
“Om…Om…” Rudi merasakan kamejanya ditarik-tarik oleh seseorang.
Ketika Rudi membalikkan badannya, ia melihat seorang anak kecil yang menarik-narik kamejanya. Ia ingat kalau anak kecil itu bisa jadi Faras ataupun Faris.
“Kamu siapa?” tanya Rudi
“Masa Om tidak ingat. Kita kan pernah ketemu di sungai.”
“Maksud Om, kamu itu Aras atau Aris.”
“Ini Aris, Om.” Faris menunjuk dada dengan telunjuknya.
“Aras mana?”
“Itu, Om.” tunjuk Faris ke arah Faras.
“Kalian kesini bareng siapa?”
“Sama Teh Tuti.” jawab Faris.
Rudi menggandeng tangan Faris dan menghampiri Faras dan Tuti yang berdiri tidak jauh.
“Kalian mau melihat syutingnya dari dekat?”
“Om yang kemarin kemana, Om?” tanya Faris.
“Om yang kemarin sedang pergi dulu. Kemarin Om nungguin kalian. Kenapa kalian tidak jadi kesini?”
“Aris sakit demam jadi tidak boleh keluar sama Ibu.”
“Sekarang Aris sudah sembuh?”
“Kalau sudah boleh keluar berarti Aris sudah sembuh dong, Om. Gimana sih Om ini pertanyaannya aneh sekali.” kali ini Faras yang menjawab pertanyaan Rudi.
“Ya ampun ni bocah ketusnya berasa mirip si Bos.” batin Rudi. Dia merasa geli melihat sikap Faras yang mirip dengan bosnya.
“Mau ketemu sama bintang iklan yang cantik tidak?” tanya Rudi.
“Om, boleh tidak kalau saya inginnya ketemu sama model yang ganteng saja?” celetuk Tuti.
“Ya sekalian saja melihat yang ganteng dan cantik.”
Wajah Tuti terlihat sumringah mendengar tawaran dari Rudi.
“Ayok, Om.” Tuti tampak menyeret Rudi.
“Ih, Teh Tuti malu-maluin aja.” gerutu Faras.
Tuti tidak mengindahkan cibiran dari Faras karena yang penting baginya ia bisa melihat model-model yang ganteng yang selama ini hanya bisa dilihat dari layar kaca.
Sementara Tuti tampak sibuk berfoto bersama para model iklan. Rudi mengawasi Faras dan Faris yang hanya menonton saja apa yang dilalukan oleh Tuti.
“Aras….Aris…” panggil Rudi.
“Apa, Om?”
“Kalian mau tidak kalau ikut main di film?”
__ADS_1
“Main film bagaimana, Om?” tanya Faras.
“Kalian ikut berakting dalam sebuah film.”
“Akting itu apa, Om?” tanya Faris.
Rudi menjadi bingung menjawab apa yang ditanyakan oleh Faras dan Faris.
“Yaaa, seperti artis-artis itu, bisa muncul di tivi.”
“Oh main di tivi ya Om?”
“Iya betul. Tapi tivinya besar. Tidak seperti tivi biasa yang ada di rumah.” jelas Rudi.
“Tivi di rumah Aris juga besar kok Om.”
“Ini lebih besar daripada tivi di rumah Aris.”
“Mau…mau…mau….” Faras dan Faris mengangguk-anggukkan kepala mereka dengan antusias.
“Tapi kalau kalian ingin main di dalam tivi, kalian harus izin dulu sama ayah dan ibu kalian.”
“Boleh tidak kalau izinnya dari Ibu saja?” tanya Faras.
“Loh memangnya Ayah kalian kemana?”
“Ayah kerjanya jauuuuuuh sekali. Aras sama Aris tidak bisa ngomong ke Ayah soalnya tempat kerja Ayah itu tidak ada sinyal teleponnya. Ibu bilang Ayah kerjanya di hutan Amazon.” jelas Faris.
“Haaaaa…..memangnya Ayah kalian kerja apa di hutan Amazon. Jadi peneliti?” tanya Rudi yang tidak menyadari bahwa mungkin saja Faras dan Faris tidak paham arti kata peneliti.
“Kata Ibu sih Ayah kerjanya ngasih makan ikan piranha sama anaconda.”
Rudi segera menyadari bahwa Ibu dari Faras dan Faris kemungkinan berbohong mengenai ayah mereka. Mana mungkin ada orang bekerja memberi makan ikan piranha dan anaconda di hutan Amazon.
“Ya sudah, kalian boleh izin sama ibu kalian saja.”
“Om, saya boleh ikut main film juga tidak?” tiba-tiba Tuti muncul di hadapan Rudi.
“Boleh saja. Kamu bisa ikut audisi saja. Kita akan membuka audisi untuk pemeran cameo.”
“Apa itu pemeran cameo?” tanya Tuti.
“Peran yang numpang lewat saja.” jawab Rudi menahan tawa.
“Biarin deh cuma numpang lewat juga. Yang penting Tuti bisa main film dan bisa pamer sama orang-orang di desa ini.”
“Kalian datang dua hari lagi ya. Nanti kalian ikut audisi.”
“Audisi itu apa, Om?” tanya Faras.
“Audisi itu nanti kalian berakting di depan sutradara terus ditanya-tanya sama sutradaranya apa bisa main di film.” Jelas Rudi sesederhana mungkin.
“Sutradara itu apa, Om?”
“Sutradara itu yang membuat filmnya.” Rudi berusaha memberikan jawaban sesimpel mungkin.
“Aras tidak mau ah ditanya-tanya begitu. Aras tidak jadi ikut main filmnya.” ujar Faras sedikit ketus.
__ADS_1
“Tapi Aris mau kok. Nanti ditanya-tanya apa saja?” tanya Faris.
“Hmmm ditanya apa yaaa…..” Rudi tampak memikirkan jawaban sederhana yang akan dia berikan pada Faris.
“Om juga tidak tahu apa yang ditanyakan. Bagaimana sih Om ini.” kata Faras dengan nada ketus.
“Ya ampun ni bocah versi mininya si Bos banget sih.” gerutu Rudi dalam hatinya.
“Kan Om bukan sutradaranya.” Rudi berusaha membela diri.
“Kalau bukan sutradaranya kenapa ngajak-ngajak kita main di tivi?” tanya Faras masih dengan nada ketus yang sama.
Rudi semakin bingung menghadapi bocah yang setipe dengan bosnya itu.
“Kalau kalian tidak mau juga sih tidak apa-apa.” Rudi mulai menyerah untuk mengajak Faras dan Faris bermain dalam film yang akan diproduseri oleh Kagendra itu.
“Om ini bagaimana sih. Tadi mengajak sekarang tidak jadi mengajak. Om mirip Ibu yang tadinya bilang boleh terus tidak lama bilang tidak boleh. Aneh.” Faras semakin membuat Rudi senewen.
“Eh, kalian sudah makan siang belum?” tanya Rudi mengalihkan arah pembicaraan mereka yang semakin tidak terarah.
“Kalau sarapan tadi sudah, Om. Tapi kalau makan siang sih belum.” kali ini Faris yang menjawab. Rudi sedikit lega karena bukan Faras yang menjawab pertanyaannya.
“Hayu kita pulang.” ajak Tuti kepada Faras dan Faris.
“Sebentar lagi atuh Teh. Kita kan masih mau main-main di sini.” rajuk Faris.
“Sudah waktunya makan sama tidur siang. Nanti Ibu marah kalau kalian tidak nurut. Mak Nene juga mungkin sudah masak kesukaan kalian.”
“Kalian mau makan di sini?” tawar Rudi.
“Boleh, Om?” tanya Faras.
“Boleh dong. Kalian mau makan sama apa?”
“Makan sama ayam goreng yang suka ada di tivi boleh tidak?” tanya Faris.
Rudi paham maksud ayam goreng yang ada di tivi itu adalah makanan cepat saji.
“Boleh. Nanti Om pesankan ayam KFC buat kalian.”
“Kalian tidak boleh makan yang seperti itu. Nanti Ibu marah loh. Kan Aris pernah sakit batuk gara-gara makan ayam goreng seperti itu.”
“Ah Teteh mah gak asyik.” Faris kecewa karena diingatkan oleh Tuti. Faris memang sangat sensitif terhadap hal-hal yang artifisial seperti fast food atau soft drink.
“Maaf, Om. Aris tidak boleh makan fast food dan soft drink. Tuti tau kalau ayam goreng yang dimaksud Aris itu fast food dan kalau pesen fast food itu ada soft drinknya. Aris tidak bisa mengkonsumsi makanan dan minuman seperti itu. Nanti penyakit batuk-batuknya bisa kambuh.” jelas Tuti.
“Ya sudah. Kalau begitu kalian makan di rumah saja ya. Nanti besok-besok, Om ajak kalian makan di restoran.” ujar Rudi.
“Kalau besok-besok Om yang kemarin ada tidak? Tanya Faras
“Om juga tidak tahu sih kapan Bos balik lagi kesininya. Tapi kalau kalian mau main kesini, boleh saja. Kan ada Om yang ganteng ini.”
“Tidak seru main sama Om.” ujar Faras yang membuat Rudi senewen lagi persis seperti bos yang hobi membuatnya kesal.
“Kalau begitu kami pamit dulu Om.” Tuti menggandeng tangan Faras dan Faris dengan kedua tangannya dan mereka segera berlalu dari hadapan Rudi.
“Ya ampun tuh bocah yang namanya Aras kenapa bisa banget mirip sama si bos ya. Ketusnya itu loh yang bikin gak nahan. Kok bisa ada versi mininya si bos.” Rudi terkekeh karena ulah pemikirannya sendiri.
__ADS_1
**********
to be continued...