
“Darimana kamu kenal sama Keisha?” tanya Kagendra tiba-tiba.
“Bukan urusan kamu!” bentak Sadiyah dengan berani.
“Saya kan cuma bertanya. Kenapa kamu semakin galak?” protes Kagendra.
“Mau apa kesini?” tanya Sadiyah ketus. Sadiyah mencoba membangun tembok penghalang antara dirinya dan Kagendra untuk melindungi diri.
“Kan saya sudah bilang kalau saya mau memberikan penjelasan yang seharusnya kamu dengarkan enam tahun yang lalu.”
“Tidak usah bertele-tele. Sekarang kamu mau ngomong apa?”
“Dosa loh kalau kamu terus berkata ketus sama suami. Apalagi kamu yang sudah meninggalkan suami. Apa kamu tidak merasa berdosa ataupun bersalah?”
“Biar saya tanggung sendiri dosanya. Tidak usah ribet dan ungkit-ungkit masalah dosa terus. Saya bosan mendengarnya. Kalau tidak ada lagi yang mau dikatakan selain ngungkit-ngungkit dosa terus, sebaiknya kamu pergi saja dari sini.” Sadiyah berkata dengan nada tinggi.
“Maaf….” ucap Kagendra lirih.
“Maaf buat apa?”
“Maaf karena saya sudah menyakiti kamu.”
“Baru nyadar kalau kamu sudah menyakiti saya? Jadi yang punya dosa itu siapa? Saya atau kamu?” sindir Sadiyah.
“Iya…iya…maaf…Aa yang salah, Aa yang berdosa karena sudah mengabaikan dan menyakiti istri Aa yang tercinta.” Kagendra mencoba merayu Sadiyah.
“Siapa yang jadi istri siapa? Saya sudah tidak menjadi istri kamu lagi.”
“Siapa yang bilang kalau kamu bukan istri Aa?” tanya Kagendra serius.
“Saya sudah mendaftarkan gugatan cerai dan kamu juga pasti sudah menceraikan saya karena menikah dengan perempuan itu. Jadi buat apa kamu minta maaf dan mendekati saya lagi? Urus saja istri dan anak kamu sendiri.” wajah Sadiyah sudah semakin memerah karena menahan emosi. Ia marah dengan situasi seperti ini sekaligus sedih ketika ia mengatakan tentang kehidupan Kagendra bersama dengan Natasha.
“Yang kamu katakan sangat tepat. Saya akan mengurus istri dan anak-anak saya sendiri. Apa salah kalau saya mengurus istri dan anak-anak saya sendiri?”
“Tidak salah dan memang itu yang harus kamu lakukan. Jadi sekarang ngapain kamu masih disini? Pergi sana ke istri dan anak-anak kamu!” teriak Sadiyah merasa cemburu dengan perkataan Kagendra yang mengatakan bahwa ia akan mengurus istri dan anak-anaknya. Sadiyah menyangka kalau istri dan anak-anak yang disebut oleh Kagendra adalah Natasha dan anak-anaknya dari Natasha.
“Istri saya ada di sini. Ngapain saya pergi dari sini?” tanya Kagendra polos.
“Saya sudah bukan istri kamu lagi!” teriak Sadiyah kesal.
“Siapa yang bilang kalau kamu bukan istri saya lagi? Kita tidak pernah bercerai dan saya tidak pernah mentalak kamu.” ujar Kagendra tegas.
“Tapi saya sudah mendaftarkan gugatan cerai.”
__ADS_1
“Bukan berarti kita sudah bercerai. Kalau saya tidak pernah datang ke pengadilan dan saya tidak pernah mentalak kamu berarti kamu masih istri saya yang sah secara hukum negara maupun agama. Begitupun status saya yang masih sah menjadi suami kamu.”
“Tapi kan saat itu Aa harus menikah dengan Natasha. Dia sedang mengandung anaknya Aa. Kenapa Aa mengabaikan Natasha dan anak yang sedang dikandungnya? Dia bilang kalau dia sedang mengandung anak Aa. Aa sudah berdosa karena memiliki anak di luar pernikahan dengan Natasha. Jangan sampai Aa menambah dosa dengan mengabaikan anak Aa yang sedang dikandung oleh Natasha.” Sadiyah mulai terisak ketika membeberkan apa yang ada dalam pikirannya selama enam tahun ini.
“Siapa yang bilang kalau Natasha hamil anak Aa?”
“Natasha yang bilang. Dia juga memberikan bukti foto USG janin yang dikandungnya.” jelas Sadiyah.
“Kamu lebih mempercayai orang lain dibandingkan suami kamu sendiri?” tanya Kagendra.
“Karena saat itu Iyah meyakini kalau perempuan yang Aa cintai itu Natasha dan Iyah yang harus mundur.”
“Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu sedang hamil?”
“Iyah juga tahunya beberapa bulan setelah Iyah pergi dari rumah Aa.” Air mata mulai mengembang di pelupuk matanya. “Sudahlah tidak usah ungkit-ungkit lagi masa lalu. Sekarang maunya Aa apa?” Sadiyah menghapus air mata yang mulai meleleh dengan cepat dan kasar.
“Mau Aa adalah kamu memaafkan Aa dan kita tinggal bersama-sama lagi. Aa, kamu, dan juga anak-anak.” ujar Kagendra tegas.
“Iyah pikir-pikir dulu.”
“Kenapa harus pikir-pikir dulu? Kita sudah enam tahun berpisah dan Aa tidak mau menunda-nunda lagi. Kita harus tinggal bersama lagi.”
“Tidak bisa seenaknya seperti itu. Banyak hal yang harus Iyah pikirkan. Iyah belum yakin kalau Iyah mau terus bersama dengan Aa. Iyah sudah capek kalau harus terus sakit hati karena sikap Aa.”
“Sikap Aa yang mana yang membuat kamu sakit hati? Selama ini kamu yang sudah salah paham pada Aa.”
“Tapi Aa benar-benar mencintai ka…..” belum selesai Kagendra menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara Tuti yang berteriak-teriak memanggil Sadiyah.
“Teteh….Teh Iyah….ini lihat berita infotainment di tivi. Cepet Teteh….sini….” Tuti berteriak-teriak dengan suara cemprengnya.
“Ada apa sih Tut, teriak-teriak seperti tarzan begitu.” omel Sadiyah yang datang tergopoh-gopoh dari ruangannya. Kagendra mengikutinya di belakang.
“Teh…itu ada berita tentang Om Endra dengan model cantik yang namanya Grace apa lah itu. Itu si Grace ngomong kalau sekarang dia lagi pacaran sama Om Endra. Ih si Om Endra ternyata playboy juga.” rutuk Tuti.
“Kamu baru tahu kalau cowok itu playboy?” ucap Sadiyah kesal.
“Ada apa?” tanya Kagendra yang baru sampai di ruang tamu butik.
“Tuh urusin pacar baru kamu. Ngapain kamu di sini?” sindir Sadiyah dengan nada ketus.
“Kamu cemburu?” tanya Kagendra dengan riang.
“Cih…siapa yang cemburu. Gak ada gunanya sama sekali kalau harus cemburu.”
__ADS_1
Sadiyah menonton terus acara infotainment yang sedang berlangsung di tivi. Dalam acara gossip itu diberitakan kalau model cantik bernama Grace yang sedang populer sedang menjalin hubungan dengan pengusaha muda bernama Kagendra. Host acara gossip itu mewartakan kalau Grace sudah mengakui perihal dirinya yang dikabarkan sedang berpacaran dengan Kagendra.
“Baru saja tadi memohon-mohon maaf ternyata omong kosong. Faktanya sekarang sedang menjalin hubungan dengan model cantik. Itu sih namanya tobat sambel. Minta maaf tapi terus melakukan kesalahan.” dengus Sadiyah kesal.
“Kamu percaya sama isi gossip seperti itu?” tanya Kagendra.
“Bagaimana mau tidak percaya kalau perempuannya sendiri sudah ngaku. Dasar playboy yah gitu deh. Gak bisa lihat yang bening dikit langsung nyosor.”
“Si Grace itu beningnya gak sedikit loh tapi bening banget.” canda Kagendra.
“Ya sudah kalau mau sama yang bening kaya cewek murahan seperti itu, pergi saja sana! Cepat pergi dari sini!” teriak Sadiyah sambil menghentak-hentakkan kakinya kesal lalu membalikkan tubuh membelakangi Kagendra.
“Jangan marah.” Kagendra memeluk tubuh Sadiyah dari belakang.
“Lepas!” Sadiyah mencoba melepaskan diri dari pelukan Kagendra.
“Jangan marah.” bisik Kagendra di dekat telinga Sadiyah yang membuat seluruh tubuh Sadiyah menegang.
Karena Kagendra tidak juga melepas pelukannya, Sadiyah menundukkan kepalanya ke dekat tangan Kagendra lalu sekuat tenaga menggigit tangan Kagendra.
“Awww….sakit Iyah.” teriak Kagendra sambil melepaskan pelukannya.
Setelah pelukan Kagendra terlepas, Sadiyah menyodokkan sikunya ke arah perut Kagendra.
“Awww…double sakitnya.” Kagendra memegangi bagian perut yang terkena sodokan siku Sadiyah.
Sadiyah meninggalkan Kagendra yang sedang mengaduh kesakitan lalu berjalan dengan langkah santai menuju ruangannya.
Menyadari Sadiyah meninggalkan dirinya, Kagendra segera berlari mengejar Sadiyah.
“Iyah, yang namanya acara gossip itu isinya juga penuh dengan gosip atau berita yang tidak benar. Kamu jangan percaya dengan apa yang dikatakan atau diberitakan dari acara gossip.” pinta Kagendra.
Sadiyah tidak merespon apa yang dikatakan Kagendra.
“Iyah, kamu percaya kan sama Aa?” Kagendra menggenggam kedua tangan Sadiyah.
“Entah lah, A. Iyah tidak bisa berpikir sekarang ini. Iyah mau Aa pergi dari sini. Beri Iyah waktu untuk berpikir mengenai semuanya.”
“Jangan terlalu lama berpikirnya. Aa sudah tidak sabar untuk tinggal bersama lagi dengan kamu dan juga anak-anak kita.”
“Pergi A. Nanti Iyah hubungi Aa lagi.” ucapan Sadiyah terdengar sangat tegas.
“Ya sudah, Aa pergi dulu. Jangan terlalu lama mengabaikan Aa. Aa rasa waktu enam tahun sudah cukup untuk menghukum Aa.” tatapan Kagendra terlihat sendu.
__ADS_1
**********
to be continued....