Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
82. Julid


__ADS_3

“Mak, ini mata Iyah masih terlihat sembab tidak?” tanya Sadiyah sambil memperhatikan wajahnya di hadapan cermin besar yang menempel pada meja rias.


“Sangat terlihat atuh Neng. Tadi menangisnya kencang sekali sampai Mak khawatir kalau Aras dan Aris yang sedang main di luar mendengar tangisan Neng.” goda Mak Isah.


“Gak kencang, Mak. Iyah sudah tahan juga biar tidak terdengar menangis.” ucap Sadiyah malu.


“Neng… boleh tidak kalau Mak Isah beri nasehat sama Neng?”


“Apa, Mak?”


“Apa tidak sebaiknya Neng beritahukan tentang Aras dan Aris pada den Kagendra? Menurut Mak, ayahnya Aras dan Aris berhak mengetahui kehadiran anak kembarnya. Kasihan juga Aras dan Aris yang sering diejek sama anak-anak lain karena tidak ada ayahnya.”


“Siapa yang berani mengejek anak-anak Iyah? Iyah akan labrak orangtua mereka karena anak-anak itu tidak akan mengejek kalau orangtua mereka tidak ngomong yang macam-macam. Dasar para tetangga julid.” kata Sadiyah geram.


“Wajar kalau ada omongan yang tidak baik mengenai ayahnya Aras dan Aris. Para warga kan memang belum pernah melihat ayahnya Aras dan Aris.”


“Tapi kan mereka tidak berhak untuk ngomong yang jelek sampai mengejek Aras dan Aris karena tidak ada ayahnya. Memangnya suami mereka pada baik semua gitu? Iyah sering tuh melihat suami-suami dari ibu-ibu yang suka julid itu main serong di belakang istrinya.”


“Hus…jangan bicara sembarangan seperti itu, Neng. Tidak baik. Memangnya Neng tahu siapa saja yang julid?” kata Mak Isah mengingatkan.


“Habisnya Iyah kesal. Iyah tahu siapa saja yang suka julid. Mereka suka berkumpul di rumahnya Ceu Iroh. Kalau Iyah lewat saja mereka bermulut manis menyapa tapi di belakang suka ngomongin. Sekarang mereka seenaknya ngatain dan ngejek Aras dan Aris. Memangnya kalau anak Iyah tidak ada ayahnya itu sebuah dosa. Toh, Iyah tidak hamil di luar nikah.”


“Darimana Neng tahu mereka suka ngomongin Neng?”


“Tuti. Dia suka dengar mereka menggosip di warungnya Bu Imas. Iyah yakin mereka juga yang ngatain Aras dan Aris.”


“Dasar si Tuti, punya mulut seperti ember bocor." gerutu Mak Isah. "Mereka tidak tahu kejadian sebenarnya. Neng juga tidak pernah terbuka kan sama mereka.”


“Malah bagus kalau si Tuti ngasih tahu Iyah. Jadi Iyah tahu mana yang memang tulus mana yang pura-pura baik. Lagian hidup Iyah bukan urusan mereka. Mereka saja yang tidak ada kerjaan mengorek-ngorek kehidupan orang lain. Kalau bukan karena Iyah yang memberi pekerjaan sama suami-suami mereka, mau makan apa mereka?”


“Istighfar Neng. Jangan takabur seperti itu.” Mak Isah mengingatkan Sadiyah dengan sabar.


“Astagfirullah…maafkan Iyah Ya Allah. Habisnya Iyah kesal sama mulut ibu-ibu yang gak ada saringannya itu. Kalau sampai Aras dan Aris sedih karena omongan dan ejekan mereka. Lihat saja, Iyah tidak akan mengampuni mereka.”


Sadiyah tidak tahu jika Faras sering berkelahi karena ejekan dari anak-anak kampung mengenai ayah mereka. Faras memang lebih agresif dibandingkan Faris. Faras tidak pernah suka jika ada orang yang mengganggu dan berkata tidak baik mengenai ibu dan adiknya.


“Ibu……….” Faras dan Faris berlarian menghampiri Sadiyah.


“Ibu mau kemana sudah rapi dan cantik seperti ini?” tanya Faris yang melihat Ibunya sudah bersiap untuk pergi.


“Ibu mau pergi dulu ke Bandung. Besok sore atau malam juga Ibu pulang. Kalian mau titip apa dari Bandung?”


“Aras mau miniatur pesawat terbang.” pinta Faras.


“Kalau Aris mau Ibu jangan pergi.” kali ini Faris yang bersuara.


“Ibu harus bekerja, kan sebentar lagi Aras dan Aris harus masuk sekolah dan masuk sekolah itu harus pakai uang. Jadi Ibu harus cari uang supaya Aras dan Aris bisa sekolah.” Sadiyah menjelaskan sesederhana mungkin agar bisa dimengerti oleh Faras dan Faris.


“Kalau begitu Aras tidak jadi minta pesawat terbangnya. Uangnya disimpan saja sama Ibu buat bayar sekolah Aras dan Aris.”

__ADS_1


“Kalau untuk beli mainan untuk Aras dan Aris, Ibu masih punya uang.”


“Tidak jadi deh, Bu. Nanti saja kalau Ayah sudah pulang, Aras minta beliin pesawat terbangnya sama Ayah.” jawaban Faras membuat Sadiyah semakin sedih.


“Ibu jangan sedih. Aras dan Aris kan tidak jadi minta mainannya.” Faris berusaha menghibur Sadiyah.


“Ibu tidak sedih.” jawab Sadiyah sambil memeluk kedua anak kembarnya dengan sayang. Sebenarnya berat bagi Sadiyah untuk bekerja jauh dari Faras dan Faris tetapi semuanya dia lakukan demi keamanan semuanya. Sadiyah khawatir jika ia terlihat bersama Faras dan Faris, orang-orangnya Kagendra yang ia yakini masih terus memantau akan menemukan keberadaannya bersama si kembar.


“Bu… Ibu boleh pergi ke Bandung malam ini tapi Aras dan Aris mau minta izin. Boleh?” tanya Faras.


“Izin apa?” Sadiyah mengelus kepala Faras dengan sayang.


“Besok, Aras dan Aris mau nonton di lapangan.”


“Nonton apa di lapangan?” tanya Sadiyah heran.


“Ada yang syuting film, Bu. Pasti banyak artis-artis di sana. Aris mau minta foto bareng sama artis-artis itu, Bu.”


“Iya, Aras juga mau foto bareng artis-artis, Bu.”


Sadiyah menatap Mak Isah seakan-akan bertanya apakah yang dikatakan oleh anak-anaknya itu benar. Karena belum pernah ada orang yang syuting di daerah mereka.


“Pak RT sudah menginformasikan bahwa besok akan ada syuting pembuatan iklan, bukan film seperti yang mereka bilang.”


“Oh cuma syuting iklan. Memangnya ada banyak artis?” tanya Sadiyah lagi.


“Katanya sih akan banyak artis dan model. Model iklannya itu Grace Angelina, model yang terkenal dan sedang viral karena beritanya yang sedang dekat dengan pengusaha muda.”


“Gosipnya sih model itu yang maksa ingin terlibat dengan syuting iklan di sini. Tuti dengar si Grace itu pacar dari Bos yang mau bikin iklannya.” sambar Tuti yang tiba-tiba keluar dari dapur.


“Kamu itu Tut, kalau sudah ngomongin gosip langsung terdepan.”


“Iiiih beneran ini bukan cuma gossip murahan. Tuti dengar sendiri kok omongan orang-orang. Kabarnya yang paling hot, katanya bos besar perusahaan iklan itu mau merekrut bintang iklannya dari warga desa. Kan di desa ini banyak gadis-gadis cantiknya, termasuk Tuti. Kalau bos itu tahu di sini banyak yang cantik, kan kita-kita ada kesempatan jadi pacarnya si bos.” kata Tuti dengan khayalan tingkat tingginya.


“Tukang khayal kamu mah, Tut." Sadiyah mendengus mendengar ocehan Tuti. "Memangnya iklan tentang apa?”


“Gak tau, Teh.” jawab Tuti.


“Boleh tidak, Bu?” tanya Faras dan Faris tidak sabaran.


“Kalian masih kecil. Nanti disana banyak orang, bagaimana kalau kalian terinjak-injak?” Sadiyah masih belum memberikan izin karena khawatir dengan keselamatan mereka.


“Tuti yang akan mengantar mereka, Teh. Tuti pastikan keselamatan mereka.” janji Tuti.


“Teteh belum yakin kalau kamu akan menjaga mereka. Kamu kan nanti heboh sendiri kalau ketemu sama artis yang ganteng, lalu anak-anaknya Teteh kamu tinggalkan.”


“Gak akan begitu, Teh. Masa Tuti meninggalkan mereka hanya karena melihat model ganteng.”


“Aras juga bisa kok.”

__ADS_1


“Bisa apa?” tanya Sadiyah.


“Ya Bisa pergi berdua saja sama Aris.”


“Tidak boleh.”


“Yaaaaah Ibu… masa kita tidak boleh nonton syuting film sih, Bu?” protes Faris.


“Bukannya tidak boleh pergi. Ibu hanya melarang kalian pergi berdua saja.”


“Kan perginya sama Teh Tuti.” Faras berharap Ibunya mengabulkan permintaannya.


“Ah Tuti tidak bisa diandalkan. Bagaimana kalau kalian ditinggalkan.”


“Ya sudah, Neng. Kamu minta saja Atep buat mengantar mereka.” tawar Mak Isah.


Atep masih berkuliah di sebuah Universitas negeri di Bandung. Sekarang Atep sedang menyusun skripsi sehingga waktunya lebih luang untuk bisa pulang ke kampung. Atep juga membantu Sadiyah dalam mengelola beberapa usahanya yang sedang berkembang pesat. Sadiyah sudah menganggap Atep sebagai adiknya karena adik kandungnya sendiri masih asyik belajar dan berkarir di luar negeri.


“Memangnya Atep pulang, Mak?”


“Iya. Dari sore sudah ada di rumah. Eh, Neng ke Bandungnya diantar sama Atep saja. Sebentar, Mak panggilkan dia.”


“Tidak usah, Mak. Kasihan Atep baru sampai juga kan dari Bandung. Biar besok Atep yang mengantar Aras dan Aris. Iyah akan tenang kalau Atep yang jaga Aras dan Aris.” kata Sadiyah sambil menatap Tuti tajam.


“Iiiih Teteh mah kok pilih kasih sih sama Tuti.” rajuk Tuti manja.


“Pilih kasih bagaimana maksud kamu, Tut?


“Iya kalau sama A Atep aja Teteh percaya.”


“Ya iyalah, Atep tidak akan kegenitan seperti kamu.”


“Kan ada model cantik juga Teh. Mungkin saja A Atep juga terpikat sama mereka terus ninggalin Aras dan Aris.”


“Memangnya Aa genit seperti kamu.” sela Atep yang baru saja keluar dari kamar tidurnya sambil menjentikkan jari pada kening Tuti.


“Aww…sakit A.” teriak Tuti sambil mengusap-ngusap keningnya yang sakit terkena jentikan jari Atep.


“Ya sudah jangan ribut. Besok Aras dan Aris boleh pergi ke lapang tapi ditemani sama Mang Atep.” kata Sadiyah tegas.


“Asyiiiiik…..” seru Faras dan Faris sambil melompat-lompat kegirangan.


“Tep, titip anak-anak ya.”


“Siap, Teh.”


“Mak, Iyah pergi dulu takut makin kemalaman.”


“Hati-hati di jalan. Jangan ngebut. Kalau ada apa-apa di jalan langsung telepon Mak atau Atep.” kata Mak Isah penuh dengan rasa khawatir.

__ADS_1


***********


to be continued...


__ADS_2