
Sesampainya di rumah, Sadiyah langsung sibuk mengerjakan ini itu di dapur. Setelah selesai membersihkan dan merebus ceker ayam, ia bagi 3 kilo ceker ayam itu menjadi dua bagian, 1 bagian akan dia buat ceker ayam bumbu mercon, dan bagiannya yang lainnya akan dia buat ceker ayam angsio. Alena, adik iparnya adalah penyuka ceker ayam juga, jadi ia akan membuat makanan favorit dari adik iparnya itu.
Sebenarnya tadi Kagendra hendak membantu ketika ia melihat Sadiyah sibuk di dapur. Hanya saja ketika ia mencium aroma dari rebusan ceker ayam, moodnya langsung berubah. Kagendra merasa mual ketika menghidu aroma rebusan ceker ayam yang mengakibatkan ia menjauh dari dapur.
“Sadiyah, sudah saya katakan ceker ayam itu menjijikan. Aromanya saja sudah busuk begitu bagaimana nanti rasanya. Saya heran sama orang-orang yang suka masakan dari ceker ayam. Apa enaknya sih?” Kagendra berlalu dari dapur sambil mengomel.
“Lihat saja nanti kalau masakan ceker ayamnya sudah jadi, pasti A Endra bakal ketagihan. Apalagi kalau Iyah taburi bumbu cinta” Sadiyah membalas gerutuan Kagendra sambil terkikik merasa malu dengan sebutan bumbu cinta.
Beruntung semua peralatan memasak di rumah barunya ini sudah lengkap sehingga memudahkan Sadiyah dalam menyelesaikan masakannya. Sadiyah merebus ceker ayam di dalam panci presto agar cepat empuk. Setelah ceker ayamnya empuk, lalu dimasukkan kedalam kuali berisi bumbu mercon yang sudah matang. Sadiyah terbatuk dan bersin-bersin karena aroma pedas dari bumbu mercon yang terhidu oleh hidungnya.
Setelah selesai urusan dengan ceker ayam, Sadiyah beralih mengurus ayamnya. Rencananya ia akan membuat ayam goreng serundeng. Ketika ia bersiap untuk mengungkep ayamnya, ia teringat bahwa ia belum membeli beras. Saking sibuknya menyiapkan hidangan untuk menyambut keluarganya, ia sampai melupakan bahan yang terpenting dalam menjamu.
“Aa…Aa… A Endra….” Sadiyah berteriak-teriak memanggil Kagendra yang tidak diketahui dimana posisinya.
“Aa, tolooooong….” Sadiyah kembali berteriak setelah tidak mendapatkan sahutan dari teriakan pertamanya tadi.
Kagendra datang tergopoh-gopoh dengan raut wajah cemas.
“Ada apa?”
“Gawat, A.” seru Sadiyah.
“Apa?” bentak Kagendra karena tidak mendapatkan jawaban yang pasti dari Sadiyah.
“Gawat, A. Kita belum punya beras. Tadi Iyah lupa beli beras di pasar.” jawab Sadiyah dengan raut wajah cemas.
“Makanya kalau belanja itu dibuatkan daftarnya. Jangan sampai ada hal yang terlewatkan.” ujar Kagendra dengan tenang.
“Jadi gimana dong. Kalau kita ke pasar sekarang bakal keburu gak ya?”
“Tidak tahu.” jawab Kagendra asal.
“Aa, ini serius. Aa mau kan beli beras ke pasar? Atau di mini market aja deh. Biasanya di mini market juga ada beras yang dijual per 5 kg. Mau ya A, beliin berasnya?” bujuk Sadiyah dengan muka memelasnya.
Kagendra berusaha keras untuk menahan tawanya.
“Aa…..” seru Sadiyah kesal.
“Apa?”
“Iiiiih kesel….” Sadiyah memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
Kagendra yang melihat bibir Sadiyah tidak bisa lagi menahan dirinya untuk tidak menciumnya. Ia kecup bibir Sadiyah sekilas.
Sadiyah yang mendapatkan ciuman ringan dari Kagendra terbelalak kaget.
“Aa….” Sadiyah mencubit lengan Kagendra setelah ia tersadar dari rasa kagetnya.
“Apa sih?” Kagendra semakin senang menjahili istrinya.
“Berasnya.”
“Memang kenapa dengan beras?” tanya Kagendra pura-pura tidak paham.
“Berasnya tidak ada. Kita nanti makan pakai apa?” Sadiyah semakin kesal karena ulah Kagendra.
“Makan ya pakai tangan.” jawab Kagendra asal.
“Ngeselin…. ya sudah kalau gak mau beliin beras biar Iyah beli sendiri aja. Minggir sana!.” Sadiyah mendorong tubuh Kagendra yang sedang berdiri di lawang dapur.
Kagendra bergeming, tubuhnya masih menghalangi Sadiyah yang hendak keluar dari dapur.
“Iiiiih, dasar ngeselin. Awas minggir, Iyah mau lewat.” Sadiyah mendorong tubuh Kagendra.
Sadiyah melihat ke dalam lemari dan ternyata ada satu karung beras yang belum dibuka.
“Dasar nyebelin. Buang-buang waktunya Iyah aja.” Sadiyah mencubit kesal pinggang Kagendra.
“Aww….sakit.” Kagendra memegang pinggang yang dicubit Sadiyah.
“A, tolong cuciin berasnya.” pinta Sadiyah.
Kagendra mengeluarkan karung beras dari lemari.
“Ini berapa banyak berasnya?”
“Ya secukupnya saja untuk kita berenam. Aki, Abah, Ibu, Lena dan kita berdua.”
“Ye secukupnya itu berapa takarannya?”
“Sepertinya satu liter juga cukup.” jawab Sadiyah sekenanya.
“Satu liter itu seberapa?”
__ADS_1
“Satu liter ya satu liter, kok masih tanya sih?” Sadiyah mulai kesal karena pekerjaan memasaknya terus dinterupsi oleh pertanyaan-pertanyaan dari Kagendra yang ia anggap tidak penting.
“Di sini tidak ada ukuran liter. Bagaimana saya pakai takarannya?”
“Awas minggir!” Sadiyah mengambil alih karung beras yang sedang dipegang oleh Kagendra dan mengambil beras dengan gelas yang ada di atas rak piring kemudian mengambil beras tersebut dengan gelas dan menuangkannya ke dalam wadah rice cooker.
“Nih segini.” Sadiyah memperlihatkan beras yang sudah dalam wadah rice cooker.
“Mana saya tahu kalau satu liter itu segitu.” ujar Kagendra kesal.
“Sekarang tolong cuci berasnya.” Sadiyah menyerahkan wadah berisi beras itu pada Kagendra.
“Bagaimana cara mencucinya?”
“Cuci pakai air, jangan pakai sabun.”
“Iya tahu cuci pakai air, tapi bagaimana caranya?”
“Sudah Aa duduk saja di ruang tengah deh. Tidak usah disini. Bukannya membantu malah jadi menyusahkan.” kesal Sadiyah.
“Saya kan tidak pernah masak. Mana saya tahu cara masak nasi. Seharusnya kamu ajarkan dulu. Jangan marah-marah seperti ini.” protes Kagendra.
“Ya sudah. Iyah ajari dulu cara nyuci berasnya sekali. Nanti Aa ikuti. Cuci lagi 2 kali. Nyucinya jangan terlalu kasar biar nutrisinya tidak habis tercuci.” jelas Sadiyah.
Sadiyah mengajarkan Kagendra cara mencuci beras yang kemudian diteruskan oleh Kagendra.
“Kalau sudah bersih ini berasnya digimanakan?” tanya Kagendra.
“Beri sedikit air sampai batas satu buku jari.”
“Seberapa itu satu buku jari?”
Sadiyah memberikan petunjuk ukuran satu buku jari dengan jarinya.
“Kalau sudah cukup airnya, simpan wadahnya di rice cookernya. Jangan lupa pijit tombol on nya.” perintah Sadiyah yang sudah tidak segan-segan lagi memberi perintah pada Kagendra.
“Siap Bu Bos.” ujar Kagendra mengikuti sebutan pekerjanya pada Sadiyah.
**********
to be continued....
__ADS_1