Duda Nackal

Duda Nackal
Si Polos yang Cepat Tanggap


__ADS_3

Pulang dari jalan-jalan malam, tanpa Tari perintah aku sudah mengambil air wudhu. Sekalian mencuci muka dan sikat gigi sebelum tidur.


Tari melakukan hal yang sama. Membersihkan wajahnya dari sisa make up lalu mengambil wudhu.


Kami pun shalat berjamaah. Aku mulai terbiasa menjadi imam sholat. Mulai terbiasa memberikan tanganku untuk Tari salim.


Memang hal-hal baik itu harus dibiasakan. Karena akan hilang jika kita tidak terbiasa melakukannya.


Selesai sholat, tanpa aku minta Tari sudah memakai baju dinasnya. Kali ini Ia memakai lingerie berwarna hitam. Wow... Inisiatif sekali dia.


Aku merasa hasratku terbangun dengan cepat.


"Tari mau belajar melakukan apa yang Mbak Cici lakukan." ujarnya dengan sungguh-sungguh.


"Kamu yakin?" tanyaku ragu.


"Yakin!" jawabnya tanpa keraguan sedikitpun. Justru malah aku yang ragu. Apakah bagus mengajarinya hal seperti itu?


Malam ini Tari berbeda dari malam pertama kami dahulu. Ia mulai bersikap agresif.


Ia mendekatiku dan mencium bibirku dengan lembut sambil menggoda dengan memberi gigitan kecil. Aku tersenyum. Ini yang kulakukan dulu dan Ia belajar dengan cepat. Good girl!


Aku membalas ciumannya. Aku masih dalam posisi tiduran sedang Ia duduk sambil menciumku.


Tubuhnya mungil namun terasa padat. Memiliki aset berukuran 36-D sudah sangat luar biasa. Jarang ada yang memilikinya, biasanya hanya telor ceplok saja ups...


Anak itu mulai menggodaku. Menarik tanganku untuk mulai menelusuri setiap lekuk tubuhnya. Sesekali Tari melepas ciuman panas kami untuk mengambil nafas lalu mulai menciumku dengan penuh hasrat.


Tari menyukai setiap sentuhan yang kuberikan. Ia mau lebih dan aku tahu itu. Namun ternyata aku salah.


Ia turun ke bawah lalu melakukan hal yang Cici lakukan. Hal yang pernah Ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.


Gila ini sih.


Aku menikmati apa yang Ia lakukan.


Aku suka dengan apa yang gadis polos ini lakukan pada tubuhku.


Aku tak mau menyerah sebelum memberikannya kepuasan. Maka aku pun menghentikan apa yang Ia lakukan lalu mulai memberikan hal yang belum pernah kulakukan sebelumnya.Memberikannya kenikmatan tiada tara. Gantian.


"Ah... Om... " dari suaranya aku tahu kalau Ia menyukainya. Ia sampai merem melek karena terlalu menikmatinya.


Kita lihat apakah anak polos ini masih akan tetap polos setelah mengetahui bahwa proses penyatuan adalah hal yang menyenangkan. Kenikmatannya akan membawa kita sampai ke langit ketujuh.


Aku pun melepas pusat tubuh dan mulai menikmati 36-D milikku. Ya, milikku. Hanya aku seorang yang pernah menyentuhnya.


"Om.... "

__ADS_1


Tari memberi isyarat kalau Ia siap untuk penyatuan kami.


"Om... Please... "


Wah... Dia yang meminta.


Aku tak menjawab. Aku masih asyik menikmati 36-D.


"Om... "


Oke... It's show time...


Aku bersiap melakukan penyatuan. Tak akan sakit pastinya karena Ia sudah sangat siap dengan proses penyatuan, malah Tari yang memintanya.


Aku pun mulai melakukan penyatuan. Masih sempit, namun dengan sekali sentak aku berhasil menguasai medannya.


Aku mulai dengan gerakan slow maju mundur. Itu saja sudah membuat Tari sampai menggenggam seprai menahan setiap hal yang melenakkan ini.


Aku masih mau menikmati 36-D miliknya. Memberikan tanda kepemilikanku yang banyak di area yang luas ini.


Kini Tari tak lagi menggenggam seprai melainkan menjambak rambutku. Kenapa sih kalian para cewek suka sekali menjambak rambutku saat kalian mendapatkan kenikmatan dariku?


Tapi tenang, aku suka itu. Itu adalah kode kalau kalian suka dengan permainanku. Kunaikkan speedku dan terus membuatnya menyebutkan namaku dengan suaranya yang se*si.


"Om... Agas... Om...."


Aku terkulai lemas dan tertidur di tempat favoritku kini. Dimana lagi kalau bukan celah diantara 36-D yang empuk dan kenyal itu.


Kami tidur saling berpelukan. Lelah sehabis meluapkan hasrat membuat kami tertidur lelap. Tari sebelumnya masih sempat menyelimuti tubuh polos kami dengan bed cover sebelum Ia sendiri tertidur pulas.


Aku mulai terbiasa terbangun saat mendengar suara orang mengaji dari speaker masjid sebelum adzan subuh berkumandang. Terbangun dengan posisi wajahku berada diantara dua buah miliknya membuat hasratku kembali tersulut.


Aku pun langsung menikmati buah miliknya tanpa permisi. Hmm... Nikmatnya... Rasanya tanganku punya mainan baru sekarang. Besar dan kenyal.


"Mm... Om... " Tari terbangun saat aku menikmati dengan penuh nikmat 36-D miliknya.


"Om.... Ah.... Om.... " suara seksi miliknya di pagi hari berbeda, suaranya agak serak dan membuatku merasa ini suara paling se*si yang pernah kudengar.


Kubalikkan posisi tubuh kami. "Kamu diatas dan bergeraklah senyaman kamu."


Awalnya Tari masih bingung. Pengetahuannya tentang hal ini sangat sedikit. Kuangkat tubuhnya dan melakukan penyatuan.


"Aww.... Om..."


"Kenapa?" tanyaku sambil tersenyum, aku sengaja sedikit bergerak untuk memberikannya kenikmatan lain yang belum Ia rasakan.


"Rasanya dalem banget." ujarnya dengan polos.

__ADS_1


"Ha...ha...ha... bergeraklah! Kamu pasti menyukainya!" perintahku.


Kedua tangannya bertumpu di dadaku dan mulai bergerak. Wow... Ternyata justru aku yang merasakan sesuatu yang berbeda. Tari benar-benar sesuatu.


Tari mulai menguasai keadaan. Ia bergerak makin cepat dan aku tak tahan lagi.


Tari terbaring lemas diatas tubuhku. Perkataannya kemudian membuatku tersenyum.


"Nanti Tari diatas lagi ah, Om! Lebih enak!"


"Oke. Hari ini aku libur. Kita bersenang-senang seharian. Kamu setuju?" tanyaku yang merasa tertantang.


"Ada Mbak Inah." jawab Tari dengan polosnya.


"Itu urusan gampang!" tanganku lalu mengambil Hp diatas nakas dan mengirimi pesan pada Mbak Inah. Menyuruhnya libur hari ini.


Mbak Inah menjawab oke. Dia sudah tau kalau aku menyuruhnya libur tandanya aku mau bersenang-senang seharian tanpa ada yang mengganggu. Pembantu pintar, nanti aku kasih bonus!


"Mbak Inah beres! Dia enggak akan datang hari ini. Dan aku libur kerja. Jadi, siap-siaplah seharian ini!" ujarku sambil tersenyum penuh maksud.


"Tari selalu siap. Om pokoknya jangan mencari kesenangan di luar ya! Biar Tari yang berikan!"


Aku tersenyum. Pintar sekali caranya bernegosiasi denganku.


"Iya, aku usahakan. Toh aku udah punya mainan baru sekarang."


"Mainan?" tanyanya.


Kusentuh pucuk 36-D miliknya. "Mainan yang bisa mengembang kalau aku sentuh ha...ha...ha... " kucium 36-D miliknya dengan penuh puja.


"Ih! Om! Itu bukan mainan tau! Jangan mainkan ujungnya. Aku suka kayak kesetrum kalau Om sentuh apalagi kalau om hap."


"Ha...ha...ha... Kamu lugu tapi tau yang enak ya? Sudah ayo kita mandi. Sudah adzan subuh!" ajakku.


"Masya Allah, kini bahkan Om yang mengajakku sholat! Om imam keren banget deh! Makin lope-lope deh sama Om!" diciumnya pipiku penuh cinta.


Ah anak ini. Ada saja yang Ia lakukan. Hal kecil yang Ia lakukan selalu membuat hatiku menghangat.


Mungkin ini takdir Allah, mempertemukanku dengannya. Mengobati sedikit demi sedikit luka mengangga yang kupikir tak pernah bisa sembuh.


Kepribadiannya yang polos dan seakan berasal dari planet antah berantah. Tutur katanya yang halus dan mengajariku tanpa aku merasa digurui. Hal-hal yang kecil namun begitu berarti dimatanya.


Bolehkah aku berbahagia sekarang dengannya? Meski cinta belum hadir di hatiku, setidaknya hatiku merasa hangat saat berada di dekatnya.


****


Udah senin nih gaes... Jangan lupa vote Om Agas ya 🥰🥰🥰🥳🥳🥳🥳

__ADS_1


__ADS_2