Duda Nackal

Duda Nackal
Terus Belajar dan Belajar


__ADS_3

POV Author


Benar seperti apa yang dikatakan oleh Agas, makan siang akan dipenuhi oleh banyak pengunjung. Kelezatan nasi tim buatan Tari ternyata sudah menyebar ke lingkungan sekitar cafe dan dan banyak karyawan yang akhirnya memilih untuk makan siang di cafe milik Tari.


Karena persiapan yang dilakukan oleh Tari, banyaknya pengunjung yang hadir tetap bisa terlayani dengan baik. Meski kekurangan 2 orang karyawan yang sedang libur dan Agas yang hari ini tidak ikut membantu, semua bisa terkendali berkat persiapan sebelumnya.


Bukan hanya nasi tim yang banyak digemari, menu capcay buatan chef yang Tari rekrut juga banyak yang pesan. Chef tersebut memang hanya lulusan sekolah kejuruan saja, namun jika diberi kesempatan maka bibit-bibit muda tersebut justru bisa berkembang.


Bahan-bahan yang sudah disiapkan membuat waktu untuk menyajikan makanan juga makin cepat. Itu yang penting dalam sebuah restoran.


Pelanggan yang lapar ingin secepatnya dilayani. Jika sudah pelayanan cepat maka pelanggan akan kembali lagi.


Apalagi jam makan siang yang hanya dibatasi selama 1 jam, membuat para karyawan terkadang enggan untuk makan di luar dan lebih memilih untuk bawa bekal dari rumah. Karena jika makan di luar biasanya lama saat menunggu pesanan tiba, belum makannya. Bisa telat sampai ke kantor.


Dalam waktu cepat Tari menyajikan pesanan untuk banyak pelanggan. Ada yang satu meja berisi 4 orang, ada yang hanya 2 orang saja dan juga ada yang yang membooking dua meja sekaligus berisi 10 orang.


Setelah jam makan siang, tibalah pergantian shift ke-2. Sambil menjelaskan kepada karyawan yang baru datang, Tari beristirahat sejenak karena kakinya terasa pegal. Ia tak mau membahayakan kondisi janinnya. Di dalam perutnya kini ada buah cintanya dengan Agas yang harus dia jaga dengan sepenuh hati.


Tari memutuskan untuk tidur siang sebentar di kamarnya. Sebelum tidur Ia memasang alarm agar tidak kebablasan. Cukup 1 jam dan Ia kembali segar. Tari tak mungkin sampai malam berada di cafe. Karena itu, Ia membantu sebisanya agar saat malam tiba karyawan yang shift 2 bisa menjalankan cafe tanpa dirinya.


Untuk masalah manajemen cafe, Agas yang turun langsung. Nantinya, Tari yang bertugas namun kini masih dipegang oleh Agas. Semua pendapatan hari itu akan diperiksa oleh Agas besok hari, karena cafe akan tetap buka sampai malam hari. Hanya saat pembukaan saja mereka nggak sampai malam karena stok makanan sudah habis, selanjutnya mereka buka sampai jam 10 malam.


Tari mulai mengajarkan karyawannya untuk membuat stok risol, pastel dan isian untuk nasi tim. Tari yang mengoreksi rasanya. Jadi, keaslian rasanya tetap terjaga.


Tari juga tidak berhenti untuk belajar. Ia memang bolos kursus selama seminggu ini. Karena, Tari sadar saat pembukaan cafe seperti ini masih dibutuhkan banyak peran dirinya. Tak mungkin Tari membagi waktu karena Ia juga punya kewajiban untuk mengurus suaminya.


Sudah maghrib dan Agas masih belum menjemput. Tari memutuskan untuk belajar kue khas Indonesia yang bisa Tari buat dan Ia modifikasi agar berbeda dengan yang lain. Pilihan Tari jatuh pada kue pukis.


Tari pun memesan cetakan kue pukis lewat online. Tentu saja Ia beli yang bagus. Tari pun mencatat resep dan berencana akan mempraktekkan saat alatnya tiba.


Tari lalu mencari kue khas Indonesia lagi yang bisa Ia jual di cafenya. Tanpa Ia sadar, Agas datang dan memeluk dirinya dari belakang. Tari malu karena Agas menunjukkan kemesraan mereka di depan karyawannya.

__ADS_1


"Ih Abi! Malu ah banyak yang liatin!" protes Tari.


"Biarin aja! Kamu lagi ngapain sih? Sibuk banget sampai enggak menyambut kedatanganku?"


Tari mempersilahkan Agas duduk dan membuatkan es teh tarik untuk suaminya. "Lagi belajar nyari kue baru untuk aku masukkin ke etalase. Aku juga berencana mau membuat nasi pecel dan gorengan untuk variasi menunya. Bumbu pecelnya bisa minta Mama buatkan dan kirim kesini. Lumayan kan? Mama juga jadi bisa ikutan bisnis?"


Agar tersenyum melihat kepintaran istrinya yang semakin hari semakin bertambah saja. "Pintar sekali istri aku ini. Semua menu ada di cafe kita. Menu apapun, mau itu Chinese food, Indonesian food, Italian food atau apapun itu yang penting orang suka. Ini cafe konsepnya bebas, yang suka menu Indonesian food, bisa pesen nasi pecel. Yang suka Chinese food, bisa pesen capcay atau kwetiau dan yang suka makanan Italia, bisa pesan spaghetti. Itu yang di inginkan banyak orang. Dalam satu tempat makanan ada banyak menunya,"


"Karena dalam satu keluarga itu berbeda-beda kesukaannya. Ada orang yang bilang kalau 1 restoran itu menyajikan banyak menu pasti rasanya kurang enak dibandingkan satu restoran yang hanya menyajikan satu jenis menu saja. Tergantung itu, kalau kita membuatnya dengan sungguh-sungguh, bukan tidak mungkin restoran yang berisi banyak menu ini akan lebih digemari." ujar Agas panjang lebar. Agas mengajarkan Tari salah satu ilmu yang Ia dapat di bangku kuliah. Tari pun mendengarkan dengan serius penjelasan dari suaminya tersebut.


"Tari setuju sama Abi. Makanya, Tari akan terus belajar dan belajar agar cafe ini bisa disukai oleh banyak orang. Oh iya, Abi mau makan dulu nggak?"


"Enggak usah deh Sayang. Kita langsung pulang aja yuk! Aku juga lelah nih! Kamu juga mau langsung istirahat kan?" tolak Agas.


"Iya. Tari ambil tas Tari dulu ya!" Tari pun pergi ke kamarnya.


Agas yang sedang merapihkan barang yang hendak Tari bawa menghentikan kegiatannya ketika salah seorang karyawannya menyampaikan pesan dari teman beda shiftnya.


"Maaf, Pak. Saya mau menyampaikan pesan dari anak shift pagi. Tadi ada seorang wanita yang mencari Bapak."


"Teman saya enggak berani nanya, Pak. Hanya bilang nyari Bapak aja."


"Enggak mungkin Tara. Dia enggak tau aku buka cafe. Lantas siapa dong?" batin Agas.


"Ciri-cirinya kayak gimana?" tanya Agas yang masih penasaran.


"Cantik katanya, Pak. Seusia Ibu Tari."


Agas lalu teringat dengan anak mahasiswa yang kemarin memanggil namanya namun Ia lupa siapa anak itu?


"Yaudah makasih." jawab Agas.

__ADS_1


Dalam perjalanan pulang, Agas memikirkan siapa anak mahasiswa itu. Anak itu tahu siapa Agas dan tahu dimana rumahnya.


Sudah bisa dipastikan kalau wanita itu adalah mantan rekan kencannya dulu.


"Mau apa lagi sih nyari aku? Aku udah enggak pernah ke diskotek lagi. Aku udah enggak nackal lagi tapi kenapa masih saja digangguin?" batin Agas.


"Abi!" ujar Tari agak kencang.


"Eh iya kenapa?" tanya Agas yang terkejut dan langsung tersadar dari lamunannya.


"Abi kenapa sih? Dari tadi melamun saja!" tanya Tari.


"Ah enggak." Agas tak mau Tari kepikiran. Tari sedang bahagia dengan pembukaan cafe. Kalau diberitahu pasti akan sedih dan berpikiran buruk. Nanti malah berakibat pada anak dalam kandungannya.


"Kamu udah minum susu hamilnya belum?" Agas mengalihkan topik pembicaraan.


"Udah dong, Bi. Oh iya, susunya tinggal sedikit. Kemarin kita beli cuma 1 bungkus untuk ngetes aku doyan apa enggak. Ternyata aku doyan, Bi. Kita mampir dulu ya ke mini market." ajak Tari.


"Iya. Beli saja. Kalau enggak ada besok aku cari di supermarket."


"Beli yang banyak ya Bi. Buat stok. Biar anak kita pinter kayak Abinya." ujar Tari sambil tersenyum.


"Kayak Mommy dong! Mommy tuh selain hebat juga sangat pintar! Abi kalah sama kepintaran Mommy!" ujar Agas sambil tangan kirinya mengusap perut Tari.


"Hebatan Abi dong!"


"Mommy!"


"Abi!"


"Mommy!"

__ADS_1


Mereka pun tertawa bersama. Momen membahagiakan yang begitu receh.


*****


__ADS_2