Duda Nackal

Duda Nackal
Mirip


__ADS_3

Utari


Pelajaran hari ini adalah membuat brownies. Kue yang banyak disukai oleh semua kalangan. Kue bantet namun kaya akan rasa cokelat, membuat pencinta cokelat akan sangat menyukainya.


Tantangan dalam membuat brownies adalah bagaimana membuat lapisan atasnya shinny crush. Terlihat glowing macam brownies terkenal di kota Bandung.


Pak Adi mengajarkan tips and triknya. Beda oven, beda juga cara membuatnya. Aku terus memperhatikan selama kursus berlangsung. Rencananya brownies ini adalah menu wajib yang akan aku sediakan di cafe milikku nanti.


"Kue brownies banyak disukai berbagai kalangan. Jika ingin usaha, maka brownies pilihan tepat. Adonan kue brownies juga bisa dibuat kue kering. Bisa juga dibuat cake yang diatasnya ditambahkan whipped cream, atau kita menyebutnya cake in jar." begitu penjelasan dari Pak Adi.


Aku catat di buku catatanku. Cake in jar. Oke. Nanti malam aku eksekusi.


Aku pulang dengan membawa kue brownies hasil belajarku yang kugantungkan di motor. Aku tersenyum membayangkan wajah Om Agas yang amat senang tiap kali kubawakan kue buatanku.


"Sudah mau pulang sekarang?" tanya Pak Adi. Aku selalu pulang belakangan, karena aku terkadang masih mencatat tips dan trik yang Pak Adi dikatakan. Jadi, sebelum aku lupa maka aku menulis dahulu semua tips dan trik dalam buku catatan milikku.


"Iya, Pak. Pak Adi juga mau pulang sekarang?" kataku berbasa-basi. Tak enak, Pak Adi itu orangnya ramah. Masa sih aku menjauhinya dan malah bersikap jutek? Toh di antara kami memang tak ada hubungan apa-apa. Hanya sebatas guru dan murid saja.


"Iya. Kebetulan aku hari ini diundang untuk menghadiri peresmian salah satu cafe milik teman aku."


Mendengar kata 'cafe' membuatku langsung teringat dengan rencana bisnisku dan Om Agas. "Cafe? Milik temannya Pak Adi? Boleh tahu Pak, konsep cafenya seperti apa ya? Lalu, cafe yang ramai saat ini tuh yang kayak gimana? Mungkin, Pak Adi bisa membagi informasi karena Pak Adi banyak berkecimpung di dunia kuliner. Aku jadi penasaran dan pengen tahu perkembangan cafe sekarang tuh seperti apa."

__ADS_1


"Hm... Cafe sekarang tuh lebih ke kawula muda ya. Biasanya, teman-teman aku buatnya cafe sekaligus tempat nongkrong. Cuma menyediakan kopi dan cemilan aja. Menurutku, cafe kayak gitu tuh enggak bertahan lama. Kadang, anak muda suka pindah ke cafe lain yang lebih baru atau yang lebih ada ada nilai plus, misalnya tempatnya tuh keren buat spot foto atau WiFinya kenceng gitu. Sisanya sih, musim-musiman ya. Kalau mau cafe yang bagus itu ya cafe yang bisa digemari oleh semua pihak."


Tuh kan, Pak Adi itu berpengalaman dalam bidang kuliner. Ilmunya ini harus aku pelajari agar nanti bisa aku terapkan di cafeku yang baru.


Aku sudah diberi modal oleh Om Agas, kalau sampai cafe yang aku buat itu tidak laku dan sepi, aku merasa seperti aku tuh menyia-nyiakan kesempatan yang sudah Om Agas berikan padaku.


"Boleh tahu Pak, cafe yang digemari semua pihak itu yang kayak gimana? Maaf ya Pak, Tari terlalu banyak bertanya. Maklum, pengetahuan Tari itu sangat minim. Tari nggak pandai bergaul seperti anak-anak seusia Tari yang lain. Tari hanya banyak belajar dari YouTube, Instagram atau juga Google. Kalau Tari bisa mendapat ilmu dari Pak Adi, Tari akan sangat senang."


Pak Adi tersenyum mendengar perkataanku. "Oh, saya justru senang dengan orang yang mau belajar seperti kamu Tari. Kamu terlihat begitu tertarik akan setiap ilmu yang saya sampaikan dibanding anak-anak lain. Membuat saya sebagai guru merasa sangat dihargai. Kamu bahkan mencatat setiap tips dan trik yang saya berikan. Makanya kamu selalu pulang belakangan kan?" aku mengangguk membenarkan setiap perkataan Pak Adi.


"Saya susah menjelaskan bagaimana cafe yang digemari oleh masyarakat saat ini. Kebetulan hari ini saya akan mendatangi cafe untuk kawula muda. Kalau cafe yang menurut saya digemari oleh banyak orang, kayaknya saya diundang hari Sabtu besok. Kamu mau ikut? Saya nggak maksa, kalau kamu mau ikut kamu bisa minta izin dulu sama suami kamu." ajak Pak Adi.


"Hmm... Sabtu besok ya Pak? Akan Tari tanyakan dulu deh sama Om Agas. Kalau memang Om Agas setuju, Tari akan mengabari Pak Adi. Namun, kalau Om Agas mau ikut serta gimana ya Pak? Kadang, Om Agas itu suka nggak ngijinin Tari pergi seorang diri. Bukan apa-apa, Tari itu nggak berani pergi jauh Pak. Dan kalau Bapak yang jemput, takutnya Om Agas nanti salah paham. Tak enak juga dengan tetangga Tari, takut terjadi fitnah Pak."


"Baik, Pak. Tari akan kabarin ke Bapak. Terima kasih banyak ya Pak atas bantuannya. Tari pamit pulang dulu, Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam!"


Aku lalu mengemudikan motorku dengan kecepatan sedang menuju rumah Om Agas. Aku menikmati udara di siang hari yang tidak panas ini. Udaranya sejuk karena matahari bersembunyi di balik awan dengan malu-malu.


Aku sampai di depan rumah dan langsung memasukkan motorku ke dalam garasi. Nampaknya, tetangga depan rumahku sedang ramai. Ada beberapa mobil yang diparkirkan di depan rumah Mbak Tara.

__ADS_1


Aku melihat seorang ibu-ibu yang sedang menangis sambil memukul Mbak Tara dengan pelan. Nampaknya, itu adalah ibu kandungnya Mbak Tara. Wajah mereka begitu mirip. Bukankah menurut Mama, Mbak Tara sudah diusir dari rumahnya? Apakah akhirnya Mbak Tara sudah berbaikan kembali dengan keluarganya?


Tanpa sadar, aku berdiri dan tertegun melihat pemandangan di depanku. Meski marah dan memukul Mbak Tara, namun Mbak Tara beruntung masih memiliki orang tua yang menyayanginya. Ibunya Mbak Tara menyadari apa yang aku lakukan. Ia melihat ke arahku. Lalu, Ia seperti terbelalak kaget. Ia menghapus air matanya lalu berjalan mendekatiku.


Mbak Tara sepertinya agak aneh dengan apa yang Ibunya lakukan. Aku bingung harus apa, aku pun memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Namun, aku berhenti saat aku dipanggil. "Tunggu! Jangan masuk dulu!" ujar ibunya Mbak Tara. Aku terdiam dan lalu berbalik badan.


Aku diam dan menunggu apa yang hendak dikatakan oleh Ibunya Mbak Tara. Ternyata, Ibunya Mbak Tara tersenyum dengan ramah terhadapku. Aku pikir, Ia akan memarahiku karena kini aku sudah menjadi istrinya Om Agas.


"Apakah kamu istrinya Agas?" tanya Ibunya Mbak Tara.


Aku mengangguk dan hanya bisa berkata "Iya."


Ibunya Mbak Tara lalu menyentuh wajahku. "Kamu cantik sekali! Dimana orang tua kamu? Kenapa kamu mengingatkan saya pada seseorang?"


"Kedua orang tua saya sudah meninggal. Emangnya kenapa ya, Bu?" aku pikir wajahku akan ditampar, ternyata aku malah disentuh dengan penuh rasa kasih sayang. Aku jadi teringat dengan sentuhan Ibu yang penuh kasih sayang sebelum Ia menghembuskan nafasnya yang terakhir di dunia ini.


"Kamu mengingatkan saya pada wajah Ibu saya, saat masih muda dulu. Cantiknya sama, terlihat ayu dan jelita. Kamu mau lihat fotonya? Tunggu sebentar ya, saya ambilkan dulu!"


Lalu aku hanya bisa terdiam di depan rumah menunggu ibunya Mbak Tara masuk kedalam rumah Mbak Tara dan keluar dengan membawa tas jinjingnya. Mbak Tara sejak tadi hanya melihat apa yang aku lakukan dari depan teras rumahnya.


"Ini!" Ibunya Mbak Tara mengeluarkan sebuah foto hitam putih dari dalam dompet miliknya. "Ini adalah Ibu saya. Mirip sekali bukan dengan kamu?"

__ADS_1


Aku menerima foto yang diberikan oleh Ibunya Mbak Tara. Aku pun terkejut, benar apa yang dikatakan oleh Ibunya Mbak Tara. Wanita dalam foto ini memang sangat mirip denganku. Apakah hanya kebetulan saja? Tapi bagaimana mungkin? Kami itu bagai pinang dibelah dua. Pantas saja tadi Ibunya Mbak Tara melihatku dengan sangat terkejut.


****


__ADS_2