Duda Nackal

Duda Nackal
Konflik Memanas


__ADS_3

"Suka? Maksud Om apa?" Tari berani menatapku balik. Ditaruhnya sendok diatas piring.


"Ya kamu pulang bareng sama dia lalu tertawa bareng. Apa namanya kalau bukan suka?" aku juga menaruh sendok milikku di atas piring.


"Loh? Apa bedanya sama Om Agas? Om memperhatikan rumah tangga Mbak Tara terus. Apa namanya kalau belummove on?" balasnya.


"Ya kamu jangan bandingkan sama Tara dong!"


"Lalu? Sama siapa? Sama Mbak Cici? Sama cewek-cewek lain yang suka Om ajak senang-senang?" balasnya lebih berani lagi.


"Itu urusanku!" jawabku dengan kesal.


"Iyalah. Itu urusan Om. Sampai kapanpun juga akan menjadi urusan Om. Om sadar enggak sih, Om tuh kayak membangun tembok tinggi di sekitar hati Om? Om terlalu menjaga hati Om sendiri dan tak peduli dengan perasaan orang lain? Om terus hidup dengan sakit hati Om dan tak melihat kalau ada hati lain yang tersakiti? Mau sampai kapan, Om?"


"Kenapa kamu malah mengungkit aku? Pertanyaanku sejak awal hanya, apa kamu suka sama cowok itu? Enggak usah bahas tentang hati dan masa laluku!" aku kesal kenapa Tari malah bahas hal yang lain. "Oh, aku tau. Kamu masih marah sejak kejadian di cafe waktu itu?"


"Oh.. Jadi Om baru sadar sekarang kalau aku masih marah? Lama banget sadarnya, Om. Pak Adi itu hanya guru kursusku saja. Enggak lebih. Enggak seperti Om yang masih belum bisa move on dari Mbak Tara atau hubungan yang menurut Om saling menguntungkan dengan Mbak Cici. Om tau, Om itu egois!" Tari lalu berdiri dan meninggalkan meja makan.


Aku tersulut emosi mendengar perkataannya. Apa maksudnya coba? Kalau aku egois, tak akan aku menikahi dia! Aku biarkan saja dia dijual sama Bapak tirinya! Berani sekali mengataiku egois!


Kutinggalkan meja makan dan pergi ke lantai atas. Kulanjutkan lagi merokokku. Emosiku begitu meledak saat ini.


Anak polos itu kini sudah berani membalas setiap ucapanku. Siapa dia sampai berani seperti itu? Lupakah dia siapa yang sudah menyelamatkannya? Berani sekali sudah mengungkit masa laluku!


Hari semakin malam. Aku memutuskan mengunci pintu atas dan tidur. Aku masuk ke dalam kamar dan Tari sudah tertidur sambil memunggungiku.


Masih marah? Sama!


Aku tidur di sisi lainnya. Lalu merasa ada yang kurang.


Ah iya! Aku belum sholat isya!


Kuambil wudhu dan sholat lalu membaringkan tubuhku di tempat tidur. Semenit, lima menit, setengah jam mataku tak juga mau dipejamkan.


Aku melirik ke arah Tari yang masih memunggungiku. Ia tidur mengenakan baju tidur satin tali satu.


Ah... Pasti aku akan langsung terlelap kalau memeluknya sambil menghirup parfumnya yang menenangkan itu.


Enggak! Gengsi dong! Sebelum ada Tari juga aku biasa tidur sendiri! Aku Duda Nackal bisa mencari kepuasan di luar sana!


****


Aku membuka mataku saat sinar matahari terasa begitu menyilaukan. Kemana Tari? Kenapa Ia tidak membangunkanku sholat subuh seperti biasanya?


Kulihat sisi sebelah tempat tidurku yang kosong. Hanya ada baju yang sudah Ia sediakan untukku berangkat ke showroom.


Aku tak langsung mandi. Aku pergi ke dapur. Kosong. Hanya ada Mbak Inah di ruang laundry.

__ADS_1


Kulirik meja makan yang sudah tersedia sarapan pagi lengkap dengan piring dan gelas yang sudah Tari sediakan.


Aku mencari keberadaannya di dalam rumah. Hasilnya nihil. Di atas pun tak ada. Terpaksa aku harus bertanya pada Mbak Inah dimana keberadaan istri polosku yang sudah berani melawanku itu.


"Mbak, Tari kemana?" tanyaku.


"Tadi Neng Tari pergi, Pak. Katanya mau beli bahan-bahan buat kue."


"Sama siapa? Cowok? Dijemput?" aku langsung terpikir Pak Adi yang kemarin Tari bilang.


"Cowok? Enggak, Pak. Neng Tari pergi sendiri. Tadi naik ojek dari depan komplek. Kebetulan ketemu saya di depan pas saya datang."


Aku menghela nafas lega. Kupikir dia berani pergi dengan terang-terangan seperti itu! Awas saja!


"Yaudah makasih Mbak. Lanjutin aja kerjanya!"


Aku kembali ke kamar dan melihat sebuah lego yang berada di atas meja rias. Cih! Pasti lego dari laki-laki itu!


Legonya belum dibuka.


Cuma lego murah kayak gini aja bayarannya! Nanti aku beli yang banyak dan lebih besar!


Aku pun mandi dan pergi bekerja. Hari ini aku harus ke showroom dimana ada Cici yang langsung mengikutiku saat aku datang.


"Om, beneran Om udah nikah sama Tari? Kok bisa?" rupanya Cici masih tak percaya dengan apa yang kukatakan waktu di diskotek.


"Om, Cici sadar kalau Om sebenarnya menyayangi Cici. Om kan yang meminta teman Om terus mendampingi Cici saat di diskotek kemarin? Om, Cici juga sayang sama Om Agas. Cici sedih Om memutuskan hubungan kita." Cici mulai meneteskan air matanya.


"Diantara kita tak pernah ada hubungan kalau kamu lupa!" kataku pedas.


"Om, Cici bisa jadi istri kedua Om Agas. Cici rela, Om! Asalkan tetap sama Om Agas!"


"CI SUDAHLAH! KAMU NGERTI ENGGAK AKU BILANG KITA ENGGAK ADA HUBUNGAN APA-APA!" bentakku.


Cici terpaku di tempat. Ia menatapku tak percaya. Aku juga baru kali ini membentaknya.


"Keluarlah! Aku lagi banyak masalah!"


Cici menghapus air matanya lalu keluar dari ruanganku.


****


Aku sengaja tak pulang ke rumah hari ini. Sehabis sholat maghrib, aku pergi ke club tempat anak-anak nongkrong.


"Weits! Ada angin apa nih mantan Duda Nackal mulai datang ke Club lagi? Bini cantiknya mana?" sapa Sony.


"Ada di rumah. Lagi bosen aja!" jawabku.

__ADS_1


"Mau pilih cewek yang mana? Kalo pergi deketinnya sama lo, gue juga kebagian yang cakep nih!" ujar Riko.


Aku melihat-lihat keadaan sekitarku. Dulu aku begitu menyukai kebisingan di tempat ini. Melihat cewek-cewek sedang menggoyangkan tubuhnya mengikuti irama musik dari DJ.


Tapi kini?


Rasanya biasa saja. Aku malah mau makan masakan Tari di rumah.


"Sst! Gas! Itu bukannya Tara ya? Mantan bini lo!" tunjuk Bastian tiba-tiba.


Aku mengikuti arah yang Ia tunjuk. Benar saja. Tara.


Tara melihat keberadaanku dan berjalan mendekati meja kami.


"Hi semua! Hi Gas! Tumben kamu kesini?!" sapa Tara yang menyapaku dan teman-teman semua.


"Hi Tara!" sapa yang lain.


"Tari mana? Enggak diajak? Oh iya lupa, Tari kan anak baik-baik. Enggak pernah ke tempat kayak begini ya!" Ia pun tersenyum sambil menyindirku.


"Kata siapa? Waktu itu diajak kok sama Agas kesini!" sahut Bastian.


"Yoi!" sahut Sony dan Riko kompak.


"Oh... Tumben. Terus kenapa sekarang sendirian aja?" tanya Tara lagi.


"Kamu sendiri ngapain disini? Nyari hiburan ditengah konflik rumah tangga kamu?" tanyaku.


Tara memesan minuman lalu duduk bergabung bersamaku dan anak-anak tanpa permisi.


"Ya begitulah. Pusing di rumah terus. Kamu juga begitu kan? Biasa sama banyak cewek ini harus setia sama satu cewek aja!" sindir Tara.


Aku tersenyum sinis mendengarnya. "Sebelum dengan banyak cewek, aku tuh tipikal setia. Sayangnya kesetiaanku dibalas pengkhianatan!" sindirku.


"Wah... Main sindir-sindiran nih!" celetuk Sony.


"Damar mana, Ra? Biasanya juga kalian kalau senang-senang berdua!" tanya Bastian.


"Udah karam kapalnya. Gue memutuskan untuk menggugat cerai Damar." ujar Tara.


Aku kaget mendengar berita yang Tara sampaikan. Mau cerai? Beneran?


"Kenapa kamu kaget begitu? Kamu juga lagi ada masalah kan dengan rumah tangga kamu? Kenapa? Istri kamu diantar laki-laki lain lagi? Ceraikan saja! Kamu kan benci pengkhianatan!" Tara lalu menyentuh wajahku dan menelusurinya dengan jari telunjuk. "Lalu kita bisa balikkan lagi!"


Ketiga temanku menatapku seraya menunggu jawabanku.


"Balikkan? Masih jaman?" sindirku. "Gue balik duluan, Gaes! Have fun ya!" kutinggalkan Tara yang menatapku dengan tatapan kecewa.

__ADS_1


****


__ADS_2