
Pikiran Sadiyah kalut dan ia membutuhkan seseorang untuk memeluknya. Tidak mungkin ia menghubungi mertua ataupun adik iparnya. Ia pun belum memiliki teman dekat di kota ini. Ia teringat dengan bibinya. Dengan segera ia menelepon bibinya.
“Assalamu’alaikum, Bi” suara Sadiyah terdengar masih serak karena terlalu banyak menangis.
“Wa’alaikumsalam, Neng. Kenapa suaranya Neng? Kamu sakit?” tanya Bi Ita khawatir.
“Bi Ita, bisa tidak Bibi mengirim Mak Isah kesini? Diantar sama Mang Aep saja. Pakai mobil yang besar.” pinta Sadiyah.
“Ada apa Neng. Kenapa Neng minta Mak Isah kesitu?”
“Ceritanya panjang, Bi. Nanti Iyah ceritakan. Secepatnya ya Mak Isah kesini. Kalau bisa besok atau lusa sudah disini.” pinta Sadiyah.
Rostita tahu ada masalah yang besar yang dihadapi oleh keponakan kesayangannya, tapi ia tidak mau memaksa Sadiyah untuk bercerita. Ia akan menunggu Sadiyah untuk menceritakannya sendiri jika memang sudah siap untuk menceritakan semuanya.
“Ya sudah, nanti besok atau lusa, Bibi kirim Mak Isah dan Mang Aep ke tempat kamu.”
“Terima kasih Bi, sudah mau mengerti Iyah. Iyah pasti nanti cerita kalau memang sudah siap.”
“Bibi mengerti. Kamu baik-baik di sana. Jangan lupa untuk makan yang teratur. Jaga kesehatan.”
“Iya Bi. Terima kasih. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
***********
Kagendra yang masih sibuk dengan pekerjaannya tidak sempat pulang untuk makan siang di rumah bersama Sadiyah. Ia mengirimkan pesan teks untuk mengabari bahwa dirinya masih sibuk di kantor dan tidak sempat untuk pulang.
Sadiyah menghela nafasnya kasar setelah membaca pesan teks dari Kagendra. Berbagai prasangka memenuhi kepalanya. Ia membayangkan Kagendra sedang bersama dengan Natasha.
Kembali dadanya terasa sesak dan sakit dan kembali air matanya mengucur deras dari matanya. Sekarang ini mata Sadiyah sudah terlihat sangat bengkak saking lamanya menangis.
***********
__ADS_1
Di unit apartemennya, Natasha semakin histeris. Ia berteriak-teriak tak karuan. Botol minuman keras yang sudah habis isinya ia lemparkan ke tembok sehingga pecah berkeping-keping dan pecahannya berhamburan ke segala arah. Ia mengambil lagi satu botol minuman keras dan menenggaknya hingga habis.
Kata-kata Sadiyah yang menyebutkan ia sebagai perebut suami dan perusak rumah tangga membuat hatinya sakit dan ia pun berteriak-teriak histeris menjambak rambutnya dan memukul-mukul kepalanya karena kata-kata Sadiyah itu tidak berhenti terngiang-ngiang di kepalanya.
Natasha tidak bisa kehilangan Kagendra. Ia merasa lebih baik mati saja jika ia tidak bisa bersama dengan Kagendra.
Sejak kecil, Natasha merasa diabaikan oleh kedua orangtuanya yang selalu sibuk mengurusi bisnis mereka sendiri. Tidak ada yang tulus menyayangi dirinya. Baru ketika ia bertemu dan berpacaran dengan Kagendra ia merasa dicintai.
Jika sekarang ia pun kehilangan Kagendra maka ia akan kehilangan seluruh hidupnya.
Natasha menemukan pecahan dari botol bekas minuman keras yang tadi ia pecahkan. Ia ambil pecahan kaca itu dan mengiriskannya tepat di urat nadi lengannya.
Semuanya terjadi dengan cepat. Darah memancar dari urat nadi yang diirisnya. Semuanya menjadi gelap dan Natasha tidak sadarkan diri.
“Mbak Tasha. Astaghfirulloh apa yang Mbak lakukan? Bangun Mbak!” Sarah, asisten Natasha menemukannya tergeletak di atas lantai tidak sadarkan diri dengan darah yang mengalir dari pergelangan tangannya mengotori karpet putih dibawahnya.
Dengan sigap, Sarah menghubungi ambulan.
Beruntung nyawa Natasha masih bisa tertolong. Sekarang Natasha sedang berada di ruang gawat darurat mendapatkan penanganan dari dokter.
Tidak tahu harus menghubungi siapa, Sarah ingat dengan kekasih yang diperkenalkan Natasha selama ini. Dengan cepat, Sarah mencari nomer kontak Kagendra.
“Hallo, Mas Kagendra. Saya Sarah, asistennya Mbak Natasha.” nekad Sarah menghubungi Kagendra.
“Ada apa?”
“Tolong saya, Mas. Tadi Mbak Natasha berusaha untuk bunuh* diri. Sekarang Mbak Natasha sedang ditangani oleh dokter di rumah sakit. Mas bisa datang ke sini? Saya mohon, Mas.”
“Kenapa bisa sampai begitu?” tanya Kagendra.
“Saya juga tidak tahu, Mas. Tadi ketika saya ke unit apartemen Mbak Tasha, saya melihat Mbak Tasha sudah tidak sadarkan diri. Ia mengiris urat nadi di pergelangan tangannya dengan pecahan botol. Kondisi unitnya pun sangat berantakan, Mas. Saya tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya.” Sarah berusaha menjelaskan situasi yang menurutnya masih samar.
“Baik. Saya akan segera ke rumah sakit. Tolong temani dia dulu.”
__ADS_1
“Baik, Mas. Terima kasih.”
***********
Kagendra tiba di rumah sakit ketika Natasha sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Ia melihat seorang perempuan yang sedang duduk di depan ruangan perawatan VIP Natasha.
“Kamu yang namanya Sarah?” tanya Kagendra ketika ia sudah berada di dekat asisten Natasha itu.
“Iya, Mas. Saya Sarah.”
“Bagaimana keadaaan Tasha sekarang?”
“Mbak Tasha belum siuman. Tapi tadi dokter bilang kalau Mbak Tasha sudah melewati masa kritis.”
“Bagus kalau begitu. Terima kasih kamu sudah menemani Tasha.”
“Sudah kewajiban saya sebagai asistennya. Tapi saya tidak bisa sendiri untuk memutuskan tindakan selanjutnya yang harus dilakukan.”
“Saya akan mengurusnya. Sekarang kamu bisa pulang dan beristirahat. Mungkin masih banyak pekerjaan Tasha yang harus kamu bereskan.” sahut Kagendra.
“Iya, Mas. Akhir-akhir ini Mbak Tasha kurang fokus dengan pekerjaannya sehingga banyak hal yang harus saya handle. Terima kasih karena Mas Kagendra berkenan untuk menemani Mbak Tasha. Saya pamit pulang dulu. Besok saya akan datang lagi kesini setelah semua urusan saya selesaikan.” pamit Sarah.
Kagendra masuk ke dalam ruang perawatan Natasha dan melihat pergelangan kiri Natasha yang dibalut oleh perban. Ada warna darah merembes dari kain kasa itu.
“Kamu kenapa Tasha?” Kagendra mengelus kepala Natasha.
Malam itu, Kagendra menemani Natasha hingga pagi hari. Ia tidak sempat untuk memberikan kabar pada Sadiyah karena ponselnya tertinggal di ruangan kantornya.
Hingga sekarang, Natasha belum siuman. Keadaan Natasha yang belum sadarkan diri ini membuat Kagendra tidak bisa meninggalkannya.
Setelah Sarah datang keesokan harinya, Kagendra pamit untuk kembali ke kantornya.
*********
__ADS_1
to be continued...