
Agas
Aku pun melakukan tugasku. Memeriksa dengan teliti bagian belakang istriku dengan penuh keikhlasan.
Kulit Tari yang putih mulus membuat imanku sedikit goyah. Sayang, Tari hanya bisa dilihat tak boleh kusentuh. Seperti melihat menu di warteg saat bulan puasa, hanya bisa menatap tanpa bisa memesan. Sedih kalau diceritain mah...
Aku mulai mencari di mana letak tanda lahir yang Oma katakan. Selama ini, aku nggak begitu memperhatikan. Aku begitu asyik dengan permainan kami sampai melupakan hal seperti ini. Atau mungkin aku tak melihatnya karena samar?
"Masih lama, Bi? Aku malu nih!" kata Tari.
"Pengennya sih masih lama. Kita kan udah lama enggak berduaan kayak gini. Malah pengennya lebih dari sekedar memeriksa saja. Namun apa daya, masih ada portal yang menghadang. Nanti aja kalau portalnya Mommy Tari udah dibuka, baru deh Abi masuk membawa segudang kenikmatan yang selama ini tertunda." jawabku sambil terus mencari keberadaan tanda lahir tersebut.
"Jangan main-main deh, Bi! Udah cepetan cari! Lama banget sih! Aku kan malu juga, nanti orang-orang di depan mikir kita lagi macam-macam lagi!"
"Nggak bakalan, Sayang! Mereka juga tahu kok kalau kamu masih masa nifas. Nggak bakalan juga aku dan kamu macam-macam di situasi kayak gini. Kamu aja aku minta ciuman dulu nggak mau!" jawabku.
"Ih... cepetan!" Tari mulai kehilangan kesabarannya.
"Iya sabar. Ini lagi dicari!" padahal memang sengaja aku lama-lamain. Sambil berpikir nanti kalau portal udah dibuka, main dengan gaya kayak gini enak banget pastinya.
Aku menggelengkan kepalaku. Kalau makin lama aku mencari, Tari akan semakin marah. Aku harus fokus sekarang!
Aku mencari ke sudut sebelah kiri dan semuanya mulus tanpa ada tanda sama sekali. Lalu aku pun mulai mencari ke sudut sebelah kanan.
"Sayang, kalau ternyata tanda itu nggak ada gimana?" tanyaku. Aku mau tau bagaimana pendapat istriku. Apakah Tari akan menangis atau mungkin marah? Aku saat ini nggak tahu. Tari pintar sekali menyembunyikan perasaannya.
"Aku pernah dengar kata-kata nasihat seperti ini: jika apa yang kamu inginkan tidak terjadi, maka cintailah apa yang sudah terjadi. Jadi, kalau memang keinginanku untuk memiliki keluarga tidak terkabul, ya sudah aku akan mencintai keluargaku saat ini." kata Tari dengan bijak.
"Super sekali istriku ini." pujiku."Udah selesai! Kita ke depan sekarang!" Kataku sambil membenarkan celana dan menurunkan daster yang Tari kenakan.
Tari cepat-cepat bangun dan menghampiriku. "Ada nggak, Bi?"
"Kita bicaranya di depan saja sekalian biar semua dengar." jawabku dengan wajah serius.
__ADS_1
"Abi nggak bisa jawab sekarang aja? Aku penasaran nih!" rengek Tari.
"Di depan aja! Kan kamu yang bilang tadi kalau kita kelamaan orang akan mikir kalau kita macam-macam di sini! Abi juga maunya kayak gitu, tapi kalau orang-orang mikir kita macam-macam gimana? Soalnya kita emang gak bisa macam-macam! Kalau bisa mah, mau orang lain berpikir macam-macam juga aku nggak akan peduli!" sengaja kurangkai alasan panjang lebar agar Ia semakin kesal.
"Ih! Jangan rese deh! Udah cepet deh kasih tau, ada apa enggak?" Tari makin tak sabaran memaksaku untuk segera menjawabnya.
"Aku jawabnya di depan aja. Biar kamu bisa dengar langsung." tolakku. Aku baru saja mau keluar kamar tapi tanganku langsung ditarik oleh Tari.
"Kasih tahu nggak?!" wow... Mommy Tari terlihat menyeramkan!
"Iya. Aku kasih tahu, tapi di depan!" kataku tak mau kalah.
"Kalau ngasih tahu sekarang, nanti aku cium!" Tari pun mulai menyogokku. Siapa yang tidak tergoda coba? Lagi puasa ditawarin kayak gitu, siapa yang akan nolak? Icip-icip dikit kan boleh. Apalagi sejak kemarin Tari agak pelit padaku.
"Buktinya mana? Cium dulu baru Abi kasih tahu!" aku ancam balik Tari. Biar dia enggak bohong. Maklum, istriku ini makin lama makin jago dan mulai mengadaptasi segala kemampuanku.
Tari pun memajukan dirinya, lalu sambil berjinjit Ia pun berinisiatif menciumku. Kesempatan ini tidak aku sia-siakan, aku balas menciumnya. Lumayan...
Ah... Kentang sekali....
Kapan puasanya akan berakhir. Baru beberapa hari puasa saja aku sudah tidak tahan, apalagi harus 40 hari?
"Abi!" Tari mengagetkanku.
"Iya... Iya... sabar. Abi kasih tahu. Padahal tadi lagi enak-enaknya, eh diudahin begitu aja." gerutuku. "Abi periksa, di sebelah kiri, nggak ada." aku sengaja menggantung jawabanku biar Tari makin penasaran lagi. Sama kayak aku yang tadi merasa kentang. Adil kan?
"Terus sebelah kanan?" tanya Tari lagi.
"Karena kamu kasih ciumnya cuma sekali dan sebentar, jadi aku kasih informasinya sama. Cuma satu sisi aja. Kalau kamu mau aku kasih tahu yang sebelah kanan, yuk kita ke depan!" kali ini aku berhasil melepaskan diri dari Tari dan pergi keluar kamar menuju ruang tamu.
Sudah bisa aku duga sih siapa yang akan mengomentari pertama kali. Siapa lagi kalau bukan Mamaku? Si jutek itu langsung berkomentar saat melihatku. "Lama banget sih di dalam kamar? Periksa doang aja lama, apalagi eksekusi?! Ngapain dulu? Lupa kalau masih ada portalnya?" sindir Mama sambil menahan senyum.
Kenapa punya Mama begini banget ya? Jutek, judes, eh jahil pula. Mama Irna dan Oma kan jadi ikutan senyum saat mendengar sindirannya.
__ADS_1
"Udah sabar ya? Pengen bangen tahu ya? Kepo!" aku balas meledek Mama lagi.
"Masih puasa ya? Udah enggak sabar ya? Kasihan deh!" balas Mama lagi sambil tertawa. Membuat Wira kaget mendengarnya dan langsung menangis.
Oek... oek... oek...
"Eh Wira bangun ya sama Oma? Wira marah nih Oma ledekkin Abi-nya Wira ya? Uh... Sayang banget ya Wira sama Abi? Boleh sayang sama Abi, tapi jangan ikutin kelakuan Abi ya, Nak!" mulai deh Mama mengajak Wira ngobrol namun sambil menyindirku.
Aku geleng-geleng kepala melihat kelakuan Mama. Malu-maluin anaknya di depan orang lain saja!
"Maaf Ma, Oma. Agas lama ya? Biasa, Tari agak malu dan kita ngobrol dulu sebentar." kataku beralasan.
"Ngobrol apa ngobrol?" sindir Mama yang disambut dengan tangisan wira yang baru saja tenang.
Oek.... oek....oek...
"Aduh Wira beneran enggak suka ya Abi-nya diledekkin sama Oma? Iya cup...cup...cup... Oma enggak ledekkin lagi ya!" bujuk Mama.
"Bagus Wira! Jangan mau kalau Abi kamu diledekkin, sekalipun sama Oma! Kamu harus membela Abi!" kataku pada Wira.
"Biar Tari gendong Wira-nya, Ma!" kata Tari yang baru keluar dari kamar. "Mungkin haus!"
"Tuh haus! Bukan karena ngebelain Abi-nya!" kata Mama tak mau kalah.
Mama pun memberikan Wira pada Tari. "Aku susuinnya di sini aja, boleh?" tanya Tari.
"Silahkan, Sayang!" kata Oma dengan lembut. "Tolong tutup pintunya, Gas!"
"Baik, Oma!"
****
Masih penasaran ya? Mana nih vote-nya? Kok kendor sih? Aku rajin loh Up-nya 😊😊
__ADS_1