Duda Nackal

Duda Nackal
Dukungan Sahabat


__ADS_3

Aku pergi menemui Bastian. Sengaja aku tak langsung datang ke showroom. Pikiranku kalut dan aku butuh teman untuk berbagi cerita. Di antara sahabat-sahabatku, hanya Bastian yang otaknya paling benar. Sisanya gesrek semua.


Cerita atau curhat dengan Sony maupun Rico pasti ujung-ujungnya ngajak orang bersenang-senang. Kadang malah di bercandain. Jadi, lebih aman curhat dengan Bastian saja.


Aku mengarahkan mobilku ke kantor milik Bastian. Sebelumnya aku sudah menelepon Bastian kalau aku mau datang. Bastian menyambut kedatanganku dengan senyum di wajahnya. Jelas aja, pengantin baru gitu loh. Masih indah-indahnya mencoba berbagai gaya ha...ha...ha....


"Apa kabar, Bro?" sapaku pada sahabat yang sudah seperti saudara sendiri ini. "Enak kan jadi suami orang?"


"Enak banget, Bro! Jauh lebih enak daripada kita bergelimang dosa! Mau enak-enak kapan aja bebas! Mau gaya ini itu bebas asal yang benar. Mau pulang malam pergi berdua check in di sana-sini semuanya bebas. Kalau digrebek, tinggal nunjukin surat nikah semua beres! Kalau dulu, agak khawatir takut ada penggerebekan kena deh. Bukan masalah di kantor polisinya, malunya itu loh!" cerita Bastian dengan bangganya.


"Iya deh... Iya... Beda memang kalau masih aura pengantin baru. Sama kayak gue, masih hitungan pengantin baru juga. Cuma bedanya, lo masih di tahap seneng-seneng. Gue langsung di tahap down."


"Udah gue duga sih, seorang Agas mau main ke kantor gue apalagi kalau bukan ada masalah? Kenapa? Lo selingkuh? Terus lo ketahuan sama Tari?" tebak Bastian.


"Sialan loh! Gue bukan Rico atau Sony yang mainnya enggak halus. Lo kan tahu gimana gue?! Mantan duda nackal mah kalau mau selingkuh gak akan ketahuan. Masalahnya, gue nggak mau selingkuh. Malah, cewek-cewek di masa lalu gue yang mulai berdatangan satu persatu dan mau menghancurkan rumah tangga gue!"


"Siapa? Cici? Tara? Si DJ itu? Lo kebanyakan sih! Gue aja sampai nggak hafal siapa aja yang udah pernah lo tidurin!" kata Bastian dengan jujur. "Lo mau minum apa? Biar gue suruh sekretaris gue pesenin nih!"

__ADS_1


"Yang dingin aja. Biar otak gue yang panas ini jadi adem. Oh iya, gue buka cafe loh! Saking sibuknya, gue sampai lupa mau ngundang lo semua!"


"Wah parah! Giliran ada masalah aja lo nyari gue. Giliran lo buka cafe, nggak ngundang kita-kita!" Bastian lalu menelepon sekretarisnya untuk memesankan 2 buah es kopi beserta cemilannya.


"Lupa gue sumpah! Udah besok lo main aja ke cafe gue. Nanti gue share loc. Balik lagi nih ke masalah gue, bukan ketiga cewek yang tadi lo sebutin yang mengganggu rumah tangga gue kali ini. Tapi yang berbeda."


"Siapa? Rekan kencan satu malam loh? Gue kenal nggak?" Bastian duduk kembali di sampingku.


"Kayaknya nggak kenal deh. Waktu itu gue sama Rico atau Sony ya, gue lupa. Jadi ada satu anak mahasiswa yang lagi dugem di tempat tongkrongan kita. Gue lihat, nih cewek bisa juga nih buat diajak senang-senang. Gue tahu karena mahasiswa yang kayak gitu yang gue incer. Mahasiswa yang mau diajak senang-senang. Yaudah, gue nggak mikir macem-macem. Gue bawa dia ke rumah gue dan kita have fun. Tolong digarisbawahi ya, gue pake pengaman. Semalaman gue senang-senang dan kita berakhir di pagi hari. Gue pikir masalah gue kelar. Ternyata gue ketemu lagi sama tuh mahasiswa. Namanya Vira. Dia datang ke cafe dan membuat Tari takut."


"Takut gimana maksud lo? Dia mukanya serem? Atau dia ngancam Tari?" Bastian memotong ceritaku.


"Serius lo, Gas? Tuh anak hamil sama lo? Bocor kali kond*m loh!" tebak Bastian.


"Ya nggaklah, waktu selalu beli selalu baru, terus belinya di apotek yang jelas. Masa sih pabrik nggak ada quality control nya? Kalau belinya di pinggir jalan iya bisa aja bocor. Lo kan tahu, bagi gue keamanan itu yang pertama. Nggak mau gue sembarangan nebar benih di cewek yang nggak bener! Lo juga tahu, meskipun gue nakal, gue nggak mau mengotori milik gue dengan perempuan yang yang bisa diajak senang-senang sama cowok lain! Kalau dia kena penyakit kelamin idih gue mah ogah!" kataku sambil bergidik ngeri.


"Jadi dia anak orang kaya, ngaku hamil dan mantan pembully Tari? Kalau Tari sampai takut itu pasti dia punya alasan dan pasti tuh cewek nggak bisa sembarangan lo hadepin. Gue jadi penasaran, Bapaknya siapa?"

__ADS_1


"Nah itu dia, begonya gue tuh nggak nanya nomor handphonenya dia. Jadi, gue cuma tinggal nunggu dia datang lagi ke cafe buat nyelesaiin semua masalah. Masalahnya, Tari bilang nggak akan mudah selesai seperti itu kalau orang tuanya Vira udah turun tangan. Nggak tahulah, pasti tajir mampus itu anak! Itu yang bikin gue khawatir. Bukan apa-apa, kalau hasil tes DNA dipalsuin gimana? Kayak di sinetron-sinetron gitu!"


"Ah masa sih? Ya cari rumah sakit yang terpercaya lah! Kayaknya sih enggak mungkin, kebanyakan nonton sinetron sih lo! Tapi lo yakin, beneran nggak ngehamilin tuh anak?" Bastian menatapku lekat.


"Nggak percayaan banget sih jadi orang! Enggak! Gue nggak pernah main tanpa pengaman, kecuali sama Tara dan Tari. Itupun setelah mereka jadi bini gue. Sisanya, gue nggak mau! Gue kan nggak tahu mereka habis main sama siapa aja?! Gue juga nggak tahu mereka sehat apa enggak? Kasian nanti Ot*ng gue, bisa kena penyakit menular. Ih amit-amit deh!"


"Ya udah, gue bisa bantu apa? Bakalan gue bantu kalau bisa gue bantu. Tapi kalau masalah ngelawan bapaknya yang tajir sih, gue nyerah. Kasihan pekerjaan gue nanti. Lo kan tau, gue baru nikah. Ada yang harus gue nafkahin sekarang!"


"Iya. Gue enggak minta lo bantu gue sejauh itu kok. Gue punya rencana, semalam gue coba buka CCTV di rumah gue dan lihat tanggal dia datang ke rumah. Nah gue perlu tau berapa minggu bayi dalam kandungannya, kalau enggak cocok ya berarti bukan anak gue. Emang bukan anak gue juga sih, tapi setidaknya dari situ gue udah punya bukti kalau itu bukan anak gue. Kedua, tes DNA. Itu bukti otentik. Ketiga, gue minta lo bakalan buka CCTV tempat tongkrongan kita, gue bakalan cari tuh cewek pernah main selain sama gue dengan siapa aja. Nah ini gue butuh bantuan lo. Lo kan deket sama pemilik tempat tongkrongan kita, lo minta tolong dia bukain CCTV pasti dikasih deh. Mau kan?" tanyaku penuh harap.


"Oh... kalau itu mah gampang! Nanti gue calling orangnya dan minta bukain CCTV buat lo. Ada lagi nggak yang bisa gue bantu?" tanya Bastian.


"Sementara sih belum. Eh, lo cari tahu deh di tempat tongkrongan kita. Tuh anak kayaknya sering main kesana. Cuma gue nggak pernah perhatiin aja. Lo tanyain gimana hubungan dia sama temen-temen sekitarnya. Gue juga harus cari tahu mungkin aja dia punya pacar, terus mereka bersenang-senang dan dia minta tanggungjawab sama gue gara-gara gue ganteng?! Segala hal bisa aja terjadi kan? Dan tugas gue adalah mengumpulkan bukti sebanyak-banyaknya agar gue menang melawan orang tuanya yang tajir itu. Tapi gue minta sama lo, kita ngelakuinnya diam-diam saja. Karena yang kita hadapi tuh bukan orang biasa. Yang kita hadapi adalah salah seorang yang punya power. Jangan sampai malah kena ke bisnis kita."


"Iya tenang aja! Gue bisa kok jaga rahasia. Asal lo juga jangan cerita sama tuh dua anak. Takutnya mereka bocor."


"Tenang aja itu mah. Gue kan udah jarang eh malah enggak pernah lagi ke diskotik. Sekarang udah tobat! Gue mau Tari tetap memanggil gue dengan panggilan Abi. Kalau kata bokap gue mah gue harus agamis biar cocok dipanggil Abi. Makanya, sekarang gue sedang memperbaiki diri biar cocok dengan panggilan gue."

__ADS_1


"Salut dah gue sama lo! Berubah karena cinta! Mantap! Gue bakalan dukung lo, Sob! Tenang aja!"


****


__ADS_2