
Agas
Tidak biasanya Tari seperti ini. Pulang kerja aku selalu disambutnya. Kali ini ada yang berbeda.
Lampu teras rumah masih gelap, belum dinyalakan. Pintu depan juga tidak dikunci. Lampu ruang tamu, ruang makan semua gelap tak ada yang dinyalakan.
Aku kembali ke depan dan melihat motor Tari sudah terparkir di garasi. Berarti Tari sudah pulang dong?
Aku menyalakan semua lampu rumah. Kucari keberadaan Tari. Aku mulai dilanda rasa khawatir. Apa jangan-jangan terjadi sesuatu padanya?
Aku tak menemukan keberadaannya di dapur. Aku lalu masuk ke dalam kamar. Dalam ruangan yang gelap ini aku memasang posisi siaga. Takut ada penjahat yang tiba-tiba menyergapku.
Setelah suasana aman, aku menyalakan lampu dan melihat sesosok tubuh sedang tertidur di sisi tempat tidur.
Tari?
"Tari! Tari! Bangunlah! Tari!"
Ia tak menjawab!
Ya Allah.. Apa terjadi sesuatu dengannya?
Aku berjalan dengan langkah gontai mendekatinya.
Aku memeriksa suhu tubuhnya. Normal. Denyut jantungnya juga masih ada.
"Tari kamu tidur?" tanyaku. Kugoyangkan pelan tubuhnya. Usahaku berhasil. Ia mulai membuka matanya.
"Om Agas udah pulang?" Ia hendak duduk. Aku membantunya.
"Kamu sakit?" tanyaku dengan penuh khawatir.
"Cuma agak pusing aja, Om. Sudah jam berapa? Kok Om udah pulang? Aku belum masak buat Om." Ia terlihat khawatir.
"Jangan pikirkan tentang itu! Yang penting kamu baik-baik saja!" kuambilkan segelas air dan memberikan pada Tari. "Minumlah!"
Tari menurut. Ia meminum air yang kuberikan.
"Masih pusing?" tanyaku.
"Sudah enakkan. Jam berapa sekarang Om?"
"Hampir setengah 7 malam." jawabku.
__ADS_1
"Hah? Setengah 7? Ya Allah, Tari kelewatan sholat ashar! Kok Tari bisa tidur lama kayak begini ya?" Ia terlihat panik dan bingung sendiri.
"Kamu mau periksa ke dokter? Kalau kamu pusing lebih baik diperiksakan. Kita ke dokter aja ya! Sejak kemarin kamu kayak begini terus. Ada yang kamu pikirkan?"
Aku duduk di samping Tari dan menatapnya dengan lekat. Anak polos ini tak bisa menyembunyikan fakta kalau ada masalah yang Ia sedang pikirkan.
"Ada apa? Cerita saja sama aku! Kalau bisa, pasti aku akan membantu kamu!" aku semakin yakin kalau sudah terjadi sesuatu dengannya.
"Aku mau shalat maghrib dulu ya, Om! Takut kehabisan. Aku udah kelewatan shalat ashar, nggak mau kelewatan shalat maghrib lagi."
Aku tak bisa memaksa Tari untuk bercerita. Biarlah, nanti aku akan mengorek keterangan lebih dalam lagi padanya.
Sambil menunggu Tari wudhu, aku memesan makanan lewat ojek online. Setelah itu, aku mandi dan menunaikan shalat maghrib. Tak lama, makanan yang kupesan datang. Tari yang masih duduk di tempat tidur tak kubiarkan untuk bangun. Biar aku saja yang menyiapkan makanan malam hari ini.
Setelah makanan siap, aku mengajak Tari untuk makan. Kulihat, Ia tidak berselera makan. Hanya mengambil sedikit makanan dan makan dengan malas.
"Kenapa lagi? Makanannya enggak enak?" aku tak sabar untuk bertanya.
"Enak kok. Cuma, Tari masih kenyang Om."
"Memangnya, kapan terakhir kamu makan?" aku mulai menginterogasinya. Aku tak yakin dengan alasan kenyang, karena aku tahu Ia pasti sudah tertidur lama dan belum makan tentunya.
"Hm... Kapan ya? Tadi siang Tari makan enggak ya? Kayaknya nyicipin kue brownies deh di tempat kursus."
Aku menaruh sendok makanku diatas piring. Masalah ini harus selesai baru aku bisa makan dengan tenang.
"Katakan padaku apa yang sudah terjadi!" kataku dengan tegas.
Tari menggeleng, "Enggak ada masalah kok, Om."
"Bohong! Aku kenal kamu! Aku tahu kapan kamu berkata jujur dan kapan kamu menyembunyikan sesuatu. Katakan padaku apa yang sudah terjadi, sebelum aku mencari tahu sendiri!" sedikit ancaman harus kukeluarkan agar Ia berkata jujur.
"Sebenarnya, Tari diajak sama Pak Adi ke acara pembukaan cafe. Ada dua jenis, cafe untuk kawula muda dan cafe untuk keluarga. Tari tertarik, tapi Pak Adi bilang Tari harus ijin sama Om dulu sebelum pergi." katanya terus terang.
"Baiklah, kita pergi! Aku yang akan mengantar kamu! Bilang sama guru kamu, kalau suami kamu yang akan mengantar sendiri. Masalahnya selesai. Ada apa lagi?!"
Aku tahu bukan ini masalah intinya. Tari hanya berputar-putar dahulu dan masih berusaha menyembunyikan apa yang telah¹œi terjadi.
Tari menunduk. Kutopang daguku dengan sebelah tanganku lalu menatapnya dengan lekat. "Masih ada yang lain kan?"
Tari mengangguk tanpa mengangkat wajahnya.
"Apa? Cerita saja!"
__ADS_1
Tari lalu mengangkat wajahnya dan balas menatapku. "Sebenarnya.... Tadi ada yang bilang kalau Tari mirip dengan wajah Ibunya. Lalu Tari lihat fotonya, memang benar-benar mirip."
"Foto palsu kali!" celetukku.
"Bukan. Tari lihat sendiri. Foto itu adalah foto jadul. Warnanya saja masih hitam putih. Wanita di foto itu saat masih muda sangat mirip dengan Tari."
"Lalu?"
"Lalu... Tari diajak untuk test DNA." jawabnya takut-takut.
"Hah? Test DNA? Lalu kamu mau?"
"Tari belum kasih jawaban, Om. Tapi dalam hati Tari berharap kalau kenyataan itu benar. Tari masih memiliki nenek."
Aku menghela nafas dalam. "Jangan semudah itu percaya! Kamu ketemu dimana sih?"
Tari diam. Lagi-lagi anak itu menyembunyikan sesuatu.
"Dimana?"
Tari tak menjawab. Aku jadi semakin curiga.
"Aku kenal?" tanyaku lagi penuh selidik. Tari mengangguk. "Siapa?"
"M... Mamanya Mbak Tara." jawab Tari takut-takut. Ia pasti takut aku marah kalau dirinya dekat dengan keluarga Tara.
"Mama? Bagaimana mungkin?!" aku makin tak percaya.
"Tari juga tak mau percaya, Om. Tari baru bertemu sama Mamanya Mbak Tara hari ini. Mamanya Mbak Tara sangat terkejut saat melihat Tari. Lalu Tari ditunjukkan foto Neneknya Mbak Tara. Wajahnya sangat mirip dengan wajah Tari, Om. Lalu Tari diceritakan tentang adiknya yang bernama Naura. Tante bilang adiknya Naura menitipkan anaknya di panti asuhan. Alasannya karena takut anaknya diambil, namun aku lebih percaya alasan karena adiknya Naura sakit dan tak ada yang dipercaya untuk menjaganya. Menurut Om bagaimana?"
Aku menatap mata Tari yang menggambarkan kebahagiaan dan kesedihan dalam waktu bersamaan. Bahagia karena mungkin saja Ia masih memiliki keluarga, sedih karena kalau memang benar berarti Ibu kandungnya memang sudah meninggal dunia.
Kasihan Tari, tak pernah melihat wajah orangtuanya sekalipun. Aku bersyukur masih memiliki orang tua yang masih bisa kulihat dan kusayangi.
"Mama tak mungkin berbohong sih, sifat Mama begitu berbeda dengan Tara. Mama sangat sayang sama aku, karena itu mungkin Mama sampai mengusir Tara karena ketahuan selingkuh. Kalau Mama sudah mengatakan hal ini sama kamu, aku yakin kalau Mama berkata jujur. Kita coba periksa saja. Toh tak ada ruginya!"
Mata Tari berbinar senang saat mendengar aku menyetujui rencananya untuk tes DNA. Ia bahkan sampai meneteskan air matanya. "Makasih ya, Om. Makasih Om sudah mau mendukung Tari."
Aku tersenyum mendengar ucapan tulus darinya. "Sekarang kamu sudah tenang bukan? Ayo makan! Biar kamu enggak lemas lagi! Kalau mau ke dokter, aku akan antar!"
Tari menggelengkan kepalanya. "Udah enggak lemas lagi, Om. Udah segar sekarang. Tari mungkin tadi banyak pikiran aja makanya agak pusing. Ayo Om kita makan lagi!"
Tari pun mendapatkan lagi semangatnya yang sempat hilang. Dalam hatiku ikut berdoa, semoga Tari menemukan keluarganya kembali.
__ADS_1
****