Duda Nackal

Duda Nackal
KDRT


__ADS_3

Tara


Damar berjalan mendekat dengan matanya yang berkilat marah.


"Kamu mau apa? Aku enggak ada apa-apa sama Agas!" ujarku membela diri.


Lalu Damar tersenyum licik.


Aku tahu kalau ini bukan hal baik. Dengan menyeret tubuhku, aku mundur dan berusaha kabur darinya. Namun...


"Aww!" tangan kiriku terkena pecahan gelas.


Siapa yang akan menolongku kini? Kami tak punya pembantu, aku tak suka kalau ada orang asing di rumahku.


Agas! Ya, Agas bisa menolongku!


Aku menoleh ke belakang, jarak pintu masih sangat jauh. Kalau aku bangun dan berlari aku pasti bisa.


Maka aku pun berdiri dan saat aku hendak berlari, Damar menarik rambutku.


"Aww! Sakiitt!" ujarku sambil berlinang air mata.


"Kamu mau kabur? Mau ngadu sama mantan suami kamu? Jangan harap! Otak kamu tuh harus didinginin biar sadar diri! Sadar kamu! Kamu tuh sekarang istri siapa! Beraninya main mata di belakangku!" bentak Damar.


Yang terjadi berikutnya lebih menyakitkan lagi bagiku. Damar menarik rambutku dan menyeretku. Entah akan dibawa kemana.


"Lepasin! Sakit! Kamu menyakiti aku! Lepas! Atau aku teriak minta tolong!" ancamku. Kepalaku sakit, seakan seluruh rambutku tercabut semua dengan paksa.


Damar bukannya takut malah menendang pintu kamar mandi dan melemparkan aku dengan kasarnya.


Brukk!!


Aww...


Tubuhku sampai membentur dinding kamar mandi yang dingin. Kini tak ada kesempatan aku buat kabur atau teriak lagi. Kamar mandi kami kedap suara dan tak akan terdengar meski aku teriak sekalipun.


Damar menyalakan air shower yang mengguyur tubuhku dengan air dingin. "Biar otak kamu bersih dan enggak mikir rencana untuk berselingkuh!" ujarnya. "Ingat ya, kamu tuh istri aku! Jangan pernah kamu menyelingkuhi aku seperti yang kamu lakukan pada Agas dulu!"


Aku hanya bisa menangis. Tubuhku sakit semua karena membentur lantai dan dinding kamar mandi. Tanganku berdarah kena pecahan beling dan rambutku... entah berapa banyak rambutku yang tercabut dengan paksa dari akarnya.


Damar meninggalkanku di kamar mandi dan aku mendengar Ia mengunci pintu. Aku dikunci di dalam kamar mandi lalu Damar pergi. Aku mendengar suara mobilnya pergi.


Apakah Ia ingin aku mati kedinginan di dalam kamar mandi? Kupaksakan tubuhku yang sakit ini untuk bangun dan mematikan air shower. Jangan sampai aku kedinginan.


Aku membuka bajuku yang basah dan memakai bathrobe kering yang ada di rak kamar mandi. Tanganku terjulur ke atas namun aww... sakit sekali...


Air mataku tak bisa kutahan lagi. Badanku sakit semua dan aku dikunciin di kamar mandi yang dingin. Aku belum sarapan dan aku merasa kapanpun aku bisa saja meninggal.


Kupaksa diriku menggapai bathrobe dengan badanku yang sakit. Berhasil. Aku memakainya dan duduk di bathup yang kering.


Aku tak bisa minta pertolongan siapapun. Hp-ku diatas meja makan. Kalau tahu Damar akan menyiksaku seperti ini, aku akan membawa Hp dan menelepon polisi atau.... Agas.

__ADS_1


Air mataku menetes saat mengingat Agas. Kenapa aku sampai mengkhianti lelaki sebaik Agas dan menggantinya dengan Damar?


Aku menyesal....


Hiks....


Kenapa aku begitu bodoh?


Kenapa aku begitu tak sabaran?


Kenapa aku tak mau menunggu Agas sukses seperti sekarang?


Kenapa... aku menyelingkuhi Agas?


Huaaaaaa....


Aku tak tau berapa lama aku kedinginan karena berada di dalam kamar mandi. Sepertinya aku pingsan dan saat tersadar aku sudah ada di atas tempat tidur.


Siapakah yang menolongku?


Apakah Agas?


Ya, pasti Agas datang menolongku!


Agas sangat mencintaiku. Agas akan melakukan apapun untuk menyelamatkanku. Aku yakin itu!


"Kamu udah sadar? Mau makan apa?"


Aku membuang muka. Aku tak mau menatap laki-laki kasar yang telah melakukan semua ini padaku!


"Tara... Aku minta maaf... Aku... Aku terbawa emosi. Aku cemburu dan akhirnya malah menyakiti kamu. Maafkan aku Tara!" pinta Damar dengan suara penuh penyesalan.


Aku terus memalingkan wajahku darinya. Air mataku terus membasahi wajahku. Seluruh tubuhku terasa sakit, apalagi hatiku? Sakit sekali rasanya....


"Sayang.... Kamu mau kan maafin aku? Aku janji! Aku janji tak akan menyakiti kamu lagi seperti ini!" pinta Damar yang kini memutar arah dan menatap ke arah pandanganku.


Aku tak mau melihatnya. Aku benci padanya. Sudah dua kali aku dikasari seperti ini!


Kupalingkan lagi wajahku ke arah berlawanan. Damar pun pindah, Ia tetap ingin menatap wajahku dan mengatakan kata-kata penyesalannya.


"Pergilah! Aku tak mau melihat wajah kamu lagi!" ucapku dengan suara pelan dan lemah.


"Sayang aku mohon! Aku minta maaf sama kamu! Aku sudah termakan emosi! Maafkan aku! Aku terlalu mencintai kamu!" berjuta kata manis dan maaf Ia ucapkan tetap saja tak mengubah rasa sakitku.


Kubuang lagi pandanganku sampai akhirnya Damar menyerah. "Makanlah! Lalu minum obat!"


Tak lama Damar keluar dari kamar kami. Kupaksakan diriku untuk bangun dengan tubuh yang sakit tak karuan. Aku berjalan ke arah pintu dan menguncinya! Aku tak mau melihat wajah Damar!


Damar sepertinya terkejut dengan apa yang kulakukan. Ia mengetuk pintu dan mencoba membukanya. Kusandarkan tubuhku di belakang pintu. Kalau Ia dobrak pasti aku akan terjerembab karena tak akan kuat menahan dengan tubuh lemah seperti ini.


"Tara! Buka, Sayang! Kalau kamu kenapa-napa gimana?" tanyanya dengan nada khawatir.

__ADS_1


Kalau aku kenapa-napa? Cih! Tak ingatkah kalau Ia yang sudah membuat aku sakit seperti ini?


"Sayang! Please...." Ia lelah terus mengetuk pintu namun aku tak menjawab. Air mataku terus mengalir membasahi wajahku.


Akhirnya Damar menyerah. Ia tak lagi mengetuk pintu kamarku dan kudengar langkahnya menjauh.


Aku pun melakukan hal yang sama, menjauh dari pintu. Kuambil Hp milikku yang berada di atas nakas lalu mulai mengambil gambar semua bekas lukaku yang Damar perbuat. Ini akan kujadikan bukti tindakan KDRT yang Ia lakukan.


Kutatap makanan yang Damar belikan untukku. Meski belum makan seharian, aku tak merasa lapar. Aku lebih butuh obat penghilang rasa sakit daripada makanan.


Kuambil obat yang Ia sediakan. Ternyata tadi ada dokter yang memeriksa keadaanku. Pasti dokter keluarganya, yang tak akan membocorkan keadaanku yang sebenarnya pada pihak luar.


Kuminum obat dengan air putih yang juga disediakan. Tak kusentuh makanan sama sekali. Aku berjalan ke arah jendela dan melihat rumah di depanku.


Itulah rumahku yang sebenarnya. Kenapa aku meninggalkan rumah nyaman itu hanya demi kesenangan yang fana ini?


Kembali aku menangis.


Agas....


Hiks...


Kenapa aku begitu bodoh?


Agas tak pernah sekalipun memukulku. Agas tak pernah marah padaku. Aku memasak yang tak enak pun, Agas selalu memujiku.


Agas sangat mencintaiku namun aku membalasnya dengan pengkhianatan. Aku menyesal Gas....


Andai aku lebih bersabar....


Andai aku mau membicarakan semua masalah kita baik-baik dan bukan berselingkuh untuk mencari kepuasan di tempat lain!


Andai aku tidak tergoda dengan kepuasan ranjang yang Damar berikan....


Apakah aku sekarang kena karma?


Apakah sekarang aku menuai apa yang aku tabur?


Lalu apa yang harus aku lakukan? Keluargaku sudah membuang anak yang sudah mencoreng nama mereka. Aku sudah mempermalukan kedua orang tuaku. Aku harus kemana?


Aku menunduk dan melihat Agas mengeluarkan mobilnya. Mau kemana dia?


Agas tak langsung pergi. Ia masuk ke dalam rumah lalu keluar sambil bergandengan tangan dengan istri barunya.


Agas membukakan pintu mobil untuk Tari sambil tersenyum hangat. Jangan Gas, senyum hangat itu hanya untukku seorang!


Mereka akan pergi keluar malam ini. Tak tahukah Agas aku menderita saat ini? Tak bisakah Ia mendengar jerit hatiku?


Maafkan aku Agas...


Bolehkah aku kembali menginginkanmu?

__ADS_1


****


__ADS_2