Duda Nackal

Duda Nackal
Nama yang Hampir Sama


__ADS_3

Utari


Aku tinggal dengan nyaman di rumah Om Agas. Om memperlakukanku dengan baik, semua kebutuhanku Ia belikan. Aku merasa kalau aku harus membalas budi atas kebaikannya.


Aku menyambut kepulangannya dengan senyum. Membuatkannya makanan dan bersikap layaknya aku adalah penghuni tetap rumah ini.


Aku bahkan merasa kalau aku sudah menjadi bagian dari Om Agas. Tapi aku sadar, dalam hatinya Om Agas masih ada mantan istrinya yang kini tinggal tepat di depan rumahnya.


Aku memutuskan untuk menyerah saja. Aku akan pergi jauh agar Bapak tidak bisa mencariku. Aku akan pinjam uang Om Agas dan nanti aku akan menggantinya.


Om Agas melarang. Ia bilang Bapak mulai mencari keberadaanku lagi. Aku panik dan merasa ketakutan. Bapak pasti akan lebih emosi lagi.


Lalu keajaiban terjadi. Om Agas setuju menikahiku. Wah... aku merasa kalau kini dewi fortuna perlahan mulai berada di pihakku.


Meski Mamanya Om Agas tidak setuju, ternyata Om Agas tetap maju untuk menikahiku. Kami belanja bareng dan menghabiskan waktu berdua layaknya orang pacaran.


Kebahagiaanku semakin bertambah manakala Om Agas sudah siap melakukan ijab kabul. Sayangnya justru nama Mbak Tara, mantan istrinya yang Ia sebutkan.


Tes...


Air mata sedih tak dapat aku tahan. Aku memang akan menikahi Om Agas, namun hati Om Agas mungkin selamanya milik Mbak Tara.


Di malam pengantin aku bertekad akan menyerahkan diriku untuk Om Agas. Setidaknya kalau nanti sampai dijual oleh Bapak, aku sudah tidak suci lagi. Biar tak ada yang mau membeliku.


Kuambil lingerie pink beserta pakaian dalam dengan warna senada. Om Agas harus mengambil kesucianku malam ini. Hanya untuk Om Agas kuberikan kesucian yang kujaga selama ini.


Mata Om Agas terlihat beda saat melihatku dalam balutan lingeri yang membuatku semakin seksi saja. Ya, matanya penuh hasrat yang minta dipuaskan. Hasrat lelaki yang punya segudang pengalaman dengan wanita lain.


Aku pasrah dan menyerahkan diriku pada Om Agas. Aku bahkan mau mengandung anaknya. Aku sangat mencintai Om Agas.


Tak ada kata cinta yang biasanya diucapkan sepasang kekasih sebelum melakukan penyatuan. Hanya ada hasrat membara yang menuntut untuk dipuaskan.


Tak apalah...


Setidaknya melayani Om Agas seumur hidup lebih baik daripada melayani lelaki hidung belang di luar sana.

__ADS_1


Aku ingin menjerit saat bagian intiku terasa seperti robek akibat milik Om Agas yang besar. Aku berusaha menahannya. Aku mau membahagiakan Om Agas.


Dan aku berhasil. Om Agas terlihat bahagia dan puas dengan usahaku. Aku... juga menikmatinya.


Om Agas tidur dengan lelap, kurapatkan tubuhku dengan Om Agas dan tidur dalam pelukannya. Tak ada sehelai benang pun yang memisahkan kami. Kuharap hubungan kami juga akan sedekat ini suatu saat nanti dan kami akan saling jatuh cinta nantinya.


Aku terbangun sebelum adzan subuh berkumandang. Badanku terasa sakit semua dan bagian intiku juga perih sekali. Om Agas ikut terbangun dan kembali menggodaku.


Meski menahan sakit, aku tetap melayaninya sebagai seorang istri yang baik. Sakit tapi ada kenikmatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.


Setelah melayaninya aku mandi dan menunaikan sholat subuh. Om Agas menatapku yang sedang berdoa dan agak bingung saat aku mengulurkan tangan untuk salim.


Aku sengaja tak mau bertanya kenapa Om Agas tak mau sholat? Ia muslim dan tidak menunaikan sholat. Mau mengomelinya pun aku sadar diri. Statusku hanya istri yang dinikahi karena belas kasihan dan sebagai alat pemuas nafsunya belaka.


Aku tersenyum, setidaknya aku menjadi istri Om Agas. Hal yang aku cita-citakan sejak dulu. Aku harus bersyukur dan jangan mengeluh.


Kubuatkan cemilan pagi untuk temannya minum kopi. Om Agas menarik tanganku agar menemaninya bekerja.


Lalu aku melihat pertengkaran mantan istri Om Agas dengan suaminya. Aku melirik Om Agas dan kutahu meski matanya menatap layar laptop namun Ia mencuri dengar pertengkaran dua sejoli itu.


Aku terkejut saat Om Agas mencium bibirku penuh gairah. Aku tak bisa membalasnya. Aku tak mau ikutan dalam kebohongan yang Ia buat.


Om Agas tak peduli, Ia memancing gairahku dan saat aku ingin membalasnya Ia justru menghentikan ciumannya. Ya, sandiwaranya sudah selesai. Pesta bubar.


Aku pamit ke dalam dan aku menangis di dalam kamar mandi. Ya Allah... hati aku sakit. Kenapa aku sama sekali tak berarti di mata Om Agas? Kenapa aku hanya dijadikan alat untuk dia membalas dendam?


Om Agas tidak menyusulku. Ia sibuk bekerja. Sudahlah, aku tak mengharapkan Ia menjadi laki-laki peka. Aku tak boleh berharap. Aku cuma perempuan yang hampir dijual ke mucikari dan diselamatkan oleh Om Agas. Harus sadar diri Tari! Jangan serakah! Sudah dinikahi dan ditolong Om Agas saja sudah beruntung! Jika bukan karena Om Agas, entah aku sedang melayani laki-laki yang mana! Setidaknya Om Agas memperlakukanku disini. Tahan dan sabar....


****


Papa dan Mama pamit pulang keesokan harinya. Mama masih menatapku dengan tatapan tidak suka. Status sosialku memang sangat rendah dibanding keluarga mereka. Aku tahu itu.


Om Agas mengantar mereka ke bandara dan tak mengajakku ikut serta. Padahal aku juga mau ikut. Aku kan belum pernah ke bandara sebelumnya. Aku mau tahu seperti apa bandara dan sebesar apa pesawat terbang kalau dilihat dalam jarak dekat?


Aku menyibukkan diriku membuat beberapa kue dengan mixer kesayanganku. Sebuah ide tiba-tiba melintas di kepalaku.

__ADS_1


Kalau aku mau mendapatkan hati Om Agas, aku harus mencari tau apa yang Om Agas suka dari Mbak Tara. Aku lalu mengganti bajuku dengan pakaian yang lebih berkelas dikit.


Kubawakan sepiring kue buatanku. Bolu marmer yang resepnya aku catat dari youtube.


Aku mengetuk rumah yang banyak dihiasi pohon anggrek tersebut. "Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam!" jawab Mbak Tara. "Ada apa ya?" tanyanya dengan suara penuh selidik.


Kuberikan sepiring kue buatanku. "Aku buat kue. Berhubung hanya Mbak Tara yang asli WNI disini jadi aku baginya ke Mbak Tara saja." tak lupa senyum hangat aku sunggingkan.


"Oh... Terima kasih. Masuklah! Aku tukar dulu piringnya!" Mbak Tara membukakan pintunya dengan lebar sehingga aku bisa masuk.


Aku masuk dan duduk di sofa ruang tamu miliknya. Rumahnya bagus dan nyaman. Furniturenya terlihat mahal, meski tak tahu harganya tapi aku bisa membedakan mana yang mahal dan mana yang murah.


Sebuah foto pernikahan tergantung dengan figura besar di ruang tamu mereka. Mbak Tara terlihat cantik dalam balutan gaun pernikahan mewah.


Suami Mbak Tara adalah sahabat Om Agas. Om pernah mengatakan seperti itu. Masih gantengan Om Agas kemana-mana sih. Mungkin suaminya Mbak Tara lebih kaya?


"Maaf ya lama. Aku juga ada kue buat kamu. Kita barter ya." jawabnya sambil tersenyum.


Ia ternyata membawakanku minuman dingin dan beberapa potong kue lalu menghidangkannya di atas meja. "Kita ngobrol dulu ya. Silakan dicicipi!"'


"Wah, Tari jadi merepotkan nih." kataku seraya mengambil minuman dingin dan meminumnya.


"Hmm... Nama kita agak mirip ya. Aku Tara, dan kamu Tari."


Aku mengangguk setuju. "Iya. Bisa mirip. Tapi nama lengkap aku Utari, Tari nama panggilan aku."


"Oh... Apa Agas belum bisa move on ya dari aku, makanya mencari istri dengan nama yang hampir sama?" sindirnya.


Aku tersenyum. "Aku kurang tau sih, Mbak. Tapi Om Agas tak pernah menyimpan satupun foto kalian. Kalau belum move on setidaknya ada foto kalian di rumahnya. Ini sama sekali tidak ada. Mungkin hanya kebetulan saja nama kita sama. Eh tapi Mbak Tara udah move on kan?"


Tara tersenyum. "Belum, belum sepenuhnya move on."


*****

__ADS_1


__ADS_2