
Sadiyah menghela nafasnya dengan berat. Malam ini juga ia akan membereskan semua barang-barangnya yang bisa diangkut sekali jalan. Sadiyah langsung menelepon bibinya dan meminta Mang Aep dan Mak Isah untuk menjemputnya.
Tengah malam, Sadiyah baru selesai mengepak hampir semua pakaiannya. Ada beberapa helai yang tidak ia bawa karena kopernya tidak muat lagi untuk menampung semua pakaiannya. Sepatu-sepatu dan sandalnya ia masukkan ke dalam dus besar. Semua kosmetiknya, ia masukkan ke dalam tas ransel. Sadiyah juga membawa beberapa buku kesukaannya dari perpustakaan.
Malam ini juga Sadiyah merebus ceker ayam dan berencana membuatkan ceker ayam mercon untuk Alena. Hari ini Sadiyah akan membuat beberapa masakan kesukaan Aki, Abah dan Ibu agar besok pagi ia bisa mengirimkan ke rumah utama.
Sejak sore kemarin, Mang Aep dan Mak Isah sudah datang untuk menjemput Sadiyah. Mereka akan menginap satu malam di rumah Sadiyah dan akan pergi keesokan paginya
Jam 9 pagi, Mak Isah dan Mang Aep menjemput dulu Sadiyah yang sejak tengah malam tadi pergi ke hotel dengan sembunyi-sembunyi, lalu berangkat bersama-sama menuju rumah Aki Musa. Mak Isah membawa beberapa rantang berisi ayam goreng, capcay, dan perkedel jagung yang tadi pagi ia masak sedangkan ceker ayam mercon, tinggal ia hangatkan saja.
Sadiyah sengaja meminta Mang Aep untuk memarkirkan mobilnya agak jauh dari rumah Aki Musa. Ia tidak ingin Aki Musa mengetahui jika ia diantar oleh supir keluarga Kartasasmita.
Sadiyah berjalan kaki sekitar 500 meter untuk sampai ke rumah Aki Musa.
“Assalamu’alaikum.” sadiyah memberi salam ketika memasuki pekarangan rumah Aki Musa. Ia bertemu dengan Bang Topan, satpam rumah tersebut.
“Wa’alaikumsalam, Neng Iyah.”
“Aki Musa ada di rumah, Bang?” tanya Sadiyah sopan
“Ada Neng. Ibu juga ada. Hanya Abah yang tidak ada di rumah karena beliau sudah pergi ke kantor tadi pagi.”
“Kalau begitu saya masuk dulu ya Bang.” pamit Sadiyah.
“Iya Neng, sini rantangnya Abang bantu bawakan.” Topan mengambil alih empat rantang yang dibawa oleh Sadiyah.
“Assalamu’alaikum, Bu.” Sadiyah memberi salam pada Indriani yang sedang duduk membaca di teras rumah.
“Wa’alaikumsalam. Eh, ada menantu kesayangan Ibu. Tumben kamu datang kesini sendirian. Aa kemana?”
Sadiyah mencium punggung tangan Indriani.
“Aa sedang ada business trip ke Thailand. Iyah kangen sama Ibu. Jadi Iyah kesini saja sekarang sendirian. Iyah juga membuat masakan buat Aki, Abah dan Ibu. Ada ceker ayam mercon kesukaan Lena.”
“Bawa rantangnya ke dapur, Pan.” perintah Indriani pada Topan.
“Siap, Bu.” Topan pun berlalu menuju dapur dan memberikan rantang-rantang tersebut kepada Mbok Asih.
“Aki pasti senang lihat kamu. Ayo kita ke taman belakang. Aki ada di sana sedang memberi makan ikan-ikan kesayangannya.”
“Assalamu’alaikum, Aki.” ucap Sadiyah memberi salam dan mencium punggung tangan Aki Musa.
__ADS_1
“Wa’alaikumsalam.” Aki Musa terkejut melihat Sadiyah yang sudah berada di hadapannya.
“Aki damang?” tanya Sadiyah.
“Alhamdulillah, Aki sehat dan jagjag.” jawab Aki Musa dengan raut wajah yang memancarkan kebahagiaan.
“Iyah bawain perkedel jagung kesukaan Aki. Nanti dimakan pas makan siang ya.”
“Pasti. Terima kasih ya Neng.”
“Aki, Iyah pamit pulang dulu ya.” Sadiyah mencium punggung tangan Aki Musa dan memeluknya dengan erat. “Maafkan Iyah kalau Iyah belum bisa memberikan cicit buat Aki. Iyah sayang sekali sama Aki. Maaf Iyah sudah tidak bisa bersama lagi dengan A Endra. Maafkan Iyah karena tidak bisa memenuhi keinginan Aki.” hati Sadiyah menangis dan semakin terasa sakit.
Kemudian Sadiyah mencium punggung tangan dan memeluk Indriani.
“Bu, Iyah pamit dulu ya.”
“Selamat tinggal Bu. Maafkan Iyah karena belum bisa menjadi menantu yang diharapkan Ibu. Iyah belum memberikan cucu buat Ibu. Iyah berdo’a semoga kelak Ibu bisa mendapatkan cucu dari Aa dan Natasha. Walaupun cara mereka mendapatkan anak tidak baik tapi bayi itu kelak akan menjadi cucu pertama untuk Ibu dan Abah dan juga cicit pertama untuk Aki. Semoga Aki, Abah dan Ibu bisa menerima bayi yang sekarang sedang dikandung oleh Natasha.” Sadiyah tulus mendo’akan kebahagiaan untuk keluarga Aki Musa.
“Aki, Abah, Ibu, Lena, selamat tinggal. Mungkin Iyah tidak ditakdirkan untuk menjadi bagian keluarga kalian. Walaupun hanya sebentar Iyah bahagia sempat menjadi bagian dari keluarga kalian. Iyah sangat menyayangi kalian. Maaf kalau Iyah belum menjadi cucu, menantu dan kakak ipar yang baik."
*********
“Abah, Ani kok merasa kalau Sadiyah berlaku aneh. Seperti tidak biasanya.” Indriani mengungkapkan kekhawatirannya.
“Ani merasa kalau Sadiyah seperti menyembunyikan sesuatu. Tidak seperti biasanya dia bersikap seperti itu pada kita. Ani melihat wajahnya Sadiyah terlihat sangat sedih dan pucat. Mungkin Iyah sedang sakit jadi terlihat lebih pucat. Tapi feelingnya Ani merasa kalau Sadiyah menyembunyikan sesuatu dan tidak ingin kita mengetahuinya.
“Ya kita tunggu saja beberapa hari. Mungkin Endra dan Iyah sedang ada masalah dan tidak ingin kita mengetahui masalah mereka. Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri. Kita jangan terlalu ikut campur.” Aki Musa mencoba menenangkan kekhawatiran Indriani.
“Mungkin seperti itu ya Bah. Kita tunggu saja. Mudah-mudahan mereka bisa menyelesaikan masalah mereka secepatnya.” harap Indriani.
*********
Di dalam mobil, Sadiyah memeluk Mak Isah dan menumpahkan tangisnya di dalam pelukan Mak Isah. Ia tumpahkan segala kesedihan dan kekalutannya.
Sadiyah sudah menceritakan sebagian besar kisah antara dirinya dan Kagendra. Mang Aep yang hanya tahu cerita garis besarnya menatap Sadiyah prihatin.
“Sabar ya Neng. Neng Iyah anak yang baik dan sholeh. Ini ujian dari Allah. Neng Iyah harus sabar menghadapinya. Allah tidak akan memberikan cobaan kepada hamba-Nya diluar batas kemampuan hamba-Nya.” Mak Isah mengusap lembut punggung Sadiyah mencoba untuk mengurangi rasa sakit dalam hati Sadiyah.
Dalam situasi seperti ini, Sadiyah sangat merindukan orangtuanya. Ia ingat ayah dan ibunya sangat menyayangi ia dan adiknya. Tidak pernah sekalipun ayahnya memarahi mereka. Ibu mereka pun tidak pernah marah yang berlebihan jika Sadiyah dan adiknya berbuat salah.
Saat ini, Sadiyah sangat merindukan pelukan dari ayah dan ibunya. Ia ingin merasakan pelukan dari mereka.
__ADS_1
“Mak, Iyah kangen sama Ibu dan Ayah. Iyah ingin bertemu dengan mereka.”
“Sabar Neng, sabar….” Mak Isah ikut menangis melihat Sadiyah yang tak berhenti mengeluarkan air mata sejak masuk ke dalam mobil tadi.
“Mak, dada Iyah terasa sesak, sakit sekali rasanya.” Sadiyah memukul-mukul dada kirinya. Nafasnya tersengal-sengal karena menangis terus menerus.
“Sabar ya Neng…” Mak Isah terus mengelus punggung Sadiyah berharap tangis Sadiyah bisa mereda.
“Mak, kepala Iyah sakit…” kepala Sadiyah terkulai di dalam pelukan Mak Isah, pandangannya menggelap dan tak sadarkan diri.
“Neng Iyah kunaon, Mak?” tanya Mang Aep yang melihat dari rear-vision mirror.
“Pingsan, Ep. Kalau nemu apotek, berhenti dulu. Emak mau beli minyak angin buat Neng Iyah.
“Ada minyak kayu putih di dashboard. Bisa gak kalau pakai minyak kayu putih?”
“Bisa, Ep. Kemarikan minyak kayu putihnya!”
Aep membuka dashboard dan mencari-cari minyak kayu putih di dalamnya. Setelah menemukan apa yang dicari, Aep langsung memberikannya pada Mak Isah.
Mak Isah menuangkan minyak kayu putih ke dalam telapak tangannya dan mengusapkan ke punggung dan dada Sadiyah. Mak Isah memeluk terus Sadiyah sepanjang perjalanan.
Ketika hampir sampai ke rumah keluarga besar mereka, Sadiyah terbangun dan merasakan mual yang luar biasa.
“Mak, Iyah kepingin muntah. Berhenti dulu.”
“Ep, berhenti dulu. Neng Iyah mau muntah.”
“Siap, Mak.” Aep menepikan mobilnya.
Sadiyah mengeluarkan cairan pahit dari di dalam perutnya dan Mak Isah memijit lembut tengkuk Sadiyah dan mengelus punggungnya.
“Sudah, Neng?”
“Sudah, Mak.”
“Mau melanjutkan perjalanan atau istirahat dulu di sini?”
“Langsung saja, Mak. Iyah ingin capat bertemu dengan Bi Ita.”
Mereka berdua kembali ke dalam mobil dan meneruskan perjalanan.
__ADS_1
********
to be continued...