Duda Nackal

Duda Nackal
Om-om Gaje


__ADS_3

Aku baru menyadari betapa bodohnya aku ini. Aku meninggalkan Tari menginap tanpa memberinya uang untuk pegangan. Bodoh... Agas Bodoh!


Kalau ada apa-apa dengan Tari dan dia enggak pegang uang gimana?


Ya ampun, kok aku enggak kepikiran kayak gitu ya?


"Maaf. Aku lupa ninggalin kamu uang. Begini aja deh, besok kita ke bank dan buat rekening tabungan buat kamu. Nanti aku transfer ke rekening kamu buat jajan dan buat keperluan sehari-hari."


"Tari enggak bermaksud minta uang kok sama Om. Bener! Tari cuma mau kasih tau aja kalau isi lemari es Om enggak lengkap makanya Tari enggak bisa masak yang bervariasi." tolak Tari dengan wajah polosnya.


"Iya. Habis aku makan kita ke supermarket ya! Dan mengenai rekening, aku memang mau membuatkan buat kamu. Kita akan segera menikah, artinya kamu istri aku kan? Aku harus menafkahi kamu. Gunakan uang dengan cermat. Pakai untuk keperluan sehari-hari seperti masak dan kalau ada biaya darurat. Sisanya kalau kamu mau jajan atau belanja boleh saja. Itu hak kamu. Nanti kalau kurang akan aku tambah lagi. Sekarang aku makan dulu ya. Kamu habis ini siap-siap karena kita akan belanja."


"Baik, Om."


Selesai makan aku menunggu Tari di depan rumah. Ia bilang mau siap-siap dulu.


Aku duduk di kursi teras dan melihat Tara dan Damar sedang bertengkar. Suara pertengkaran mereka terdengar sampai ke rumahku.


"Bilangin sama Mama kamu, aku pasti bisa memberinya cucu! Sabar dan kita periksa saja siapa yang tak bisa punya anak!" ujar Tari dengan suara kencang.


Wow... Berita baru nih.


Jadi mereka bertengkar karena Mamanya Damar ingin punya cucu segera? Menarik nih.


"Ya wajar dong Mama aku minta secepatnya, kita udah dua tahun menikah dan kamu belum isi juga! Apa coba namanya kalau bukan kamu yang bermasalah?!" Damar balas berteriak.


Aku tersenyum, pernikahan seperti ini yang kamu idam-idamkan?


Aku dulu tak pernah menanggapi kalau ada kerabat atau saudara yang menanyakan kenapa Tara tak kunjung hamil. Aku bilang belum dikasih amanat.


Aku tak menuntut apalagi memaksa Tara , meski Mama sangat menginginkan segera menimang cucu dari anak lelaki satu-satunya tersebut.


Aku tak berniat mendengar pertengkaran mereka, siapa suruh mereka bertengkar di depan rumah? Sepertinya habis pulang dari rumah Mamanya Damar dan mereka bertengkar sejak turun dari mobil deh.


"Ayo Om!" uja Tari.

__ADS_1


Aku terdiam melihat penampilan Tari yang beda dari sebelumnya. Ia mengenakan blouse warna hitam dengan celana warna khaki dan tas selempang. Semua aku yang belikan.


Yang membuat aku terkesima adalah Ia mengenakan lipstik dan sedikit blouse on di wajahnya, membuat Ia terlihat lebih segar dan cantik.


"Ayo, Sayang! Aku bosen lihat pertengkaran dua orang lucknut. Lebih baik kita have fun ya." aku sedikit mengeraskan suaraku agar mereka mendengarnya.


Berhasil. Mereka berhenti bertengkar dan kini menatap tajam ke arahku yang sedang membukakan pintu mobil untuk Tari.


Aku mengeluarkan mobilku dari garasi dan sengaja berhenti sebentar di depan mereka.


"Lain kali kalau berantem di dalam ya! Aku jadi tau deh masalah rumah tangga kalian itu apa. Bukan aku yang kepo loh!" sindirku lalu tancap gas sambil tertawa melihat wajah gusar keduanya.


Aku tertawa puas saat menyaksikan dua pasangan itu mengumpat kesal. Tanpa aku sadari Tari sejak tadi memperhatikanku.


"Om kok bahagia sekali sih melihat mereka bertengkar?" tanya Tari dengan lugunya.


"Iyalah bahagia. Mereka tuh dulu selingkuh di belakangku. Sekarang melihat mereka saling bertengkar satu sama lain membuat aku bahagia. Kayak ada beban hati yang diangkat gitu." kataku sambil tersenyum senang.


"Om salah. Kalau Om senang melihat orang bertengkar dan susah, apa bedanya Om dengan mereka?"


"Jangan marah dulu, Om. Kalau Om memang benci dan dendam dengan apa yang mereka lakukan dulu pada Om, caranya bukan dengan berbahagia di atas penderitaan mereka. Cukup Om tunjukkan sama mereka kalau hidup Om sekarang tuh lebih bahagia, pasti mereka akan tidak nyaman sendiri."


Aku tak jadi marah. Benar juga yang dikatakan si polos ini.


"Kadang, kamu pintar juga ya!" pujiku.


"Iya dong! Aku kan anak guru. Eh tapi kok Om enggak muji penampilanku sih? Aku belajar dari Youtube juga loh agar bisa tampil kayak gini."


Aku memarkirkan mobilku di tempat parkir supermarket dan mematikan mesin kendaraanku.


Kini aku menatap Tari. Gadis polos ini ternyata menagih dipuji. Bolehlah. Usahanya hari ini dari memasakkanku spaghetti yang enak dan juga berdandan rapi patut kuberi apresiasi.


"Aku enggak biasa memuji orang kalau aku tak suka. Aku lebih suka menunjukkannya dengan perbuatan." kumajukan tubuhku dan mencium pipinya. "Ini bentuk apresiasiku."


Aku lalu turun dari mobil dan menunggu Tari turun juga. Tapi kenapa dia tidak juga turun?

__ADS_1


Aku membuka pintu mobil dan melihatnya sedang duduk sambil tangannya memegang dada. Pandangannya kosong seakan jiwanya sudah kuambil.


"Kamu enggak mau turun?" tanyaku membuatnya melonjak kaget.


"Ah... Iya. Aku turun!" ujarnya yang langsung turun setelah kubukakan pintu tanpa melepas seat belt terlebih dahulu. Alhasil Ia tersangkut dan kembali duduk di tempatnya.


"Pelan-pelan dan jangan bengong!" aku membungkuk dan kubukakan seat belt miliknya. Jarak kami begitu dekat, bahkan aku bisa merasakan hembusan nafasnya. "Enggak mau keluar?" tanyaku setelah melepaskan seat beltnya.


"Ah... Iya." sikap kikuknya tidak bisa Ia singkirkan. Aku menahan tawa melihatnya. Ada ya di jaman sekarang cewek polos dan lugu kayak dia? Seperti berasal dari planet lain saja!


Aku berjalan menuju supermarket yang berada di lantai paling bawah, Tari mengikuti dari belakang. Ia terus menundukkan kepalanya saat berjalan, membuat aku iseng ingin mengerjainya.


Aku tiba-tiba berhenti dan membuatnya menabrak punggungku. "Aww! Om kenapa berhenti mendadak sih?" protesnya.


"Salah kamu sendiri! Kalau jalan tuh angkat kepalanya. Lihat ke depan. Jangan menunduk terus!" omelku.


Tak disangka dia malah beneran mengangkat wajahnya dan kini berjalan di sebelahku. Ia bahkan merangkul lenganku. "Biar enggak ketabrak Om lagi lebih baik Tari berjalan di sebelah Om!" ujarnya dengan senyum polosnya.


Aku geleng-geleng kepala dibuatnya. Anak ini suka tiba-tiba agresf tapi juga bisa secepat kilat berubah jadi pemalu.


Aku mengambil trolly belanja dan mendorongnya. "Apa yang kamu mau beli, pilih aja. Sekalian belanjanya jangan dikit-dikit. Buat sebulan juga boleh!"


"Siap, Om! Nanti aku mau buat makanan sesuai resep yang aku tonton." Ia pun sibuk memilih beragam sayur, daging dan bahan-bahan kue. Tanpa menggunakan catatan Ia hafal semua bahan-bahan yang akan dipakai. Hebat sekali daya ingatnya.


Kami pun tiba dibagian shampoo dan cat rambut. Ia tiba-tiba berhenti lalu memilih cat rambut. "Tari boleh di cat kan Om rambutnya? Tari kemarin lihat orang yang make up rambutnya diwarnain bagus banget!"


"Memangnya kamu bisa ngecat rambut sendiri?" aku menyangsikan kemampuannya. "Memangnya apa saja sih yang kamu tonton dalam sehari? Baru sehari aku tinggal udah banyak materi yang bikin kamu penasaran kayaknya!"


"Banyak, Om. Tari tonton menjadi Ibu rumah tangga yang baik. Mulai dari masak, berdandan dan memberikan service di tempat-"


Kuhentikan omongannya karena beberapa pengunjung ikut menyimak apa yang Ia katakan. "Iya. Enggak usah dijelaskan lagi! Cepat pilih saja cat rambut yang kamu mau!"


Aku berjalan duluan meninggalkannya. Masih aku dengar Ia menggerutu. "Huh tadi nanya, giliran dijawab malah disuruh diem! Dasar Om-om gaje!"


***

__ADS_1


__ADS_2