Duda Nackal

Duda Nackal
Melindungi Wira dari Pengaruh Buruk


__ADS_3

Agas


Kujitak kepala dua tuyul yang sudah menertawakanku. "Jangan macam-macam deh! Gue enggak takut, tapi menghargai."


"Ah takut mah bilang aja takut! Jujur aja lagi!" sahut Sony.


"Wira, Abi kamu takut sama Mommy ya?" tanya Riko pada Wira.


"Abi tatut... Abi tatut..." jawab Wira yang tidak mengerti maksud kami.


"Sst! Abi bukan takut. Abi berani! Jangan dengerin dua Om enggak bener ini Wira! Mereka suka asal kalau ngomong." ah ngapain juga jelasin ke Wira. Anak itu juga tidak tahu maksudku apa.


"Kalian ngapain sih kesini terus?" tanyaku dengan jutek pada kedua orang rusuh di depanku.


"Ya... Mau kerja-lah!" jawab Riko.


"Sekalian curhat juga." sahut Sony.


"Pokoknya jangan rusuh! Jangan ngajarin anak gue yang enggak-enggak!" ancamku. "Yang anteng. Biarkan Wira berkembang sesuai usianya!"


"Iya.... Iya..." ujar Sony dan Riko.


Kami pun bekerja dengan tenang. Berdiskusi sambil berbagi info saham mana yang akan mendatangkan banyak cuan.


Jam setengah 12 siang, sesi pertama sudah selesai. Waktunya istirahat.


"Gas, laper nih! Beli makan siang dong! Jangan cemilan aja lo keluarin!" protes Sony.


"Ih nih orang, udah numpang kerja eh minta makan pula! Lo pesen aja yang mau lo makan. Gue mau ngajak Wira tidur dulu!" kataku.


"Enaknya pesan apa ya?" tanya Sony.


Lalu tiba-tiba ada suara salam terucap dari depan rumah. "Assalamualaikum!"

__ADS_1


"Waalaikumsalam!" jawab kami bertiga dengan kompak.


Ternyata yang datang adalah Tara bersama anaknya. Jadi doa yang Tara panjatkan di depan Kabah dikabulkan oleh Allah. Beberapa bulan kemudian, Tara hamil. Karena itu, anak kami berdua masih sepantaran.


"Eh Tara... Ada Zaki juga! Ada apa? Nyari Tari ya? Tari masih belum pulang kursus!" kataku sambil menggendong Wira yang sudah mulai mengantuk.


Wira yang melihat kedatangan sahabatnya Zaki, mendadak menjadi segar kembali matanya. Ia malah mengajak Zaki untuk bermain.


"Iya. Aku lagi nyari Tari. Ini, tadi Mama titipin sesuatu dari Oma untuk Tari. Katanya, Tari sedang hamil lagi ya? Oma udah beliin susu hamil buat Tari. Tahu sendiri kamu Gas, Oma orangnya khawatir banget. Pas tahu kalau Tari sedang hamil, Oma langsung membeli banyak stok susu hamil. Sama kayak aku waktu hamil dulu." Tara menyerahkan tas kain berisi susu hamil yang Ia bawa, titipan dari Oma untuk Tari.


"Makasih ya, Ra. Bilang sama Mama Irna terima kasih udah dibawain." aku lalu melihat Zaki yang terus melihat ke arah Wira yang menarik tangannya untuk bermain. "Zaki mau main sama Wira? Tadi Wira udah ngantuk tapi ngelihat Zaki kayaknya dia mau ngajak main deh." lebih baik Wira bermain bersama Zaki daripada bergabung dengan teman-temanku yang tidak beres itu.


"Zaki mau main sama Wira?" tanya Tara.


Zaki mengangguk. Anak itu memang baru satu tahunan namun sudah bisa berjalan. Tara lalu menurunkan Zaki di playmat agar Zaki bisa bermain bersama Wira.


"Kita ngobrol aja Ra sama anak-anak! Tenang aja, anak-anak dalam pengawasan kok. Tuh ada dua satpam!" kataku seraya menunjuk Sony dan Riko yang tersenyum menyapa Tara.


Tara pun ikut bergabung dengan kami. Mengobrol sambil tetap mengawasi dua balita bermain. Mereka memang akrab, namun bocah bisa berubah menjadi musuh dalam sekejap. Dari berbagi mainan bisa jadi musuh bebuyutan.


"Belum, Son. Aku belum dikasih sama Allah. Kalau dikasih sih aku mau aja. Enak ternyata punya anak. Ada temannya. Awalnya aku cuma mikirin diri sendiri saja, tapi setelah punya anak jadi ada yang aku urusin selain Damar. Hidup aku juga lebih bahagia dengan hadirnya Zaki di antara kami." ujar Tara seraya tersenyum bahagia.


Tara memang banyak berubah. Sedikit banyak perubahan Tara karena jasa Tari. Semenjak tahu kalau Tara adalah saudara sepupunya, Tari mulai mendekatkan diri sebagai saudara satu darah. Mereka mulai akrab dan bersahabat.


Tari menjadi teman curhat Tara, begitupun sebaliknya. Tak ada yang menyangka kalau mantan istriku akan berteman akrab dengan istriku saat ini. Dan tak ada yang bisa menduga kalau mantan istriku adalah saudara sepupu istriku sendiri. Ya, semua ini adalah takdir. Nggak ada yang bisa menduga apa yang akan terjadi di masa depan.


Tara yang biasanya bersikap egois dan lebih mementingkan dirinya sendiri, perlahan mulai berubah. Ia belajar menjadi seorang ibu yang baik dan melupakan hobinya perawatan di salon dan lebih mementingkan mengurus anaknya dibanding memperhatikan dirinya sendiri. Tara menjadi seorang ibu sejati bagi Zaki. Bahkan Tara tidak menggunakan baby sitter untuk mengasuh anaknya. Ia hanya mempekerjakan tukang beres-beres rumah lalu sisanya Ia sendiri yang turun tangan mendidik Zaki langsung.


Berbeda dengan Tara, Tari malah lebih mengutamakan karirnya. Meskipun, Ia juga tidak menelantarkan kewajibannya. Karena itu, sikap Zaki dengan Wira sangat berbeda jauh. Wira agak centil dan aneh bin ajaib, sedangkan Zaki anak yang baik serta kalem. Pokoknya beda jauh mereka berdua.


Wira hasil didikanku, dan Zaki hasil didikan Tara. Jadi ya.... begitulah. Tapi tenang saja, ini akan menjadi kursus terakhir Tari. Selanjutnya Tari akan fokus mengurus anak-anak kami.


"Kalian berdua gimana? Belum ketemu jodoh juga?" tanya Tara.

__ADS_1


"Yah... Jangan ditanya dong, Ra. Tau sendiri kita berdua kayak gimana. Sekalinya serius berhubungan eh malah gagal. Jadi, ya... Kita nikmatin aja masa-masa indah ini." ujar Sony sok bijak.


"Ah lo aja yang nikmatin. Gue mah mau meried. Mau punya anak baik kayak Zaki!" sahut Riko.


"Heh, kok lo enggak mau punya anak kayak Wira? Kenapa lo lebih milih Zaki?" sahutku.


"Tuh liat aja anak lo, rusuh! Zaki ngalah terus! Makanya gue pilih Zaki!" jawab Riko.


"Eh anak gue rusuh juga karena pengaruh lo berdua! Kalau bukan karena lo berdua, anak gue tuh anak yang baik dan sopan!" balasku.


"Sst! Kalian diem dulu deh! Dengerin apa yang Wira omongin sama Zaki!" kata Tara.


Kami pun terdiam. Wira sedang memegang buku cerita namun ada yang aneh.


"Tewe... Tantik... Tatep... Tantik.... Sesi"


Aku dan Tara saling tatap lalu kami berlari dan menggendong anak kami masing-masing.


"Zaki jangan ikutin ya! Itu putri raja, bukan tewe!" Tara memprotek anaknya dari pengaruh Wira.


"Wira, itu gambar putri raja ya. Bukan tewe tantik. Putri raja berhati baik. Bukan sesi ya, baik hati." kuluruskan pemikiran anakku yang mulai melenceng ini.


"Ha...ha....ha... Tuh kan, gimana gue enggak pilih Zaki coba? Ha... ha.... ha...." tawa Riko sepuasnya.


"Putri raja ya Nak, putri raja baik hati dan suka menolong. Wira juga baik hati kan?"


"Baik. Wila baik. Wila mau putli tantik, boyeh Abi?"


"Boleh. Kalau kamu sudah dewasa kayak Abi ya! Wira anak pintar kan?"


Wira mengangguk-angguk setuju. "Wila pintal."


"Bagus. Yuk kita bobo dulu!"

__ADS_1


****


__ADS_2