Duda Nackal

Duda Nackal
Konsep Cafe Baru


__ADS_3

"Sekarang Om jawab dong, kita mau kemana? Kan udah nggak marah lagi?" gadis polos ini terus memaksaku untuk menjawab pertanyaannya.


Baiklah, aku mengalah. Aku juga enggak bisa lama-lama marah sama dia. "Aku mau ngajak kamu ke satu tempat di mana kita bisa belanja pernak-pernik buat cafe. Di sana ada piring, gelas, lalu ada juga untuk dekorasi ruangan. Kamu bebas pilih mau apa aja nanti kita hias sendiri cafe kita. Oh ya jangan lupa beli juga aneka pot bunga imitasi. Biasanya, cafe yang bagus itu yang banyak dekorasi bunga-bunga dan tanaman imitasinya. Jadi kesannya seperti taman buatan gitu loh. Padahal itu semua hanyalah plastik."


"Wah, kalau kayak gini sih Tari jadi semangat! Tari pengennya menghias sendiri cafe idaman sesuai dengan khayalan Tari. Pokoknya, cafe ini akan sangat nyaman untuk hiburan dan rekreasi satu keluarga. Jadi, konsepnya itu di dalam cafe anak-anak bisa bermain dan orang tuanya bisa santai sambil mendengarkan musik dan makan makanan yang enak. Bukan hanya tentang anak muda aja. Tentang keluarga. Dimana menghabiskan waktu dengan keluarga itu menjadi lebih menyenangkan, otomatis hubungan antara anggota keluarga hubungannya juga makin erat." Tari menjelaskan dengan menggebu-gebu dan penuh semangat.


Aku tersenyum mendengar rencana yang Ia gagas. Padahal, Ia hanyalah anak yatim piatu yang dibesarkan atas cinta kasih dari ibu angkatnya. Mengapa justru dalam dirinya dipenuhi rasa kasih sayang dan seakan tahu makna keluarga yang sebenarnya. Berbeda sekali dengan yang mempunyai keluarga utuh namun malah lebih memilih untuk sendiri-sendiri dan tak peduli dengan keadaan keluarga yang lain.


"Belajar dari mana kamu konsep tentang keluarga?" aku wajar dong menaruh curiga, Tari kan hanya mempelajari bisnis secara otodidak. Kalau dia sudah berbicara seperti ini, pasti Ia punya data yang lebih konkrit.


"Dari Pak Adi. Maaf ya Om, Pak Adi itu banyak ilmunya. Ia sering diundang untuk acara pembukaan beberapa cafe. Waktu Tari sharing pendapat, Tari nanya bagaimana yang bagus untuk suatu cafe? Lalu, Ia memberi Tari beberapa pilihan. Untuk anak muda yang banyak nongkrong atau cafe untuk keluarga. Kalau masalah ramai, mungkin cafe anak muda akan lebih ramai. Tapi kalau masalah jangka panjang justru cafe keluarga yang lebih bagus. Dengan syarat, harus terus berinovasi agar pengunjung yang datang tidak bosan dengan menu yang kita sajikan."


Lagi-lagi Adi, Adi dan Adi. Aku lama-lama sebal mendengarnya. Kenapa sih, mereka cepat banget akrab? Kenapa sih harus dengan Tari? Memangnya dia itu nggak bisa bagi ilmu dengan anggota yang lain? Kalau cuma ngajarin cafe yang lebih ramai sih, aku juga jago!


"Tuh kan, Om cemburu lagi? Jangan gitu dong Om. Tari kan banyak belajar bukan karena semata-mata dekat urusan pribadi saja. Om tahu sendiri, Tari baru kali ini bisa belajar banyak. Waktu dulu mana sempat? Tari setiap hari sibuk ngambil kerjaan di sini dan di sana. Jangankan untuk belajar, untuk istirahat saja kadang Tari nggak cukup. Kalau sekarang, Tari punya kesempatan untuk belajar. Ya... Tari manfaatkan. Mencari ilmu bukan hanya berasal dari YouTube atau Tiktok aja kan Om? Tari juga bisa belajar dari orang yang sudah berpengalaman di bidangnya. Nah, karena Tari baru kenalnya sama Pak Adi doang, ya sementara Tari belajar dari Pak Adi."


Alasan yang dikemukakan Tari sih masuk akal. Yang enggak masuk akal itu pola pikirku. Aku yang terlalu berburuk sangka terhadap Adi, guru kursusnya. Karena aku sebagai seorang laki-laki bisa melihat kalau laki-laki itu memiliki ketertarikan terhadap istriku. Itu yang membuat aku tidak rela melihat kedekatan mereka semakin dekat saja.


"Aku sih nggak melarang kamu belajar. Cuma, aku minta sama kamu jangan terlalu dekat dengan laki-laki itu. Aku nggak mau, nanti Ia mencari celah di antara hubungan kita dan masuk sebagai orang ketiga. Inget ya, aku sudah trauma dengan yang namanya perselingkuhan. Aku nggak mau lagi mengalami hal seperti itu dalam hidupku." kataku dengan tegas.


"Iya, Om." jawab Tari dengan patuh.


Kami pun sampai di toko yang aku dapatkan dari hasil browsing di internet. Toko ini sangat luas dengan perlengkapan yang lengkap. Aku mengambil sebuah troli karena aku tahu akan ada banyak hal yang menarik perhatian Tari.


"Belilah apa yang menurut kamu penting. Jangan lupa, sesuaikan dengan konsep yang kamu mau. Kalau perempuan kan biasanya ada yang lucu sedikit langsung dibeli. Jangan seperti itu! Aku sih bisa aja beliin, tapi kamu sudah harus mulai belajar untuk mengatur cafe kamu. Beli barang yang beneran butuh dan sesuaikan dengan konsep yang kamu mau. Pasti kamu udah tahu kan mau kaya gimana konsepnya?" tanyaku.


"Tau dong. Tari udah mikirin mau buat cafe kayak gimana. Tari juga udah liat-liat contoh cafe di internet. Om tenang saja!" katanya penuh percaya diri. "Tinggal liat langsung yang masih kurang."


"Iya. Nanti aku antar. Ayo kita pilih!"


Kami pun masuk ke dalam toko yang lumayan luas ini. Beraneka macam barang pecah belah ada disini. Tari membeli beberapa lusin piring. Ia membeli karena akan mengubah konsep cafe lama dari kedai kopi menjadi cafe keluarga.

__ADS_1


Setelah membeli aneka piring dan alat makan, kami lalu ke tempat dekorasi. Tari membeli gordyn, taplak dan aneka kain entah mau dibuat dekor apa sama dia. Ia juga membeli aneka tanaman hias plastik dan karpet sintetis.


"Nanti halaman samping yang awalnya buat smoking area akan Tari ubah menjadi tempat bermain anak. Lantainya Tari akan pakai karpet sintetis. Selain aman kalau anak jatuh tidak lecet juga membuat suasana terlihat go green gitu. Nanti kita juga beli perosotan dan ayunan ya Om. Biar anak-anak bermainnya betah."


Aku mengangguk setuju. Ia jelas sudah memikirkan konsep cafe beberapa waktu kemarin. Aku yang menyuruhnya. Jadi saat aku ada waktu senggang seperti ini, aku bisa menemaninya membeli kebutuhan cafe.


"Kalau hiasan dindingnya Tari pakai kayak gini bagus enggak, Om?"


"Kalau menunya pakai papan tulis begini bagus enggak, Om?"


"Kalau tempat tisunya kita ganti model kayak gini semua gimana Om?"


Tari terus bertanya ini dan itu padaku seakan tak letih. Ia begitu semangat menghias cafe miliknya sendiri.


Tanpa terasa trolly yang aku ambil sudah penuh.


"Wah kalau mahal bayarnya gimana nih Om?" Ia terlihat iba padaku. Padahal aku santai saja.


"Hah? Ganti? Pakai apa? Utang Tari jadi banyak dong sama Om?" Ia sampai garuk-garuk kepala memikirkannya.


Aku pun membisikkan sesuatu ke telinganya. "Dengan bantuan Belanda, kamu bergaya Minak Jinggo."


Tari menatapku dengan bingung. "Belanda? Hmm yang BELAhaN DAd*nya menggoda Tari tau. Minak Jinggo itu apa?"


Aku mengulum senyum melihatnya.


"Ih apa sih! Mulai deh main singkat-singkatan!" omelnya.


"Mau tau?"


"Iya, Mau! Apaan?"

__ADS_1


"Tapi nanti dilakuin ya di rumah!"


"Ih jadi curiga nih Tari!"


"Yaudah kalau enggak mau tau!" kataku makin membuatnya penasaran.


"Iya apa dulu?"


"Janji dulu bakalan lakuin!" kataku tak mau kalah.


"Iya deh... iya. Toh dibilang enggak juga Om bakalan ngajakin untuk ngelakuin. Apa artinya?"


Aku menahan senyum agar tidak tertawa kencang.


"Tuh malah dilamain!"


"Ya sabar atuh! Biar rasa penasaran kamu makin menggebu!"


"Ini udah menggebu, Om! Cepetan!"


Aku lalu membisikkan sesuatu di telinganya. "MIring peNAK JengkING mongGO."


"Ih apaan tuh artinya?" tanyanya dengan wajah kebingungan.


Kubisikkan lagi di telinganya. "Artinya, miring enak nungg*ng silahkan."


"Huft... Itu mah emang otaknya Om aja yang ngeres!"


****


Dear Mrs. Y udah diangkat ya Minak Jinggonya 🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2