
Agas
Entah kenapa aku sial sekali hari ini. Mobil kesayanganku yang seharusnya aku servis ternyata lupa karena sibuk dengan Papa dan menolong Tari tentunya.
Akhirnya, mobil tersebut mogok. Enggak biasanya seperti ini. Tadi aku udah meminta karyawanku membawanya ke bengkel terdekat. Otomatis, aku harus naik taksi pulang kerjanya.
Aku sengaja pulang lebih cepat hari ini, tak ada mobil dan harus naik taksi, aku tak mau terjebak kemacetan Jakarta yang semakin sore semakin macet saja. Namun ternyata, lagi-lagi aku kurang beruntung. Sudah macet jalanan meski belum waktunya orang pulang kantor.
Sudah hampir jam enam sore, belum adzan maghrib karena adzan maghrib biasanya jam setengah tujuh kurang sedikit. Aku turun di dekat security kompleks. Setelah membayar taksi aku pun berjalan menuju rumahku.
Aku jadi teringat saat aku dulu masih belum punya mobil dan harus pulang ke rumah Papa dengan naik angkot. Aku tak menyangka kalau aku memulai semuanya dari fase rendah seperti itu. Kini aku bisa menuai hasilnya. Meskipun mobil itu tetap saja menyusahkan aku karena mogok!
Langkahku terhenti saat aku melihat Tara sedang berdiri di depan pekarangan rumahku. Mau apa dia? Kenapa sekarang Ia sering sekali mencampuri urusan rumah tanggaku?
Ternyata setelah aku dekati Tara dan Tari sedang berdebat. Tara yang biasanya tenang dan jago berbicara kini sedang mengepalkan buku-buku jarinya sampai memerah. Aku tahu dia sedang sangat marah, karena aku tahu, dia tak bisa membalas ucapan Tari yang terdengar sangat pintar sebut.
Ini lagi satu hal yang aku tak tahu tentang Tari. Ternyata Ia pintar membalikkan perkataan Tara yang menyakitkan. Mendengarkan dengan seksama dulu baru mengembalikan kata-kata Tara dengan kata-kata yang lebih berbobot lagi. Kata-kata yang seperti memukul Tara dengan telak dan membuat Tara kalah.
Wow... amazing!
Ternyata istriku secerdas itu? Ini Tara loh! Tara yang berpendidikan tinggi dan selama ini selalu berbicara dengan cerdas. Tara kalah dengan Tari? Kok bisa?
Aku mau mendekat namun mendengarkan mereka bertengkar ternyata seru juga. Lalu aku melihat Tari yang menunjukkan sesuatu dari tubuhnya dan membuat Tara semakin emosi saja saat Ia mengelus-elus perutnya yang rata. Oh... aku tahu. Pasti Ia sedang berakting kalau dirinya akan segera mengandung anakku. Jago sekali dia!
Kini waktunya aku maju. Jangan sampai membiarkan mereka cakar-cakaran. Bisa malu aku dengan security komplek.
"Akrab sekali kalian? Sepertinya, aku melewatkan pertunjukan seru nih!" Tari dan Tara menengok ke arahku. Tari tersenyum senang melihat kepulanganku, sementara Tara masih sangat emosi karena sejak tadi dipermainkan kata-katanya oleh Tari.
__ADS_1
Aku berjalan masuk ke dalam pekarangan rumah, Tari pun menyambutku dengan senyuman dan langsung mengulurkan tangan untuk salim. "Kok jalan kaki sih, Om? Mobilnya mana?" Tari celingukan mencari mobilku.
"Lagi di bengkel. Aku lupa servis, ternyata ngambek! Yaudah aku naik taksi aja pulangnya!" kataku.
"Pemilik showroom tapi mogok mobilnya? Kenapa kamu nggak pernah berubah sih, Gas? Apa masih gak punya uang untuk membeli mobil baru? Beli dong! Kamu kan juga harus menunjukkan kepada karyawan kamu, kalau kamu pemimpin yang berhasil. Penampilan kamu juga penting loh!" Tara mencampuri urusanku dengan mengomentari apa yang bukan urusannya.
Baru saja aku hendak menjawab eh ternyata Tari sudah maju duluan. "Memangnya Apa hubungannya Mbak? Dokter saja yang biasa menyembuhkan pasien juga sewaktu-waktu bisa sakit! Wajar dong kalau mobil Om Agas juga sewaktu-waktu bisa mogok? Enggak nyambung tahu gak Mbak menghubungkan pemilik showroom dan mobil yang mogok!" kali ini aku bener-bener terpukau dengan kata-kata yang Tari ucapkan.
Gila ini sih! Nih anak kenapa kalau ngomong bisa bener kayak gitu ya? Kata-kata yang dia ucapkan itu tuh terdengar cerdas dan susah bagi Tara untuk membalikan lagi kata-katanya. Belajar dari mana dia?
"Mungkin, Ibu Tara tidak mengerti hubungannya, Sayang! Atau mungkin dia sengaja menyambung-nyambungkan biar kesannya nyambung?" balasku sambil menatap Tari dengan senyum meminta kerjasamanya. "Ayo kita masuk, Sayang! Kamu buat apa hari ini? Aku mau mencicipi makanan yang kamu buat lalu malamnya mencicipi kamu tentu saja!" aku sengaja berakting di depan Tara. Biar dia tahu kalau aku bahagia. Biar dia menyesal selama ini sudah meninggalkan aku!
Aku sempat mendengar Tara menghentakkan kakinya di lantai sebelum akhirnya pergi meninggalkan kami. Tari menggandeng tanganku masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu. Setelah pintu terkunci, Ia tertawa terbahak-bahak. Puas sekali ternyata dia membalas Tara.
"Ha...ha...ha... Om lihat kan mukanya? Sukurin! Sebel banget aku dari tadi siang mulutnya jahil banget!" gerutu Tari.
"Dari tadi siang?" tanyaku.
"Makan pisangnya pakai garpu aja nih, Om! Jadi nggak usah cuci tangan dulu!"
Aku menurut. Aku minum teh manis hangat sambil menikmati pisang goreng buatannya. Enak. Rasanya gurih, ada rasa asin, pokoknya pas deh dengan manisnya pisang.
"Tadi kamu ketemu sama Tara? Ketemu dimana?" aku ingin mendengar kisahnya. Kenapa Ia sampai sebegitunya ingin membalas Tara? Pasti Tara sudah menyulut emosi Tari.
"Jadi, tadi pulang dari kursus aku diantar sama guru kursus aku. Aku udah nyetopin taksi, tapi nggak ada yang berhenti. Karena katanya itu berbarengan dengan jam makan siang karyawan dan pulang sekolah yang ada dekat tempat kursus. Susah untuk dapat taksi. Lalu aku diantar sampai depan security, karena kebetulan guruku mau lewat daerah sini."
"Guru kursus kamu? Laki-laki atau perempuan?" tanyaku.
__ADS_1
"Laki-laki. Dia katanya sih chef gitu tapi suka membagi ilmu di kursus." jawab Tari dengan jujur.
"Kok bisa deket sama kamu?" tanyaku makin penasaran. "Ada niat jahat enggak?"
Tari tertawa, "Enggak deket, Om. Biasa aja. Ini kan karena Pak Adi mau sekalian pergi ke arah yang sama."
"Aneh tau enggak! Hati-hati kamu! Banyak orang jahat! Apalagi lihat gadis polos kayak kamu!" nasehatku.
"Kok jadi ngebahas tentang Tari ya? Kan kita lagi cerita tentang Mbak Tara?" protes Tari.
"Iya sekalian aja kita bahas. Pokoknya, besok kamu jangan mau diantar lagi sama guru kamu! Pesan ojek online atau taksi online atau kamu stop-in taksinya di tempat lain gitu biar dapet. Jangan mau dianterin lagi! Nanti dia punya maksud loh sama kamu!"
"Masa sih, Om? Pak Adi itu baik loh! Apa yang mau dia manfaatkan dari Tari? Kaya, enggak! Cantik, enggak! Pinter, enggak juga! Udah Om jangan terlalu khawatir ya. Tari bisa jaga diri kok!"
"Nih anak kalau dibilangin ya! Kalau suami lagi ngasih tahu tuh dengerin! Itu buat kebaikan kamu! Mungkin di mata orang lain kamu tuh sangat cantik!" omelku.
"Itu kan di mata orang lain, kalau di mata Om Agas gimana? Tari cantik enggak?" ini anak malah sengaja menggoda aku.
"Kita bahas tentang Tara sekarang!" aku tak mau jujur dan mengatakan kalau dia tuh cantik apalagi dengan penampilannya yang sekarang! Bisa mengundang siapa saja untuk menyukainya. "Jadi, Tara ngomong apa tadi sama kamu?"
"Ih, Om bukannya jawab malah nanya yang lain!" gerutunya tapi tak lama karena dia kemudian bercerita tentang apa yang terjadi tadi siang. "Sebenarnya, enggak beda jauh sih Om sama yang dia katakan sore ini. Dia nanya, "Apa Om Agas tak mampu untuk memberikan Tari mobil? Makanya tari jalan kaki dari depan security?". Dia juga bilang, kalau Tari harus laporan sama Om Agas tentang Tari yang diantar jemput oleh guru Tari. Kepo banget enggak sih Om, jadi orang?"
Aku terdiam. Kenapa sih Tara terus mencampuri kehidupanku? Kenapa Ia terus menghinaku miskin? Apa dengan menghinaku bisa membuatnya bahagia?
****
Yuks yang belum vote, bisa bantu Om Agas untuk Vote ya... Ini caranya:
__ADS_1