
“Saya mau bertemu dengan Pak Kagendra.” jawab Sadiyah.
“Ada keperluan apa menemui Pak Kagendra? Apakah sudah membuat janji dengan Pak Kagendra?”
Ketika Sadiyah mengatakan ia hendak menemui Kagendra, raut wajah perempuan di depannya ini sedikit berubah, tidak ramah seperti waktu pertama kali menyapa.
“Saya mau mengantarkan makan siang untuk Pak Kagendra.”
“Makan siang untuk Pak Kagendra bisa dititipkan pada saya. Nanti saya yang akan menyampaikannya pada Pak Kagendra.”
Rita menganggap perempuan di hadapannya sebagai saingan untuk mendapatkan perhatian dan cinta dari pemilik perusahaan yang digandrungi oleh hampir seluruh pegawai perempuan yang masih lajang. Ia menganggap Kagendra masih lajang karena selama ia bekerja tidak pernah sekalipun melihat Kagendra bersama seorang perempuan ataupun memperkenalkan pasangannya pada para pegawainya.
Bukan hanya perempuan lajang yang bekerja di perusahaan Kagendra saja yang menggandrungi Kagendra, para pegawai perempuan dari perusahaan lain yang berkantor di gedung ini pun banyak yang mengidolakan dan berharap untuk menjadi pasangan Kagendra.
Rumor beredar bahwa Kagendra adalah seorang duda tanpa anak hingga dua bulan lalu ketika Kagendra membawa Faras dan Faris ke kantornya, rumor tersebut berubah. Rumor berkembang menjadi duda dengan dengan dua anak. Oleh sebab itulah banyak pegawai perempuan yang masih lajang berlomba-lomba untuk mengambil hati kedua anak kembar Kagendra.
“Tapi…”
Belum sempat Sadiyah meneruskan kalimatnya, Rita sudah mengambil tas berisi bekal makan siang untuk Kagendra.
Tidak terima dengan perlakuan dari pegawai front office, Sadiyah langsung menelepon Kagendra di depan pegawai yang sudah membuatnya tersinggung.
“Aa ke bawah sekarang juga! Iyah tunggu di front office! Tidak pakai lama! Lima menit tidak sampai, Iyah pulang.” tanpa mendengar jawaban Kagendra, Sadiyah langsung menutup teleponnya.
Kagendra yang baru saja selesai memberikan intruksi kepada beberapa pegawainya terkaget-kaget mendengar suara kesal Sadiyah. Sedangkan Rita baru menyadari bahwa perempuan di hadapannya bukanlah perempuan biasa karena mampu berbicara begitu ketus pada orang yang ia duga Kagendra. Hatinya kebat-kebit mendengar nada suara Sadiyah. Jika memang benar perempuan di hadapannya itu kekasih atau bahkan istri dari laki-laki idamannya, maka hilanglah kesempatannya untuk mendapatkan perhatian atau bahkan cinta dari Kagendra.
“Ada apa, Bos?” tanya Rudi.
“Kanjeng Ratu marah. Gawat, Rud.”
Kagendra segera bergegas turun menuju lantai dasar. Ketidakberuntungan sepertinya berteman dengan Kagendra kali ini. Lift khusus pimpinan sedang ada perbaikan sedangkan satu lift biasa masih ada di lantai dasar dan yang lainnya di lantai teratas. Tidak mau membuat Sadiyah menunggu lama dan semakin marah, Kagendra menggunakan tangga darurat. Ia menuruni tangga dari lantai 30 dengan kecepatan penuh. Sampai di lantai dasar, ia melihat Sadiyah sedang duduk di sofa lobi sambil melipat tangannya di atas dada.
__ADS_1
“Sayang…” panggil Kagendra dengan nafas tersengal.
Sadiyah melengoskan pandangannya.
“Kenapa tidak langsung naik?”
Sadiyah membisu enggan menjawab pertanyaan Kagendra.
“Marah? Kesal? Marah sama siapa? Apa salah Aa? Kesal karena menunggu lama? Maafkan kalau kamu kesal karena menunggu lama. Lift-nya rusak jadi Aa harus turun pakai tangga darurat.”
Kagendra menggandeng tangan Sadiyah dan sedikit menariknya. “Yuk, ke kantor! Kamu temani Aa makan. Kamu juga baru main lagi ke sini setelah sekian lama.”
“Terakhir kali ke sini, Iyah memergoki hal yang tidak senonoh,” ucap Sadiyah ketus.
Kagendra menghentikan langkahnya dan menghela nafas dengan kasar. Ia menyadari kalau perempuan itu mudah untuk memaafkan kesalahan dari pasangannya tapi tidak akan pernah melupakan kesalahan yang pernah dilakukan oleh pasangannya. Perempuan akan mengungkit kembali kesalahan pasangannya disaat yang tidak terduga seperti apa yang terjadi pada dirinya sekarang. Sadiyah masih mengingat dan bahkan akan selalu mengingat kesalahan yang dilakukannya bersama Natasha enam tahun lalu.
“Mana bekal makan siangnya?” tanya Kagendra heran yang tidak melihat Sadiyah membawa tas makanan.
“Kok bisa?”
Kagendra berjalan menuju front office sambil menggandeng tangan Sadiyah.
Kagendra membaca nametag pegawai yang bertugas di front office. “Rita, mana tas makan siang buat saya?” tanya Kagendra tajam. Sepertinya ia mulai memahami sebab kemarahan dari istrinya.
“Eh, iya Pak.” Rita memberikan tas berisi bekal makan siang yang tadi ia ambil dari Sadiyah dengan sedikit canggung.
“Ini istri saya. Lain kali kalau kamu melihat istri saya datang, jangan menghalanginya untuk bertemu dengan saya. Langsung saja berikan kartu khusus tamu! Mengerti?” Kagendra menekankan kata istri saya agar terdengar oleh beberapa pegawai yang bertugas di lantai dasar.
“Maaf, Pak. Saya tidak tahu.” Rita menundukkan kepalanya.
“Siapa petugas keamanan yang bertugas hari ini?”
__ADS_1
“Saya, Pak.” Kurnia, petugas keamanan yang tadi mengantar Sadiyah ke front office sudah berada di hadapan Kagendra.
“Kur, ini istri saya. Beritahu pada petugas keamanan yang lain kalau istri saya datang ke kantor, antar langsung ke ruangan saya.”
“Siap, Pak!”
Memang sebagian besar pegawai yang bekerja di lantai dasar adalah pegawai baru. Sebagian besar pegawai Kagendra pun adalah pegawai baru yang belum mengenal Sadiyah sebagai istri dari pemimpin mereka. Pegawai lama ada yang sebagian yang sudah pensiun ada juga yang naik pangkat dan bekerja di bagian lain.
Beruntung lift khusus pimpinan baru saja selesai diperbaiki sehingga Kagendra dan Sadiyah bisa memakai lift tersebut untuk naik ke lantai 30.
“Katanya lift rusak sampai bilang turun memakai tangga darurat dengan nafas tersenggal. Cari perhatian sekali,” dengus Sadiyah.
“Tadi lift-nya memang rusak. Ini sepertinya baru saja selesai diperbaiki.”
“Alasan saja.”
Kagendra tidak meneruskan penjelasannya karena Sadiyah tidak akan menerima apapun alasan yang diberikan oleh Kagendra walaupun itu adalah alasan yang benar.
“Kamu marah dan kesal karena pegawai Aa yang tidak mengenali kamu sebagai istri Aa? Maafkan mereka karena pegawai yang bekerja di lantai bawah adalah pegawai baru dan yang menempati gedung ini juga bukan hanya perusahaan Aa. Ada banyak perusahaan menempati gedung ini. Tidak mungkin mereka mengenal semua anggota keluarga dari orang yang bekerja di gedung ini. Ada 50 lantai di gedung ini. Kamu bisa bayangkan ada berapa perusahaan di gedung ini kan?”
“Tidak usah panjang-panjang penjelasannya. Iyah pusing mendengarkannya.”
Tidak ingin membuat emosi Sadiyah semakin membara, Kagendra tidak berusaha untuk menjelaskan lebih jauh. Selama di lift, tidak ada yang bersuara hingga mereka sampai di lantai 30, dimana ruangan Kagendra berada.
“Dulu kantor Aa hanya dua lantai, sekarang jadi empat lantai. Semuanya gara-gara kamu. Selama ditinggalkan kamu, Aa berusaha melupakan kamu dengan bekerja keras siang dan malam. Imbasnya perusahaan Aa berkembang pesat hingga sekarang berkantor empat lantai.”
“Jadi ada bagusnya Iyah pergi meninggalkan Aa. Kalau sekarang Iyah meninggalkan Aa lagi mungkin lima tahun yang akan datang, Aa bakal punya sepuluh lantai.” ucap Sadiyah kesal.
“Ya tidak begitu juga. Kalau kamu meninggalkan Aa sekarang, mungkin perusahaan akan bangkrut karena Aa abaikan untuk terus mencari kamu. Jadi, jangan bicara sembarangan lagi. Aa tidak suka.” Kata Kagendra tajam yang hanya dibalas dengan dengusan.
***********
__ADS_1
to be continued...