
“Ayaaaaaah……” teriak Faras dan Faris yang menghambur memeluk Kagendra yang masih terbaring di ranjangnya. Faras dan Faris datang bersama dengan Yusuf dan Indriani.
“Kalian jangan seperti itu. Ayah kalian masih sakit, nanti kena lukanya.” Sadiyah memperingatkan Faras dan Faris yang sudah berada di atas tempat tidur perawatan Kagendra.
“Ayah sakit apa?” tanya Faras.
“Perut Ayah luka.” jawab Kagendra.
“Mana lukanya?” Faris sudah menyingkapkan baju Kagendra sehingga terlihat luka yang tertutup perban.
Kagendra meringis karena tangan Faris tidak sengaja menyenggol lukanya yang masih belum kering.
“Sakit ya Ayah? Aris tiupin biar lukanya cepat sembuh. Kalau Aris jatuh terus luka, Ibu suka niup-niup lukanya. Kata Ibu kalau lukanya ditiup nanti cepet sembuh.” Faris meniup luka Kagendra yang tertutupi perban.
“Aras pijitin tangan Ayah biar tidak pegal.”
Kagendra memandang kedua anak kembarnya dengan hati yang membuncah bahagia. Ia menatap Sadiyah dan mengucapkan terima kasih yang tak terhingga tanpa suara pada Sadiyah. Sadiyah membalas tatapan Kagendra dan tersenyum bahagia.
“I love you so much.” ucap Kagendra dengan gerakan bibirnya.
“I love you more.” Sadiyah membalasnya dengan gerakan bibir juga. Air mata haru menetes dari pelupuk matanya.
“Aras…Aris…kita pulang yuk. Kan sudah kangen-kangenan sama Ayah. Ayahnya mau istirahat dulu karena belum sembuh benar. Yuk kita pulang.” ajak Yusuf.
“Nanti dulu atuh Aki. Aris kan masih kangen sama Ayah.” rajuk Faris yang masih asyik berada di atas ranjang perawatan sambil memijit kaki ayahnya.
“Besok kita kesini lagi.” bujuk Indriani.
“Sebentar lagi, Nek. Aras kan sudah lama tidak ketemu sama Ayah.” sekarang Faras yang protes.
“Iyah, sebaiknya kamu juga pulang. Istirahat dulu di rumah biar kamu enak tidurnya. Kalau di sini, kamu tidak bisa istirahat dengan baik. Biar Ibu yang menjaga Endra di sini.”
Sadiyah sudah mau membuka mulutnya untuk protes tapi belum sempat menyuarakan isi hati, mertua laki-lakinya memaksa ia untuk istirahat di rumah.
“Jangan memaksakan diri. Nanti malah kamu yang sakit. Sudah sana pulang dulu biar bisa mandi dan juga tidur dengan enak dan nyaman. Biar Ibu dan Abah saja yang menemani anak bandel itu di sini.” ujar Yusuf sambil menunjuk Kagendra dengan dagunya.
“Tapi nanti bagaimana dengan Aa?”
__ADS_1
“Kondisi Endra sudah stabil. Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan lagi.”
“Tapi Bah…” Sadiyah berusaha untuk protes pada ayah mertuanya.
Indriani menatap tajam ke arah Kagendra untuk mendapatkan dukungan dari anaknya itu tapi Kagendra tidak mau membalas tatapan Indriani karena ia ingin Sadiyah tetap berada di sampingnya.
“Aa…..” geram Indriani.
“Apa sih, Bu?”
“Suruh istri kamu buat istirahat di rumah.” bisik Indriani.
“Aa mau Iyah di sini.”
“Aa…..” Indriani memelototi sulungnya yang mendadak manja itu.
Kagendra mendengus kesal.
“Iyah, kamu pulang saja dulu sama anak-anak. Besok kamu ke sini lagi temenin Aa. Hari ini biar Ibu yang menemani Aa.” akhirnya Kagendra bicara juga walaupun sebenarnya ia ingin Sadiyah terus menemani tetapi ia juga tidak tega melihat raut wajah Sadiyah yang terlihat sangat letih.
“Beneran Aa tidak akan apa-apa kalau Iyah tinggal?” Sadiyah masih enggan untuk meninggalkan Kagendra.
“Benar A? tidak akan menyesal?” Sadiyah masih mengharapkan Kagendra melarangnya untuk pulang.
Indriani yang kesal dengan drama yang dimainkan oleh anak dan menantunya itu langsung menyeret Sadiyah untuk keluar dari kamar perawatan.
“Sudah…jangan mengkhawatirkan anak Ibu yang manja itu. Masih ada Ibu dan Abah di sini buat memanjakan dia. Sekarang yang kamu butuhkan adalah istirahat yang cukup.”
Indriani memerintahkan pada suaminya dengan tatapan mata agar suaminya itu membawa Sadiyah dan anak-anak untuk segera pulang.
“Siap komandan.” seru Yusuf mengedipkan sebelah matanya sambil menggandeng Faras dan Faris.
“Ayah…Aras dan Aris pulang dulu ya.” Faras dan Faris melepaskan pegangan tangan mereka dari Yusuf dan menghambur memeluk Kagendra sebelum mereka pulang.
Akhirnya Sadiyah pun mengalah dengan mengikuti keinganan kedua mertuanya.
“Aa…Iyah pulang dulu ya. Besok Iyah ke sini lagi.” Sadiyah mencium punggung tangan suaminya itu dengan takzim.
__ADS_1
Kagendra menganggukan kepala dengan raut wajah sedih. Baru saja ia siuman dan berbaikan dengan istri tercintanya tapi sudah dipisahkan lagi.
“Bu, Iyah pulang dulu.” Sadiyah pamit sambil mencium punggung tangan Indriani.
Kagendra menatap punggung Sadiyah dan anak-anaknya yang keluar melewati pintu.
“Ibu, kenapa menyuruh Iyah pulang?” protes Kagendra.
“Dasar suami tega dan tidak berperasaan. Kamu tidak sadar kalau sejak kamu keluar dari ruang operasi itu, Iyah tidak pernah beranjak dari sisi kamu. Kasihan dia kurang istirahat karena menjaga kamu.” ujar Indriani dengan nada yang naik satu oktaf.
“Kenapa Ibu jadi marah sama Aa? Lagian Aa memang tidak sadar jadi tidak tahu keadaan ketika Aa masih koma.” protes Kagendra.
“Makanya Ibu kasih tahu sekarang biar kamu tahu dan tidak manja seperti ini. Kamu tidak peka melihat istri yang sudah kelelahan karena menjaga kamu berhari-hari. Iyah itu mandi dan makan di sini. Tidurnya juga di sofa. Masa kamu tidak kasihan sama istri sendiri?”
“Tapi kan Aa masih kangen sama Iyah, Bu.”
“Manja sekali sih, A. Seperti bukan kamu saja kalau manja seperti ini. Nanti kangen-kangenannya kalau kamu sudah sembuh saja. Ibu dan Abah kasih hadiah paket berlibur buat kalian berdua.”
“Serius, Bu?”
“Serius. Kalian tinggal sebut saja mau honeymoon kemana. Setelah kalian menikah dulu tidak sempat buat honeymoon kan? Eh, bukannya tidak sempat tapi kamunya yang tidak mau. Dasar anak nakal.” ucap Indriani sedikit kesal dan menyesal jika mengingat lagi kisah Kagendra dan Sadiyah di awal pernikahan mereka. Sekaran ia sangat bersyukur karena anak laki-lakinya menemukan kembali kebahagiannya.
“Setelah kamu sembuh, Ibu kasih hadiah paket honeymoon buat kalian berdua. Aras dan Aris biar Ibu dan Abah yang jaga. Senang kan?”
Kagendra mengangguk-anggukkan kepala dengan semangat dan tidak dirasa lagi sakit kepala yang tadi dirasakannya sebelum Sadiyah pulang.
“Lena mana, Bu? Tumben adik durhaka itu tidak menemani kakaknya yang sedang terbaring tidak berdaya di sini.
“Sewaktu Aa koma, Lena ke sini setiap hari. Baru hari ini saja Lena belum datang kemari. Sepertinya dia lagi sibuk dengan bimbingan mahasiswanya. Ada dosen yang cuti melahirkan dan dia jadi pengganti dosen tersebut untuk membimbing skripsi para mahasiswa arahan dosen yang cuti itu.
“Hebat juga si Lena sudah dipercaya untuk membimbing skripsi.”
“Adik kamu itu memang hebat. Kamunya saja yang kurang perhatian sama karir adik kamu.”
“Iya tapi karir hebatnya itu malah membuat dia jadi tidak peduli sama Aa.”
“Siapa yang bilang kalau Lena sudah tidak peduli lagi sama Aa?” ujar Alena marah. Ia sudah berdiri tegak di ambang pintu.
__ADS_1
**********
to be continued...