Duda Nackal

Duda Nackal
Meyakinkan Pelanggan Ala Mantan Duda Nackal


__ADS_3

"Eh ada Mommy Tari! Tumben Mommy Tari enggak anteng di dapur?!" godaku saat sudah berada di dekatnya.


"Jangan kecentilan! Kalau kecentilan lagi, aku ngambek minta Abi pakai sarung tiap saat nih!" ancam Tari.


Ancaman ini menakutkan buatku. Apa kata orang nanti? Dipikir aku sedang jadi pengantin sunat kali?


"Enggak kecentilan kok, Sayang." kuberikan pesanan meja Cici dan teman-temannya pada bagian dapur. "Lagi bantuin kamu ini! Aku bantuin yang lain dulu ya!"


Kabur lebih baik saat ini. Kuhampiri meja berisi anak-anak mahasiswa yang asyik mengobrol. Alibi. Biar Tari tidak mikir aku kecentilan lagi.


Kucatat semua pesanan yang masuk, namun saat aku hendak masuk ke dalam aku melihat lagi rombongan pengunjung yang datang. Ada mobil Tara di antara rombongan tersebut.


Fix, mantan istriku membawa teman-temannya datang. Aku cepat-cepat ke dalam, memberikan menu yang dipesan anak mahasiswa tadi dan kembali ke depan untuk menyambut tamu yang datang.


"Aku bawa pasukan nih, Gas! Teman-teman kampus aku mau reunian disini!" ujar Tara yang menghampiriku. "Cariin tempat yang bisa menampung kita semua dong!"


"Siap! Di lantai 2 aja ya! Kosong. Kalian bisa bebas mengobrol disana." rekomendasiku.


"Boleh. Aku ajak yang lain dulu ya!" Tara pun mengajak teman-temannya ke atas.


Aku pun mengikuti dan membawakan buku menu. Kembali aku menjadi bulan-bulanan teman-teman arisan Tara yang centil-centil itu. Sebagian malah sudah mengenalku karena sudah lama berteman dengan Tara.


"Ini Agas bukan, Ra?" tanya temannya Tara yang mengenalku.


Aku mengangguk dan tersenyum ramah. Tara menjawab hanya dengan satu kata, "Iya."


"Wah pantesan kamu merekomendasikan cafe ini sama kita-kita. Punya mantan rupanya?!" goda temannya Tara.

__ADS_1


"Iya. Bawel deh! Udah pesan mau apa?" Tara melarang temannya semakin julid lagi.


"Sabar atuh, Ra. Lagi dipilih dulu!" jawab temannya. Ia lalu bertanya padaku. "Yang rekomen apa ya Gas?"


"Disini yang best seller nasi tim dan seafood. Namun kita ada menu baru dan cocok dimakan saat ini yakni mie pedas hotplate. Pedasnya asli cabe bukan bubuk cabe jadi rasanya makin hot!" kayak Menjadi Selebgram Hot karangan Mizzly yang makin hot...hot...hot....


"Wah Agas makin jago aja jadi marketing nih! Yaudah aku mau pesan menu baru itu." temannya Tara lalu bertanya pada yang lain dan aku pun mulai mencatat pesanan mereka satu per satu.


Saat aku hendak ke bawah, Tara meminta ijin mau ke toilet. Aku pun menunjukkan toilet di lantai bawah khusus pengunjung.


"Cafe kamu keren, Gas. Enggak aku sangka kamu dari pengusaha showroom. Malah banting stir jadi pemilik cafe." puji Tara.


"Tari pemiliknya, bukan aku!" koreksiku.


"Tetap saja ada campur tangan kamu di dalamnya. Semoga makin sukses ya!" aku dan Tara pun berpisah di depan toilet.


Melihat cafe mulai ramai, banyak yang mulai tertarik dan akhirnya datang ke cafe Tari lagi. Aku mengenali mereka, mereka sebelumnya sudah sering ke cafe Tari namun karena kejadian teror waktu itu mereka pergi dan takut.


Aku menyambut kedatangan mereka tersenyum ramah. Bagaimanapun, mereka adalah pelanggan yang sudah mengenal enaknya masakan Tari. Kembalinya mereka, kuanggap sebagai awal mula bangkitnya cafe milik Tari ini.


"Siang! Sudah siap memesan?" tanyaku sambil tersenyum ramah. Dalam berbisnis, senyum merupakan salah satu modal utama yang menarik pelanggan. Hal yang sepele namun bisa berefek besar.


Sudah sering terjadi, akibat karyawannya berwajah jutek dan pelit senyum pada akhirnya usaha menjadi mati karena banyak ulasan buruk di internet. Aku tak mau hal itu terjadi. Tari menekankan pada semua karyawannya untuk bersikap ramah dan murah senyum.


"Ada menu baru apa lagi sekarang Mas Ganteng?"


Wah... Panggilan baru lagi nih buat aku.

__ADS_1


" Tentu dong. Tarbi Cafe selalu berinovasi dong dengan menu-menu baru. Kali ini, menu yang cocok dimakan di siang hari. Saat kepala pusing, paling enak makan apa? Jawabannya, makan mie. Nah, kami menyediakan menu baru yakni mie hotplate. Bukan mie biasa, semua dengan resep rahasia khas Tari." kalau sedang berpromosi, aku seperti tukang obat saja. Meyakinkan dan pasti siapa pun yang aku promosikan akan tertarik. Contohnya, kayak pelanggan ini. Mereka setuju saja dengan menu yang aku rekomendasikan.


"Mau! Aku mau mie nya satu!" ujar pelanggan tersebut dengan penuh semangat.


"Aku juga mau satu." temannya juga tak mau kalah dan ikut-ikutan memesan menu yang sama. Akhirnya, dua-duanya memesan menu yang aku rekomendasikan.


"Oke. Dua porsi mie hotplate dan 2 es teh tarik akan segera datang. Mohon ditunggu!" aku mengulangi pesanan mereka.


Baru saja aku hendak meninggalkan meja mereka, langkahku berhenti karena mereka kembali memanggilku.


"Tunggu dulu Mas Ganteng, kita mau nanya!"


Aku pun berbalik badan kembali dan bertanya dengan sopan. "Mau nanya apa ya?"


Pelanggan tersebut lalu merendahkan suaranya agar tidak ada yang mendengar. "Waktu itu, ada yang melempar cafe ini dengan batu. Itu kenapa ya? Masih suka kayak gitu nggak?" rupanya mereka penasaran apa yang terjadi dengan Cafe milik Tari. Pasti mereka ada di sini saat aksi peneroran yang dilakukan oleh Bapak tiri Tari sedang terjadi.


"Hal kayak gitu mah udah biasa Mbak. Namanya juga cafe yang lagi laku dan booming kayak Tarbi Cafe ini, ada aja yang enggak suka. Wajar, namanya juga persaingan usaha. Mbak enggak usah khawatir, pelaku terornya sudah ditemukan dan saat ini sedang meringkuk di dalam sel jeruji besi. Mbak bisa lihat, di depan ada security yang menjaga dengan ketat. Jadi nggak akan ada lagi kejadian kayak kemarin,"


"Malah ya mbak, cafe ini akan buka lagi, tiga cabang sekaligus! Artinya apa? Banyak peminat cafe ini. Malah nih, nanti bisa aja kan cafe ini menjadi bentuk franchise? Makanya, mumpung cafe ini masih dipegang langsung sama pemiliknya, Mbak nikmatin deh hasil masakan langsung dari tangannya yang jago itu!" jago sekali aku promosi. Benar-benar kaya marketing obat ha....ha....ha...


"Oh... begitu ya Mas? Baiklah, nanti kami bilangin ke teman-teman kami yang biasa makan di sini. Mereka juga kangen pengen makan di sini lagi, tapi takut kejadian kemarin terulang lagi. Kalau Mas Ganteng udah menjamin seperti itu, kami pasti berani dong kesini lagi." akhirnya aku berhasil meyakinkan pelanggan setia untuk kembali lagi ke cafe Tari.


"Terima kasih ya Mbak atas bantuannya. Sebagai ucapan terima kasih, saya gratiskan masing-masing satu buah risol sebagai cemilan. Jangan lupa ajak teman-temannya kesini ya!" aku lalu mengedipkan sebelah mataku dan mengeluarkan pesona mantan Duda Nackal lagi yang terkenal sakti mandraguna.


Mereka pun terpukau. Namun, sungguh apes bagiku, saat aku berbalik badan nampak Tari sedang melipat kedua tangannya di dada dan menatapku dengan seram. Mati aku... Bakalan habis aku malam ini...


"Sayang....."

__ADS_1


****


__ADS_2