
“Yuk, kita pergi sekarang!” ajak Sadiyah.
“Teteh gak ganti baju?”
“Malas. Begini juga sudah cukup kok. Kalau Teteh dandan cantik, bisa-bisa Aa kamu ngamuk. Kamu seperti tidak tahu saja kalau kakak kamu itu pecemburu akut.”
“Iya juga sih. Tidak dandan saja, Teteh udah cantik begini.”
“Nah kan.”
“Teteh udah mandi kan?”
“Sudah atuh Len. Masa mau pergi Teteh gak mandi dulu. Aa bisa marah-marah kalau Teteh gak mandi.”
“Aa kan lagi kerja di Jakarta.”
“Eh, iya juga ya. Gak mungkin juga tahu. Sudah jadi kebiasaan, ada Aa di sini ataupun tidak, Teteh merasa Aa ada.”
Alena cekikikan mendengar perkataan Sadiyah. Ia merasa Kagendra dan Sadiyah memang benar-benar pasangan sejati.
“Teteh merasa terpaksa tidak mengikuti kebiasaan Aa yang aneh dan terlalu disiplin itu?”
“Awalnya terpaksa karena Teteh khawatir Aa marah atau kecewa kalau Teteh tidak menurut sama dia tapi seiring dengan waktu, kebiasaan Aa jadi kebiasaan Teteh begitupun kebiasaaan Teteh jadi kebiasaan Aa juga. Itulah salah satu dinamika yang ada dalam sebuah pernikahan. Kamu harus paham dengan kebiasaan Atep begitupun Atep yang harus paham dengan kebiasaan kamu sehingga tidak terjadi kekisruhan dalam rumah tangga kamu nanti.”
“Pernikahan Aa dengan Teteh awalnya juga kisruh.”
“He-he-he. Iya juga sih. Sekarang saja Teteh bisa ngomong bijaksana. Kalau kita ngobrolnya dulu, mungkin Teteh tidak akan berani bicara sebijaksana itu,” ujar Sadiyah sambil terkikik.
“Dulu Aa mengerikan ya, Teh?”
“Saat itu, Teteh dan Aa kamu belum saling mengenal. Kita tidak saling mencintai sehingga sulit bagi kita untuk mengharmoniskan setiap perbedaan. Belum lagi cinta pertamanya Aa yang datang mengganggu.”
“Maafin Aa,” ucap Alena lirih.
“Iiih kamu gak usah minta maaf atas kesalahan dari Aa kamu. Lagian Teteh dan Aa kamu sudah saling memaafkan. Sekarang kamu fokus saja sama rencana pernikahan kalian. Sebelum menikah kalian sudah saling mencintai jadi seharusnya tidak ada masalah. Yang namanya pernikahan itu tidak akan berjalan mulus selamanya tapi Teteh yakin kamu dan Atep sudah dewasa dan pasti bisa menyelesaikan setiap permasalahan yang kalian hadapi dengan kepala dingin. Jangan seperti pernikahan Teteh dan A Endra.”
“Tapi kalian sekarang bahagia, kan?”
“Iya, sangat bahagia. Tapi badai yang menghantam kami di awal pernikahan itu sangat berat. Baik Teteh maupun A Endra sama-sama terluka dan tidak mudah untuk berdamai dengan luka masing-masing.”
“Lena mengerti, Teh. Lena tidak tahu seberat apa Teteh harus menanggung luka sendirian apalagi saat itu Teteh sedang mengandung Aras dan Aris. Mungkin Teteh tidak tahu bagaimana menderitanya Aa saat itu. Lena jadi saksi bagaimana Aa menghadapi semuanya. Kalau diingat-ingat lagi, Lena merasa takjub Aa bisa berdamai dengan lukanya. Dari kecil Aa sudah menderita dengan segala trauma yang dialaminya ditambah oleh sakit karena ditinggal Teh Iyah, lengkap sudah penderitaan Aa.”
“Tapi A Endra laki-laki yang kuat. Buktinya sekarang dia baik-baik saja, kan?”
__ADS_1
“Iya sih.” Jawab Alena sambil terkikik. “Sangat kuat malah sampai bikin Teteh hamil lagi, kembar pula.”
“Aduh…” pekik Alena saat Sadiyah melemparkan bantal kursi dan mengenai kepalanya.
“Yuk, pergi. Kalau kelamaan ngobrol di sini nanti terlalu siang sampai ke cafenya.”
Mereka pergi menggunakan mobil milik Sadiyah dengan Alena sebagai supir dan Sadiyah duduk di kursi samping.
“Aras dan Aris tidak akan marah tidak kita ajak?”
“Gak lah. Mereka kan lagi sekolah.”
“Marah tidak kalau pas pulang sekolah, tidak ada siapa-siapa di rumah?”
“Gak akan. Mereka sudah terbiasa.”
“Teteh sudah pernah ke café tempat Atep kerja?”
“Pernah beberapa kali.”
“Lena ingin punya bisnis bareng sama Atep. Mungkin buka café, jadi Atep gak usah kerja sama orang lain.”
“Hm… Nanti kamu bicarakan saja sama Atep.”
“Menurut Teteh, dia bakalan tersinggung tidak kalau Lena bilang mau kasih modal buat usaha?”
“Teteh kok tidak antusias sih.”
“He-he-he… Masa sih?”
“Itu perut sudah besar begitu. Kapan HPL-nya?”
“Kata dokter sih dua bulanan lagi. Tapi gak tau deh, ini perut udah berat begini. Pas hamil Aras dan Aris perut Teteh gak sebesar ini.”
“Mungkin dulu Teteh gak banyak makan. Kalau sekarang, Teteh cuma bilang pengen makan aja langsung Aa sigap bikin atau beli.”
“Ha-ha-ha… iya juga sih. Minggu kemarin Teteh bilang kepengen mpek-mpek asli dari Palembang, si Aa langsung terbang ke Palembang cuma beli mpek-mpek.”
“Bahagia kan punya suami seperti Aa?”
“Alhamdulillah. Asal jangan balik aja sifatnya kaya yang dulu.”
“Iiih amit-amit deh, Teh. Jangan sampai,” ucap Alena sambil mengetuk-ngetukkan jari tangan ke atas kemudi. “Jangan sampai si nenek lampir Natasha datang lagi ke kehidupan Aa.”
__ADS_1
“Jangan nyebut nama nenek lampir itu, Len.”
“Iya maaf, Teh. Kalau sampai nenek lampir itu merusak keluarga Aa, Lena gak akan segan buat hancurin dia,” ucap Alena geram. Ia teringat kembali penderitaan Kagendra dan Sadiyah gara-gara Natasha.
“Sudah…sudah…jangan diingat-ingat lagi masa lalu yang tidak mengenakkan itu. Kita berdoa saja supaya dijauhkan dari segala gangguan. Kalaupun ada masalah, semoga kita bisa kuat menghadapinya.”
Alena memarkirkan mobil di tempat parkir yang cukup penuh hingga sedikit kesulitan untuk mendapatkan tempat. Maklum saja, jam makan siang, banyak orang yang datang ke café untuk mengisi perut kosong apalagi menu di café ini unik dan enak walaupun lokasinya jauh dari pusat kota.
Setelah berhasil memarkirkan mobil, Alena dan Sadiyah langsung masuk ke café.
“Selamat siang, Bu Sadiyah,” sapa staf café dengan sopan, membuat Alena sedikit heran dengan sikap para staf café yang seakan-akan mereka sangat mengenal Sadiyah.
“Atep ada?”
“Kang Atep ada di ruangannya, tapi sedang ada tamu,” jawab salah satu staf.
“Siapa tamunya?”
“Bu Evangeline.”
“Siapa dia?” tanya Sadiyah sedikit ketus.
“Pemasok biji kopi yang baru.”
“Kita mau langsung ke ruangannya saja!” tegas Sadiyah.
Sadiyah dan Alena lansung naik tangga menuju lantai atas. Alena membantu Sadiyah menaiki tangga karena ia kesulitan naik dengan perut besarnya.
“Hati-hati, Teh.”
“Ini gak bisa dibiarkan, Len. Perasaan Teteh gak enak begini.”
“Kenapa sih, Teh?” tanya Alena heran.
“Sudah…jangan banyak tanya. Kita harus cepat-cepat sampai ke ruangannya Atep.”
Tanpa mengetuk terlebih dahulu, Sadiyah langsung membuka pintu.
“Atep….” teriak Sadiyah marah.
“Astaghfirullah, apa yang sedang kalian lakukan? Teteh tidak menyangka kamu berani berbuat hal seperti ini. Teteh kecewa Atep Dananjaya!" ucap Sadiyah dengan linangan air mata.
****************
__ADS_1
to be continued...
(Karena sudah lama hiatus, Author memutuskan untuk publish 2 chapter langsung hari ini....)