
“Kenapa kamu senyum-senyum sama si Guntur itu?”
Sadiyah kembali tidak mengindahkan pertanyaan Kagendra. Ia malah menanyakan kabar Faras dan Faris.
“Aras dan Aris senang tidak tinggal bersama dengan Ayah?”
“Senaaaaang sekali…..” jawab Faris.
“Aras juga senang?” tanya Sadiyah.
Faras mengangguk-anggukkan kepalanya dengan semangat.
“Mau pulang sama Ibu atau masih mau tinggal sama Ayah?” tanya Sadiyah.
“Memangnya Ibu tidak bisa tinggal sama Ayah?” tanya Faras.
Sadiyah tidak menjawab langsung pertanyaan dari Faras.
“Aras bakalan seneng banget kalau kita semua tinggal sama-sama.”
“Aris juga. Ibu pernah kan tinggal sama Ayah juga? Aris lihat banyak foto Ibu di rumah Ayah.”
Sadiyah menghela nafasnya dengan berat.
“Sekarang Ibu belum bisa tinggal dengan Ayah.” jawab Sadiyah pelan. Ia takut jika Kagendra marah lagi.
“Kenapa?” tanya Faras dan Faris berbarengan.
Dalam hati juga Kagendra menanyakan hal yang sama.
Sadiyah mencoba mencari alasan yang mudah dimengerti oleh Faras dan Faris.
Setelah beberapa saat mencoba mencari alasan yang tepat, akhirnya Sadiyah menemukan jawabannya dan berharap Faras dan Faris akan mengerti.
“Sekarang Ibu masih sibuk. Ibu harap Faras dan Faris tinggal dulu bersama dengan Ayah. Nanti kalau Ibu sudah tidak sibuk lagi, Ibu akan tinggal bersama dengan kalian.” Sadiyah memberikan jawaban yang kurang masuk akal.
“Kapan?” tanya Kagendra, Faras dan Faris serentak.
Sadiyah menatap tajam ke arah Kagendra dan dibalas Kagendra dengan tatapan tajam juga.
“Nanti kalau Ayah sudah baik sama Ibu, baru Ibu mau tinggal lagi sama Ayah.”
“Ayah baik banget kok Bu. Setiap pagi, Ayah selalu buatin sarapan buat Aras dan Aris. Terus Ayah juga suka ngajakin kita main. Tiap hari Ayah selalu ajak Aras dan Aris ke kantor Ayah. Jadi Aras dan Aris tidak di rumah sendirian. Iya kan, Ras?.” Faris meminta dukungan pada Faras.
“Iya. Ayah beliin mainan dan buku yang banyak. Ayah juga tiap malam selalu bacain cerita buat kita seperti Ibu.” giliran Faras mempromosikan kebaikan ayah mereka.
“Ayah baiknya baru sama kalian. Kalau sama Ibu, Ayah belum baik.” ucap Sadiyah.
“Jangan mempengaruhi hal yang negatif pada anak-anak. Jangan bilang kalau Aa tidak pernah berlaku baik sama kamu. Jangan membuat pandangan anak-anak jadi buruk pada Aa.” tegur Kagendra.
“Ayah baik kok sama Ibu. Ayah sering menceritakan tentang Ibu yang baik-baik. Iya kan, Ras?” kembali Faris meminta dukungan untuk membela ayahnya pada saudara kembarnya.
“Iya. Ayah sering cerita kalau Ibu baik banget sama Ayah. Kata Ayah, dulu Ibu suka masakin yang enak-enak buat Ayah.”
“Kalian lapar tidak? Mau makan apa?” Sadiyah mencoba mengalihkan perhatian Faras dan Faris.
“Aras mau makan kwetiaw goreng.” pinta Faras. Makanan kesukaan Faras pun hampir mirip dengan kesukaan Kagendra.
__ADS_1
“Aris mau makan ayam goreng yang ada di iklan.”
“Aris jangan terlalu sering makanan seperti itu.”
“Tapi Aris inginnya makan itu.” rajuk Faris.
“Aa sering bawa mereka makan di restoran fast food ya.” tuduh Sadiyah.
“Tidak.” Kagendra tidak terima dengan tuduhan Sadiyah.
“Kalau tidak, kenapa sekarang Aris mintanya ayam goreng seperti itu. Kalau tidak dibiasakan mana mungkin sekarang Aris merajuk seperti itu. Iyah tidak pernah membiasakan anak-anak makan fast food.”
“Kamu jangan asal menuduh seperti itu. Setiap pagi Aa yang menyiapkan makan untuk mereka. Untuk makan siang dan malam, Aa meminta Ibu yang menyiapkannya. Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa telepon Ibu.”
“Kalau seperti itu, kenapa Aris merajuk minta makan fast food.”
“Mana Aa tahu.”
“Aris makannya sama seperti Aras saja ya.” bujuk Sadiyah
“Tidak mau.” Faris tetap merengek dibelikan ayam goreng dari restoran fast food terkenal itu.
“Aris….” seru Sadiyah sedikit membentak.
“Ayaaaah….” tidak berhasil merajuk pada Sadiyah, Faris melancarkan serangannya pada Kagendra.
“Aris harus dengar kata Ibu. Kemarin kan Aris sudah makan ayam goreng crispy. Sekarang Aris makan yang lain, yang ada sayurnya.”
Sadiyah mendelik sewot mendengar perkataan Kagendra.
“Ayam goreng crispy buatan Ibu.” sahut Kagendra.
“Ya sudah deh, Aris makan yang seperti Aras saja.” Akhirnya Faris menyerah dengan keinginannya.
“Kamu jangan terlalu keras sama anak-anak. Sekali-kali izinkan mereka makan makanan yang mereka inginkan. Mereka juga ingin seperti anak-anak yang lain yang bisa makan di restoran fast food.”
“Aa jangan coba-coba untuk merubah kebiasaan yang Iyah tanamkan sama anak-anak. Fast food itu kurang baik buat anak-anak. Iyah khawatir mereka akan ketagihan makan fast food.”
“Iya Aa paham. Hanya saja caranya harus lebih lembut. Mereka kan masih anak-anak. Jangan terlalu keras sama mereka.”
“Iyah minta Aa jangan merusak didikan Iyah sama mereka. Aa tidak mengurus mereka sejak bayi. Jadi Aa jangan seenaknya menasihati Iyah tentang cara mendidik mereka.
“Maafkan Aa karena tidak ada di samping kamu saat kamu benar-benar membutuhkan Aa.”
“Sudahlah…tidak usah diungkit-ungkit lagi. Malas Iyah mendengarnya.” Sadiyah beranjak meninggalkan tempat untuk memesankan makanan buat Faras dan Faris.
Kagendra hanya bisa menghela nafas mendengar perkataan Sadiyah yang ketus. Ia menyadari bahwa apa yang terjadi pada Sadiyah adalah kesalahannya.
Setelah selesai memesan dan membayar makanan, Sadiyah kembali ke tempat Kagendra dan anak-anak mereka duduk.
“Kalau Aa mau makan, pesan dan bayar sendiri.”
Kagendra merasa kecewa karena Sadiyah tidak sekalian memesankan makanan untuk dirinya.
“Aa tidak lapar.”
“Ya sudah.”
__ADS_1
Setelah beberapa saat, dua piring kwetiaw untuk Faras dan Faris sudah tersaji di atas meja.
“Kamu tidak makan?” tanya Kagendra yang melihat hanya ada dua piring saja makanan yang dipesan oleh Sadiyah.
“Iyah sudah makan tadi bareng sama Mas Guntur.”
Jawaban Sadiyah semakin membuat Kagendra kesal dan kecewa.
“Titip anak-anak satu minggu lagi. Iyah mau pergi ke luar kota.”
“Mau pergi ke mana?”
“Jogja.”
“Mau apa ke Jogja?” tanya Kagendra penasaran.
“Tidak usah kepo.”
“Aa harus menanyakannya. Kamu masih menjadi istri Aa dan kamu wajib meminta izin sama Aa.” tegas Kagendra.
“Iyah lupa kalau Iyah masih punya suami. Selama enam tahun ini, Iyah bebas untuk menentukan keputusan sendiri tanpa harus bertanya atau meminta izin pada suami.” sindir Sadiyah.
“Sekarang suami kamu ada di hadapan kamu.”
“Ya sudah Iyah izin sekarang saja. Iyah izin mau pergi ke Jogja.”
“Kalau Aa tidak mengizinkan?”
“Bodo amat.”
“Kamu tidak boleh begitu sama suami kamu. Kamu tidak takut berdosa jika…..” sebelum Kagendra menyelesaikan kalimatnya, Sadiyah memotongnya.
“Tidak usah mengingatkan Iyah tentang dosa. Iyah bosan mendengar Aa ngomong seperti itu sejak dari awal pernikahan kita. Basi.”
“Iyah…Sudah Aa bilang kalau jangan berkata hal-hal yang negatif di hadapan anak-anak. Aa tidak mau anak-anak terpengaruh perkataan-perkataan yang negatif.” Kagendra memperingatkan Sadiyah.
“Iyah kesal sama Aa. Nilai Aa berkurang di mata Iyah. Sekarang nilainya minus.” tegas Sadiyah yang mengingatkan Kagendra kalau sekarang ia masih dalam masa percobaan.
Kagendra yang lupa kalau ia sedang dinilai oleh Sadiyah hanya bisa menghela nafas dengan kasar.
Sadiyah melihat Faras dan Faris sudah menghabiskan makanan mereka. Ia segera memberikan segelas air untuk masing-masing.
“Aras dan Aris, nanti kalian pulang sama Ayah dulu ya. Ibu mau pergi ke luar kota, jadi kalian tinggal dulu sama Ayah.”
“Lama tidak, Bu?’ tanya Faras.
“Hanya satu minggu. Setelah Ibu pulang, nanti Ibu jemput kalian di rumah Ayah.”
“Itu bukan hanya rumah Aa tapi rumah kamu, rumahnya Aras dan Aris juga.”
Sadiyah tidak mengindahkan perkataan Kagendra.
Lagi-lagi, Kagendra hanya bisa bersabar dengan ujian yang diberikan oleh Sadiyah.
**********
to be continued...
__ADS_1