Duda Nackal

Duda Nackal
Membuka Ikatan yang Membelenggu


__ADS_3

Utari


Ini adalah pesta pernikahan termegah dan termewah yang pernah kudatangi. Aku biasanya suka bekerja mengangkut piring kotor saat hajatan warga kampung dan mencucinya. Namun pesta kali ini berbeda.


Tak ada organ tunggal atau panggungq dangdut yang penyanyinya mengajak orang untuk menyawernya. Tak ada pisang satu tandan yang digantung di tiang. Tak ada kipas angin blower yang airnya diisi ulang.


Di gedung mewah ini, ACnya terasa dingin meski tamu undangan lumayan banyak. Musiknya anak band dengan penyanyi artis beneran. Buah-buahan disini sudah dikupas dan ada ukiran es berbentuk huruf awal kedua mempelai.


Baju pengantin yang dikenakan pun sangat bagus dan terlihat mahal. Beda dengan pernikahanku yang hanya kebaya tanpa resepsi, tanpa ada tamu undangan.


Dulu waktu kecil, aku bermimpi akan menikahi pangeran dan pesta pernikahanku akan sangat mewah seperti di istana. Khayalan hanya tinggal khayalan. Jangankan dibuat pesta, tamu yang hadirpun hanya pak rt. Kasihan sekali nasibku.


Habis berapa ya pesta seperti ini?


Om Agas mengambilkanku dimsum. Aku menunggu dirinya, beberapa kali ada lelaki melirikku. Tak jarang mereka mengajakku kenalan.


Aku tak menanggapinya. Aku istri orang, kata Mama aku harus menjaga kehormatan suamiku. Aku juga tahu sejak tadi Om Agas memperhatikanku sambil mengantri makanan.


Aku lihat ada Mas Riko yang mengobrol dengan Om Agas. Aku kembali memperhatikan dekorasi pesta yang banyak terdapat bunga hias. Aku suka sekali bunga hidup. Apalagi bunga mawar. Suka sekali.


"Tari?" aku terkejut saat namaku disebut. Siapa yang mengenalku disini jika bukan Om Agas dan teman-temannya. Kupikir Mas Sony, namun ternyata Mas Damar. Sahabat yang sudah mengkhianati Om Agas dan berselingkuh dengan Mbak Tara.


"Mas Damar?"


Ia tersenyum. Mas Damar terlihat kurus sekarang. Lingkaran hitam di bawah matanya tak bisa Ia sembunyikan. Aku tahu Ia memendam kesedihan yang mendalam karena digugat cerai oleh Mbak Tara.


"Mana Agas?" tanyanya. Lewat pandangan mata kutunjukkan Om Agas yang mengantri dimsum untukku.


"Apa kabar Mas?" tanyaku berbasa-basi. Mas Damar ini dulu suka kasih aku tip kalau makan di warung seafood. Dia loyal kalau masalah uang, mungkin karena terlalu loyal makanya Mbak Tara masih tetap berada di rumahnya meski sudah menyakiti hatinya. Kalau tidak, mau tinggal dimana Mbak Tara yang sudah diusir dari rumahnya itu?

__ADS_1


"Ya seperti yang kamu tahu. Buruk. Gimana rumah tangga kamu? Aku lihat kalian semakin mesra saja!"


Aku tersenyum. Memang benar kami kini semakin mesra. "Begitulah, Mas. Mas Damar tinggal dimana sekarang?"


"Kamu nanya begitu pasti sudah tau masalah rumah tangga aku ya? Tara yang bilang? Aku dengar Tara bekerja di showroom Agas. Kamu enggak masalah? Enggak curiga? Setelah bercerai dariku, pasti Tara akan mengincar Agas lagi. Kamu malah membuka jalan baginya." Mas Damar memberondongku dengan banyak pertanyaan.


"Iya aku tahu. Aku yang mengijinkan Om Agas menerima Mbak Tara bekerja di showroom miliknya. Aku tahu niat Mbak Tara. Lalu aku harus apa? Menjauhi mereka? Jelas tidak mungkin, Mas. Yang bisa kulakukan hanyalah memberi Om Agas kepercayaan. Sambil berdoa semoga Om Agas bisa memegang kepercayaan yang kuberikan." jawabku penuh harapan.


"Andai aku bisa seikhlas itu ya. Aku jujur saja tak menginginkan perpisahan kami. Aku masih ingin mempertahankan rumah tanggaku. Aku ingin memperbaiki kesalahanku. Aku tahu, aku salah. Entah bagaimana aku harus menebus kesalahan yang kuperbuat?"


Mas Damar terlihat begitu sedih. Sorot matanya tak bisa dibohongi. Ia amat mencintai Mbak Tara. Ia bahkan merelakan persahabatannya demi rasa cinta pada istri sahabatnya.


"Cobalah memperbaiki semuanya. Kalau Mas Damar memang mencintai Mbak Tara, tunjukkan! Buktikan keseriusan Mas Damar." kataku menyemangati.


"Gimana caranya? Tara selalu menghindariku. Bagaimana aku bisa membuktikan keseriusanku?" tanya Mas Damar yang terlihat begitu putus asa.


Mas Riko menunjuk ke arahku dan Mas Damar sambil bicara pada Om Agas. Kulihat Om Agas begitu marah melihatku berbicara dengan Mas Damar. Bisa terjadi keributan kalau tidak diselesaikan nih.


"Mas Damar kalau mau ngomong sama Om Agas, ngomong aja!" aku mendorong keberanian Mas Damar depan Om Agas.


Meski agak terpaksa, Om Agas mau bicara dengan Mas Damar didepanku. Aku menjadi saksi mereka saling berdebat.


"Mau sampai kapan kalian begini?" tanyaku tak sabaran. "Mana janji Mas Damar?" tanyaku pada Mas Damar. "Om Agas juga, kendalikan emosinya!"


Mereka berdua diam aku omeli.


"Gue mau minta tolong sama lo, Gas. Gue mau rujuk sama Tara. Tolong bantu gue!" pinta Mas Damar dengan sungguh-sungguh.


"Kenapa gue harus bantu lo?" tanya Om Agas dengan sinis.

__ADS_1


"Om! Dengerin dulu Mas Damar ngomong!" kataku menengahi. Om Agas pun menurut dan diam.


"Gue mau minta maaf atas kesalahan gue karena udah merebut Tara dari lo. Kini gue bisa merasakan rasanya kehilangan istri. Gue akhirnya tau bagaimana rasa sakit lo. Frustasi. Putus asa. Patah hati. Hidup gue udah enggak ada artinya lagi. Hanya Tara semangat hidup gue, kalau kehilangan dia gue bisa gila. Buat apa gue hidup lagi. Tolong bantu gue, Gas. Tara pasti akan dengerin perkataan lo. Please...."


Aku menarik tangan Om Agas dan menggenggamnya dengan erat. Aku mau memberinya semangat dan dukungan. Mengajarkannya untuk ikhlas melepas masa lalunya yang selalu membelenggu dan sulit dilepaskan.


Om Agas menatapku, meminta dukungan dariku. Aku mengangguk, meyakinkan Om Agas kalau semua ini akan baik-baik saja.


Om Agas menghela nafas dalam sebelum akhirnya berkata: "Baiklah. Gue akan ngomong sama Tara."


Damar tersenyum. "Makasih, Gas. Makasih banget lo udah mau nolong gue!"


"Gue memang akan bicara sama Tara, tapi gue enggak bisa menjanjikan Tara mau apa enggak. Semua tergantung usaha lo juga mau mendapatkan hatinya lagi atau enggak!" jawab Om Agas acuh.


"Pasti! Gue akan meyakinkan Tara untuk rujuk lagi. Sekali lagi makasih, Gas!"


Setelah Damar pergi aku tersenyum bangga pada Om Agas. "Memang Om itu laki-laki yang baik. Tari bangga sama Om!"


Om Agas tersenyum kecil. "Benarkah kamu bangga sama aku? Aneh enggak sih aku? Kok aku kayak orang bodoh ya. Mau membantu orang yang sudah menyelingkuhiku dan mengkhianatiku?"


"Enggak dong. Om itu seperti yang aku bilang, Om punya hati seluas samudera. Om hebat! Orang yang hebat adalah orang yang mau memaafkan seseorang yang menyakiti hati kita sedemikian dalam. Om udah lakuin itu! Hati Om pasti lebih lega dan tidak sesak lagi sekarang. Mau tau kenapa? Karena Om sudah melepas rasa benci yang selama ini membelenggu Om. Makanya Tari bilang Om hebat!" pujiku.


"Yaudah kasih aku hadiah!"


Kusuapi dimsum di tanganku. "Ini hadiahnya!"


"Yah yang lain dong!"


Aku tahu kemana arahnya. Pasti minta dipuaskan lagi. Minta dipuaskan terus nih. Eh tunggu, kenapa aku enggak pernah menstruasi ya sejak menikah dengan Om?

__ADS_1


****


Ayo kenapa ya? Vote dulu yuk yang banyak buat Om Agas!


__ADS_2