Duda Nackal

Duda Nackal
Sebuah Senyum


__ADS_3

Utari


Rasanya hari ini aku begitu bahagia. Mendengar Om Agas membelaku di depan Mbak Tara membuat aku merasa kalau Om Agas sudah mulai melihatku sebagai seorang wanita. Tak lagi menganggap aku hanyalah pemuas napsunya belaka.


Mendengar panggilan Sayang ditujukan untukku, aku merasa diriku kini satu tingkat diatas Mbak Tara. Ya aku sadar, aku nggak boleh terlalu berbahagia dan sombong, namun boleh kan aku menyicipi bahagia sedikit aja?


Aku keluar dari kamar Om Agas dengan tersenyum. Aku memutuskan untuk memasak yang spesial hari ini. Kebetulan hari ini aku libur kursus dan ada Mama Papa Om Agas di rumah.


Aku mulai menyiapkan bahan-bahan. Kebetulan, aku sudah meminta tolong pada Mbak Inah untuk membelikan bahan makanan di tukang sayur. Jadi, saat aku membuka lemari es semua belanjaan tersebut sudah rapi dan dibersihkan oleh Mbak Inah. Aku hanya tinggal menyiapkan bumbu-bumbu lalu memasaknya sesuai dengan yang aku inginkan.


Aku sedang fokus memotong bawang dan cabe ketika Mama datang dan ikut bergabung denganku di dapur. "Agas jangan dimasakin yang pedas dulu! Dia baru pulang dari rumah sakit. Kasih makanan yang bergizi, kalau bisa yang direbus dan tanpa minyak." request Mama.


"Iya, Ma. Aku rencananya mau buat nasi tim ayam. Enggak pedes dan nanti aku kukus jadi ada rasa gurih dari ayamnya juga. Kasihan dari kemarin Om Agas katanya nggak nafsu makan dengan masakan di rumah sakit. Nanti Mama dan Papa aku buatkan yang berbeda ya." kataku.


"Disamakan saja juga tak masalah. Nanti kalau kamu masakin beda, Agas malah protes dan gak mau makan. Samakan saja. Biar enggak 2-3 kali masak." ujar Mama.


"Baik, Ma."


Aku pun mulai menumis bawang dengan ayam mentah yang sudah dipotong dadu. Mama memperhatikanku dari belakang sambil melihat bagaimana caraku memasak. Beliau diam saja, tapi aku tahu sebentar lagi pasti akan ada yang disampaikan padaku.


"Kamu sekarang sudah menjadi istri Agas. Setiap perbuatan kamu akan dinilai oleh orang lain. Mau kamu benar sekalipun, kalau di mata orang lain salah ya kamu akan salah," Mama memulai ceramahnya. Aku tahu pasti akan membahas tentang aku yang jalan dengan Pak Adi.


"Mungkin niat kamu baik, ingin membantu guru kamu memilih kado. Kebetulan Agas juga ada disana, bisa jadi saksi kalau kamu tidak ngapa-ngapain. Bayangkan kalau seandainya tidak ada Agas, apa yang Tara lihat akan menjadi sebuah fitnah untuk kamu. Hal itu bukan hanya merugikan kamu saja, nama baik kamu akan tercemar dan kamu sudah membuat suami kamu malu. Kamu nggak mau kan membuat Agas menanggung malu karena perbuatan kamu?"


"Tidak, Ma. Tari tidak ada niat untuk mempermalukan Om Agas sama sekali. " jawabku sambil tetap fokus dengan masakan yang sedang kukerjakan.

__ADS_1


"Bagus. Mulai sekarang, kamu harus menjaga sikap. Jangan sampai, Tara melakukan fitnah lagi terhadap diri kamu. Kamu juga nggak boleh membuka celah agar orang lain memfitnah kamu. Jaga diri, jaga nama baik suami kamu. Saat ini, Agas bisa menolong kamu. Nanti, saat tak ada orang yang menolong kamu, siapa yang bisa menolong kamu selain diri kamu sendiri?"


Mama masih melanjutkan menceramahiku. "Mama lihat, Agas sudah mulai banyak perubahan. Semuanya juga perubahan yang bagus. Pagi hari, dia udah mulai shalat subuh. Itu hal yang bisa dibilang mustahil Agas lakukan. Sejak dulu, kalau Mama suruh shalat Agas selalu mengelak. Tak disangka, setelah menikah dengan kamu justru dia malah tergerak sendiri untuk shalat. Mama sadar, kamu membawa pengaruh baik juga buat Agas. Pertahankanlah!"


Aku tersenyum senang. Pujian dari Mama meski keluar dari mulutnya yang ketus, tetaplah sebuah pujian. Tak mudah mendapatkan pujian dari Mama dan kini aku mendapatkannya. Memang, hasil tak pernah menghianati usaha.


"Iya. Tolong terus mengingatkan Tari agar tetap berada di jalur yang benar ya, Ma. Tari senang, Mama mulai perhatian dengan Tari. Memang, Tari tidak berasal dari keluarga yang baik. Tari memiliki Mama sebagai mertua Tari, seperti memiliki Ibu Tari yang udah pergi dulu. Meskipun Mama marah, Tari tahu Mama marah karena Mama sayang. Karena itu, Tari akan buktiin sama Mama kalau Tari bisa menjadi menantu yang Mama banggakan nanti." kataku dengan sepenuh hati.


"Jangan berharap kalau Mama akan mengajari kamu dengan baik ya! Mama tuh orangnya judes. Kalau Mama melihat kamu salah, ya Mama omelin. Kalau kamu benar, ya Mama nggak terlalu banyak memuji kamu. Kenapa? Agar kamu tidak jumawa. Agar kamu makin sering belajar biar semakin pintar tentunya."


"Baik, Ma."


"Ada yang bisa Mama bantu nggak? Kamu mau buat apa lagi? Biar Mama bantu buatkan!" Mama pun mulai membantu aku di dapur. Mama bercerita tentang Om Agas saat masih kecil. Aku mendengarkan kisah Mama sambil membayangkan betapa menggemaskannya suamiku itu.


Ternyata setelah mengenal Mama lebih dekat, aku jadi tahu kalau dibalik sikap jutek dan kata-kata pedasnya tersimpan kehangatan seorang ibu. Mama juga bercerita saat Om Agas ditinggal oleh Mbak Tara, Om Agas sangat terpukul sampai down dan tak punya semangat untuk hidup lagi.


Apa yang sudah Mbak Tara lakukan bukan hanya mengkhianati pernikahan mereka tapi juga menghancurkan hati dan kepercayaan diri yang Om Agas punya. Wajar kalau akhirnya Om Agas mencari kepercayaan diri itu dengan menunjukkan kepada semua orang kalau dia itu hebat.


Dunia malam yang selama ini Ia geluti dan anggap sebagai dunia yang hebat, tak lain adalah fatamorgana untuk menutupi rasa sakit hatinya akan hinaan Mbak Tara. Kini, tugas aku menarik Om Agas dari dunia fatamorgana dan melihat dunia yang sebenarnya.


"Ma, coba deh! Ini ada kurang bumbu atau enggak ya? Nanti Tari tambahin kalau kurang pas." aku memberi mama satu sendok berisi tumisan ayam jamur kecap yang sudah matang.


Mama mencobanya. "Udah. Udah pas. Enak itu. Selanjutnya apa lagi? Mama baru nyoba buat masakan kayak gini. Selain masakan yang unik-unik kayak gini kamu bisa masak apalagi?"


"Selanjutnya cuma ditaruh mangkok lalu masukkin nasi dan disiram kuah kaldu. Kalau sudah semua dikukus deh. Biasanya aku pakai telur rebus ditengahnya yang dipotong jadi dua. Selain mempercantik juga menambah lauk. Aku masih banyak belajar Ma, belum banyak menu yang aku bisa."

__ADS_1


"Sudah direbus? Biar Mama yang kupasin telurnya!" inisiatif Mama.


"Udah, Ma. Hati-hati masih panas. Dibawah kran air aja, Ma." aku membawa panci berisi telur rebus dan menaruhnya di washtafel untuk dikupasi.


"Kamu masak banyak sekali! Buat siapa saja? Kita kan cuma berempat!" Mama mulai mengupasi kulit telur.


"Sengaja, Ma. Kalau ada yang mau nambah bisa makan lagi. Lalu nanti aku mau kasih Mbak Inah buat dirumahnya. Jadi semua bisa kebagian." aku mengambil telur rebus yang Mama sudah kupasi lalu membagi dua. Kutaruh di tengah mangkuk lalu ayam jamur kecap dan nasi. Kusiram dengan kuah kaldu lalu siap dikukus.


"Si Inah betah deh kalau dikasih makanan terus sama kamu! Gimana kursus kamu? Sudah ada kemajuan?"


"Lumayan, Ma. Aku bisa membuat kue yang lebih lembut lagi. Kalau dulu hanya sekedar buat, tapi kini rasanya bisa diadu." jawabku sambil tersenyum. Meski sambil mengobrol, kami tetap mengerjakan membuat nasi tim.


"Habis kursus rencana kamu apa?" tanya Mama lagi.


"Belum tau, Ma. Belajar aja dulu. Biar Om Agas suka masakan buatanku. Aku enggak mikirin kedepannya gimana. Jalanin aja."


"Mama lihat kamu berbakat. Bilang saja sama Agas untuk membuatkan kamu toko kue. Pasti akan maju nanti toko kamu!"


Aku hampir bersorak riang karena Mama kini mendukungku. Ya Allah, alhamdulillah hati Mama sudah tergerak.


"Nanti Mama bantu bicara dengan Agas. Gunakan kemampuan kamu sebaik mungkin. Mama yakin kamu bisa mengembangkan bakat kamu lebih dan lebih lagi." ujar Mama dengan nada hangat.


"Iya, Ma." jawabku sambil tersenyum. "Makasih ya Ma sudah dukung Tari."


"Iya." jawab Mama sambil tersenyum. Ya Allah... Mama juga mau tersenyum padaku....

__ADS_1


****


__ADS_2