
Jam delapan pagi cafe sudah buka. Pengunjung yang kemarin datang hari ini ada yang datang lagi. Mereka adalah pengunjung yang tidak kebagian nasi tim buatan Tari.
"Saya pesan 4 nasi tim ya!" pesan pengunjung dari meja 2 padaku.
Aku menyampaikan pesanan mereka lalu pergi mencatat pesanan dari meja yang lain. Sekumpulan mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas di laptop milik mereka sambil numpang wifi gratisan.
Dari penampilannya aku bisa tahu kalau mereka berasal dari keluarga menengah keatas. Laptop yang digunakan juga ada logo apel dimakan kalong.
"Pagi! Sudah siap memesan?" tanyaku dengan senyum lebar.
"Ya Allah ganteng banget pelayannya!" salah seorang yang berbaju model sabrina dengan terang-terangan memuji ketampananku.
"Om pemilik cafe ini atau pelayannya? Kalau cuma pelayannya, lebih baik pindah ke kantor Papi aku aja, Om." Ia lalu menurunkan suaranya setengah berbisik. "Nanti aku minta Papi kasih Om gaji gede!"
Aku tersenyum saja mendengar penuturan mahasiswa muda ini. Dalam hati aku mengelus dada. Kenapa anak jaman sekarang mudah sekali menggoda orang lain, yang lebih tua lagi!
"Wah saya baru bekerja disini. Enggak enak kalau pindah. Jadi, mau pesan apa?" aku memang bukan pemilik cafe ini, melainkan Tari. Aku lebih pantas disebut pelayan disini.
"Ih resign aja, Om. Disini paling gajinya kecil." anak itu kembali membujukku.
"Hmm... Akan saya pikirkan nanti ya. Jadi mau pesan apa? Saya takut diomelin atasan saya kalau kelamaan mengobrol!" bohongku. Mana mungkin Tari mengomeliku?
"Hmm... Yang enak apa ya Om?" tanya gadis berbaju sabrina tadi.
"Mau makan berat atau mau ngemil nih?" tanyaku.
"Mau makan Om sih ha...ha...ha..." godanya.
Aku menanggapi dengan senyuman. Ya Allah Gas... Pesonamu belum luntur meski kini kamu calon ayah!
"Ih lo jangan gombal gitu dong!" omel temannya yang menawariku pekerjaan di kantor Papinya. "Aku mau yang tidak terlalu berat, Om! Sekalian minumannya yang enak tapi beda!"
"Gimana kalau nyobain risol kami? Baru saja matang dan rasanya dijamin enak! Bisa dinikmati dengan es teh tarik. Pasti perpaduan yang sempurna!"
"Boleh juga tuh, Om. Aku pesan risolnya 6 pc dan teh tarik aja!" sahut si anak Papi.
"Baik! Kalau mbak mau pesan apa?" tanyaku pada si baju sabrina.
"Kalau menu yang agak berat enakkan apa ya Om? Aku belum sarapan soalnya!"
"Mau coba nasi tim? Disini nasi timnya the best. Kemarin saja sampai kehabisan stok saking banyak yang take away setelah mencoba langsung makan disini." mantan sales kayak aku mah jagonya jualan. Makanya Tari menyuruhku mencatat pesanan. Dia tahu aku pintar promosi.
__ADS_1
"Boleh deh. Minumnya teh tarik aja. Dua ya tehnya!" pesan si baju sabrina.
"Banyak banget minum lo! Nanti kembung aja!" omel si anak Papi.
"Si princess belum datang! Nanti kalau datang main minum minuman gue aja lagi!"
"Iya juga ya! Yaudah Om teh tariknya jadi 3 ya!"
"Baik. Ada lagi pesanannya?" tanyaku setelah mengulangi pesanan mereka sekali lagi.
"Udah sih. Pesan Om aja yang nganterin nanti ya!" goda si baju sabrina.
"Iya. Om aja yang nganterin!" si anak Papi ikutan dengan ide si baju sabrina.
"Oke! Mohon ditunggu ya!" aku pun pergi ke bagian dapur dan menyerahkan menu pesanan dua mahasiswa centil tadi.
Tari masih sibuk dengan risol buatannya. Rupanya saat aku lihat risolnya sudah mulai habis. Benar dugaanku, seenak itu siapa yang tidak tertarik?
"Ada yang pesan risol juga tuh di depan!" kataku seraya menghampiri Tari.
"Iya. Ini aku tinggal goreng aja kok. Aku buat langsung aku goreng. Nanti aku mau stok aja di rumah, jadi tinggal goreng aja!" jawab Tari.
Aku sampai geleng-geleng kepala dibuatnya. Anak ini semua mau dihandle sendiri.
Tari menggelengkan kepalanya. "Lupa!"
Aku memanyunkan bibirku, "Tuh kan! Mulai lupa deh sama yang penting! Vitaminnya dimana? Biar aku ambilkan!"
"Di kamar."
"Yaudah aku ambil dulu. Kamu sambil siapin risolnya ya! Teh tarik dan nasi tim lagi disiapin juga, nanti aku yang antarkan ke depan!"
Aku pergi ke kamar Tari dan mengambil vitamin untuknya. Di kamar ini ada kunci berupa password. Sengaja aku pakai seperti itu agar lebih aman. Tari menaruh tas miliknya disini bukan di ruang karyawan soalnya.
Aku mengambil vitamin miliknya dan melihat Hp miliknya yang berbunyi. Nama Pak Adi tertera disana.
Aku tak mengangkatnyya tapi aku membaca pesan yang dikirimkan tanpa sengaja.
"Tari, aku dan teman-temanku akan ke cafe kamu hari ini! Siapkan nasi tim yang banyak ya!" pesan Pak Adi.
Huh dasar laki-laki centil! Bini orang masih aja digoda!
__ADS_1
Kuletakkan lagi Hp milik Tari dan aku pun pergi ke dapur. Kukeluarkan sebutir vitamin lalu menyerahkan pada Tari beserta air putih. "Minum dulu!"
Tari menurut, Ia mengecilkan api kompor dan meminum vitamin yang kuberikan.
"Risolnya udah mateng. Nasi tim dan teh tarik juga sudah siap!" ujar Tari.
"Oke! Aku antar ke depan dulu! Sekalian mau nyatet pesanan ke pengunjung yang baru datang."
Kubawakan pesanan anak-anak centil itu. "Permisi!" aku menaruh tiga teh tarik diatas meja. "Tiga teh tarik, risol dan nasi tim."
Kuhidangkan semua pesanan diatas meja. Rupanya kini ada tiga mahasiswa, yang satu lagi sudah datang. "Ada lagi yang bisa dibantu?"
"Enggak ada. Makasih, Om!" ujar si baju sabrina.
Aku hendak mengambil menu makanan ketika mendengar namaku disebut. "Om Agas?"
Aku mengangkat wajahku. Aku mencoba mengingat-ingat siapa, namun aku lupa. Anak itu masih mahasiswa, seumuran Tari sepertinya. Kalau dilihat dari buku yang mereka taruh diatas meja, kelihatan kalau mereka adalah mahasiswa yang mengambil kejuruan S2. Aku tahu karena aku pernah mengenyam sebentar tapi tidak aku tamatkan karena sibuk dengan showroom milikku.
"Om lupa sama aku?" tanyanya dengan raut wajah penuh kecewa.
Gimana ya? Aku lupa, beneran deh! Biasanya yang aku lupa adalah cewek yang aku temui di diskotek. Yang memakai make up tebal sampai sulit dikenali jika cuaca cerah seperti ini.
"Emang lo kenal?" tanya si anak Papi.
"Ya kenal dong! Buktinya gue tau namanya! Gue juga tau alamatnya dimana!" balas cewek itu.
Ternyata benar. Kalau Ia tahu dimana alamat rumahku, besar kemungkinan cewek ini mantan teman kencan satu malamku. Shiiiittt! Kenapa harus ketemu lagi sih?
Padahal aku sudah berniat taubat dan memperbaiki hidupku. Kenapa kini malah datang nih cewek?
"Permisi! Mas!" ada yang memanggilku. Aku anggap ini sebagai pertolongan dari Allah.
"Maaf, saya permisi dulu. Kalau ada pesanan lainnya bisa dengan yang lain. Permisi!" aku meninggalkan meja milik para mahasiswa dan pergi menghampiri seorang ibu-ibu yang memanggilku.
"Ada yang bisa saya bantu?" aku tak menawarkan pesanan karena mereka sudah ada makanan, pasti ingin yang lain karena makanannya masih banyak.
"Boleh dibungkus saja? Kami harus langsung pulang nih. Sekalian minta billnya ya Mas!"
"Baik, Bu!"
Aku membawa makanan yang ingin dibawa pulang ke dapur, lalu meminta salah seorang karyawanku untuk mengirimkan bill sementara aku membantu mengemas makanan.
__ADS_1
Setelah siap, karyawan tadi membawa ke dapan makanan yang sudah aku kemas. Aku lalu sibuk membantu Tari di dapur, memasukkan lagi kue yang sudah matang ke dalam plastik seperti yang kulakukan tadi pagi.
****