Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
83. Bertemu?


__ADS_3

Faras, Faris, Tuti dan Atep sudah berada di lapangan besar yang ada di desa mereka. Sudah banyak warga desa yang juga hendak melihat syuting pembuatan iklan.


Karena ini pertama kalinya ada yang syuting di desa mereka, warga sangat antusias untuk menonton proses syuting dari dekat sehingga membuat kru kesulitan untuk mengendalikan banyaknya warga yang menonton.


“Mana artisnya, Mang?” tanya Faras pada Atep.


“Artisnya belum datang.” jawab Atep.


“Aras, pegang tangannya Teteh.” seru Tuti karena khawatir Faras akan terlepas dari pegangannya.


“Bapak-bapak, Ibu-ibu dan adik-adik sekalian. Tolong mundur karena kami akan memulai syutingnya. Kami mohon kerja samanya dari kalian semua supaya proses syutingnya bisa berjalan dengan lancar dan aman.” seru salah seorang kru.


Saking antusiasnya, warga sepertinya tidak mendengar seruan yang disampaikan oleh kru syuting iklan tersebut. Semua warga yang menonton kompak merangsek ke depan karena ingin melihat proses syuting dari jarak dekat.


Bruk…


Faris jatuh karena terdorong oleh salah seorang warga yang berdesakan ingin melihat artis dari ibukota.


“Aris….” teriak Tuti khawatir. Ia tidak ingin Sadiyah memarahinya karena lalai menjaga Faras dan Faris.


“Aris tidak apa-apa, Teh.” jawab Faris setelah bangun dari jatuh.


“Luka tidak?” tanya Tuti sambil menelisik seluruh tubuh Faris.


“Enggak, Teh. Aris cuma kaget saja.”


Atep datang menghampiri sambil menggandeng tangan Faras. Memang tadi mereka sempat terpisah karena banyaknya warga yang berdesakan ingin melihat para artis dari ibukota.


“Aris kenapa?” tanya Atep.


“Jatuh, A.” jawab Tuti takut Atep memarahi.


“Luka tidak?” Atep memindai seluruh tubuh Faris yang tidak tertutup pakaian. “Tadi jatuhnya bagaimana? Lututnya luka?”


“Enggak sakit, Mang. Tadi Aris hampir jatuh, gak jatuh beneran.” jawab Faris berusaha membela Tuti agar tidak dimarahi oleh Atep.


“Ya sudah kalau tidak ada yang luka. Kamu sama Mang Atep saja.” Atep meraih tangan mungil Faris dan memegangnya dengan erat.


***********


“Sepertinya, kita tidak bisa melanjutkan syuting untuk hari ini, Bos.” lapor asisten pemilik perusahaan.


“Ya sudah, kita batalkan saja jadwal syuting hari ini. Cari lokasi yang tidak mudah diakses oleh warga seperti sungai, hutan atau apalah. Jangan lapangan seperti ini.” jawab sang bos.


“Siap, Bos.”


“Sayang…..kok kamu ninggalin aku sih. Tungguin aku dong, susah jalannya ini.” rajuk Grace si model terkenal itu dengan nada suara manja.


“Suruh siapa pakai high heel di sini. Dan jangan panggil aku dengan sebutan sayang. Kamu bukan pacar apalagi istri saya.”


“Tapi kan sebentar lagi aku bakalan jadi pacar kamu.”


“In your dream.” hardik pria tampan berperawakan proposional itu.

__ADS_1


Rudi cekikikan mendengar percakapan antara Bosnya dan model terkenal yang sangat berharap untuk menjadi pacar dari Bosnya itu.


“Bos…”


“Apa?” sahut Kagendra ketus.


“Bos yakin tidak mau menerima si Grace jadi pendamping Bos?”


“Cih.”


“Grace kan cantik, Bos.”


“Tidak tertarik.” jawab Kagendra kesal.


“Waduh, jadi Bos tidak tertarik sama wanita cantik. Apa sekarang Bos sudah pindah haluan? tertariknya sama pria yang imut dan lucu?” goda Rudi.


“Sialan” Kagendra melempar Rudi dengan skrip tebal yang dipegangnya.


Rudi tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Kagendra.


Bilang saja kalau Bos cuma tertarik sama Bu Bos.” ujar Rudi lirih.


“Kamu bilang apa, Rud?”


“Tidak bilang apa-apa, Bos.”


“Cih.”


********


“Yaaaaaaah…” terdengar koor warga desa yang kecewa.


“Syutingnya tidak jadi Mang?” tanya Faras pada Atep.


“Iya tidak jadi.”


“Kenapa tidak jadi?” tanya Faris.


“Mang Atep juga tidak tahu. Mungkin karena banyak warga yang menonton jadi tidak bisa syuting.” jawab Atep.


“Jadi Tuti gak jadi dong lihat model-model yang ganteng itu.” ujar Tuti sedikit kecewa.


“Kamu itu cuma cowok ganteng saja yang dipikirkan.” Atep menjitak kepala Tuti.


“Aww…sakit A. Mata Tuti kan masih normal A. Mata Tuti juga pengen dong melihat yang bening-bening. Jangan hanya melihat aki-aki yang bekerja di sawah saja setiap hari. Sekali-kali kan mata Tuti juga ingin dimanjakan.”


“Dasar genit.” cibir Atep.


“Biarin.” Tuti menjulurkan lidahnya membalas cibiran Atep.


“Ayo Aras, Aris. Kita pulang.” ajak Atep.


“Jangan dulu pulang deh Mang, kita main dulu di sungai yuk.” ajak Faras.

__ADS_1


“Kita berenang di sungai.” pinta Faris.


“Jangan berenang di sungai, nanti kamu kebawa arus lagi.” Atep khawatir karena Faris pernah terbawa arus ketika sedang berenang di sungai, bersyukur kala itu ada orang yang menolongnya hingga tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.


“Tidak di sungai yang dalam, Mang. Sungai yang di sebelah sana. Yang tidak dalam.” jelas Faras.


“Oh ayo deh kalau di sungai itu boleh.” ujar Atep.


Mereka berempat pergi dari lapangan menuju sungai yang tidak terlalu jauh lokasinya dari lapangan.


*************


“Mau balik ke hotel, Bos?” tanya Rudi.


“Kita cari lokasi yang cocok dulu, Rud.”


“Mau ke mana, Bos.?”


“Kita cari sekitar sini saja dulu. Sayang kalau sudah disini tapi tidak dimanfaatkan. Kita punya banyak waktu luang karena syuting hari ini dibatalkan. Daripada tidak melakukan apapun di hotel, lebih baik kita manfaatkan untuk survei lokasi.”


“Santai sedikit lah Bos. Kita kan baru pulang juga dari Thailand, masa langsung kerja begini. Saya juga mau berenang di hotel, Bos.”


“Berenang di kolam renang hotel itu terlalu mainstream. Kita berenang di sungai saja. Belum pernah kan kamu berenang di sungai?”


Masa berenang di sungai, Bos” protes Rudi.


“Eh jangan underestimate sama kualitas sungai di pedesaan. Air sungai di sini masih jernih dan lebih segar dibandingkan kolam renang hotel yang sudah penuh dengan kaporit.”


“Bos mah bisa aja kalau ngomong.”


“Memang itu faktanya. Kamu berani bantah?”


“Tidak Bos. Bos memang selalu benar. Apa yang dikatakan oleh Bos tidak ada yang salah.”


“Memang.”


“Dasar narsis.”


“Cih….” dengus Kagendra.


Kagendra dan Rudi tiba di tepi sungai.


“Betul kata Bos. Airnya jernih, udaranya juga segar.” Rudi melepas sepatu dan kaus kaki kemudian masuk ke dalam sungai yang dalamnya hanya sebatas betisnya.


Kagendra juga ikut melepas sepatu dan kaus kakinya. Berbeda dengan Rudi yang hanya melepas sepatu dan kaus kakinya, Kagendra melepas juga kameja dan celana panjangnya. Kemudian ia mengambil celana pendek dari tas ranselnya.


“Bos memang niat mau mandi di sungai nih ceritanya?”


“Orang kreatif itu harus selalu siap dan siaga.” Kagendra meninggalkan Rudi yang terbengong melihat tindakannya yang diluar kebiasaan itu.


Kagendra membasahi tubuh dengan air sungai. Ketika ia duduk di dasar sungai, batas air hanya sampai pada perutnya.


“Om…Om…kalau orang besar berenangnya jangan di sini.” seru Faras yang melihat Kagendra sedang berendam di sungai yang dangkal itu.

__ADS_1


*******


to be continued....


__ADS_2