cerita Tari sudah menghentikan omonganku.


"Bi! Udah cukup ceritanya. Enggak perlu sampai mendetail ya!" omel Tari yang kini wajahnya merah padam.


Aku baru menyadari kesalahanku. Kalau sudah ngomongin hal kayak gitu memang aku suka lupa. Suka semangat penuh gitu. Apalagi sekarang lagi puasa.


"Maaf, Sayang. Kita periksa dulu yuk, Sayang." aku mengajak Tari ke kamar untuk memeriksanya. "Oma perlu di foto apa enggak?"

__ADS_1


Oma menahan senyumnya mendengar perkataanku. "Tak perlu. Kamu periksa saja nanti kamu kasih tau Oma letaknya dimana. Kita cocokkan saja jawaban kamu dengan Oma!"


"Oke. Agas lihat dulu ya, Oma." aku pun mengajak Tari ke dalam.


Aku masuk ke dalam dan kulihat Mama sedang menahan tawanya karena takut Wira bangun.


"Kenapa Ma, nahan ketawa begitu. Hati-hati ah nanti ngentut lagi!" kataku.


"Udah sana kamu periksa tanda lahir saja sana! Inget ya, cuma periksa doang. Enggak pakai acara lain! Banyak yang nungguin kamu sekarang!" ledek Mama.


"Iya... Iya... Mama temani dulu di depan. Nanti Agas keluar habis periksa Tari dulu!"


"Iya... Mama ke depan kok."


Aku dan Tari masuk ke dalam kamar. Kami menjadi agak kikuk sendiri jadinya. Adegan memeriksa tanda lahir ini benar-benar absurd.


"Apa kita harus mulai dengan adengan ciuman dulu, Sayang?" tanyaku.


"Jangan ngaco, Bi! Abi ambilin cermin aja! Aku mau lihat sendiri!" tolak Tari.


"Enggak mau aku yang liatin aja?" tawarku.


"Aku malu, Bi. Mana sekarang aku lagi gendut karena habis melahirkan lagi?!" keluh Tari.


"Tapi aku suka kok. Lebih mon to the tok." kataku sambil tersenyum lagi.


"Ih... Udah mana cerminnya? Aku mau lihat sendiri!"


Aku memberikan cermin yang Tari minta. Ia pun membuka celananya dan memeriksa daerah belakangnya sendiri. Beberapa kali Tari memutar badannya ke belakang dan tak juga menemukan tanda lahir tersebut.


"Susah kan? Apa Abi bilang? Biar Abi aja! Kamu keras kepala banget sih?! Abi udah pernah lihat semua kok, tenang aja!" kuambil cermin yang Tari pegang dan menaruhnya di meja rias.


"Coba kamu tengkurap di atas tempat tidur. Biar Abi lihat langsung!" perintahku.


Dengan malu-malu Tari melakukan apa yang aku suruh. Aku pun melakukan tugasku.

__ADS_1


***


__ADS_2