Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
52. Malam yang Indah


__ADS_3

Setelah selesai sholat, Kagendra kembali ke ruangannya dan melihat Natasha sedang duduk santai di atas sofa.


“Kamu sudah makan?” tanya Kagendra dingin.


“Belum. Aku mau makan sama kamu. Kita makan di restoran favorit aku saja.”


“Aku sudah makan.”


“Tapi kan aku belum makan, sayang. Aku inginnya makan bareng sama kamu.” rajuk Natasha.


“Pesan makan delivery saja. Pesan dari restoran yang dekat sini.”


“Aku ingin makan di restoran favorit aku. Masa kamu tidak mau mengantar aku.”


“Masih banyak pekerjaan. Kamu tidak lihat berkas-berkas yang menggunung di atas meja kerjaku.” Kagendra berkata dengan nada yang sedikit tinggi.


“Kan kamu bisa suruh sekretaris kamu yang sudah seperti asisten pribadi itu untuk membantu membereskan pekerjaan kamu.” bujuk Natasha.


“Tidak bisa. Aku sendiri yang harus memeriksanya.” keukeuh Kagendra.


Natasha tidak terima alasan yang diberikan oleh Kagendra karena tadi ia sempat melihat Kagendra yang sibuk berbalas pesan dengan Sadiyah walaupun berkas-berkas pekerjaannya menggunung. Natasha benci melihat kenyataan itu sehingga ia tidak terima alasan Kagendra yang tidak bisa menemaninya makan siang.


“Ya sudah aku pergi sendiri saja.” Natasha menghentakkan kakinya dan keluar dari ruangan Kagendra dan membanting pintu dengan keras.


Kagendra menghela nafasnya kasar dan melanjutkan pekerjaannya.


Menjelang magrib, Kagendra baru selesai menyelesaikan setengah dari tumpukan berkas di atas mejanya.


***********


Saya pulang setelah Isya. Kamu mau dibelikan makan apa?


Kagendra mengirimkan pesan pada Sadiyah.


Aa jangan beli makanan di luar. Iyah sudah masak.


Walaupun tidak enak badan, Sadiyah memaksakan diri untuk masak makanan kesukaan Kagendra.


Masak apa?


Ceplok telur.


Tidak mau.


Dadar telur. Mau?


Saya beli saja daripada dikasih makan sama telur ceplok atau telur dadar saja.


Becanda, A. Iyah sudah siapkan kwetiau goreng seafood kesukaan Aa. Tapi masaknya nanti saja kalau Aa sudah di rumah biar enak dimakan masih hangat.

__ADS_1


Kagendra mengirimkan ikon love.


Sadiyah membalasnya dengan mengirimkan ikon cium dan peluk.


Senyum Kagendra merekah setelah melihat ikon peluk dan cium yang dikirimkan oleh Sadiyah.


Setelah berbalas pesan dengan Sadiyah, Kagendra langsung mematikan ponselnya dan meneruskan pekerjaannya.


Jam 8 malam, Kagendra tiba di rumahnya. Ia memanggil-manggil Sadiyah karena tidak melihatnya di ruang tengah maupun di kamar mereka.


“Iyah….Iyah….kamu dimana?”


“Di sini, A.” Sadiyah berteriak dari arah perpustakaan menjawab panggilan Kagendra.


“Saya kira kamu kemana.” ujar Kagendra terdengar cemas.


“Memangnya Iyah mau kemana A?”


“Ya mungkin saja kamu kabur.” canda Kagendra.


Sadiyah tertawa mendengar jawaban dari Kagendra.


“Aa mau makan sekarang?”


“Saya mau mandi dulu.” Kagendra naik ke kamarnya.


Sadiyah mulai memasukkan bumbu dan bahan-bahan kwetiaw goreng. Sadiyah selesai masak hanya 20 menit saja karena bumbu dan bahan-bahannya sudah Sadiyah siapkan sedari sore.


“Aa kenapa tidak menjawab pesan Iyah?” tanya Sadiyah setelah Kagendra duduk di hadapannya di meja makan.


“Ponselnya saya matikan.”


Kagendra mulai menyendokkan kwetiaw buatan Sadiyah ke dalam mulutnya.


“Enak, A?” tanya Sadiyah sambil memandangi wajah Kagendra yang sedang lahap menghabiskan kwetiaw buatannya.


“Hmmm…”


“Masa jawabannya cuma hmm saja.” protes Sadiyah.


“Memangnya kamu mau jawaban seperti apa?”


“Ya jawab yang jujur saja. Kalau enak bilang enak kalau tidak enak ya bilang tidak enak.” rajuk Sadiyah.


“Kalau saya menghabiskan makanannya itu artinya makanannya enak.” jawab Kagendra sambil menyuapkan suapan terakhirnya.


“Enak saja atau enak banget?”


Kagendra tidak menjawab pertanyaan Sadiyah.

__ADS_1


“Jawab Aa!!!” teriak Sadiyah Kesal.


“Tidak perlu teriak. Saya mendengar apa yang kamu bilang.”


“Ya habisnya Aa tidak menjawab.”


“Memangnya pertanyaan kamu begitu pentingnya sampai saya harus segera menjawabnya?”


“Penting. Pentingnya pakai banget.” seru Sadiyah.


“Kalau saya menghabiskan makanan yang kamu buat lebih dari satu kali berarti makanan itu enak sekali.” jawab Kagendra setelah menyesap minuman jahenya.


“Tinggal jawab saja enak sekali tapi musti muter-muter dulu. Pria yang aneh.” ucap Sadiyah asal.


“Jangan ngatain suami sendiri.” Kagendra mengingatkan.


“Siapa yang ngatain?” ucap Sadiyah sewot.


“Itu siapa yang bilang kalau saya orang yang aneh?”


Sadiyah membalasnya dengan tawa.


Kagendra tersenyum melihat Sadiyah yang tertawa dengan lepas.


“Kita tidur yuk.” ajak Kagendra.


“Habis makan jangan langsung tidur Aa. Itu tidak sehat bikin banyak penyakit.” Sadiyah mengingatkan.


“Kita olahraga dulu sebelum tidur.” Kagendra mengucapkannya dengan nada yang datar sedatar-datarnya.


“Olahraga apaan sudah malam begini. Gak mau ah, Iyah kan masih kurang fit. Besok-besok saja olahraganya. Besok pagi kalau badan Iyah sudah agak enakan, mau ikut lari pagi sama Aa. Tapi sarapannya beli saja ya.”


“Sekarang saja olahraganya, biar cepat sehat lagi.”


Sadiyah berlalu meninggalkan Kagendra yang terus saja mengajaknya berolahraga.


“Sudah tahu kalau Iyah sedang tidak fit. Ini malah ngajakin olahraga malam. Olahraga apaan malam-malam begini.” omel Sadiyah dengan suara rendah.


Tiba-tiba Kagendra menggendong Sadiyah yang hendak duduk di sofa ruang tengah.


“Eh…aduh Aa. Ngapain gendong-gendong Iyah segala. Cepat turunin!” Iyah meronta mencoba untuk melepaskan diri dari Kagendra.


“Kita olahraga malam.” bisik Kagendra di telinga Sadiyah yang langsung membuat pipi Sadiyah merona karena baru menyadari maksud dari olahraga malam versi Kagendra.


“Iiiiiih Aa genit….” Sadiyah melingkarkan tangannya di leher Kagendra.


“Tidak apa-apa kalau genit sama istri sendiri.”


Malam itu mereka berdua merajut keindahan cinta bersama. Dunia seakan hanya milik mereka berdua.

__ADS_1


**********


to be continued....


__ADS_2