
Keesokan paginya, Kagendra sudah berdiri mantap di depan rumah Sadiyah. Setelah subuh, Kagendra langsung berangkat menuju Bandung. Hasilnya, jam tujuh pagi, Kagendra sudah ada di depan rumah Sadiyah. Ia yakin jika Sadiyah dan anak-anak berada di rumah ini.
Kagendra memijit bel dan tidak berapa lama, Faras dan Faris berhamburan keluar.
“Ayaaah…” teriak Faras dan Faris berhamburan dari dalam rumah untuk menyambut dan memeluk Kagendra.
“Ayah kemana aja? Katanya mau ngajak Aris dan Aras main. Hari ini kita mau main ke mana? Ayah bawa mainan buat Aris gak?” Faris memberondong Kagendra dengan pertanyaan-pertanyaan.
“Maaf, kemarin Ayah masih mencari-cari dimana Aras dan Aris tinggal. Baru malam tadi Ayah tahu dimana Ibu, Aras dan Aris tinggal.” Kagendra menjelaskan pada Faras dan Faris sesederhana mungkin.
“Memangnya Ibu gak ngasih tau?” tanya Faras.
Kagendra menggelengkan kepala.
“Ayo masuk Yah. Ibu masak nasi goreng. Kata Ibu, Ayah suka makan nasi goreng buatan Ibu.” Faras menggandeng tangan Kagendra dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
“Om Rudi gak ikut, Yah?” tanya Faris yang tidak melihat Rudi yang biasanya membersamai Kagendra.
“Hari ini Ayah hanya ingin bersama kalian saja. Sama Ibu juga.”
Kagendra memasuki rumah dengan tangan kanan yang digandeng oleh Faras dan Faris yang menggandeng tangan kirinya.
“Ibu…Ayah udah dateng.” teriak Faras dan Faris berbarengan.
Kagendra melihat Sadiyah yang sedang menyiapkan sarapan. Ia terpesona dengan sosok Sadiyah yang sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk anak-anak dan juga dirinya. Pagi ini Sadiyah memakai jilbab berwarna hijau sage dan gamis berbahan kaus dengan warna yang senada dengan jilbabnya.
“Assalamu’alaikum bidadariku yang cantik.” sapa Kagendra.
Kagendra menampilkan senyum yang paling menawan tapi sayang hanya dibalas dengusan saja oleh Sadiyah.
“Sekarang masih pagi-pagi. Tidak usah menggombal.” dengus Sadiyah.
“Bukan gombal, tapi Aa berkata sebuah kebenaran. Istri Aa memang cantik sekali. Cantik paras dan juga hatinya.”
Sadiyah tidak merespon kata-kata manis yang keluar dari mulut Kagendra.
Karena tidak mendapatkan reaksi yang diinginkan, Kagendra langsung duduk di kursi meja makan diikuti oleh Faras yang duduk di sebelah kanan dan Faris yang duduk di sebelah kirinya.
“Ngapain Aa duduk di situ?” tanya Sadiyah sinis.
“Mau sarapan masakan dari seorang istri yang cantik dan sholehah.” Kagendra menjawab tanpa ada rasa malu ataupun segan.
“Nasinya hanya cukup untuk Aras dan Aris.”
“Aa mah cukup sarapannya melihat wajah kamu saja.” ucap Kagendra dengan tatapan yang terasa menusuk jantung Sadiyah.
__ADS_1
“Kenapa Aa jadi genit seperti itu sih?” Sadiyah bergidik mendengar perkataan Kagendra yang bernada genit. “Tidak pantas, usia Aa sudah tua tapi menggombal layaknya anak muda. Iyah jadi geli mendengarnya.”
Kagendra terkekeh mendengar protes dari Sadiyah.
“Kalau Ayah gak kebagian nasi, nanti Aris kasih deh nasi punya Aris.” Faris sudah bersiap memberikan setengah nasinya pada Kagendra.
“Aras juga mau ngasih nasi Aras buat Ayah.” Faras tidak mau kalah mulai menyendokkan nasinya untuk diberikan pada Kagendra.
“Eeeeh tidak usah. Aras…Aris…kalian harus makan yang banyak kalau nasinya dikasiin ke Ayah, nanti kalian tidak akan kenyang.” Sadiyah mengambilkan sepiring nasi goreng untuk Kagendra dan satu piring lagi untuk dirinya.
Kagendra tersenyum melihat Sadiyah yang membawa dua piring nasi goreng porsi besar.
“Terima kasih, saying.” ucap Kagendra ketika Sadiyah meletakkan piring berisi nasi goreng seafood kesukaan Kagendra. Sadiyah sengaja memasak nasi goreng seafood untuk Kagendra dan dirinya, sedangkan ia membuat nasi goreng ayam untuk Faras dan Faris. Inilah yang menyebabkan hati Kagendra menjadi berbunga-bunga. Ia menyadari bahwa Sadiyah membuatkan nasi goreng spesial untuknya.
Setelah mereka selesai sarapan, Sadiyah masuk ke dalam kamar Faras dan Faris lalu keluar lagi sambil membawa dua tas besar.
Kagendra sedang mencuci piring bekas sarapan mereka ketika Sadiyah memanggilnya.
“A…sudah selesai mencucinya?”
“Sebentar lagi.” jawab Kagendra dari dapur.
“Kalau sudah selesai, Iyah tunggu di ruang tengah.”
Setelah Kagendra selesai mencuci piring, ia langsung menuju ruang tengah dan melihat Sadiyah sedang duduk di sofa dengan dua tas besar di sampingnya. Faras dan Faris sedang berlarian saling kejar berkeliling rumah.
Kagendra dengan patuh menuruti perintah Sadiyah. Ia duduk di hadapan Sadiyah.
“Iyah izinkan anak-anak untuk ikut Aa selama satu bulan. Silahkan Aa merasakan bagaimana mengurus mereka sendirian. Iyah minta pada Aa untuk tidak menitipkan Aras dan Aris pada Aki, Abah ataupun Ibu. Iyah minta Aa sendiri yang mengurus mereka. Bagaimana? Aa sanggup? Kalau Aa merasa tidak akan sanggup sebaiknya bilang sekarang juga. Iyah tidak mau kalau nanti anak-anak Iyah tidak terurus.”
“Jangan pernah sekalipun mengatakan kalau mereka itu hanya anak-anak kamu. Aras dan Aris juga anak-anak Aa. Aa yakin akan sanggup mengurus mereka tanpa bantuan siapapun.” ujar Kagendra.
“Ya syukur deh kalau memang Aa sanggup mengurus mereka. Kalau nanti ditengah perjalanan Aa sudah tidak sanggup lagi, bilang saja sama Iyah. Iyah akan langsung menjemput mereka.”
“Jadi kamu tidak akan ikut sama Aa?”
“Iyah ingin melihat dulu kesungguhan Aa. Kalau Iyah rasa Aa bisa menjadi Ayah yang baik bagi Aras dan Aris, akan Iyah pertimbangkan dalam mengambil keputusan.”
“Jadi kamu mau mengetes Aa?”
“Anggap saja seperti itu. Kalau Aa lulus, Iyah akan pertimbangkan untuk tinggal bersama dan tetap menjadi istri Aa. Tapi kalau Aa tidak lulus, Iyah bakal bilang goodbye saja sama Aa.”
“Tega kamu sama Aa.” protes Kagendra.
“Terserah…kalau Aa mau silahkan dan kalau tidak mau pun tidak apa-apa.”
__ADS_1
“Baiklah. Kamu tidak boleh mengelak lagi kalau nanti Aa lulus ujian.”
“Lulus atau tidaknya kan tergantung sama Iyah. Iyah yang akan menilai dan menentukan Aa lulus atau tidak.” setelah mengatakan hal itu, Sadiyah memanggil Faras dan Faris.
“Aras dan Aris nanti tinggal dulu sama Ayah.” kata Sadiyah pada Faras dan Faris.
“Memangnya Ibu mau kemana?”
“Ibu mau jalan-jalan sendirian ke luar negeri.” jawab Sadiyah asal.
“Ke luar negerinya ke mana? Kenapa perginya tidak mengajak Aras, Aris dan Ayah?” Faras tidak puas dengan jawaban Sadiyah tadi.
“Terserah kalian. Kalau kalian mau ikut Ibu jalan-jalan berarti kalian tidak bisa tinggal dengan Ayah di rumah Ayah. Bagaimana?” tantang Sadiyah pada Faras dan Faris.
“Ayah, kita jalan-jalan saja sama Ibu yuk.” ajak Faris.
“Tidak bisa. Kalian harus pilih salah satu. Mau tinggal di rumah Ayah atau mau ikut Ibu jalan-jalan?” Sadiyah memberikan pilihan yang cukup sulit pada Faras dan Faris.
“Aras mau tinggal sama Ayah saja deh. Nanti juga Ayah ngajak Aras, Aris dan Ibu pergi jalan-jalan. Iya kan, Yah?” tanya Faras dengan nada menuntut.
Kagendra mengangguk-anggukkan kepala dengan cepat.
“Kalau gitu, Aris juga mau tinggal sama Ayah saja. Nanti kalau Ibu sudah pulang dari jalan-jalannya, Ayah ngajak jalan-jalan lagi ya.” pinta Faris pada Kagendra.
“Siap….” seru Kagendra semangat.
Sadiyah mendengus karena tidak berhasil mempengaruhi Faras dan Faris.
“Ya sudah, kalian tinggal sama Ayah. Kalau kalian kangen sama Ibu, kalian tidak boleh nangis.”
Faris menghambur ke dalam pelukan Sadiyah.
“Aris nanti pasti kangen sama Ibu. Sekarang Aris mau peluk Ibu dulu.” Faris memeluk erat Sadiyah sambil menduselkan wajahnya ke perut Sadiyah.
“Aras bakal kangen sama Ibu tidak?”
“Iya…” Faras pun menghambur ke dalam pelukan Sadiyah.
Setelah beberapa saat saling berpelukan, Sadiyah melepaskan pelukannya pada Faras dan Faris dan memberikan dua tas besar yang berisi pakaian Faras dan Faris pada Kagendra.
“Aa yakin bisa mengurus mereka sendiri?” tanya Sadiyah tidak yakin.
Kagendra menanggukan kepalanya dengan mantap.
********
__ADS_1
to be continued...