Duda Nackal

Duda Nackal
Babak Belur


__ADS_3

Aku lengah. Aku teralihkan oleh pecahnya kaca sebelah kiri mobilku dan tak sadar saat ada tangan yang mencengkram Leherku dari jendela yang terbuka.


"Keluar sekarang! Atau lo bakalan habis hari ini juga!" Ancam laki-laki bertubuh besar tersebut.


Mau tak mau aku pun membuka kunci pintu dan lalu aku ditarik keluar dan dihempaskan di atas aspal


Bruk...


Seketika rasa perih terasa saat tanganku menggores tanah dan menyebabkan lenganku lecet.


Para bodyguard itu lalu mulai memeriksa mobil milikku dan mencari barang bukti yang diperintahkan oleh Papanya Vira untuk diambil paksa.


Aku sudah menduga Papanya Vira nggak akan semudah itu melepaskanku. Aku sudah mengancamnya dan aku menjadi orang yang seharusnya bertanggung jawab atas kehamilan putrinya. Aku tahu, dia enggak akan mengotori tangannya secara langsung saat kami bertemu tadi di restoran namun akan melakukan aksinya di belakang.


Handphone-ku diambil dan dibanting lalu diinjak sampai hancur. Kartu sim card-nya diambil dan bodyguard itu mencari lagi barang bukti di dalam mobilku yang mungkin masih tersisa.


Beruntung Bastian tadi mengajarkanku untuk video call. Jadi, Bastian merekam semua yang terjadi untuk ku jadikan bukti.


"Bos ternyata tadi dia lagi video call! Wah, mana handphonenya sudah keburu dibanting lagi! Kita kecolongan Bos!" lapor salah seorang Bodyguard yang tadi berdiri di depan mobilku. Bodyguard itu telat mencegah bosnya membanting Hp milikku.


Bos dari para Bodyguard itu mendatangiku dan menarik kerah bajuku. Aku tak semudah itu menerima diperlakukan seperti ini. Aku melawan dan terjadilah perkelahian yang tidak seimbang ini.


Aku berusaha menonjok apapun yang bisa aku pukul. Siapapun yang ada di depanku aku lawan. Namun saat sebuah pukulan melayang ke perutku, brukkk... aku pun mulai terjatuh. Lalu beberapa pukulan dan tendangan pun mulai kudapatkan.


"Cih! Berani melawan anak ini?! Udah bosen hidup?" tantang bodyguard yang tadi sempat kena pukul wajahnya dengan tinjuku.


"Kita habisin aja nih bos?" tanya salah seorang anak buahnya.

__ADS_1


"Jangan! Bapak minta dia harus hidup. Dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya! Kita tinggalkan aja dia disini!" lalu semua Bodyguard itu pergi meninggalkanku dalam keadaan babak belur.


Sim card dan memory card di Hp yang tadi dihancurkan diambil. Tak ditemukan barang bukti lain di mobilku.


Bastian yang sudah tahu di mana lokasiku pun menyuruh anak buahnya untuk datang. Aku lalu dibawa ke rumah sakit dan mobilku masuk bengkel tentunya dengan keadaan kaca yang pecah di sebelah kiri dan isi mobilku berantakan. Mereka bahkan merobek job mobilku dengan pisau. Untung bukan perutku yang dirobek!


Bastian mendatangiku saat aku sedang diobati lukanya di UGD. Ia terlihat begitu khawatir dan meminta maaf karena tidak bisa datang lebih cepat lagi. Aku mengerti, jarak kantornya dengan lokasiku tadi itu cukup jauh. Beruntung dia punya anak buah yang lokasinya dekat dengan tempatku jadi bisa langsung membawaku ke rumah sakit.


"Udah hubungin Tari belum, Gas?" tanya Bastian.


Aku menggelengkan kepalaku. "Jangan dulu! Nanti dia panik dan langsung datang kesini. Gue nggak apa-apa kok! Cuma agak bonyok dikit aja dan perut gue masih agak sakit. Habis ini gue langsung ke cafe dan ceritain sama Tari semua yang terjadi secara langsung aja."


"Lo yakin? Lo nggak mau tinggal dimana dulu gitu? Setidaknya Tari juga harus lo umpetin juga kan? Bukan lo aja, Tari juga dalam bahaya." ujar Bastian.


Yang dikatakan Bastian ada benarnya juga. Tari juga terancam keselamatannya. Namun bukan aku namanya kalau segala sesuatu tidak aku rencanakan.


"Tari In sha Allah aman. Gue udah nyewa beberapa orang untuk berjaga di depan cafe dan karyawannya pasti akan melindungi Tari, tenang aja. Tadi gue habis di rontgen segala macam, semoga aja hasilnya bagus."


"Nasib lo apes banget sih, Gas? Sampai bonyok begini. Emang tadi negosiasinya gimana? Marah banget dong tuh Bapaknya Vira?" tanya Bastian lagi.


"Papanya sih bilang mau diselidiki dulu tapi ternyata biasalah orang politik. Di depan beda, di belakang beda. Bilangnya mau selidikin eh barang bukti yang gue punya disikat juga. Untung aja gue udah backup semua barang bukti sama lo dan satu lagi di tempat rahasia. Kalau nggak... abis udah semua yang udah gue kumpulin itu sia-sia. Bisa-bisa semua ancaman gue udah nggak berarti lagi di depan dia. Sekarang dia boleh senang dulu karena dipikirnya gue udah nyerah. Gue belum nyerah. Kalau mereka berani maju lagi untuk merusak rumah tangga gue, akan gue bongkar semua ke media. Mereka akan takut berurusan dengan media. Kekuatan media itu besar. Jangan macem-macem deh sama gue!"


"Gila loh! Gua enggak kepikiran sampai sepanjang itu. Lo tuh orangnya emang penuh perencanaan sih. Bahkan hal yang kecil aja lo rencanain. Gue mikirnya abis punya barang bukti langsung ngancem udah kelar masalah. Tapi ternyata nggak, lo bahkan kepikiran untuk mendouble barang bukti dan disimpan di beberapa tempat. Itu bisa jadi penyelamat lo nanti. Enggak kepikiran gue asli kayak gitu!" puji Bastian.


"Pengalaman hidup. Berkat barang bukti gue bisa cerai dengan mudah dengan Tara. Itu yang membuat gue belajar betapa pentingnya sebuah barang bukti. Barang bukti itu bisa dijadikan kebenaran, bisa juga dijadikan kebohongan yang diubah menjadi kebenaran. Makanya, kalau punya barang bukti setidaknya gue akan lebih aman dan bisa melawan balik."


Bastian menemaniku di UGD sampai akhirnya aku diperbolehkan pulang oleh dokter. Syukurlah tak ada yang luka parah di tubuhku. Semua karena para bodyguard itu menahan tenaga mereka, perintah langsung dari Bos mereka kalau aku nggak boleh dilukai. Kalau tidak pasti mereka akan menghajarku habis-habisan. Bisa dipastikan aku hanya tinggal nama saja karena tenaga mereka begitu besar.

__ADS_1


Aku pun mendatangi cafe milik Tari yang sore ini terlihat ramai dengan diantar oleh Bastian. Wajahku yang babak belur menjadi perhatian para karyawan dan beberapa orang pengunjung.


Aku langsung masuk ke dalam dan menuju ke dapur. Tari yang sedang membantu chef menyiapkan bahan makanan, terlihat menjatuhkan pisau yang sedang ia pegang. Ia terkejut dan langsung berlari menghampiriku. "Abi kenapa? Kok bisa kayak gini sih? Siapa yang jahatin Abi?" matanya langsung meneteskan air mata dengan cepat dan tanpa dikomando lagi. Tari memang sesayang itu denganku, melihatku terluka seperti ini Ia terlihat begitu sedih.


"Aku ceritakan di dalam aja ya. Kamu bisa tolong ambilkan aku minum dan makanan? Aku laper." kataku sambil menahan sakit.


"Iya... Akan Tari ambilkan! Abi ke kamar aja dulu, nanti Tari datang ke sana."


Aku berjalan ke kamar Tari seorang diri, sebelum pergi aku lihat Tari sedang bertanya pada Bastian apa yang sudah terjadi. Bastian menolak menjelaskan apa yang sudah terjadi. Takut karena yang kami hadapi adalah orang penting. Bastian meminta Tari bertanya langsung padaku.


Aku berjalan dan tidak menyimak lagi apa yang mereka bicarakan. Aku masuk ke dalam kamar Tari dan merebahkan tubuhku di atas tempat tidurnya yang rapi.


Tubuhku terasa sakit. Rasanya aku butuh istirahat lebih dari sehari untuk memulihkan kondisi tubuhku yang bonyok ini.


Tak lama, Tari datang membawa sebuah nampan berisi minum dan makanan untukku. Aku sangat lapar. Sejak tadi, aku belum makan. Saat pertemuan di restoran pun makanan tidak aku colek sama sekali, karena aku takut diracunin. Lebih baik aku berjaga-jaga tidak makan dan minum saat terjadi di diskusi seperti tadi.


Firasatku benar. Kalau tadi aku diberi obat bius pasti aku gagal mengancam Papanya Vira.


Tari pun tanpa banyak kata menyuapiku. Aku makan dengan pelan karena wajahku ini terasa perih saat membuka mulut.


Selesai makan dan minum, Tari menungguku untuk berbicara. Aku pun menjelaskan apa yang sudah terjadi mulai dari aku janjian dengan Vira dan pada akhirnya aku bertemu dengan papanya Vira secara langsung.


Tak kusangka Tari malah menangis dengan kencang. "Maafin Tari, Abi. Tari memang seorang istri yang membawa sial!"


Loh kok? Kenapa Tari malah bicara seperti itu? Aku tak menyangka Tari akan menyalahkan dirinya sendiri seperti ini. "Bukan, bukan kamu yang membawa sial. Itu aku dan semua perbuatanku di masa lalu yang membuat kita sial seperti ini! Kalau saja aku tak nakal, pasti kita sedang berbahagia. Maafin aku Sayang... Maafin aku...."


***

__ADS_1


__ADS_2