Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
168. Bersiap


__ADS_3

“Kamu yakin mau ikut?” Kagendra kembali bertanya pada Sadiyah sesaat setelah mereka mendarat.


Sadiyah mengangguk.


“Apa yang akan kita hadapi mungkin sesuatu yang tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya. Aa khawatir kamu tidak akan sanggup.”


“Iyah sanggup. Untuk Aras dan untuk anak-anak Iyah yang lain, Iyah bahkan sanggup untuk menukar mereka dengan nyawa Iyah. Seorang ibu sanggup menghadapi apapun demi anak-anaknya. Saat melahirkan Aras dan Aris, Iyah meregang nyawa, tidak tahu apakah akan selamat atau tidak.” Sadiyah berurai air mata saat mengatakannya.


Kagendra mengangguk, menandakan ia mengerti apa yang dirasakan istrinya. Ia tidak akan lagi menghalangi Sadiyah, yang harus ia lakukan adalah menambah kewaspadaan karena bukan hanya Faras yang harus ia selamatkan, tetapi ia pun harus melindungi Sadiyah. Biarlah ia serahkan keselamatan Aleda pada Atep. Walaupun Kagendra memiliki keyakinan Alena mampu melindungi dirinya sendiri tanpa bantuan siapapun, tetapi Alena adalah adik satu-satunya, ia tidak bisa membiarkannya tanpa perlindungan seorang laki-laki.


Mereka menggunakan tiga speedboat. Satu speedboat digunakan Kagendra, Sadiyah, Alena, Atep, dan Kiran-sepupu mereka yang menjadi polisi sekaligus ketua tim penyelamat. Satu speedboat yang lain digunakan anak buah Kagendra dan ayahnya, dan yang lainnya digunakan oleh tim kepolisian.


“Aku sudah menempatkan beberapa anak buahku di pulau itu untuk memantau keadaan. Mereka menyamar sebagai nelayan,” lapor Kagendra pada Kiran. “Mereka melaporkan bahwa pihak musuh tidak main-main. Ada puluhan personel yang menjaga pulau itu.


“Wow… keren juga si Aras. Anak sekecil itu mampu membuat orang-orang dewasa hilang kewarasan. Apa Aras punya kekuatan super sampai harus dijaga puluhan orang?” tanya Kiran. Ia takjub dengan semua yang terjadi.


“Sasarannya bukan Aras, tapi aku dan Sadiyah.”


“Kok bisa? Gimana urusannya tuh?”


“Urusannya panjang.”


“I’m all ears. Perjalanan kita cukup panjang. Kiran kira Aa bisa menceritakannya pada Kiran.”

__ADS_1


“Intinya, dua orang gila itu terobsesi pada kami. Kamu tahu Natasha, kan?”


“Mantannya Aa?”


“Hm… dia menginginkan Aa kembali padanya. Mungkin ia menculik Aras dengan harapan Aa akan kembali padanya. Dasar gila!”


“Lalu satu orang yang lainnya?”


“Namanya Marco. Seorang mafia kelas dunia. Kami bertemu di Maldives saat Aa dan Iyah liburan di sana. Marco suka sama Iyah dan mencoba merebutnya dari Aa. Mungkin ia dan Natasha bekerja sama dengan menculik Aras dan Aris agar kami menyerah.”


“Dasar orang-orang gila. Karena cinta mereka mampu melakukan hal di luar nalar. Itu sih bukan cinta tapi obsesi yang gila,” rutuk Kiran geram. Ia tidak habis pikir ada orang dewasa yang memanfaatkan anak-anak demi mendapatkan hal yang mereka inginkan.


Kagendra memerintahkan semua anak buahnya untuk bersiap di posisi mereka masing-masing. Anak buah yang ditugaskan memantau, melaporkan bahwa Faras terlihat berjalan-jalan di pantai sendirian, lalu bermain bersama seorang anak perempuan yang lebih muda.


“Dia terlihat kurus tapi sepertinya baik-baik saja. Dia mau bermain bersama dengan anak perempuan itu?”


“Kenapa ada anak perempuan di sini?” tanya Kagendra.


“Anak perempuan itu anak dari Natasha, Bos. Ketika Faras sedang bermain dengan anak perempuannya, Natasha tiba-tiba mengamuk dan memanggil-manggil nama Bos.” Kamal, salah satu anak buah Kagendra melaporkan.


“Dasar perempuan gila,” rutuk Kagendra. “Kembali ke pos-mu!” perintahnya.


“Baik, Bos.” Kamal kembali mengawasi keadaan dalam rumah. Mereka tidak menggunakan walkie talkie sebagai alat komunikasi karena khawatir gelombang radionya terdeteksi pihak Marco dan Natasha. Sinyal telepon selular pun sepertinya tidak dapat tertangkap dengan baik di pulau itu. Kagendra dan anak buahnya menggunakan alat komunikasi satelit untuk saling berhubungan.

__ADS_1


“Kamu dan Lena tunggu di sini. Tunggu kabar dari kami selanjutya.” Kagendra memerintahkan Sadiyah dan Alena untuk menunggu di tepi pantai. Ia tidak ingin mengambil risiko, Sadiyah dan Alena akan menjadi sasaran selanjutnya.


“Iyah mau ikut, A,” rengek Sadiyah.


“Tidak bisa! Kamu tunggu di sini bersama Lena. Jangan membantah!”


“Sudahlah, Teh. Kita tunggu saja di sini. Kalau kita ikut mereka, Lena juga khawatir kalau kita malah akan menyusahkan mereka dalam misi penyelamatan Aras,” bujuk Alena.


“Tep, kamu temani mereka di sini. Aku akan menempatkan dua anak buahku yang lain untuk berjaga-jaga.”


“Baik, A.”


“Len, buat apa Teteh jauh-jauh ikut ke sini, kalau hanya untuk menunggu juga,” protes Sadiyah setelah Kegendra pergi.


“Sudahlah, Teh. Kita turuti saja perintah Aa. Di sana juga belum tentu kita bisa banyak berbuat. Bisa saja kita malah mengganggu mereka. Yang penting kita ada di sini dan bisa cepat bertemu lagi dengan Aras.”


Kagendra membekali Atep dengan alat komunikasi satelit untuk berjaga-jaga. Ia juga memberikan sebuah pistol dan sebilah pisau lipat pada Atep sebagai perlindungan.


Atep sedikit gugup dengan senjata yang diberikan Kagendra dan berharap tidak akan pernah menggunakannya. Walaupun ia pernah memegang senjata bukan berarti ia suka menggunakannya. Atep beberapa kali berlatih menembak di waktu luangnya. Latihan menembak membantunya melepaskan stressnya.


*********


to be continued....

__ADS_1


__ADS_2