
Agas
Suasana makan siang kali ini berbeda. Bukan karena menu makan siang yang Tari buat berbeda dari biasanya, cara Mama dan Tari yang bekerja sama menyiapkan makan siang yang luar biasa.
Aku terus memperhatikan suasana akrab yang mulai terbangun antara mertua dan menantu tersebut. Rupanya Tari berhasil menaklukan Mama, entah apa yang Ia lakukan tadi di dapur.
"Ayo dicoba masih panas nasi tim-nya!" Tari datang membawakan nasi tim yang Ia buat dalam mangkok.
Mama menaruh nasi tim panas tersebut di piring. Wajah Papa terlihat tak sabaran untuk mencoba masakan buatan Tari.
"Punya Papa mana?" protes Papa karena aku yang diberikan pertama kali bukannya Papa.
"Sabar atuh, Pa. Agas dulu. Agas kan lagi sakit! Nanti Papa bisa nambah! Tari buat banyak di belakang!" kata Mama dengan bersemangat. Mama menghidangkan piring berisi nasi tim untuk Papa yang disambut dengan wajah lapar milik Papa.
"Wangi banget! Papa udah keluar air liur duluan nih sebelum nyoba." puji Papa.
"Langsung dimakan dong, Pa!" ujar Tari.
"Tentu. Ini Papa mau makan. Pasti enak, dari aromanya terasa kelezatannya!" gurau Papa.
"Itu kan slogan iklan! Papa masih hafal aja!" celetukku.
"Papa mau nyoba! Bismillah!" Papa menyendok nasi tim dan meniup nasi yang masih mengepulkan uap panas.
Aku juga melakukan hal yang sama. Benar kata Papa, wangi sekali. Aku mencoba sesuap dan langsung menyukainya. Belum pernah aku makan nasi tim seenak ini. "Enak banget, Sayang! Hebat kamu udah bisa bikin nasi tim seenak ini!"
"Iya. Papa setuju. Ini enak banget. Lebih lezat dari yang dijual di restoran. Kaldunya berasa karena dari ayam asli. Bukan pake kaldu bubuk yang banyak mecinnya!" pujian Papa lebih mendetail lagi.
"Mama mau coba juga ah!" Mama pun duduk dan menyantap miliknya. "Mm... Enak. Kamu bisa buka usaha nasi tim nih, Tari. Enak banget! Pasti laku deh!"
"Masa sih? Padahal Tari baru nyoba sekali loh buat ini!" kata Tari yang kini ikut bergabung makan dengan kami.
"Gas, kasih Tari modal buat buka usaha. Mau toko kue atau jual nasi tim ayam jamur kayak gini juga boleh! Sewa karyawan agar dia tidak capek! Kamu punya istri berbakat begini harus difasilitasi biar dia berkembang!" usul Mama.
"Papa setuju tuh, Gas! Tari berbakat. Papa beneran suka loh nasi tim ini. Kue yang semalam kita makan aja enak. Entah apa rahasia enaknya!" kata Papa menambahkan.
"Ini pakai kaldu dari ayam kampung, Pa. Ayamnya Tari rebus dulu baru ditumis. Kaldunya baru disiram ke nasi timnya. Makanya rasanya lebih gurih." jawab Tari menjawab rasa penasaran Papa.
"Tuh gimana enggak enak coba, pakai kaldu dari ayam kampung. Bergizi dan sehat. Kalau kamu enggak mau modalin, biar Papa saja!" Papa semangat sekali kalau sudah membicarakan peluang bisnis.
"Bukan enggak mau. Papa baru nyoba nasi tim buatan Tari aja udah mau ngajak bisnis. Papa udah pernah nyobain udang saus Padang buatan Tari belum? Nanti Papa mau bukain restoran seafood juga lagi buat Tari kalo nyobain!" ledekku.
"Memang kamu juga bisa bikin seafood enak?" tanya Papa lagi-lagi dengan penuh semangat. "Makan malam nanti buat ya! Papa mau nyobain. Pokoknya selama disini Papa mau coba semua masakan kamu!"
"Kasihan Tari dong, Pa! Masa dia disuruh masak terus? Nanti yang temenin Agas bobo siapa? Agas kan masih pusing dan butuh perawat pribadi." kataku dengan manja.
__ADS_1
"Ah kamu mah alasan aja, Gas! Selama ini juga kamu cuma diurus sama Mbak Inah. Manja banget!" ledek Papa.
"Agas kan lagi sakit, Pa. Agas gegar otak ringan loh ini! Butuh penanganan serius!" jawabku masih mencari simpati.
"Sudah! Sudah! Ada yang mau nambah lagi enggak nih? Mama yang habiskan nih kalau enggak ada yang mau!" ancam Mama.
Cepat-cepat aku dan Papa menghabiskan makanan di piring kami dan berlomba siapa yang habis duluan.
"Agas udah!"
"Papa juga udah!"
Tari dan Mama tertawa melihatku dan Papa yang bersaing tak mau kalah.
"Tenang! Semua kebagian! Tari buat banyak!" ujar Mama.
"Tari ambilkan dulu ya!"
****
Tari hanya sebentar menemaniku di kamar. Menyiapkan baju ganti dan membantu menyiapkan air hangat untukku mandi. Sisanya Ia seperti dikuasai oleh Mama yang seakan tak pernah bosan mengajaknya bereksperimen di dapur.
"Kamu mau kemana lagi?" tanyaku ketika Tari hendak pergi lagi.
"Mau buat cemilan sama Mama. Mama mau ajarin aku menu kesukaan Om Agas." jawabnya dengan senyum bahagia.
"Aku enggak kamu urusin?" protesku.
"Om pusing lagi? Mau Tari pijitin?" ditawari mau dipijit ya aku mengangguk setuju. "Tapi boleh enggak? Tari takut kalau pijit kepala Om Agas. Pijit kakinya aja mau?"
"Mau dong! Pijit plus-plus juga boleh!" godaku.
"Ish! Ada Mama dan Papa. Om habis ini mandi ya! Udah sholat belum?" Tari duduk di pinggiran tempat tidur dan mulai memijit kakiku.
"Udah sholat tadi. Pas adzan aku langsung sholat." kataku dengan bangganya.
"Bagus! Itu baru namanya Om Agas Soleh!" puji Tari sambil mengacungkan jempolnya.
"Ganti nama aku aja nih anak!" protesku namun sambil tersenyum.
Tak lama terdengar suara ketukan di pintu. "Tari! Ayo! Katanya mau buat cemilan?!" Mama menagih janji Tari.
"Iya, Ma!" Tari menyelesaikan pijitannya. "Om, Tari udah dipanggil Mama! Tari kedepan dulu ya, Om!"
Huft... Mama gangguin aku aja!
__ADS_1
Ibaratnya, aku tuh ditinggal saat sedang sayang-sayangnya. Lagi enak-enak dipijit eh ditinggal gara-gara Mama manggil.
Kehadiran Mama di rumah benar-benar menyita waktu Tari untukku. Mama yang hobi memasak jadi punya teman untuk berbagi resep. Tari yang keinginan belajarnya sangat tinggi, seperti mendapat guru les privat. Semua di explore. Belajar ini itu seakan tak ada letihnya.
Malamnya Tari tidur dengan pulas karena kelelahan. Aku mau marah, namun tak bisa karena sainganku adalah Mamaku sendiri. Esoknya, Mama tak bisa mengganggu Tari. Anak itu harus kursus.
Karena aku sudah agak enakkan, kuputuskan untuk mengantarnya. Mobilku sudah selesai diperbaiki. Hanya penyok sedikit dan kini sudah mulus kembali.
"Beneran Om mau antar?" tanya Tari.
"Iya dong. Aku kan mau anterin kamu! Nanti pulangnya juga aku jemput! Mumpung aku lagi libur kerja!" jawabku.
"Asyik! Tari senang dianterin sama Om!"
"Ayo kita berangkat!"
Baru saja aku mengeluarkan mobil, Tara sudah menghadang kami.
"Gas, aku boleh nebeng?"
Aku membuka jendela mobilku. "Nebeng? Mobil kamu kemana?"
"Justru itu, aku mau ngambil mobilku di bengkel. Boleh ya bareng?" pintanya.
Aku menatap Tari untuk meminta ijin. Tari mengangguk. Ia memang baik sih, Tara saja yang kadang kebangetan sikapnya sama Tari.
"Naiklah!" kataku.
"Di depan boleh?" negonya.
Sudah jelas-jelas ada Tari disana eh dia malah mau nyuruh Tari pindah. Tak tahu diri sekali!
"Ada istri aku disana! Kalau kamu mau, ya di belakang! Kalau enggak ya naik taksi aja!" jawabku dengan ketus.
"Iya... Iya...." sambil bersungut-sungut Tara masuk ke dalam mobil. "Padahal dulu aku biasa di depan!"
"Jangan kebanyakan mengenang masa lalu, Mbak. Takut gagal move-on. Masa lalu ada buat jadi pembelajaran kedepannya!" nasehat Tari. Aku menahan tawa melihat si polos ini menasehati Tara.
Kulajukan mobilku sambil mendengar mereka yang saling sindir.
"Iya sih. Pembelajaran kalau masa lalu bisa saja kembali menjadi masa depan asal mau usaha. Iya kan Gas?" ujar Tara.
"Usaha juga ada limitnya. Jangan terlalu diforsir, Mbak. Bukannya sampai target eh malah gagal nantinya." balas Tari.
Kubiarkan mereka saling sindir. Selama mereka tidak saling jambak-jambakkan nikmati saja rasanya jadi cowok yang diperebutkan dua wanita ha...ha...ha...
__ADS_1
****