Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
176. Cerita Masa Lalu


__ADS_3

Kagendra langsung membawa Faras ke rumah sakit. Ia sudah memerintahkan orang yang di rumah untuk menyiapkan segala perlengkapan yang diperlukan Faras selama di rumah sakit.


Faras terbangun saat mereka sudah sampai di rumah sakit. Kagendra langsung menemui dokter yang dulu pernah menanganinya, dokter Wahyu, dokter senior spesialis kejiwaan.


Setelah melakukan pemeriksaan pada Faras, dokter Wahyu mengatakan bahwa kejiwaan Faras tidaklah separah saat ia harus menangani Kagendra saat itu. Pengalaman Kagendra sebagai korban penculikan mempengaruhinya dalam bersikap terhadap Faras. Kagendra mampu menenangkan Faras disaat yang tepat. Berbeda dengan dirinya dulu, tidak ada orang dewasa yang mampu menenangkan Kagendra sehingga ia semakin menutup diri.


“Mungkin ada beberapa sikap yang mirip seperti kamu dulu. Ingat, jangan terlalu memaksa agar Faras untuk segera pulih dan normal kembali. Butuh waktu baginya untuk memulihkan diri, sama seperti kamu dulu. Saya yakin kamu sangat paham dengan keadaan Faras.”


“Ya, Dok. Terima kasih.”


Setelah berbicara kepada dokter, Kagendra kembali ke kamar perawatan Faras. Sadiyah menemani Faras yang masih tertidur setelah tadi sempat membersihkan diri.


“Apa kata dokter, A?”


“Alhamdulillah, keadaan kejiwaan Aras tidak separah yang mungkin kita bayangkan. Dia lebih kuat daripada…” Kagendra berhenti, tidak melanjutkan perkataannya.


“Lebih kuat daripada siapa, A?” selidik Sadiyah. Ia memancing Kagendra untuk menceritakan kisahnya.


“Aa belum cerita sama kamu.”

__ADS_1


“Tentang?”


“Dulu Aa juga pernah mengalami penculikan. Setelah berhasil diselamatkan kondisi Aa sangat buruk dan menutup diri dari siapapun termasuk abah dan ibu. Satu bulan lebih, Aa tidak bicara dan hanya berdiam diri di kamar. Aa juga kena OCD, kalau mandi atau cuci tangan merasa tidak pernah bersih hingga menghabiskan waktu sangat lama untuk sekadar mandi dan cuci tangan. Aa juga tidak percaya pada siapapun hingga tidak pernah menyentuh makanan dan minuman yang diberikan. Aa takut kalau makanan dan minuman itu beracun, hingga akhirnya harus dirawat karena dehidrasi dan malnutrisi.”


“Lalu?” Sadiyah semakin tertarik mendengar kisah Kagendra.


“Ya begitu, setelah dirawat di rumah sakit dan kembali ke rumah, Aa tetap tidak mau disentuh siapapun.”


“Penjahatnya menyiksa Aa?”


Kagendra menghela napas kasar saat harus mengingat kembali penyiksaan yang membuatnya trauma bertahun-tahun.”


“Maaf, kalau pertanyaan Iyah membuat luka lama Aa kembali terbuka. Kalau tidak ingin, jangan cerita.”


Sadiyah terisak saat membayangkan para penjahat yang menyiksa Kagendra kecil dengan begitu kejam. Ia bersyukur, orang-orang yang menculik Faras, mungkin tidak sekejam para penculik Kagendra dulu.”


“Itulah kenapa sikap Aa saat remaja dan dewasa begitu buruk. Saat Aa bertemu Natasha, ia mulai merubah sikap Aa yang sangat dingin. Maaf kalau Aa menceritakan tentang peran Natasha terhadap hidup Aa. Walau bagaimana, kehadiran Natasha memberikan warna bagi hidup Aa yang tadinya kelam. Mungkin karena itu pula, Aa menganggap Natasha sebagai cinta sejati dan kembali terpuruk saat dia pergi. Saat bertemu kamu dan dipaksa menikah denganmu, itulah masa terburuk Aa.”


“Maaf, Iyah baru tahu tentang Aa yang pernah diculik.” Sebenarnya Sadiyah sedikit kecewa dan cemburu mengetahui fakta bahwa ia bukanlah cinta pertama Kagendra. Ada perempuan lain pernah mengisi hati dan sangat dicintai Kagendra. Terlebih cinta pertama Kagendra adalah Natasha, perempuan yang sama yang pernah menyakiti dirinya beberapa tahun lalu dan sekarang menjadi dalang dari penculikan anaknya.

__ADS_1


“Aa pikir kamu tidak perlu tahu.”


“Seharusnya Aa ngasih tahu. Kita kan sudah sepakat untuk tidak pernah menyimpan lagi rahasia. Iyah tidak menyembunyikan rahasia apapun pada Aa.


“Aa tidak mau kamu sedih dan takut. Aa khawatir kamu takut sama Aa karena dulu pernah jadi anak yang gak normal.”


“Itu bukan gak normal, A. Aa masih kecil dan mengalami peristiwa yang terlampau berat untuk ditanggung anak kecil. Sekarang Aa kan sudah sehat dan kembali normal, kalau Aa bilang dulu tidak normal. Aras, Aris, Ardan, dan Arkan beruntung memiliki ayah seperti Aa.”


“Kamu juga merasa beruntung tidak bersuamikan Aa?”


“Tentu saja. Sangat, sangat beruntung dan bersyukur sekali.” Sadiyah memeluk Kagendra erat.


“Walau dulu Aa pernah jahat sama kamu?”


“Mungkin cinta mengalahkan nalar dan logika, sampai sakit di hati pun terlupakan,” ucap Sadiyah.


Kagendra mencium puncak kepala Sadiyah. “Aa yang sangat beruntung mendapatkan kamu.”


“Ya sudah, kalau begitu kita sama-sama beruntung. Impas, kan?”

__ADS_1


************


to be continued...


__ADS_2