Kutemukan Cinta Bersama Denganmu

Kutemukan Cinta Bersama Denganmu
55. Cemburu


__ADS_3

Kagendra dan Sadiyah sudah sampai di lokasi kantor yang akan ditempat oleh Sadiyah. Di sana telah ada Guntur, kakak laki-laki dari Rika tetangga mereka sewaktu masih tinggal di apartemen.


Wajah Kagendra yang melihat kehadiran Guntur di lokasi berubah kembali menjadi muram.


“Kamu kerjasama dengan laki-laki itu?” tanya Kagendra ketus.


“Iya. Mas Guntur yang membantu Iyah mencarikan lokasi untuk kantor barunya Iyah. Dia itu kakaknya Rika, tetangga kita waktu di apartemen dulu.” jelas Sadiyah.


“Kenapa harus sama dia?” tanya Kagendra degan nada cemburu.


“Soalnya Mas Guntur yang nawarin tempatnya. Temannya butuh uang cepat dan mau menjual ruko ini. Harganya sesuai dengan dana yang Iyah punya, ya sudah Iyah cepat ambil saja. Lagipula Mas Guntur yang rekomendasiin pasti lokasi dan kualitas bangunannya bagus.”


“Kamu percaya sekali sama laki-laki itu. Kamu tidak takut kalau dia menipu kamu?”


“Mas Guntur orangnya baik. Iyah jadi pemasok sayuran ke restorannya dia. Iyah juga jual beberapa produk hasil olahan Iyah di restoran dan cafenya Mas Guntur. Insya Allah, Mas Guntur orangnya amanah dan terpercaya.”


“Aa tidak suka kalau kamu terlalu dekat dengan orang itu. Aa juga tidak suka kamu panggil dia Mas.”


“Stttt…. orangnya kesini. Aa jangan cemberut gitu. Senyum atuh, jangan cemberut terus, nanti kadar kegantengannya berkurang.” goda Sadiyah pada Kagendra yang masih memasang wajah masam.


“Assalamu’alaikum Mas Guntur.” sapa Sadiyah.


“Wa’alaikumsalam, Dek. Kamu datang sama suami kamu?” tanya Guntur sambil mengulurkan tangannya pada Kagendra untuk berjabat tangan.


“Saya Kagendra, suaminya Sadiyah.” Kagendra menjabat tangan Guntur dan menekankan kata suami ketika memperkenalkan diri.


”Saya Guntur. Saya siapanya Sadiyah ya. Hmmm, Sadiyah memasok sayuran-sayuran untuk restoran saya, kita juga….”


“Saya sudah tahu. Sadiyah sudah cerita.” potong Kagendra sebelum Guntur selesai menyelesaikan kalimatnya.


“Dek, Pak Andri yang punya ruko ada di dalam. Beliau berharap hari ini deal dan langsung bisa ke notaris untuk mengurus semua surat-surat dan pembayarannya.”


Sadiyah mengikuti Guntur masuk ke dalam bangunan ruko yang masih terlihat baru itu.


“Cih, seenaknya saja memanggil istri orang dengan sebutan Dek. Memangnya dia siapa.” gerutu Kagendra sambil mengikuti Guntur dan Sadiyah masuk ke ruko.


*******

__ADS_1


“Aa kenapa mukanya masih jutek gitu sih?” tanya Sadiyah ketika mereka dalam perjalanan pulang.


“Harga ruko itu terlalu kemahalan untuk lokasi yang kurang strategis seperti itu. Kamu harusnya bisa menawar lebih rendah lagi.”


“Jangan begitu Aa. Pa Andri sedang butuh biaya untuk pengobatan istrinya. Iyah bakal merasa berdosa jika menawar lebih rendah lagi. Lagian dananya memang sesuai dan sudah Iyah siapkan. Iyah berharap dengan tidak menawar harga rukonya lebih rendah bisa membantu Pak Andri. Insya Allah bisa jadi ladang pahala buat Iyah dengan menjadi perantara untuk Pak Andri mendapatkan uang buat biaya pengobatan istrinya.” jelas Sadiyah panjang lebar.


“Aa tidak suka dengan interaksi kamu sama Guntur. Aa tidak suka kamu memanggil dia Mas dan Aa juga tidak suka dia memanggil kamu Dek. Memangnya dia Kakak kamu sampai memanggil kamu Dek segala. Kalau dia bersikap profesional, dia harus memanggil kamu Ibu atau nama saja jika dia lebih tua daripada kamu. Kamu juga seharusnya jangan memanggil dia Mas, cukup Pak saja.”


“Aa, suaminya Iyah yang sholeh. Iyah jamin Iyah bisa menjaga kehormatan Iyah sebagai istrinya Aa. Iyah tahu batasan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahromnya. Aa harus percaya sama Iyah.” Sadiyah menggenggam tangan kiri Kagendra yang memegang erat tuas transmisi mobilnya.


Kagendra terdiam mendengar penjelasan Sadiyah.


“Iyah tidak seperti Aa yang masih punya seorang pacar walaupun sudah beristri.” Sadiyah hanya mengucapkannya dalam hatinya saja. Ia tidak mau membesar-besarkan masalah ini walaupun hatinya masih sakit ketika melihat Kagendra bergandengan tangan di rumah sakit dengan perempuan itu.


“Iyah hanya bisa berdo’a agar Aa segera menyadari perbuatan Aa yang salah itu. Iyah yakin kalau suatu hari nanti, Aa akan mencintai Iyah juga.” do’a Sadiyah dalam hatinya.


**********


Kagendra dan Sadiyah tiba di rumah mereka menjelang magrib.


“Pipi kirinya iri kalau tidak dicium juga.” goda Kagendra.


Sadiyah mengecup pipi kiri Kagendra.


“Bibirnya juga iri.”


“Sudah ah. Cepetan sana mandi, siap-siap ke masjid.”


Kagendra menarik tangan Sadiyah yang hendak naik tangga.


“Bibirnya belum.” rajuk Kagendra.


Sadiyah mengecup ringan bibir Kagendra tapi Kagendra menarik tengkuk Sadiyah dan memperdalam ciuman mereka.


Sadiyah berusaha melepaskan ciuman mereka setelah mereka berciuman cukup lama.


“Aa lepasin ih. Sudah mau magrib, nanti terlambat ikut berjamaah di masjid.”

__ADS_1


Kagendra mengecup bibir Sadiyah lagi dengan cepat setelah itu ia berlari menaiki tangga.


“Dasar suami mesum*” rutuk Sadiyah dengan senyum merekah di wajahnya.


Sadiyah beranjak menuju dapur untuk mengambil minum dan mulai menyiapkan bahan-bahan untuk ia masak nanti.


Seperti biasa, durasi mandi kagendra memerlukan waktu yang lama. Sudah 20 menit Kagendra berada di kamar mandi.


“Aa cepetan mandinya. Sudah adzan. Kalau Aa masih belum selesai mandinya, nanti keburu selesai sholat berjamaahnya.” teriak Sadiyah sambil menggedor pintu kamar mandi. Ia masih mendengar gemericik air dari dalam kamar mandi.


“Laki-laki kok mandinya lama seperti mandinya putri raja saja.” omel Sadiyah.


Tidak berapa lama, Kagendra keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk sampai pinggangnya.


“Aa, mandinya selalu lama. Apa tidak bisa mandinya dipercepat. Iyah saja yang perempuan kalau mandi cukup 10 menit saja. Ini Aa, laki-laki kok mandinya lama sampai hampir setengah jam. Memangnya Aa ngapain aja sih di kamar mandi?” cerocos Sadiyah.


”Mandi.” jawab Kagendra singkat dan jelas.


“Mandi kok sampai hampir setengah jam. Ngapain saja?”


Kagendra memakai baju koko dan sarungnya.


“Kalau mandi ya seperti biasa saja. Membersihkan badan pakai sabun, keramas pakai sampo, bersihin muka pakai sabun muka, lalu guyur pakai air.” jawab Kagendra.


“Gitu aja kok lama?”


“Kalau kamu mau tahu kenapa Aa lama mandinya. Nanti kamu ikut mandi sama Aa ya.” goda Kagendra sambil berlalu dari kamarnya.


“Assalamu’alaikum. Aa berangkat dulu ke masjid. Nanti pulang dari masjid Aa beli makanan buat makan malam.”


“Wa’alaikumsalam. Tidak usah beli A. Iyah mau masak.” teriak Sadiyah dari dalam walk in closet di kamar mereka.


“Oke Bos. Pintunya Aa kunci dari luar ya. Takut ada yang masuk pas kamu lagi mandi.” teriak Kagendra dari lantai bawah.


*************


to be continued...

__ADS_1


__ADS_2