
“Aku minta nomer kontak istrinya Kagendra.” Natasha mendatangi meja kerja Rudi, sekretaris Kagendra.
“Maaf, saya tidak bisa memberikan nomer kontak istri Bos ke sembarang orang.” jawab Rudi.
“Aku ini bukan sembarang orang. Aku adalah wanita yang dicintai oleh Bos kamu. Artinya kamu harus memenuhi apa yang saya inginkan dan perintahkan. Kamu mau aku laporkan pada Kagendra tentang kinerja kamu yang buruk karena tidak mau memenuhi keinginan aku?” ancam Natasha ketika Rudi menolak untuk memberikan nomer kontak Sadiyah.
“Bukan kewajiban saya untuk memenuhi segala permintaan anda. Yang menggaji saya bukanlah anda.” kesal Rudi yang sudah muak dengan kelakuan Natasha yang bossy.
“Kamu mau aku adukan kepada Kagendra agar dia memecat kamu.”
“Silahkan. Saya tidak peduli dengan ancaman anda yang murahan.” decih Rudi.
“Dasar sekretaris kurang aj*r. Akan aku minta agar Kagendra memecat kamu.” ancam Natasha lagi.
“Bodo amat.” Rudi melengos keluar dari kubikelnya meninggalkan Natasha yang bertolak pinggang dengan sombongnya.
“Dia pikir siapa dia. Andai saja dia tahu kalau perempuan yang sekarang Bos cintai itu adalah istrinya bisa mati berdiri itu perempuan tidak tahu diri.” gerutu Rudi sambil mengaduk kopinya kasar di ruang pantry.
“Pak Rudi.” Elsa menepuk punggung Rudi dan membuatnya kaget hingga hampir menjatuhkan cangkir kopinya.
__ADS_1
“Astagfirulloh, Elsa. Jaga kelakuan kamu. Jangan suka mengagetkan orang. Bagaimana kalau jantung saya copot. Kamu mau menggantinya?”
“Memangnya jantung Pak Rudi bisa copot?” tanya Elsa polos.
“Ah cerewet kamu.” Rudi duduk di kursi yang ada di ruang pantry.
“Nenek sihir itu tadi nanya apa sama Pak Rudi?” tanya Elsa penasaran.
“Tidak usah kepo.” Rudi mengingatkan.
“Bukannya kepo, Pak. Hanya saja tadi saya lihat itu nenek sihir marah-marah tidak jelas setelah ditinggal Pak Rudi. Saya kan jadi penasaran, Pak.”
“Bu Natasha tadi menanyakan nomor kontaknya Bu Bos.” sahut Sari yang sedari tadi memperhatikan percakapan Rudi dan Elsa.
“Ngapain tuh nenek lampir nanya-nanya nomor kontaknya Bu Sadiyah. Cari masalah saja tuh nenek sihir.” Elsa ikut kesal.
“Bos juga sih terlalu memanjakan Bu Natasha. Sudah tahu dia itu pelakor, masih saja diberi hati. Bos memang tidak tahu diuntung. Sudah punya istri yang cantik, baik dan sholehah masih saja lirik-lirik perempuan lain.” Sari pun ikut kesal.
“Nenek lampir itu katanya sih cinta pertamanya Pak Bos. Dia dulu ninggalin Pak Bos. Eh ketika Pak Bos sudah menikah, nenek lampir itu balik lagi terus seenaknya merusaak rumah tangga orang lain. Dasar emang nenek lampir.” Elsa membeberkan rahasia hubungan antara Bos, istrinya dan juga selingkuhannya.
__ADS_1
“Sudah…sudah…bubar…jangan menggosip terus. Elsa kembali ke meja kamu. Selesaikan pekerjaan kamu. Sari bereskan ruang bekas rapat tadi.” perintah Rudi.
“Ih Pak Rudi ganggu orang yang lagi asyik mengghibah saja.” protes Elsa.
“Iya nih. Pak Rudi gak asyik ah.” Sari pun ikut menggerutu.
“Dasar perempuan, hobinya ghibah.”
“Bukannya ghibah, Pak Rudi. Tapi kita lagi bersimpati sama Bu Bos. Saya mah timnya Bos dan Bu Sadiyah.” ujar Elsa.
“Iya saya juga timnya Bos dan Bu Bos.” timpal Sari.
“Iya saya juga.” sahut Rudi.
Elsa dan Sari kompak tertawa mendengar ucapan Rudi.
********
to be continued.....
__ADS_1