
“Kenapa, Teh?” Alena terlihat panik saat melihat Sadiyah memegang perutnya sambil berteriak kesakitan.
“Perut Teteh sakit,” ucap Sadiyah terengah karena menahan sakit di perutnya.
“Tep, cepat nyupirnya! Kita langsung ke rumah sakit.” Perintah Alena pada Atep.
“Teh Iyah kenapa, Len?”
“Perutnya sakit. Ini pasti gara-gara perempuan itu,” geram Alena kesal.
“Kok bisa gara-gara perempuan itu? Bukannya Teh Iyah mau melahirkan, ya?” tanya Atep polos.
“Sudah jangan banyak cingcong. Nyupir aja yang bener. Ini Teh Iyah udah kesakitan masih aja tanya hal yang gak penting.” Alena nyerocos saking paniknya.
Atep mengendarai mobil secepat yang ia bisa. Tentu saja ia tidak bisa terlalu ngebut karena khawatir dengan keselamatan mereka bertiga terutama keselamatan Sadiyah. Jika ia tidak hati-hati dalam membawa mobil mereka bisa saja kejadian yang tidak diinginkan terjadi.
“Kalau ada sesuatu yang buruk terjadi pada Teh Iyah dan keponakan-keponakanku, tidak akan kubiarkan perempuan itu hidup dengan tenang,” ucap Alena kesal.
Dengan skill menyupirnya yang tinggi, Atep dengan lihai memacu mobil dengan kecepatan tinggi tapi tidak ugal-ugalan. Beruntung jalanan tidak terlalu macet karena belum waktunya jam pulang kantor.
“Masih jauh tidak?” teriakku pada Atep.
“Sebentar lagi sampai. Ke rumah sakit ibu dan anak yang biasa kan?”
“Iya…jangan banyak tanya!” bentak Alena.
Setelah sampai di rumah sakit, Atep segera berlari untuk mencari bantuan perawat.
Sadiyah masih mengaduh kesakitan saat para perawat membawanya dengan menggunakan kursi roda.
“Gimana ini, Tep?”
Atep tidak mendengar pertanyaan Alena karena terlalu khawatir dengan keadaan Sadiyah.
Dokter keluar dari ruangan tempat Sadiyah diperiksa.
“Bagaimana, Dok?”
“Pasien harus melahirkan sekarang.”
“Apa?” Alena dan Atep terkejut mendengar pernyataan dokter.
“Suaminya belum datang, Dok. Apa bisa ditunda sampai suaminya datang?” tanya Alena.
“Pasien harus diberi tindakan sekarang juga. Saya khawatir kalau menunggu lebih lama, ibu atau bayinya tidak akan selamat.”
“Baik, Dok. Lakukan saja yang terbaik untuk Kakak saya.”
Kemudian Alena menyuruh Atep untuk menyelesaikan administrasinya. Beruntung Dokter yang biasa menangani Sadiyah sedang berada di tempat sehingga bisa langsung menangani proses bersalinnya.
Alena menelepon orang rumah untuk menyiapkan perlengkapan dan mengantarkannya ke rumah sakit.
__ADS_1
“Astaghfirullah, aku lupa ngasih tahu Aa.”
Saking paniknya, Alena tidak sempat mengabari keadaan Sadiyah yang akan melahirkan pada kakaknya.
“A, dimana?”
“Sebentar lagi keluar tol.”
“Langsung ke rumah sakit, A!”
“Ada apa? Siapa yang sakit?”
“Teh Iyah mau melahirkan.”
“Apa? Mau melahirkan? Bukannya bulan depan baru melahirkan?”
“Gak tau, pokoknya sekarang Teh Iyah sudah masuk ruangan bersalin.”
Beruntung lokasi rumah sakit bersalin dekat dari gerbang tol sehingga tidak butuh waktu lama bagi Kagendra untuk sampai ke rumah sakit ibu dan anak.
“Rud, cepat gas mobilnya. Iyah mau melahirkan,” perintah Kagendra pada Rudi yang sedang membawa mobil dengan kecepatan sedang.
“Lho, bukannya bu Bos akan melahirkan bulan depan. Kenapa sekarang sudah mau melahirkan?”
“Jangan banyak tanya! Sekarang istri saya sudah masuk ruangan. Saya tidak mau terlambat lagi mendampingi istri saya melahirkan.”
“Baik, Bos.”
Rudi menambah kecepatan mobil yang dibawanya. Ia paham kalau bosnya pasti ingin mendampingi istrinya melahirkan dan juga mengazani anak-anak kembarnya yang tidak ia lakukan di kehamilan pertama istrinya.
“Sabar, Bos. Ini juga kecepatannya sudah diatas kecepatan yang diperbolehkan.”
Sepanjang jalan, Kagendra tidak henti-hentinya memerintah Rudi untuk mempercepat laju kendaraan yang ditumpangi mereka. Kagendra juga terus berkomat-kamit merapalkan segala doa yang dia hapal demi keselamatan istri dan anak-anak yang akan dilahirkan Sadiyah.
“Lebih cepat lagi, Rud!”
“Ini juga sudah cepat, Bos. Daripada Bos khawatir berlebihan begini, lebih baik Bos berdoa saja demi keselamatan Bu Bos dan anak-anak yang akan dilahirkannya.”
“Ini juga saya sudah berdoa terus. Apa kamu tidak lihat dari tadi mulut saya komat-kamit merapalkan doa.”
“Mana saya tahu kalau Bos sedang berdoa. Saya kan sedang konsentrasi nyupir ini. Kalau saya memperhatikan Bos komat-kamit berarti saya tidak memperhatikan jalan dong. Kalau tidak memperhatikan jalan dan tidak konsentrasi menyupir, bisa-bisa kita sampai di rumah sakitnya sebagai korban.”
“Jangan banyak omong!” bentak Kagendra.
Rudi menutup mulutnya dan kembali berkonsentrasi dengan laju kendaraan yang tidak bisa dibilang pelan. Ia tidak ingin karena ketidakhati-hatiannya menyebabkan hal yang tidak diinginkan. Bisa saja terjadi kecelakaan di jalan tol kalau ia tidak hati-hati membawa kendaraan dengan kecepatan tinggi.
Lima belas menit kemudian, Rudi memarkirkan kendaraan mereka di tempat parkir sedangkan Kagendra sudah melompat keluar sebelum sempat Rudi menghentikan mobilnya dengan sempurna. Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat perilaku bosnya yang lari pontang panting menuju rumah sakit.
**********
Alena berjalan mondar mandir di depan ruangan bersalin. Keringat dingin keluar dari pori-pori tangannya.
__ADS_1
“Bagaimana, Len?” tanya Atep yang sudah kembali dari membereskan administrasi rumah sakit.
“Teteh sudah masuk ke ruang bersalin.”
“A Endra sudah diberitahu?”
“Sudah.”
“Ini semua gara-gara perempuan itu. Kamu kenal dia di mana sih?” tanya Alena kesal.
“Ceritanya panjang. Kapan-kapan aku cerita sama kamu.”
“Sekarang saja. Nanti keburu basi kalau kamu ceritanya kapan-kapan.”
“Baik. Aku akan ceritakan awal aku bertemu dengannya.”
Kemudian mengalirlah cerita dari Atep bagaimana ia bisa mengenal dan akhirnya memiliki perjanjian bisnis dengan perempuan itu.
“Huh, dasar wanita iblis. Seenaknya memfitnah orang tapi malah jadi suka sama orang yang dia fitnah. Dasar wanita gila.”
“Tahan emosi kamu, Len. Tidak ada gunanya juga kamu mencak-mencak sama orang yang tidak ada di hadapan kamu. Nanti saja kalau berhadapan langsung sama perempuan itu, kamu lawan. Keluarkan kemampuan memukul dan menendangmu. Jangan bisanya memukuli aku saja. Apa kamu takut sama nenek lampir itu? Takut dicakar dan dijambak.”
“Eeh…seenaknya saja kamu bilang kalau aku takut sama dia. Alena Damayanti tidak pernah takut apapun, apalagi cuma menghadapi wanita gila seperti dia.”
Atep tertawa kecil melihat kekesalan Alena. Ia sedikit bahagia dengan kecemburuan yang ditunjukkan kekasih hatinya itu.
“Awas kamu! Kalau sampai berani membela atau menerima dia lagi, aku putuskan pertunangan kita. Tidak ada tawar menawar.”
“Siapa yang mau menerima dia. Itu kan anggapan kamu saja.”
“Tapi tadi kamu tidak marah pas dia cium. Kamu juga suka dengan ciuman dia, hah?”
“Yaa Salam…pikiran dari mana itu, Len? Siapa yang suka sama dia? Itu cuma anggapan dari calon istri yang cemburu pada calon suami yang didekati oleh perempuan lain.”
“Kamu pikir saja, mana ada perempuan yang suka kalau miliknya diganggu atau direbut.”
“Oh, jadi aku ini milik kamu?”
“Eh, bukannya begitu, tapi….”
“Tapi apa?”
“Arrgh… Pokoknya aku gak suka kalau perempuan itu dekat-dekat sama kamu. Aku mau kamu putuskan hubungan kerja sama kalian. Kalau kamu tidak berani untuk memutuskannya, kita yang akan putus,” Ancam Alena.
“Baiklah…untuk calon istriku yang manis dan salehah ini, aku akan mengabulkan semua keinginan kamu.”
“Tunggu, tunggu. Aku jadi penasaran. Sebenarnya dari tadi aku ingin tanya ini sama kamu.”
“Tanya apa?”
“Kamu bukan kerja di café itu sebagai pegawai, kan? Kamu yang punya café itu?” selidik Alena.
__ADS_1
***********
to be continued...