Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
44. Dia yang Kembali


__ADS_3

Babe, aku di rumah sakit….


Sebuah pesan masuk ke ponsel Kagendra.


Kamu kenapa?


Temani aku di sini. Aku takut…


Natasha mengirim pesan teks dari satu rumah sakit di Singapura.


Kamu di rumah sakit mana?


Natasha mengirim alamat rumah sakit di negara tetangga tersebut.


Setelah mendapatkan tiket pesawat tercepat yang bisa ia pesan, Kagendra segera membawa paspornya yang diletakkan di laci meja kerjanya. Ia sengaja tidak memerintahkan Rudi untuk memesankan tiket pesawat dengan tujuan Singapura karena ia tidak ingin orang lain mengetahui keberangkatannya menuju negara tersebut untuk menemani Natasha.


Setelah sampai di bandara Changi, Kagendra segera bergegas menuju rumah sakit yang menjadi langganan selebritis ataupun pejabat Indonesia ketika berobat di negeri singa itu.


Segera setelah sampai di rumah sakit tersebut, Kagendra segera menemui Natasha yang dirawat di salah satu ruangan VIP.


“Kamu kenapa?’ tanya Kagendra ketika melihat Natasha yang sedang terbaring lemah di atas tempat tidurnya.


“Tadi pagi aku pingsan di airport. Mungkin aku kelelahan setelah perjalanan panjang dari Italia.” jawab Natasha lemah.


“Kamu diantar ke sini sama siapa?” tanya Kagendra cemas.


“Teman.”


“Sekarang ada dimana teman kamu itu?”


“Dia sudah pulang ke Indonesia karena ada urusan yang harus diselesaikannya. Makanya aku menghubungi kamu. Aku takut di sini sendirian.” Natasha mulai terisak.


“Jangan khawatir. Aku temani kamu sampai kamu keluar dari ruang rawat inap ini.” Kagendra memeluk Natasha.


Natasha membenamkan wajahnya di kehangatan dada* Kagendra. “Thanks, Babe. I love you.”


********

__ADS_1


Jam 12 malam, Sadiyah masih terjaga menunggu Kagendra pulang. Sejak tadi siang, pesan teks yang dikirimkan Sadiyah tidak dibalas. Ketika Sadiyah menghubungi ponsel Kagendra ternyata ponselnya tidak aktif.


Sadiyah merasa khawatir terjadi hal buruk pada Kagendra karena tidak biasanya Kagendra sulit dihubungi seperti sekarang. Sejak sore tadi pun, Sadiyah menghubungi Rudi untuk menanyakan keberadaan Kagendra, tapi sepertinya Rudi pun tidak mengetahui dimana keberadaan Kagendra sekarang ini.


Sadiyah terbangun jam 3 pagi dan mendapati dirinya tertidur di sofa ruang tengah. Segera setelah terbangun, Sadiyah mengambil air wudhu dan sholat Tahajud, mengadukan kekhawatirannya kepada Sang Khalik.


Siang harinya, Sadiyah masih belum mendapatkan kabar dari Kagendra. Sekarang ia benar-benar khawatir dengan keadaan Kagendra. Ia merasa cemas hal buruk terjadi pada Kagendra.


Sadiyah kembali menghubungi Rudi untuk mendapatkan kabar tentang Kagendra.


“Assalamu’alaikum Pak Rudi. Sudah ada kabar dari suami saya?” tanya Sadiyah melalui sambungan telepon.


“Alhamdulillah Bu, Bos sedang berada di Singapura. Ada urusan mendadak yang harus beliau selesaikan dan kemarin tidak sempat memberitahu saya.” jawab Rudi.


“Syukur Alhamdulillah kalau dia baik-baik saja. Saya khawatir terjadi hal buruk sama dia. Berapa lama dia di Singapuranya, Pak?” tanya Sadiyah.


“Saya juga belum tahu Bu. Sepertinya akan agak lama beliau di sana.”


“Kenapa dia tidak menghubungi saya dan kenapa ponselnya tidak aktif?” tanya Sadiyah sedih karena merasa diabaikan.


“Mungkin beliau sedang sibuk sampai belum sempat menghubungi Bu Bos. Coba saja Bu Bos hubungi lagi beliau. Sekarang ponselnya sudah aktif. Mungkin kemarin ponselnya kehabisan daya karena memang Bos lupa membawa chargernya.” Rudi memberikan penjelasan yang dirasanya masuk akal.


Setelah mencoba menghubungi Kagendra berkali-kali, akhirnya suaminya itu menjawab panggilan teleponnya.


“Assalamu’alaikum Aa. Kata Pak Rudi, Aa sedang di Singapura sekarang. Aa sehat-sehat aja kan?” berondong Sadiyah ketika Kagendra menjawab panggilan teleponnya.


“Wa’alaikumsalam. Ya.” setelah menjawab salam, Kagendra hanya menjawab singkat.


“Kenapa Aa tidak membalas pesan Iyah? Iyah kan jadinya khawatir. Aa sudah makan? Gampang tidak cari makan di sana? Iyah gak bisa antar makan ke sana. Ongkosnya mahal.” Sadiyah memborong pertanyaan untuk Kagendra.


“Saya sedang sibuk. Saya tutup dulu teleponnya.” belum sempat Sadiyah berjata-kata lagi, Kagendra sudah memutuskan sambungan teleponnya.


“Iiiih si Aa, seenaknya saja memutuskan teleponnya. Iyah kan masih kangen mendengar suaranya Aa.” Sadiyah kesal karena Kagendra menutup teleponnya.


“Tapi alhamdulillah kalau Aa sehat-sehat saja. Iyah sampai khawatir karena Aa tidak membalas pesan dari Iyah.”


**************

__ADS_1


Satu minggu telah berlalu. Natasha sudah diperbolehkan bepergian dengan moda pesawat terbang. Natasha dirawat selama tiga hari dan setelah pulang dari rumah sakit, Natasha dan Kagendra tinggal di hotel sambil menunggu diagnosa dokter tentang penyakit yang diderita oleh Natasha.


Dihari kelima di Singapura, Kagendra menemani Natasha untuk kontrol dan berkonsultasi dengan dokternya. Dokter mengatakan bahwa ada masalah di rahim Natasha dan harus segera dilakukan tindakan.


Kagendra meminta pendapat dokter untuk bisa melanjutkan pengobatan dan perawatan di Indonesia saja. Setelah 2 hari menunggu keputusan dokter, akhirnya dokter memperbolehkan Natasha untuk melanjutkan pengobatannya di rumah sakit di Indonesia dengan catatan Natasha ditangani oleh dokter yang direkomendasikan oleh dokternya di Singapura.


************


Setelah mengantar dan menemani Natasha di unit apartemennya, Kagendra pamit untuk pulang.


“Jangan pulang dong Babe, temani aku disini.” rajuk Natasha manja.


“Besok aku temani kamu ke rumah sakit.” tawar Kagendra.


“Tapi aku ingin bersama kamu malam ini.” Natasha mengeratkan pelukannya.


“Malam ini aku harus pulang.” Kagendra mencoba melepaskan pelukan Natasha.


“Cium dulu.” Natasha menengadahkan kepalanya.


Kagendra mencium kening Natasha.


“Gak mau disitu.” protes Natasha.


“Sudahlah. Sekarang sudah malam. Aku pulang.” Kagendra membalikkan tubuhnya hendak keluar dari unit apartemen Natasha.


Belum sempat Kagendra membuka pintu, Natasha memeluk Kagendra dari belakang.


“I love you.” Natasha menduselkan wajahnya pada punggung Kagendra dan membalikkan tubuh Kagendra agar menghadap padanya.


Natasha berjinjit dan menarik tengkuk Kagendra. Segera bibirnya menyerang bibir Kagendra dengan masif.


“Cukup Sha. Besok kita bertemu lagi.” Kagendra menyudahi ciuman mereka.


“Once more.” Natasha kembali menancapkan bibirnya di bibir milik Kagendra.


************

__ADS_1


to be continued...


__ADS_2