
Kagendra mendapatkan pesan teks dari Sarah yang memberikan kabar jika Natasha sudah sadar dan ingin bertemu dengan dirinya.
“Sayang, Aa kembali dulu ke kantor ya. Masih banyak pekerjaan yang harus Aa selesaikan.” Kagendra tidak mengatakan sebenarnya bahwa ia akan pergi ke rumah sakit dulu untuk menemui Natasha.
Sadiyah menganggukkan kepala.
“Kamu tidak apa-apa kan kalau Aa tinggal? Kalau kamu ingin Aa tidak pergi, Aa akan disini menemani kamu.”
“Tidak usah, A. Aa selesaikan saja pekerjaan Aa di kantor. Kalau ada apa-apa, Iyah akan menghubungi Aa.” Sadiyah tidak yakin jika Kagendra akan pergi ke kantor. Instingnya sebagai seorang istri merasa jika Kagendra berbohong.
“Ingat untuk cepat menghubungi Aa kalau ada apa-apa.” Kagendra merasa khawatir untuk meninggalkan Sadiyah tapi ia harus menyelesaikan segala kekacauan yang telah Natasha buat.
Kagendra sadar jika semua kekacauan ini bermula dari hubungan dosanya dengan Natasha. Andai saja ia tidak menjalin lagi hubungan dengan Natasha, semua kekacauan ini tidak akan terjadi. Andai saja rasa cinta untuk Sadiyah datang lebih cepat, mungkin saja kekacauan ini tidak akan pernah terjadi. Andai saja Kagendra lebih cepat memutuskan hubungan terlarangnya dengan Natasha, mungkin saja kekacauan ini tidak pernah terjadi.
Begitu banyak bentuk perandaian yang ada di benak Kagendra yang membuat sesak di dalam dadanya.
Kagendra benar-benar menyesali perbuatannya. Sekarang ia baru menyadari jika hatinya telah berubah. Sekarang hatinya hanya milik Sadiyah.
Kagendra bertekad untuk segera menyelesaikan semua urusan dengan Natasha. Kagendra akan mengatakan yang sebenarnya pada Natasha. Mengatakan bahwa cintanya untuk Natasha sudah tidak ada lagi. Sekarang cintanya hanya untuk istrinya tercinta.
Kagendra menyadai bahwa ia laki-laki yang berengsek dan tidak bertanggung jawab. Ia terlalu mudah menjalin hubungan terlarang bersama Natasha tanpa memikirkan akibat buruknya. Ia suami yang berengsek karena menyia-nyiakan seorang istri yang sholehah. Ia hanya bisa berharap bahwa semuanya belum terlambat.
*********
Kagendra membuka pintu ruang perawatan Natasha dan melihat Natasha yang masih terbaring lemah di atas ranjangnya.
“Tasha. Kamu kenapa sih?”
“Sayang. I miss you. Peluk aku.” Natasha merentangkan tangannya mengharapkan pelukan dari Kagendra.
Kagendra mendekati Natasha tapi tidak memberikan pelukan yang diinginkan oleh Natasha.
__ADS_1
“Tasha, perbuatan kamu ini membahayakan diri kamu. Apa kamu tidak menyadari perbuatan kamu ini bisa membuat kamu mati?” Kagendra berkata dengan nada suara tinggi.
“Semuanya gara-gara kamu? Kamu mulai abai padaku. Aku takut kalau kamu meninggalkan aku.” Natasha mulai terisak.
“Tasha, hubungan yang kita jalani sekarang ini sangat salah. Maafkan aku karena tidak sejak awal menolak hubungan terlarang ini. Aku yang salah.” Kagendra menatap wajah Natasha yang masih terlihat pucat.
“Tidak. Hubungan kita ini tidak salah. Kita saling mencintai dan kita berdua berhak untuk bahagia.” Natasha semakin terisak.
“Aku sudah memiliki seorang istri. Aku sudah berjanji di hadapan Tuhan dan para saksi untuk menjaganya dan bertanggung jawab atas hidupnya.”
“Kamu sudah berjanji padaku, Kagendra. Kamu sudah berjanji kalau kamu akan segera menceraikan dia. Kamu sudah janji padaku. Kamu harus tepati janjimu.” Natasha meremas erat lengan Kagendra.
“Maafkan aku. Aku yang bersalah. Seharusnya dari awal kita tidak menjalin kembali hubungan kita yang memang sudah terputus sejak lama.” Kagendra menggenggam tangan Natasha.
“Tidak…tidak…kita belum putus. Tidak ada kata putus diantara kita. Kita masih sepasang kekasih. Aku tidak mau putus.”
“Ketika kamu memutuskan untuk pergi meninggalkan aku dan tidak berkirim kabar selama empat tahun, itulah sebenarnya tanda putusnya hubungan percintaan kita. Maafkan aku jika setelah kamu kembali aku terbawa emosi sesaat yang salah mengartikan perasaanku padamu.”
“Tidak…kamu tidak bisa memperlakukan aku seperti ini. Aku akan mati jika kamu meninggalkan aku. Lebih baik aku mati jika kamu tidak ada disisiku. Hidupku tidak berarti tanpa kamu.” Natasha menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tidak menerima perkataan Kagendra.
“Kamu mencintai aku, Kagendra. Aku yakin akulah satu-satunya wanita yang kamu cintai.” isak Natasha berubah menjadi tangisan.
“Benar. Kamu perempuan yang pernah aku cintai. Aku sangat mencintai kamu saat itu. Tapi sekarang rasa cintaku hanya untuk istriku. Perempuan yang halal untukku. Cinta yang halal.”
“Tidak... Yang kamu rasakan pada perempuan itu bukanlah cinta. Mungkin kamu hanya merasa kasihan kepadanya. Beda dengan rasa yang kamu punya untukku.” Natasha tetap dengan keyakinannya bahwa dialah wanita yang dicintai oleh Kagendra.
Kagendra menghela nafasnya dengan kasar. Dia sudah kehabisan kata-kata untuk meyakinkan Natasha bahwa perempuan yang ia cinta sekarang adalah Sadiyah. Untuk sementara Kagendra mengalah pada keinginan Natasha.
“Baiklah. Untuk sementara, aku akan menemani kamu sampai emosi kamu stabil dan bisa berpikir lebih baik tentang kondisi kita sekarang.”
Natasha tersenyum mendengar apa yang diucapkan Kagendra. Ia akan mempergunakan kesempatan ini untuk menancapkan hegemoninya di dalam hati Kagendra.
__ADS_1
Kagendra duduk di atas sofa yang ada di pojok ruangan. Ia membuka ponselnya dan memeriksa email-email yang masuk.
“Sayang, aku haus. Tolong ambilkan minum.”
Kagendra beranjak dari duduknya dan memberikan gelas berisi air dan mendekatkan sedotan pada bibir Natasha.
“Terima kasih sayang.”
Setelah selesai minum, Natasha mengambil ponselnya yang ia letakkan di atas nakas. Tadi pagi, Sarah, asistennya mengambilkan ponsel miliknya dari unit apartemennya.
Ia memfoto Kagendra yang sedang duduk di sofa dan mengirimkannya pada Sadiyah disertai dengan sebuah pesan teks.
Suami kamu sedang bersama denganku. Aku sedang berada di rumah sakit karena terjadi sesuatu dengan kehamilanku. Dan suami kamu di sini bersamaku, menemani diriku. Coba saja kamu kirim pesan pada suami kamu dan tanyakan keberadaan dia. Aku yakin dia tidak akan mengatakan yang sebenarnya padamu.
Sadiyah yang baru selesai melaksanakan salat Ashar memeriksa ponselnya karena mendengar notifikasi pesan masuk.
Sadiyah membuka pesan tersebut dan melihat foto Kagendra yang sedang duduk di sofa di sebuah ruangan yang terlihat seperti ruangan di rumah sakit.
Dibacanya pesan yang ada di bawahnya.
Seketika dada Sadiyah kembali terasa sakit dan sesak.
Dengan bodohnya, Sadiyah menuruti apa yang diminta Natasha.
Aa dimana? Sedang apa?
Tidak lama, balasan datang dari Kagendra.
Aa sedang di kantor. Sedang memeriksa berkas-berkas.
Air mata kembali mengucur deras dari matanya. Sudah tidak terhitung lagi berapa kali Sadiyah menangis sejak kemarin.
__ADS_1
************
to be continued...