Duda Nackal

Duda Nackal
Boncap: Dan Terjadi Lagi


__ADS_3

Agas


Pakaian bayi sudah siap. Baju ganti untuk Tari juga sudah siap. Pembalut melahirkan, popok bayi, minyak telon, korset melahirkan, sarung tangan bayi, kain bedongan, kartu asuransi... Oke. Semua sudah ada di list.


Aku meneliti kembali barang-barang yang harus dibawa menjelang melahirkan. Aku tak mau ada yang tertinggal, jadi aku mengecek list yang Tari buat.


"Udah lengkap semua kan Bi?" tanya Tari yang sedang meminum jus buah, di belakangnya mengikuti Wira yang juga meminum jus dari tempat minum miliknya. Mereka bosnya, aku kacungnya. Tak apalah, yang penting mereka senang dan bahagia.


"Udah, My. Abi sampai cek dua kali loh!" jawabku.


"Bagus! Itu namanya Abi siaga!" Tari lalu duduk di sofa.


"Mommy, adek Wila kapan lahil?" tanya Wira yang ikut duduk di samping Tari.


"Sebentar lagi, Sayang! Nanti Wira harus sayang ya sama adiknya Wira. Enggak boleh galak. Sesama saudara harus saling menyayangi. Wira yang harus menjaga adik Wira, membantu Abi dan Mommy. Wira mau kan?" kata Tari seraya mengusap lembut rambutnya.


"Mau. Wila cayang adek. Wila cayang Mommy dan Abi!" kat Wira dengan menggemaskan.


Kudekati Wira dan kupeluk dia lalu mencium pipinya. "Pinter banget sih anak Abi!" pujiku.


"Wila anak Mommy, butan anak Abi!"


Sedih sekali aku ditolak anakku sendiri. "Oh gitu? Jadi Wira enggak mau jadi anak Abi? Yaudah adek aja yang jadi anak Abi!" kini kudekatkan kepalaku ke perut Tari dan mencium perutnya yang membuncit dan terlihat mulai turun pertanda sebentar lagi akan melahirkan.


"Janan! Itu adek Wila! Abi enggak boleh pegang! Abi pegang tewe tantik aja!"


Waduh... perkataan Wira bisa mengundang bahaya buatku nih.


Benar saja, saat aku mengangkat kepalaku Tari sudah memelototiku. "Kamu godain cewek cantik lagi?"


Aku cepat-cepat menggelengkan kepalaku. "Enggak, My. Wira bohong tuh! Abi mana pernah godain cewek cantik?!"


Wah... Wira benar-benar sudah mengkhianatiku. Lihat saja nanti!


"Abi godain cewek dimana Wira?" rupanya Tari tak percaya dengan perkataanku. Ia lebih percaya pada Wira.


"Di Hp!" jawab Wira jujur.


Wah... Bahaya nih!


"Oh ya? Abi bilang apa aja?" tanya Tari dengan tatapan semakin tajam saja.


"Abi bilang, hi tantik! Becok bisa ketemu?"


Aku susah payah menelan salivaku. Wira terlalu jujur! Bahaya... bahaya...


"Masih enggak mau ngaku, Bi?" tanya Tari dengan tatapan mautnya.

__ADS_1


"Itu... Lagi bantuin Sony, My!" jawabku jujur.


"Ah alesan!"


"Bener, My!"


"Alecan!" Wira ikut menyahut.


"Sst! Wira! Kalau orang tua lagi ngomong jangan ikutan!" omelku. Wira pun menurut dan kembali meminum jus miliknya.


"My, beneran. Aku waktu itu bantuin Sony. Dia kan trauma berhubungan serius. Ada cewek yang Ia deketin. Sony lagi ngetes tuh cewek. Ada bibit selingkuh apa enggak. Nah, sebagai teman yang baik Abi bantuin dong. Abi pura-pura menggoda cewek itu. Beneran deh, My. Abi mana suka sih sama cewek lain selain Mommy Tari?"


"Oong!" celetuk Wira.


Tari yang awalnya masih mau marah eh malah menahan tawanya mendengar celetukan Wira.


"Wira! Abi enggak buatin susu nih!" ancamku.


"Mommy yang buatin ya, My!" Wira malah minta dukungan Tari.


"Iya. Mommy yang buatin. Wira harus satu kubu sama Mommy ya!" ujar Tari. Wira mengangguk setuju.


"Abi jujur, My. Mau Abi telepon Sony buat jadi saksi?"


"Enggak usah! Kamu kan satu geng sama Sony. Pasti kalian sudah kerja sama!" kata Tari.


"Enggak ucah!" sahut Wira.


Wira langsung berlindung di belakang Tari. Kupikir aku akan diomeli Tari namun ternyata Tari hanya diam.


"Kenapa, My?" tanyaku khawatir.


"Perut aku, Bi. Kok mules ya? Aduh... Jangan-jangan aku mau ngelahirin sekarang?" ujar Tari seraya mengusap perutnya.


Waduh... Siap-siap dijambak nih rambutku!


"Abi siap-siap dulu! Abi mau telepon Oma untuk jaga Wira di rumah!"


Kuambil tas persiapan melahirkan milik Tari dan kutaruh di bagasi mobil sambil menelepon Oma memintanya menemani Wira di rumah. Aku kembali ke dalam dan melihat Tari semakin kesakitan.


"Wila mau icut! Wila mau icut!" anak ini malah ikut-ikutan memperkeruh suasana.


"Wira, Mommy mau ngelahirin adeknya Wira. Nanti Wira datang ke rumah sakitnya saat adik Wira sudah lahir ya!" bujukku.


"Endak mau! Wila mau icut! Mau icut huaaaa...."


Ya Allah anak ini, enggak ada pengertiannya sama sekali!

__ADS_1


Aku acuhkan Wira dan masuk ke dalam kamar. Kuambil cardigan rajut milik Tari dan memakaikan Tari agar tidak kedinginan di hari yang sudah malam.


"Bi! Sakit!" kata Tari dengan suara lemah.


Kalau aku jawab, aku tahu, pasti aku kena omel kayak waktu itu.


"Sabar ya My. Kita berangkat sekarang!" kataku menenangkan Tari.


"Ya enggak bisa sabar, By. Sakit ini!" tuh kan salah lagi. Mulai deh kumat menyalahkan aku kalau mau lahiran. Siap-siap Gas. Ujian hidup yang sebenarnya sudah dimulai. Kamu merasakan enak saat membuatnya, kamu juga yang harus menerima sakitnya saat Ia melahirkan. Sakit hati dan sakit akibat jambakan.


"Mbak! Tolong jaga Wira! Nanti Oma akan kesini untuk temani Wira. Titip ya Mbak!" lebih baik aku bicara sama Mbaknya Wira saja daripada kena omel lagi.


"Bi! Cepetan! Lama banget sih!" kata Tari tak sabaran.


"Iya, Sayang. Ayo kita pergi sekarang!" aku lalu menggandeng Tari namun Wira menahan langkah kami. Ia terus memeluk kaki Tari agar diajak.


"Sayang, Mommy mau ke dokter dulu. Kamu di rumah aja ya!" bujukku.


"Enggak mau! Wila mau icut! Wila mau ikut Mommy... Huaaa...."


Keadaan makin tidak kondusif. Wira menangis dan Mbaknya hanya diam mematung tanpa ada inisiatif. Mungkin karena usianya yang masih muda jadi kurang pengalaman membujuk Wira. Mbak Wira yang sebelumnya sudah berhenti kerja karena menikah.


"Mbak! Gendong dong Wira-nya!" tegurku.


"Eh.. Iya, Pak!" baru deh Mbak itu menggendong Wira.


Wira yang tak mau digendong mulai meronta-ronta. "Wila mau icut! Wila mau icut!"


Lalu yang terjadi kemudian membuat Wira terdiam dan gantian aku yang berteriak.


"Awwww! Sakit Sayang!" Tari kembali menjambak rambutku.


"Ini gara-gara Abi! Coba Abi yang ngelahirin! Aduh....." omel Tari sambil teriak-teriak. Ia terus menjambak rambutku. Wira saja sampai terdiam dan merasa heran dengan Mommynya yang biasa kalem menjadi menyeramkan begitu.


"Iya... Iya... Kita ke rumah sakit sekarang! Lepasin dulu, oke?" bujukku.


Tari pun menurut, cepat-cepat aku berjalan ke garasi dan membukakan pintu untuk Tari.


Sebelum berangkat aku berpesan pada Wira yang masih terdiam menahan keterkejutannya.


"Wira, Mommy serem kan? Wira mau dijambak kayak Abi?" tanyaku.


Wira yang digendong Mbak-nya pun menggeleng cepat. "Wila tatut cama Mommy! Wila cama Oma aja!"


Aku menahan senyumku. Belum aja Wira lihat saat nanti mau lahiran. Lebih nyeremin lagi Mommy-nya yang biasanya kalem itu.


"Bagus! Abi pergi dulu ya! Wira jadi anak baik ya! Nanti Wira akan melihat adik Wira, oke?"

__ADS_1


"Oce!"


***


__ADS_2