
Apa yang kami lakukan memang sangat gila. Ini di rumah sakit dan aku meminta Tari untuk melayaniku. Pintu kamar sudah Ia tutup. Kami bebas namun sebisa mungkin jangan mengeluarkan suara, namun...
Krit... krit...krit...
Ranjang ini terus berdecit dan jadi saksi saat Ia terus bergerak diatasku. Memberikan aku kenikmatan demi kenikmatan yang rasanya tak ingin aku akhiri.
Kami saling memuaskan dan aku tahu Tari juga menyukai apa yang kami lakukan saat ini. Sensasi takut ketahuan oleh suster dan dokter serta rasa penasaran menjadikan ini pengalaman bercintaku yang paling berkesan.
"Om... "
"Iya Sayang... Om suka!"
Ia menunduk dan menciumku dengan penuh gairah. Kami saling membalas, saling bersilat lidah dan mengecap indahnya penyatuan kami.
Ia menahan suaranya yang ingin mendesah agar tak ada yang mendengar.
"Aku... keluar sekarang!" semua tenagaku seakan keluar bersama rasa puas yang kurasakan.
Aku merangkulkan lenganku ke leher Tari dan membawanya mendekat. Kucium bibirnya dengan lembut. "Makasih, Sayang!"
****
Utari
Aku kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi. Om juga aku mandikan dulu agar bisa menunaikan sholat dzuhur nanti.
Apa yang kami lakukan memang gila sih. Bercinta di ranjang rumah sakit. Om seperti sudah berbulan-bulan tidak melampiaskan napsunya, padahal baru beberapa hari saja kami tidak melakukannya.
Setelah di kamar mandi kemarin pagi yang hampir ketahuan, kupikir Om Agas akan kapok dan tak mengulangi lagi mencari sensasi saat bercinta, ternyata tidak. Om malah ingin melakukannya di ranjang.
Gila ini sih. Mau aku tolak namun takut dosa. Aku juga kangen setiap sentuhan dan kangen punyanya Om sih. Akhirnya aku layani Om dengan sepenuh hati.
Ternyata Om benar, sensasinya sungguh berbeda. Aku yang biasanya bebas mendesah kini harus menahannya. Beberapa kali aku menahan suaraku dan memilih mencium bibir Om.
Aku bergerak liar diatas tubuh Om. Aku yang polos ini kini tau mana yang enak dan memuaskan diriku. Sampai kami akhirnya mendapatkan kenikmatan dari penyatuan kami.
Masih terngiang saat Om memanggilku Sayang. Aku menyukainya meskipun aku harus memuaskannya dulu baru mendapat panggilan itu. Setidaknya itu menurut pikiranku.
"Kamu udah mau berangkat?" tanya Om Agas.
"Iya. Baju aku kusut enggak sih, Om? Tadi udah rapi tapi dibuang sama Om sembarangan. Aku enggak ada baju ganti lagi, nanti saja aku ambil di rumah." kataku sambil mengikat pita di dress yang kukenakan. Kubuang tisu bekas yang tadi kugunakan untuk bersih-bersih. Jadi ini alasan Om menyuruhku membawa tisu. Udah punya rencana licik Ia rupanya!
__ADS_1
"Enggak. Kamu keliatan cantik kok!"
Aku terkesima mendengarnya. Om kini memujiku cantik? Apa ini juga karena aku sudah memenuhi kebutuhan batin miliknya?
"Om bisa aja. Tari berangkat dulu ya. Kalau ada apa-apa kabari Tari. Om mau dibeliin apa juga kabari Tari ya!" pesanku seraya menyisirkan rambut Om yang masih agak basah sehabis mandi besar.
"Iya, Sayang!" Om menarik tanganku dan mengecupnya dengan lembut. "Langsung kesini ya! Jangan pergi sama cowok itu lagi!"
Sayang? Sudah dua kali Om memanggilku sayang hari ini. Pasti hari ini adalah hari keberuntungan untukku.
"Iya, Om. Tari berangkat dulu ya! Salim!" aku mengulurkan tanganku dan Om menyambutnya. Kucium tangan suamiku tercinta. "Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam!"
Aku membawa pakaian kotor dan pulang sebentar ke rumah. Lalu berangkat kursus dengan membawa tas besar berisi baju ganti. Aku meminta supir taksi menunggu di depan karena tak akan lama berada di rumah.
Saat aku hendak naik taksi, Mbak Tara menghentikanku.
"Tari! Agas mana?" tanya Mbak Tara sambil celingukan mencari keberadaan Om Agas.
"Om Agas enggak ada di rumah, Mbak." jawabku.
"Iya, kemana? Dari kemarin enggak kelihatan!" Mbak Tara masih mencari tahu dimana Om Agas berada.
"Loh kenapa kamu yang marah ya? Wajar dong aku nanya keberadaan Agas. Biar bagaimana pun Agas itu mantan suami aku!" Mbak Tara ikut emosi jadinya.
"Mbak, dimana-mana kalau udah mantan itu udah enggak ada urusan lagi. Mau apa kek mantannya enggak ada urusan sama Mbak lagi. Maaf, aku enggak bisa kasih tau dimana suamiku. Ini urusan pribadi kami. Aku pergi dulu. Assalamualaikum!" aku masuk ke dalam taksi dan meninggalkan Mbak Tara yang menggerutu kesal. Terserahlah! Aku tak peduli.
Aku akhirnya telat datang ke tempat kursus. Pak Adi melihatku datang dengan tas besar di tanganku. Aku memakai celemek dan mencuci tanganku.
Pelajaran kursus hari ini adalah membuat Blackforest. Aku memperhatikan bagaimana Pak Adi memberikan contoh cara membuat kue bolu khas Blackforest. Kami memakai 10 butir telur.
Alhamdulillah cake buatanku jadi. Ada juga yang kuenya bantat dan keras. Semua karena aku benar-benar memperhatikan semua ajaran Pak Adi beserta tips dan trik yang diberikannya.
Langkah selanjutnya adalah menghias kue dengan cokelat yang dicairkan lalu dipotong kotak-kotak dan dihias ke sekeliling kue. Terakhir menambahkan leccy diatas buttercream. Jadilah kue Blackforest buatanku. Kelihatannya sangat lezat.
Aku sudah membawa wadah plastik untuk membawa kue buatanku ke rumah sakit. Om Agas pasti ingin mencicipi kue yang kubuat hari ini.
"Kamu mau kemana Ra bawa tas sebesar itu?" tanya Pak Adi setelah kelas bubar. Hanya tinggal aku yang sedang menaruh kue di wadah plastik. Karena datang telat jadi kue boluku yang paling lama matang. Sambil menunggu kue matang aku menyimak tips yang Pak Adi berikan makanya kue-ku berhasil.
"Mau ke rumah sakit, Pak."
__ADS_1
"Ke rumah sakit? Siapa yang sakit? Om kamu?" tanya Pak Adi.
"Iya. Dua hari lalu Om kecelakaan dan dirawat di rumah sakit."
"Lalu keadaan Om kamu gimana? Baik-baik saja?" tanya Pak Adi menunjukkan kepeduliannya padaku.
"Baik, alhamdulillah. Om mengalami gegar otak ringan, tapi baik-baik saja kok." malah Om semakin menjadi padaku. Ide gilanya makin banyak saja!
"Kamu sekarang mau langsung ke rumah sakit lagi? Biar aku antar ya! Sekalian aku mau menjenguk Om kamu!"
Loh kenapa Pak Adi mau menjenguk Om? Bisa kena omelan tiga hari tiga malam kalau aku diantar olehnya.
"Enggak usah, Pak. Terima kasih. Tari naik taksi saja. Om enggak suka kalau Tari sering menyusahkan orang lain. "
"Aku enggak merasa disusahkan kok. Boleh ya aku mengantar kamu?" pinta Pak Adi lagi.
"Maaf, Pak. Aku takut Om aku marah. Kalau marah selain berdosa juga aku takut. Om kalau marah suka lama baiknya. Lebih baik aku naik taksi saja ya Pak. Terima kasih banyak loh sudah menawarkan aku bareng."
"Beneran?" tanya Pak Adi dengan raut wajah agak kecewa. Baru kali ini aku menolaknya dengan tegas. Biasanya aku masih memberi ijin namun kali ini aku menolaknya dengan tegas.
"Makasih banyak Pak atas tawarannya. Saya pamit dulu. Assalamualaikum!"
Aku mengikuti apa yang Om Agas ajarkan. Kalau di tempat kursus selalu enggak kebagian taksi ya pergi saja ke depan sekolah yang ramai itu. Kalau tak dapat juga ya naik ojek online.
Nanti kalau plat nomorku sudah keluar, aku bisa mandiri tanpa perlu repot nyari taksi lagi. Andai Om memperbolehkan aku naik angkot, sudahlah. Perintah suami tak boleh aku langgar.
Aku mendapatkan taksi setelah berjalan melewati sekolah. Baru saja aku naik aku mendengar namaku disebut.
"TARI!"
Aku menoleh dan melihat Bapak. Ya Allah, mau apa Bapak memanggilku?
"Pak, ngebut Pak!" pintaku pada supir Taksi.
"Baik, Mbak!"
"TARI TUNGGU!"
Aku memegang dadaku yang berdegup kencang. Tanganku terasa dingin. Aku takut Bapak akan menangkapku dan menjualku.
"Ke Rumah Sakit ya Pak!"
__ADS_1
"Baik, Mbak."
***