
Jam sembilan tepat, Sadiyah dan Kagendra sudah bersiap di posisinya masing-masing untuk bersegera tidur. Kagendra mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur. Sebelum mematikan lampu tidurnya juga, Kagendra berdehem entahlah untuk membersihkan tenggorakannya yang tercekat atau menutupi kegugupannya.
“Sadiyah….” Kagendra memanggil nama Sadiyah.
“Iya, A.” sahut Sadiyah yang kembali pada posisi duduk setelah tadinya sudah berada dalam posisi berbaring.
“Ehm…” Kagendra kembali berdehem.
Sadiyah terdiam menunggu Kagendra mengutarakan maksudnya.
“Kamu sudah mengantuk?” tanya Kagendra basa-basi.
“Belum.” Sadiyah memberikan jawaban singkatnya.
Mereka berdua kembali tidak bersuara.
Setelah hening beberapa saat, Kagendra kembali berdehem.
“Sadiyah…apa sudah ada tanda-tanda?” tanya Kagendra ragu.
“Tanda-tanda apa A?” Sadiyah menatap wajah Kagendra dengan heran.
Kagendra mengusap tengkuknya dengan kasar tanda ia sedang gugup.
“Ya tanda-tanda…..kamu tahu kan maksudnya?”
“Saya gak ngerti maksud tanda-tanda yang Aa bilang.”
“Ehm, tanda kalau kamu hamil.” ucap Kagendra cepat.
“Eh…..Oh” Sadiyah terkejut mendengar kata-kata Kagendra.
“Kamu sudah cek belum?” tanya Kagendra lagi.
Setelah termenung beberapa saat, Sadiyah segera tersadar dari rasa terkejutnya.
“Belum A. Iyah yakin, eh saya yakin kok belum hamil. Tadi pagi saja, saya baru selesai bersih-bersih.” jawab Sadiyah.
“Apa hubungannya kamu bersih bersih dengan hamil?” tanya Kagendra bingung.
__ADS_1
“Maksudnya bersih-bersih itu baru beres menstruasi. Tadi pagi saya baru mandi besar setelah selesai masa menstruasi. Jadi sudah bisa dipastikan kalau saya belum hamil.” jelas Sadiyah menjawab kebingungan Kagendra.
“Ohhh…..” gumam Kagendra.
Suasana hening kembali terasa karena rasa canggung yang mereka berdua rasakan setelah Kagendra membahas masalah kehamilan.
“Kenapa kamu belum hamil? Padahal kan kita sudah beberapa kali melakukannya.” tanya Kagendra.
“Bagaimana mau hamil kalau dalam prosesnya saja pakai pemaksaan dan juga melupakan hal yang paling penting, yaitu berdo’a sebelum melakukan proses pembuahan. Untung saja tidak jadi hamil, kalau jadi hamil kan bisa gawat. Nanti anaknya gak akan sholeh dan sholelah karena orangtuanya tidak berdo’a dulu waktu proses pembuatannya.” dumel Sadiyah dalam hatinya.
“Kamu ngatain saya ya dalam hati kamu?” tuduh Kagendra.
“Eh, apaan sih? Jangan main tuduh dong.” protes Sadiyah yang kaget karena kata hatinya bisa terdengar oleh Kagendra yang sebenarnya tidak mungkin suaminya itu bisa mendengar apa yang dikatakan dalam hatinya. Mungkin itu hanya kebetulan saja.
“Bukannya menuduh, saya cuma menebak saja. Bisa jadi kan kamu mengumpat dalam hati kamu. Ngatain yang jelek-jelek tentang saya.” ujar Kagendra sudah mulai rileks dan malah menggoda istrinya.
“Huh…” Sadiyah memanyunkan bibirnya tanda kesal.
“Jadi tadi kamu ngatain saya apa?” cecar Kagendra.
“Makanya kalau mau begituan harus berdo’a dulu. Biar bisa hamil dan nanti anaknya menjadi anak yang sholeh dan sholehah.” Sadiyah mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya.
“Astaghfirulloh…. Aa tidak tahu? Jadi Aa tidak hapal do’anya? Eh jangankan hapal, harus berdo’a sebelum prosesnya saja Aa tidak tahu. Bagaimana mau jadi imam saya kalau yang seperti ini saja Aa tidak tahu.” sindir Sadiyah.
“Jangan menyindir saya. Dosa kamu kalau hobinya menyindir suami terus. Saya bukannya tidak tahu kalau harus berdo’a dulu. Hanya saja saya memang belum hapal do’anya” sahut Kagendra ketus.
“Siapa yang punya hobi menyindir suami?” protes Sadiyah.
Kagendra tidak mengindahkan protes Sadiyah, ia sudah sibuk mencari do’a sebelum melakukan hubungan suami istri dari situs pencarian di internet. Setelah mendapatkan do’anya, Kagendra langsung menghapalkannya. Beruntung otak cerdas Kagendra sangat berperan dalam hal ini sehingga ia mampu menghapal do’anya dalam waktu singkat.
“Saya sudah hapal do’anya.” cetus Kagendra tiba-tiba.
“Alhamdulillah deh kalau memang sudah hapal.” sahut Sadiyah sambil kembali memposisikan tubuhnya untuk bersiap-siap tidur.
“Jangan tidur dulu!”
“Mau apa lagi sih A? Saya sudah ngantuk nih. Dari tadi ngajak ngobrol terus. Besok kan saya harus masak, beres-beres juga buat persiapan pindahan rumah.” protes Sadiyah kesal karena Kagendra melarangnya untuk segera tidur.
“Saya mau minta hak saya malam ini” ucap Kagendra tegas.
__ADS_1
“Eh…..” terdengar nada cemas dan ketakutan dalam suara Sadiyah.
“Maaf….” akhirnya satu kata keramat itupun keluar dari mulut Kagendra. Kagendra yang jarang sekali mengungkapkan kata maaf telah mengalahkan egonya. Sebuah kata maaf yang sebenarnya ingin ia utarakan pada Sadiyah akhirnya terucap juga pada malam ini.
“Maaf kenapa?” tanya Sadiyah heran.
“Maaf kalau dua malam itu, saya memaksakan kehendak saya sama kamu. Maaf kalau saya menyakiti kamu.” ucap Kagendra tulus.
Sadiyah terdiam.
“Malam ini saya tidak akan memaksa kamu. Saya akan meminta izin dulu sama kamu. Saya ingin kamu ikhlas melakukannya.” harap Kagendra.
Sadiyah masih terdiam, tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.
“Kalau kamu tidak ingin pun saya tidak akan memaksa. Mulai sekarang saya berjanji kalau saya tidak akan pernah lagi memaksa jika kamu memang tidak rela.” Kagendra mengutarakan penyesalannya atas perilaku kasar yang pernah ia berikan pada Sadiyah.
Sadiyah masih terdiam, memikirkan dan bertanya-tanya apakah Kagendra berkata tulus dan jujur. Ia menatap wajah Kagendra dan mencari ketulusan dari mata Kagendra. Sadiyah melihat bahwa kali ini Kagendra benar-benar tulus padanya dan ia dapat merasakan jika Kagendra memang menyesali perbuatan kasar yang dilakukan sebelumnya.
“Boleh?” pinta Kagendra.
Sadiyah menganggukkan kepalanya samar.
Kagendra tidak melihat pergerakan kepala Sadiyah dan kembali bertanya.
“Boleh tidak?” tanya Kagendra sedikit tidak sabar dan cemas jika malam ini Sadiyah akan menolaknya.
“Ya.” jawab Sadiyah lirih yang masih bisa terdengar oleh Kagendra.
Kagendra bersyukur dan bersorak di dalam hatinya. Akhirnya malam ini ia akan mendapatkan haknya tanpa ada unsur paksaan.
Dimulai dengan membaca do’a yang sudah dihapalnya tadi, Kagendra mulai menciumi wajah Sadiyah. Tangannya mulai bergerilya membuka kancing-kancing piyama Sadiyah.
“Besok-besok jangan memakai piyama yang banyak kancingnya seperti ini. Pakai saja daster yang mudah dibuka.” pinta Kagendra.
Wajah Sadiyah semakin bersemu merah. Beruntung, hanya lampu tidur yang menyala sehingga wajahnya yang sudah memerah seperti kepiting rebus tidak terlihat dengan jelas oleh suaminya.
Akhirnya, malam ini Sadiyah bisa menikmati apa yang seharusnya ia nikmati di malam-malam sebelumnya. Berkali-kali mereka saling memuaskan hingga menjelang subuh.
********
__ADS_1