Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
81. Rindu


__ADS_3

Kagendra sekarang berada di unit apartemennya. Ia enggan tinggal di rumah yang mengingatkan dia akan momen-momen indah yang dilalui bersama dengan Sadiyah.


Di apartemen, tidak banyak momen-momen indah Bersama Sadiyah malah bisa dikatakan kalau apartemen milik Kagendra ini menjadi saksi bisu banyaknya perlakuan buruk Kagendra pada Sadiyah. Jika ia diingatkan tentang kejadian-kejadian buruk di unitnya maka ia akan berhenti berharap untuk berbaikan dengan Sadiyah. Tapi bukannya melupakan Sadiyah, Kagendra malah semakin merasa bersalah jika ingat perlakuan buruknya pada Sadiyah. Inilah hukuman terberat yang Kagendra rasakan, perasaan bersalah yang terus menghantui dirinya sepanjang waktu.


Kagendra memasuki kamar dan membuka laci meja kerjanya. Ia mengambil ponsel yang sudah tidak dipakai itu dan mulai menghidupkannya. Masih banyak daya baterai yang tersisa.


Kagendra membaringkan tubuhnya di atas kasur dan mulai membuka galeri foto di ponsel lamanya. Ia membuka folder foto dengan nama My Lovely Wife.


Ada banyak foto candid Sadiyah yang diambil secara diam-diam oleh Kagendra. Banyak juga foto-foto hasil dari chat ketika mereka saling berkirim foto diri. Tak terasa air mata jatuh dari sudut netranya.


“Sekarang kamu ada dimana? Apa kamu benar-benar tidak mau bertemu lagi denganku? Apa sudah tidak terbuka pintu maaf buatku?” tanya Kagendra lirih. Entah bertanya pada siapa karena tidak ada Sadiyah di hadapannya.


Kagendra terus menggeser slide foto-foto yang menampilkan gambar Sadiyah sendiri dan juga foto Sadiyah berdua dengannya.


“Apa hati kamu masih untukku atau ada laki-laki lain yang sudah mengisi hati kamu?”


Kagendra semakin terisak.


“Aku merindukan kamu. Apa kamu juga disana merindukanku? Sepertinya tidak mungkin jika kamu merindukanku. Sudah terlalu banyak rasa sakit yang aku beri. Aku hanya berharap ketika nanti kita bertemu, hati kamu sudah lebih tenang dan bisa mendengar penjelasan dariku.”


Kagendra mulai memejamkan matanya karena rasa lelah yang sudah tidak bisa lagi dia tahan.


********


 Selepas Isya, Sadiyah mengeluarkan selembar foto dari buku agendanya.


“Aa…….sekarang Aa sedang apa? Apa sekarang Aa hidup bahagia bersama dengan Natasha? Ah, pasti Aa bahagia karena akhirnya bersama dengan wanita yang Aa cintai.”


Sadiyah menatap sendu pada foto pernikahannya bersama Kagendra yang ia simpan dalam buku agendanya. Air mata menetes mengaliri pipi tanpa bisa ia tahan. Untuk mala mini, Sadiyah mengizinkan dirinya untuk menangis karena menahan rindu pada kekasih yang tidak pernah bisa ia miliki hatinya.


“Sekarang Aa sudah punya anak berapa? Apakah masih memiliki satu orang atau bahkan lebih? Aa tahu tidak? Selain memiliki anak dari Natasha, Aa juga punya anak dari Iyah. Anak kita kembar seperti harapannya Ibu yang ingin memiliki cucu kembar.” lirih Sadiyah.

__ADS_1


Sadiyah memandangi foto kedua anak kembarnya yang ia simpan di atas nakas tempat tidurnya.


“Iyah janji suatu saat nanti akan membawa anak kita ke hadapan Aa. Mengenalkan Aras dan Aris pada ayahnya. Tapi tidak sekarang karena Iyah khawatir kalau Iyah memberitahu tentang Aras dan Aris akan merusak kebahagiaan Aa dan Natasha. Kalau Iyah harus selamanya tidak memberitahu keberadaan mereka pada Aa pun, Iyah ikhlas. Iyah bisa katakan pada Aras dan Aris kalau ayah mereka sudah pergi jauh dan tidak akan kembali. Ketika mereka dewasa, Iyah yakin kalau Aras dan Aris akan mengerti kenapa Ibu dan ayah mereka tidak bersama.”


Air mata semakin deras mengalir melewati kedua pipinya.


 “Aa…sekarang ini hati Iyah masih dipenuhi oleh sosok Aa. Hati Iyah masih untuk Aa dan Aa masih kuat bercokol di hati Iyah. Hanya saja sekarang bukan hanya Aa yang ada di hati Iyah. Walaupun Iyah tidak pernah ada di hati Aa tapi Iyah bersyukur karena sekarang ada Aras dan Aris. Iyah sangat yakin kalau hati mereka dipenuhi oleh Iyah.” Sadiyah tersenyum bahagia ketika mengingat dua kesayangan yang sangat menyayanginya. Bagi Faras dan Faris, Sadiyah menjadi satu-satunya wanita yang mereka cintai.


Sadiyah mendekap foto pernikahannya dengan air mata yang terus bercucuran.


“Iyah kangen sama Aa. Iyah juga masih sangat mencintai Aa. Iyah tahu seharusnya Iyah melupakan Aa secepatnya. Tapi hati Iyah ini tidak bisa diajak berkompromi karena selalu saja jantung Iyah berdetak sangat kencang kalau mengingat wajah Aa.”


Sadiyah memukul-mukul dada kirinya yang semakin terasa sesak.


“Iyah tidak tahu bagaimana cara melupakan Aa. Iyah sangat ingin melupakan Aa. Otak Iyah sudah memerintahkan supaya melupakan Aa tapi hati ini selalu tidak mau menuruti apa yang diperintahkan oleh otaknya Iyah. Jadi Iyah harus bagaimana? Iyah sangat rindu sama Aa. Iyah ingin sekali lagi saja bertemu dengan Aa. Walau hanya memandang dari jauh, Iyah ingin melihat sosok Aa sekali lagi saja.”


Sadiyah terus menangis hingga dadanya makin terasa sesak.


Sadiyah tidak menjawab pertanyaan Mak Isah, ia terus saja menangis.


Mak Isah mendekati Sadiyah dan duduk di sisi kanannya.


Sadiyah kembali memukuli dada kirinya.


“Rasanya masih sakit, Mak.”


Mak Isah memeluk Sadiyah dengan erat berusaha untuk menenangkannya.


“Sudah, Neng. Ikhlaskan.”


Mak Isah mengelus punggung Sadiyah dengan lembut dan perlahan Sadiyah mulai tenang.

__ADS_1


“Cepat basuh wajah Neng. Mak khawatir si kembar melihat kondisi Neng yang seperti ini. Kasihan mereka jika melihat ibunya menangis sampai seperti ini.”


Sadiyah segera beranjak menuju kamar mandi dan membasuh wajahnya hingga terlihat lebih segar.


Setelah selesai membasuh wajahnya, Sadiyah segera kembali ke kamarnya dan bersiap-siap untuk pergi.


“Mau kemana lagi malam-malam begini, Neng?” tanya Mak Isah.


“Iyah mau pergi lagi ke Bandung, Mak. Besok pagi ada acara launching butik baru.”


“Neng buka butik baru lagi?”


“Iya, Mak. Sekarang butiknya khusus menjual pakaian muslimah.” jelas Sadiyah.


“Kasihan Aras dan Aris kalau sering Neng tinggal.”


“Tidak akan lama kok Mak. Besok sore atau malam, Iyah pulang kok.”


“Ya sudah hati-hati di perjalanannya. Apalagi sekarang Neng bawa mobilnya sendiri dan sudah malam juga. Apa tidak bisa perginya besok setelah subuh saja? Mak khawatir kalau Neng pergi sendiri malam-malam. Kapan si Jana kerja lagi?”


“Iyah kan sudah biasa pergi malam-malam, Mak. Biar saja Jana cuti dulu. Jana kan sedang menikmati peran jadi ayah baru. Biarkan saja dia menemani dulu istrinya yang baru melahirkan. Iyah sangat mengerti kalau habis melahirkan itu, perempuan sangat rapuh dan memerlukan perlindungan dari pasangannya.”


Mak Isah menatap Sadiyah dengan sendu karena teringat perjuangan Sadiyah dalam masa kehamilan anak kembarnya, melahirkan, dan membesarkan kedua anak kembarnya itu tanpa kehadiran suami.


“Jangan menatap Iyah seperti itu, Mak. Maksud Iyah setiap kondisi perempuan setelah melahirkan itu kan berbeda-beda. Biasanya perempuan yang habis melahirkan itu sangat lemah dan sangat memerlukan pendampingan dari pasangannya. Dulu Iyah berhasil melewati masa-masa sulit itu karena ditemani oleh Mak Isah dan Atep.”


Sadiyah memeluk sayang Mak Isah.


*********


to be continued...

__ADS_1


__ADS_2